Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana pagi yang menenangkan
Harun tidak langsung menuju kantor pagi itu. Setir mobilnya justru berbelok ke arah apartemen Raisa. Mereka memang sudah berjanji untuk sarapan bersama, janji kecil yang terasa jauh lebih penting dibandingkan tumpukan pekerjaan yang menantinya di kantor.
Sesampainya di apartemen, Raisa sudah menyambut dengan pakaian santai yang sengaja dipilih untuk memanjakan mata sang suami.
Aroma kopi dan makanan hangat menyambut Harun begitu pintu tertutup di belakangnya.
“Sayang… nanti malam bobok bareng lagi ya,” ucap Raisa manja, nadanya seperti anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan mainan.
Harun tersenyum, namun raut wajahnya sedikit berubah.
“Tapi Mas Adam ada di rumah,” jawabnya ragu.
Raisa mendengus pelan, lalu mendekat, melingkarkan tangannya ke lengan Harun.
“Lagian kamu kan banyak kerjaan, Mas. Pasti pulang malam hari ini.”
Harun menghela napas, duduk di kursi makan.
“Iya sih… sebenarnya aku cukup stres juga. Mas Adam lagi sakit, sementara pekerjaan numpuk banget semua di aku.”
Raisa tersenyum kecil, matanya berbinar penuh arti. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat dan menggoda.
“Justru itu,” katanya lirih. “Nanti biar aku temenin kamu. Aku kasih service yang memuaskan, biar stresnya hilang.”
Harun terkekeh pelan, pikiran nakalnya mulai on, lalu menyentuh lembut puncak hidung Raisa dengan tatapan penuh cinta dan nafsu.
“Beneran kamu?”
“Iyaaa suamiku,” jawab Raisa lembut dan manja, jarinya mengusap punggung tangan Harun perlahan.
“Ok,” ucap Harun akhirnya. Wajahnya tampak sumringah, beban di kepalanya seolah terangkat begitu saja.
Sehabis sarapan, keduanya larut dalam suasana bercinta, segalanya terlupakan hanya ada senyum dan sentuhan. Hubungan mereka masih berada di fase paling memabukkan, saat gairah menutup rasa bersalah, tidak perduli ada Hawa yang sebenarnya sedang menunggu Harun pulang.
Namun ia lebih memilih tenggelam dalam pelukan Raisa, hubungan suami istri yang masih tersembunyi kian hari kian berani menantang batas.
Adam masih terbaring lemah di kasur empuknya. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, rasa nyeri masih sesekali menyergap di sela-sela kesadarannya. Namun berbeda dari hari-hari sebelumnya, kini napasnya lebih teratur, dan raut tegang di wajahnya perlahan melunak.
Ketakutan yang sempat mencengkeram dadanya, kepanikan yang membuatnya sulit memejamkan mata, sedikit demi sedikit mulai menghilang. Bayang-bayang kejadian mengerikan itu tak lagi datang bertubi-tubi. Ada rasa aman yang perlahan tumbuh, menyelimuti pikirannya seperti selimut hangat.
“Sebaiknya luka-luka ini diperban saja agar tidak infeksi,” ucap Hawa dengan nada tenang namun sigap.
Tangannya bergerak cekatan mengambil perban dan perlengkapan P3K, lalu membantu Adam duduk dengan hati-hati. Merawat pasien sudah menjadi bagian dari keseharian Hawa selama bekerja di rumah sakit. Gerakannya terlatih, penuh kehati-hatian, seolah Adam adalah pasien yang sedang ia tangani di ruang perawatan, bukan di dalam rumah.
Ia mulai membersihkan luka-luka baret di leher, tangan, dan kaki Adam dengan fokus penuh. Ruangan terasa sangat sepi. Tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. Hanya suara detik jam yang berdetak pelan, menambah kesan sunyi yang entah kenapa terasa menenangkan.
Sesekali, Adam melirik wajah Hawa dari sudut matanya. Dalam jarak sedekat ini, ia menyadari satu hal, wanita itu jauh lebih cantik dibandingkan foto yang pernah ia lihat. Cantik dengan cara sederhana, tanpa riasan berlebihan, namun memancarkan ketenangan.
“Auh… perih,” gerutu Adam saat antiseptik menyentuh salah satu lukanya.
Hawa segera melembutkan usapan tangannya agar mengurangi tekanan rasa sakit itu.
“Sedikit lagi, Mas. Sabar ya,” ucapnya lembut.
Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Hingga akhirnya Adam membuka suara.
“Kamu Hawa, cucu Kakek Surip?” tanyanya, memastikan.
“Iya,” jawab Hawa singkat sambil tetap fokus pada luka di tangan Adam.
“Yang menikah dengan Harun?” Adam kembali memastikan.
“Iya,” Hawa mengangguk pelan.
“Oh ya Mas, terima kasih ya, sudah mau menumpangi kami untuk tinggal di rumah ini,” lanjut Hawa setelah beberapa detik. “Mas Adam sudah sangat baik.”
“Oh, itu tidak masalah,” jawab Adam cepat. “Kalian mau tinggal selamanya di sini juga tidak apa-apa. Aku lebih sering di Australia, rumah ini jarang terpakai.”
Hawa hanya tersenyum tipis. Tangannya kini sampai pada tahap terakhir, membalut perban dengan rapi. Adam memperhatikan setiap gerakan itu, cara Hawa bekerja begitu teratur, penuh perhatian, jelas menunjukkan jam terbang seorang perawat.
“Kamu masih bekerja di rumah sakit?” tanya Adam.
Hawa menggeleng pelan.
“Mas Harun tidak mengizinkan. Aku terpaksa resign.”
“Oh…” Adam terdiam sejenak, lalu berkata,
“Ya… mungkin itu memang lebih baik.”
Padahal, tanpa Hawa tahu, justru ia lah yang meminta Harun agar istrinya tidak lagi bekerja di rumah sakit.
“Untuk tiga hari ke depan, Mas Adam jangan mandi dulu,” ujar Hawa sambil melepas sarung tangannya. “Cukup dilap saja supaya lukanya tidak kena air.”
Ia merapikan peralatan P3K.
Hawa menyuapkan Adam satu sendok sirup obat untuk membantu menstabilkan asam lambungnya sebelum makan. Wajahnya sedikit meringis karena rasa obat yang pahit. Setelah itu, Hawa menyodorkan segelas air dan menunggu sampai Adam benar-benar nyaman.
Hawa mulai melangkah keluar kamar.
“Eh, kamu mau ke mana?” tegur Adam tiba-tiba, nada suaranya terdengar cemas.
“Mau ke dapur. Aku buatkan bubur untuk Mas Adam,” jawab Hawa santai.
“Aku ikut,” ucap Adam spontan.
“Ikut?” Hawa terheran, menoleh ke arahnya. “Mas masih sakit. Aku cuma sebentar.”
“Aku sudah sehat,” Adam tersenyum tipis, senyum yang sebenarnya menyembunyikan rasa takut jika Hawa meninggalkannya sendirian.
“Aku bisa berjalan,” tambahnya meyakinkan. Meski Hawa masih ragu, ia menimbang kondisi Adam, lalu mengangguk.
“Baiklah… tapi pelan-pelan," pesan Hawa.
Dalam hati Adam bergumam, "Di dekat wanita ini aku merasa aman… tidak ada bayangan hitam itu."
Adam mengikuti langkah Hawa dengan perlahan. Saat menuruni tangga, Hawa terpaksa memperlambat langkahnya, memastikan Adam berjalan dengan aman di belakangnya.
Tak ada percakapan di antara mereka. Hawa tidak banyak bertanya, seolah menghormati batas Adam dan apa pun yang sedang ia alami. Keheningan itu justru terasa nyaman.
Sesampainya di dapur, Hawa mempersilahkan Adam duduk. Leher, tangan, dan kaki pria itu kini penuh balutan perban putih.
Hawa mulai berkutat di dapur, menyiapkan bubur hangat khusus untuk orang yang baru pulih dari sakit. Suara peralatan masak terdengar pelan, ritmis. Mata Adam tak bisa berpaling. Meski rasa takut masih menghantuinya, perhatiannya terus tertuju pada Hawa, dari gerakan kakinya, punggungnya yang membelakangi, hingga rambut yang tergerai rapi.
“Gumpalan asap hitam yang menyerupai Kakek… apa benar-benar tidak sampai ke sini?” gumam Adam pelan sambil melirik sekeliling dapur.
Namun dapur itu tetap tenang. Sunyi. Aman.
Tak ada bayangan, tak ada bisikan.
Hanya suara sendok yang mengaduk bubur, dan kehadiran Hawa yang entah bagaimana berhasil menenangkan ketakutan Adam.