Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 33
“Yah, telat,” ucapnya sambil menyenggol orang di sampingnya agar menyingkir. Ia segera bergegas mengejar perawat itu. Ucapan Fenella masih melekat di benaknya saat ia memasuki koridor.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin memulai ulang dengan Agnes. Ia sangat ingin bersikap sopan, berharap perempuan itu melupakannya sebagai salah satu pasien menyebalkan. Namun ini rumah sakit jiwa, dan Agnes adalah perawatnya. Perempuan itu punya kuasa atas dirinya, dan ia tidak bisa berpura-pura menerima perlakuannya begitu saja.
Tempat ini memang sudah gila sejak awal. Makanannya tidak layak makan, para pria dirantai dan dipasangi kalung listrik, dan banyak orang di sini mencoba bunuh diri.
Ia bahkan sempat berpikir bagaimana tempat sejorok ini masih bisa beroperasi.
Padahal ia sudah tahu jawabannya.
Ini tempat pembuangan. Tong sampah bagi orang-orang yang dianggap sampah. Di sini, semua orang mengaku pernah membunuh seseorang. Salah satunya bahkan mengaku bukan manusia.
Ini bukan rumah sakit jiwa biasa.
Mereka bahkan tidak bisa memasukkan orang-orang seperti ini ke penjara.
Ia benar-benar sial.
Pikirannya terus mengulang bagaimana ia bisa terjebak di sini, dan bagaimana mereka menemukannya di pom bensin yang penuh mayat kering tanpa setetes darah. Semuanya terasa tidak masuk akal.
Agnes berhenti di depan sebuah pintu. Ia memejamkan mata dari cahaya neon yang berkedip di atas. Lampu-lampu itu memancarkan warna putih pucat, seolah berusaha menutupi noda gelap di dinding yang belum sempat dicat. Dengungannya sangat mengganggu telinga.
“Dok, ini pasien baru. Dia mau bertemu sekarang,” ujar Agnes.
Dengungan itu semakin keras. Ia sadar suara itu bukan berasal dari lampu. Sensasi aneh itu terus muncul sejak ia terbangun di tempat ini. Seperti migrain. Mungkin tumor. Mungkin itu sebabnya ia tidak bisa mengingat apa pun.
“Ayo,” bisik Agnes, menyuruhnya masuk lebih dulu. Perempuan itu tidak berani menyentuhnya, dan ia sama sekali tidak menganggapnya lucu. Kepalanya terasa hendak pecah.
“Ada yang tidak beres,” gumamnya sambil mondar-mandir di ruangan, menggaruk lengan dan pahanya karena darahnya terasa sangat panas. Pandangannya melirik ke arah dokter di balik meja, lalu terhenti.
Itu bukan dokter yang membangunkannya kemarin.
Sepasang mata ungu itu menghantamnya seketika. Ia akan selalu mengenali mata itu.
Semua kenangan kembali begitu saja. Ia berdiri terpaku, terkejut, menatap pria itu tanpa berkedip.
Ia pernah menyelinap ke rumahnya. Menemukan orang-orang tergantung di kait daging. Rasa darah itu seakan masih melekat di bibirnya.
Darcel.
Begitu banyak ingatan tentang Darcel menyerbu kepalanya.
Darcelnya yang tampan dan sempurna.
Seorang pembunuh.
Seorang vampir.
Belahan jiwanya.
“Itu saja, Agnes?” tanyanya. Suaranya merdu dan menenangkan, sementara matanya sama sekali tidak lepas darinya.
Pandangan matanya turun ke tubuh pria itu. Dada bidang, bahu lebar, setelan mahal, aroma khasnya, kulit mulus yang membuat jemarinya gatal ingin menyentuh.
Agnes ternyata masih berdiri di sampingnya, jelas enggan pergi. Tatapannya bolak-balik antara dirinya dan Darcel. Ketidaksukaan itu terlihat jelas. Matanya langsung menyipit.
Perempuan itu tertarik pada Darcelnya?
“Tentu saja, Darcel,” jawab Agnes akhirnya. Ia merinding mendengar cara perempuan itu mengucapkan nama itu, seolah mereka sudah lama saling mengenal.
Agnes pergi dengan langkah menyeret dan lupa menutup pintu.
“Kamu pasti Rowena,” katanya.
Seharusnya ia menjadi Rowena.
Oh, pria itu sedang mencoba mengutak-atik pikirannya.
Amarah langsung menyambar.
Ia memutar badan dan membanting pintu.
BAM.
Darcel terkejut. Matanya tampak berpikir keras, tetapi tubuhnya tetap santai di kursi empuknya.