Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pindah kamar..
Indira membuka matanya perlahan. Tatapan yang biasanya penuh ketakutan itu kini berubah menjadi sorot mata yang dingin dan hampa, seolah nyawanya sudah tidak lagi berada di sana. Saat tangan Arjuna mulai menuntut, Indira tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan air mata yang mengalir tenang.
"Kamu yang membuat anakmu hampir mati,bukan aku," bisik Indira. Suaranya serak dan sangat lemah, namun terdengar begitu tajam di telinga Arjuna.
Gerakan tangan Arjuna terhenti. Ia mengerutkan kening, menatap wajah pucat di bawahnya. "Apa katamu?"
"Kamu selalu membuatku tertekan,tidak apa! lakukan saja semaumu,Aku sudah tidak peduli,,aku tidak butuh kuliah lagi jika aku sudah mati!," Indira menoleh, menatap tepat ke manik mata Arjuna yang gelap. "Aku tidak takut mati, Mas. Mungkin mati lebih baik daripada hidup seperti ini."
Rahang Arjuna mengeras, "Jangan bicara sembarangan, Indira!"
"Kenapa? Mas takut?" Indira tersenyum pahit, sebuah senyuman yang terlihat menyakitkan di wajahnya yang cekung. "Kalau aku mati, anak ini juga akan mati. Mas tidak akan punya ahli waris, tidak akan punya 'mainan' lagi. Mas akan kehilangan segalanya dalam satu waktu."
Indira memejamkan mata, membiarkan tubuhnya lunglai sepenuhnya. "Ayo, lanjutkan. Bunuh kami berdua dengan egomu itu. Aku sudah lelah berjuang sendirian untuk tetap hidup."
Hening seketika menyelimuti kamar itu. Ancaman Indira yang mempertaruhkan nyawa dan kandungannya sendiri menghantam kesadaran Arjuna lebih keras daripada bentakan ayahnya tadi. Untuk pertama kalinya, Arjuna merasakan ketakutan yang nyata—bukan takut kehilangan kekuasaan, tapi takut melihat mata itu tertutup untuk selamanya.
Arjuna terdiam cukup lama. Tangannya yang tadi mencengkeram pakaian Indira perlahan melonggar. Ia menatap perut Indira yang masih rata, lalu beralih ke wajah istrinya yang tampak sangat menderita.
Perlahan, Arjuna menarik dirinya mundur. Ia duduk di tepi ranjang, membelakangi Indira. Bahunya tampak merosot, menunjukkan kekalahan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun.
"Cukup," geram Arjuna rendah, suaranya bergetar antara amarah dan rasa bersalah yang tak mau ia akui. "Tidurlah. Aku tidak akan mengganggu mu."
Arjuna bangkit, merapikan kembali pakaian Indira dengan gerakan yang jauh lebih lembut, meskipun tangannya masih kaku. Ia menyelimuti tubuh kurus itu sampai ke dada.
"Jangan pernah bicara soal kematian lagi," ucapnya dingin tanpa menoleh, lalu ia berjalan menuju sofa di sudut kamar dan menghempaskan tubuhnya di sana.
Indira tidak menjawab. Ia meringkuk di balik selimut, menangis tanpa suara. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, Arjuna tidak menuntut nutrisinya. Ia hanya duduk dalam kegelapan, terjaga semalaman sambil menatap sosok Indira yang rapuh, menyadari bahwa ia hampir saja menghancurkan satu-satunya hal yang paling ia inginkan di dunia ini,yaitu calon anaknya.
***
Pagi harinya, suasana di kamar besar itu terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekik. Arjuna, yang biasanya sudah berangkat ke kantor sejak subuh, kali ini masih berbaring di samping Indira.
Indira perlahan membuka matanya. Ia terkejut merasakan sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya, memeluknya dengan begitu protektif namun lembut—sangat berbeda dengan cengkeraman kasar biasanya.
Merasakan pergerakan Indira,Arjuna membuka mata, menatap wajah Indira yang berada tepat di depan dadanya. "Sudah bangun? Bagaimana perutmu? Masih sakit?" tanyanya dengan suara bariton yang lebih rendah dan perhatian.
Indira menggeleng pelan. "Lebih baik. aku juga tidur nyenyak semalam."
Arjuna terdiam sesaat,setelahnya bertanya penasaran,"Memangnya selama ini kamu tidak tidur nyenyak?"
Indira menggeleng pelan.
"Sejak hamil,aku tidak pernah tidur nyenyak,,aku tidak bisa,,itu sebabnya kantong mataku menghitam,belum lagi aku bertambah Kurus karena kurang tidur." ungkap Indira.
"Buktinya katamu tidur mu nyenyak tadi malam,"
Indira menggigit bibirnya,,"itu karena mas menemani ku tidur,,sejak hamil aku takut tidur sendirian,,"
Mendengar pengakuan jujur itu, hati Arjuna yang sekeras batu seolah mencair. Ia menyadari betapa selama ini ia hanya mementingkan kepuasan dan obsesinya tanpa memikirkan kesehatan mental gadis yang mengandung anaknya itu.
"Mulai hari ini, kamu pindah ke kamarku. Tidur bersamaku," putus Arjuna mutlak, namun kali ini nada bicaranya tidak mengandung ancaman. "Aku tidak akan membiarkanmu tidur sendirian lagi kalau itu yang membuatmu tersiksa."
Arjuna bangkit, namun bukannya memanggil pelayan, ia sendiri yang mengambilkan segelas air hangat dan membantu Indira duduk untuk minum. Sikapnya jauh lebih perhatian; ia bahkan mengusap sisa air di sudut bibir Indira dengan lembut.
"Istirahatlah lagi menunggu sarapan mu tiba."
"Mas tidak minum? maksudnya asiku sudah penuh,,sakit," tawarnya malu malu.
"Boleh sekarang?"
Indira mengangguk.
"Soalnya sudah penuh,"
Tanpa ditawarkan dua kali,Arjuna langsung menyingkap pakaian Indira,lalu menyesap dada montok itu bergantian.
Setahun lebih disusui Indira,membuat tubuhnya semakin sehat.
Frekuensi minumnya pun sudah semakin sedikit.
Jika dulu setiap dua jam sekali,sekarang hanya tiga kali sehari,terkadang dua kali pun Arjuna sudah sanggup.
***
Berita tentang kepindahan Indira ke kamar utama Arjuna segera tersiar ke seluruh penjuru rumah besar itu. Hamidah dan Pratama yang awalnya tegang, kini bisa sedikit bernapas lega melihat putra mereka mulai menunjukkan sisi kemanusiaannya.
Di dalam kamar utama yang luas dan beraroma kayu cendana itu, Arjuna benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak lagi memperlakukan Indira seperti "wadah nutrisi" semata, melainkan seperti sesuatu yang sangat rapuh.
"Makan lagi, sedikit saja. Demi anak ku," bujuk Arjuna. Tangannya memegang sendok berisi bubur sarang burung walet yang masih hangat.
Indira menatap Arjuna dengan ragu. "Aku mual, Mas. Baunya membuatku pusing."
Tanpa membantah atau membentak seperti biasanya, Arjuna justru menjauhkan mangkuk itu. "Baik, kita ganti yang lain. Kamu mau apa? Buah? Atau sate?"
Indira sedikit tersenyum melihat perubahan itu. "Aku ingin jeruk bali yang segar."
Arjuna segera memerintahkan pelayan melalui interkom. Tak lama, jeruk itu tersedia dan Arjuna sendiri yang mengupasnya, membuang serat-serat putihnya hingga bersih sebelum menyuapkannya ke mulut Indira.
"Apa dia kejedot? kenapa tiba tiba berubah?" Indira membathin.
***
Malam harinya, Indira merasa sedikit canggung. Kamar Arjuna jauh lebih dingin dan maskulin. Namun, sesuai permintaannya, ia ingin rasa aman.
"Kemarilah," panggil Arjuna yang sudah bersandar di kepala ranjang.
Indira merangkak pelan masuk ke dalam dekapan Arjuna. Pria itu menarik tubuh kecil istrinya hingga punggung Indira menempel erat di dadanya. Lengan Arjuna yang kekar melingkar di perut Indira yang masih rata, sementara tangannya yang lain menjadi bantal bagi kepala Indira.
"Tidurlah. Aku tidak akan ke mana-mana," bisik Arjuna tepat di ubun-ubunnya.
Ajaibnya, rasa cemas yang biasanya menghantui Indira saat tengah malam perlahan memudar. Detak jantung Arjuna yang tenang di punggungnya memberikan efek relaksasi yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, mata Indira terasa sangat berat karena rasa tenang, bukan karena kelelahan menangis.
Namun, di tengah keheningan itu, Arjuna merasakan sesuatu yang menyesak di dadanya. Kebiasaannya mendapatkan asupan ASI dari Indira belum hilang.
"Indira..." panggilnya parau.
"Ya, Mas?" jawab Indira dengan mata yang sudah setengah terpejam.
"Aku... aku tetap butuh nutrisiku."
Indira langsung menyingkap piyama nya,lalu menyodorkan puting nya ke mulut suaminya.
Malam itu dilalui dengan cara yang berbeda. Arjuna menghisap nutrisinya dengan kelembutan yang baru, seolah setiap tetes yang ia terima adalah bentuk ikatan baru antara dirinya, Indira, dan janin yang ada di rahim gadis itu.
Setelah selesai, Arjuna benar-benar menepati janjinya; ia mendekap Indira lebih erat, menyalurkan kehangatan tubuhnya sampai napas Indira menjadi teratur dan jatuh ke dalam tidur yang sangat lelap.
bersambung...
semoga aja pernikahan Indira dan Arjuna di warnai cinta
klo gt gn kn cr pnculik kn hamidh.... tutup semua jalur indi dr ank kau