NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan

Aku mencondongkan tubuh, mengintip melalui celah vertikal antara kedua daun pintu yang tidak tertutup rapat.

Cahaya lampu meja di dalam memotong kegelapan seperti pisau kuning.

Di sana, Lucas Vane sedang mondar-mandir seperti binatang yang terperangkap. Penampilannya berantakan. Kemejanya keluar dari celana, rambutnya acak-acakan, dan ada botol whiskey yang sudah kosong separuh di atas mejanya. Dia berkeringat deras, meskipun pendingin ruangan menyala.

Dia memegang ponsel di telinganya dengan tangan yang gemetar.

"Aku sedang mencarinya! Sabarlah sedikit, brengsek!" desis Lucas ke telepon.

Aku menahan napas. Siapa yang berani dia panggil brengsek? Lucas biasanya menjilat semua orang yang berkuasa.

"Dengar," kata Lucas lagi, suaranya merendah menjadi bisikan konspirasi yang serak. "Proyek Skyline itu... Ciarán akan mempresentasikannya besok pagi jam sembilan. Itu proyek senilai dua ratus juta dolar. Jika dia berhasil, posisinya tidak akan tergoyahkan. Ayah akan memberinya kursi CEO bulan depan."

Jantungku berdegup kencang. CEO. Itu posisi yang diinginkan Lucas seumur hidupnya.

"Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi," lanjut Lucas, meneguk whiskey langsung dari botolnya. Matanya liar. "Kalau Ciarán naik, aku habis. Dia akan membuangku ke cabang antah berantah."

Dia berhenti sejenak, mendengarkan suara di seberang sana.

"Ya, ya, aku tahu Valkov menginginkan data teknisnya," jawab Lucas.

Valkov.

Nama itu meledak di telingaku seperti bom. Musuh bebuyutan Ciarán. Pria yang membuat harga saham anjlok. Pria yang ingin dibunuh Ciarán.

Lucas... kakak kandungnya sendiri... sedang berbicara dengan musuh?

"Hancurkan dia saat presentasi," perintah Lucas, nadanya penuh dendam yang kental. "Buat dia terlihat tidak kompeten. Buat datanya terlihat cacat. Aku akan kirim blueprint aslinya dan data keamanannya sekarang. Kau bisa memanipulasinya sebelum rapat dimulai."

Dia melempar ponselnya ke sofa, lalu kembali mengacak-acak tumpukan kertas di mejanya dengan panik.

"Ketemu!" serunya tertahan.

Dia menarik sebuah flashdrive perak dari bawah tumpukan majalah. Dia menatap benda kecil itu dengan senyum gila.

"Selamat tinggal, Adikku tersayang," gumam Lucas pada flashdrive itu. "Besok pagi, kau akan hancur."

Dia berjalan menuju laptopnya yang terbuka, bersiap menancapkan benda itu.

Aku mundur dari pintu, tanganku membekap mulutku sendiri agar tidak menjerit.

Ini bukan sekadar kenakalan saudara. Ini pengkhianatan korporat. Ini adalah tikaman dari belakang yang bisa menghancurkan Ciarán selamanya. Jika Valkov mendapatkan data itu, Ciarán tidak hanya akan kehilangan proyek, dia bisa kehilangan reputasi, kepercayaan investor, dan mungkin seluruh masa depannya.

Dan Vittoria... pernikahan itu... semuanya bergantung pada kesuksesan Ciarán. Jika Ciarán jatuh, Vittoria mungkin akan membatalkan semuanya.

Tunggu.

Sebuah pikiran jahat melintas.

Jika Ciarán hancur... pernikahan batal.

Jika pernikahan batal... Ciarán tidak akan menjadi milik Vittoria.

Untuk sedetik, godaan itu begitu besar. Membiarkan Lucas menghancurkan Ciarán berarti membebaskan Ciarán dari Vittoria.

Tapi kemudian aku membayangkan wajah Ciarán. Wajahnya yang lelah saat memijat pelipisnya. Wajahnya yang bangga. Wajahnya yang dingin namun melindungiku saat aku berdarah.

Jika Ciarán hancur, dia bukan lagi Ciarán yang kukenal. Dia akan patah. Dan aku tidak menginginkan puing-puingnya. Aku menginginkan dia. Rajaku.

Dan seorang ratu, bahkan ratu dari selokan sepertiku, harus melindungi rajanya dari pengkhianat.

Mataku terpaku pada punggung Lucas yang sedang mengetik password di laptopnya.

Aku tidak punya banyak waktu. Begitu dia menekan send, semuanya berakhir.

Aku berdiri membeku di kegelapan lorong, duniaku menyempit pada punggung bungkuk Lucas di dalam sana.

Setan di bahu kiriku berbisik manis: Biarkan saja. Biarkan Ciarán gagal. Tanpa uang dan kekuasaan, Vittoria akan lari. Tanpa tahta, Ciarán akan sendirian. Dan saat dia sendirian, dia hanya akan memilikimu.

Itu skenario yang menggoda. Sangat menggoda. Aku bisa memilikinya seutuhnya di reruntuhan kerajaannya.

Tapi kemudian, logika bertahan hidupku, naluri jalanan yang kasar, menampar balik.

Jika Ciarán hancur, siapa yang akan melindungiku?

Ciarán adalah atap di atas kepalaku. Dia adalah dinding yang menahanku dari Julian, dari Isabella, dari kemiskinan yang mengintai di luar gerbang. Jika dia jatuh, aku akan terseret bersamanya ke lumpur. Dan di lumpur, tanpa taring dan cakar, kami berdua akan dimakan oleh hiu-hiu seperti Valkov dan Lucas.

Dan lebih dari itu...

Ada rasa kepemilikan yang aneh yang membakar perutku.

Ciarán Vane adalah rajaku. Monsterku.

Dia tidak boleh kalah oleh pecundang mabuk seperti Lucas. Dia tidak boleh dipermalukan di depan umum. Raja tidak boleh berlutut.

Jika dia harus jatuh, biarlah dia jatuh di tanganku, bukan di tangan musuhnya.

Mataku menyipit. Ketakutan di dadaku menguap, digantikan oleh adrenalin dingin.

Aku tidak bisa membiarkan Lucas mengirim data itu.

Aku melihat sekeliling lorong yang sepi. Tidak ada senjata. Tidak ada alat. Hanya aku, gaun tidurku, dan pot bunga porselen besar di dekat pintu.

Aku tidak bisa melawannya secara fisik. Lucas mabuk, tapi dia laki-laki dewasa yang kuat. Jika aku masuk begitu saja, dia bisa mematahkan leherku sebelum aku sempat berteriak.

Aku butuh cara lain. Cara yang lebih licik.

Mataku tertuju pada panel listrik di dinding lorong, tepat di sebelah pintu ruang kerja Lucas.

Panel sekring untuk sayap timur.

Sebuah rencana terbentuk di kepalaku dalam hitungan detik. Sederhana. Primitif. Tapi efektif.

Jika listrik mati, Wi-Fi mati. Jika Wi-Fi mati, data tidak terkirim.

Aku mendekati panel itu, membuka penutupnya dengan hati-hati. Deretan sakelar hitam berbaris rapi.

Di dalam sana, Lucas mulai mengetuk keyboard dengan tidak sabar.

"Ayo... loading sialan..."

Aku menarik napas panjang.

Ini bukan untuk menyelamatkan perusahaan. Ini bukan untuk menyelamatkan pernikahan Vittoria.

Ini untuk menjaga agar rajaku tetap di atas tahta, di mana dia bisa terus melihatku.

Tanganku terulur, menggenggam tuas sakelar utama.

"Maaf, Lucas," bisikku pada kegelapan. "Tapi permainanmu selesai."

Aku menarik tuas itu ke bawah.

KLIK.

Dunia menjadi hitam.

Suara dengungan halus pendingin ruangan mati seketika. Lampu-lampu di lorong padam, menyisakan kegelapan total yang pekat. Satu-satunya cahaya yang tersisa hanyalah sinar bulan pucat yang merembes malu-malu dari balik tirai jendela di ujung koridor.

Aku menahan napas, punggungku menempel erat pada panel listrik yang dingin.

Dari dalam ruang kerja Lucas, terdengar suara makian kasar.

"Apa-apaan ini?! Hei! Siapa yang mematikan lampu?!"

Suara kursi berderit keras, lalu suara langkah kaki berat yang tersandung sesuatu. Brak.

"Aduh! Sialan! Lampu bodoh!"

Jantungku berdegup kencang di telinga, seirama dengan adrenalin yang membanjiri nadiku. Aku menunggu. Apakah dia akan keluar? Apakah dia akan memeriksa panel listrik?

Jika dia keluar sekarang, dia akan menemukanku berdiri di sini seperti maling.

Tapi pintu itu tidak terbuka.

Sebaliknya, aku mendengar suara kaca pecah, mungkin botol whiskey yang tersenggol dalam kegelapan dan diikuti oleh suara muntah yang menjijikkan. Alkohol dan kepanikan rupanya bukan kombinasi yang baik untuk perut Lucas.

"Ugh..." erangannya terdengar lemah. "Kepalaku..."

Lalu, suara langkah kaki yang menyeret menjauh dari pintu, menuju arah kamar mandi en-suite di dalam ruang kerjanya. Pintu kamar mandi dibanting tertutup, disusul suara keran air yang dinyalakan dengan keras.

Ini kesempatanku.

Aku tidak berpikir dua kali. Aku mendorong pintu ruang kerja Lucas yang memang sudah tidak tertutup rapat.

Aku menyelinap masuk.

Ruangan itu berbau tajam. Campuran aroma alkohol tumpah, keringat laki-laki, dan parfum ruangan yang terlalu manis.

Dalam kegelapan itu, satu-satunya sumber cahaya adalah layar laptop di atas meja yang masih menyala terang, ditenagai oleh baterainya. Cahaya putih kebiruan itu memotong kegelapan seperti mercusuar, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara.

Layar itu menampilkan loading bar pengiriman file yang terhenti.

Connection Error. Upload Failed.

Aku mengembuskan napas lega yang gemetar. Berhasil. Datanya belum terkirim.

Tapi aku belum aman. Lucas masih ada di kamar mandi, hanya berjarak beberapa meter dariku. Suara air yang mengalir menyamarkan suara napasku, tapi itu tidak akan bertahan lama.

Aku mendekati meja itu dengan langkah cepat namun hati-hati, menghindari pecahan botol di lantai.

Mataku tertuju pada benda kecil yang menancap di sisi laptop. Flashdrive perak.

Itu dia. Jantung Ciarán. Masa depan perusahaan.

Aku bukan hacker. Aku tidak tahu cara meretas password atau menghapus jejak digital yang rumit. Aku hanyalah gadis yang tahu cara mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Tanganku terulur. Jari-jariku yang dingin menyentuh logam hangat flashdrive itu.

Cabut, perintah otakku. Cabut dan lari.

Tapi saat jariku menggenggam benda itu, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar di belakangku.

"Siapa di sana?" suara Lucas terdengar serak dan curiga.

Aku membeku.

1
Fauziah Rahma
bertahan hidup seperti parasit, parasit mutualisme, semoga saja
Sha_riesha
aku tak pernah mau baca novel yang masih on going tapi entahlah novel ini punya magnet kuat banget yang bikin aku bolak balik ngecek udah up lagi apa belum 😍
Sha_riesha: 😭 sebenernya aku gak suka banget dibuat penasaran. nungguin up nya mana lama lagi 😭😭😭
total 2 replies
Sha_riesha
❤️🙏
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!