Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Hubungan
Sore itu, hujan rintik kembali membasahi kaca jendela Kopi Aksara, menciptakan suasana yang seharusnya hangat, namun bagiku terasa mencekam. Alisa sedang mengaduk teh kamomilnya, matanya menatap riak air di cangkir dengan lebih tenang dari biasanya. Tiba-tiba, ia meletakkan sendoknya dan menatapku lurus, sebuah tatapan yang jarang ia berikan sejak badai di hidupnya bermula.
"San," panggilnya pelan. "Boleh aku tanya sesuatu yang sedikit personal?"
Aku mengangguk, mencoba tetap tenang meski naluri prajuritku mulai mendeteksi adanya 'interogasi' yang tak terduga. "Tentu, Lis. Apa itu?"
"Kamu sudah menemaniku berminggu-minggu, mendengarkan semua keluh kesahku, melihatku hancur dan mulai bangun lagi. Tapi aku sadar, aku hampir nggak tahu apa-apa soal kehidupan pribadimu," ia menjeda sebentar, seolah menimbang kata-katanya. "Pria sepertimu... maksudku, kamu asyik, pintar bicara, dan kelihatannya stabil. Kenapa sampai sekarang kamu belum punya pacar? Atau jangan-jangan, ada hati yang lagi kamu jaga di suatu tempat?"
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada peluru karet saat latihan penanggulangan huru-hara. Detak jantungku mendadak sinkron dengan memori yang selama ini kusimpan rapat di balik lipatan kemeja flanelku. Pertanyaan Alisa bukan sekadar basa-basi; itu adalah kunci yang tanpa sengaja membuka kotak pandora yang selama ini kukunci dengan rantai besi.
Seketika, aroma kopi di sekitarku menguap, berganti dengan aroma tanah basah dan asap mesiu yang sangat jauh.
(Flashback: Dua Tahun Lalu)
"Sanca, kalau nanti aku nggak pulang tepat waktu, jangan marah ya."
Dina tersenyum sambil merapikan baretnya di depan cermin barak. Dia adalah Serda Dina, tunanganku, seorang paramedis tempur yang punya senyum lebih terang daripada lampu suar. Kami sedang bersiap untuk penugasan yang berbeda; aku ke perbatasan Kalimantan, dia ke wilayah konflik di Papua. Kami sudah merencanakan pernikahan setelah penugasan ini selesai. Undangan bahkan sudah mulai kami cicil desainnya—sesuatu yang sederhana, bertema hijau doreng dan putih suci.
"Prajurit itu nggak boleh telat, Dina. Apalagi janji buat pulang," balasku sambil memeluknya dari belakang. Aku bisa merasakan tekstur kasar seragam dorengnya di lenganku. "Aku tunggu di titik koordinat yang sama, ya? Di bawah pohon beringin depan markas."
Dina tertawa, suara tawa yang selalu menjadi frekuensi favoritku. "Siap, Prada Sanca! Aku bakal bawa cerita paling seru dari sana buat kamu tulis jadi buku."
Itu adalah percakapan terakhir kami. Sebulan kemudian, bukan Dina yang datang membawa cerita, melainkan komandanku yang datang membawa kabar duka. Unit Dina terjebak dalam sebuah penyergapan saat mencoba mengevakuasi warga sipil yang terluka. Dina gugur saat sedang berusaha membalut luka seorang anak kecil. Dia pulang, tapi di dalam peti yang tertutup bendera merah putih.
Saat itu, duniaku runtuh. Aku yang biasanya hanya memotret dan menulis narasi tentang kepahlawanan orang lain, harus menuliskan laporan kematian wanitaku sendiri. Sejak saat itu, aku bersumpah untuk tidak membiarkan siapa pun masuk terlalu dalam ke hidupku, sampai aku bertemu dengan Alisa.
(Kembali ke Realitas)
Aku tersentak kembali ke kursi kafe. Alisa masih menungguku bicara. Aku melihat tanganku sedikit gemetar, segera kusembunyikan di bawah meja. Aku tidak bisa memberitahunya bahwa alasanku menyendiri adalah karena aku masih sering terbangun tengah malam, merasa bisa mendengar suara ledakan dan teriakan minta tolong Dina melalui radio yang sebenarnya sudah mati.
Aku tidak bisa bilang padanya kalau aku juga seorang prajurit yang trauma.
"Aku... pernah punya seseorang, Lis," jawabku akhirnya, suaraku terdengar lebih serak dari yang kuinginkan. "Tapi semesta memutuskan untuk memanggilnya pulang lebih awal. Dia juga ksatria, dengan caranya sendiri."
Alisa tertegun. Ia melihat raut wajahku yang biasanya santai kini dipenuhi bayang-bayang kelam. "Maaf, San... aku nggak tahu. Aku nggak bermaksud mengungkit luka."
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini benar-benar tulus karena muncul dari rasa sakit yang sama dengannya. "Nggak apa-apa, Lis. Mungkin itu alasan kenapa aku bisa paham perasaanmu. Kita sama-sama orang yang sedang belajar navigasi pakai bintang karena mercusuar kita sudah nggak ada. Aku hanya... belum siap untuk membangun mercusuar baru."
Alisa meraih tanganku yang ada di atas meja, memberikan remasan lembut yang penuh empati. "Terima kasih sudah jujur, San. Ternyata kita memang berjalan di frekuensi yang sama, ya? Hanya saja, nadanya sedikit berbeda."
Aku mengangguk dalam diam. Rahasiaku sebagai Prada Sanca masih terjaga, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa separuh dari beban di dadaku terangkat. Aku menjaga Alisa bukan hanya karena misi atau karena perintah Ayahnya secara tersirat, tapi karena melihat Alisa sembuh adalah caraku untuk memaafkan diriku sendiri yang gagal menjaga Dina.
Di luar sana, hujan semakin deras, namun di dalam Kopi Aksara, ada dua jiwa yang sedang duduk bersandar pada luka masing-masing, mencoba mencari kekuatan untuk tidak lagi merasa sendirian di tengah kota yang luas ini. Aku tahu, suatu saat nanti identitasku akan terungkap, tapi untuk sekarang, biarlah aku menjadi Sanca yang juga sedang belajar untuk sembuh bersamanya.