NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:191
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — MIMPI YANG DIBAGI DUA

Kecurigaan adalah racun yang bekerja lambat, namun mematikan. Di dalam Joglo yang terkunci rapat itu, racun tersebut telah menyebar ke setiap sudut ruangan, merusak ikatan persahabatan yang tersisa menjadi serpihan paranoia.

​Pukul 02.45 dini hari.

​Suasana di ruang tengah begitu hening hingga suara tetesan air dari keran bocor di kamar mandi belakang terdengar seperti dentang lonceng kematian. Nara tidak tidur. Ia duduk bersandar di pintu depan, memeluk lutut, dengan mata yang merah dan perih menatap kegelapan. Pisau dapur masih setia di genggamannya, meski tangannya sudah kram.

​Di seberang ruangan, Siska tertidur dalam posisi duduk, punggungnya menempel pada lemari kayu jati. Ia memeluk tasbihnya yang putus, wajahnya sembab sisa tangisan. Dion tertidur dengan posisi tidak nyaman di atas tikar, kacamatanya miring, buku jurnalnya terbuka di dada sebagai pelindung simbolis.

​Dan Raka...

​Raka terbaring di tengah ruangan, di zona isolasi yang dibuat Nara. Tidak ada yang berani mendekatinya setelah kejadian pelecehan tadi.

​Raka tidak bergerak. Napasnya dangkal, cepat, dan berbunyi hhek... hhek... seolah ada cairan yang memenuhi paru-parunya. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin, namun ia tidak menggigil lagi. Ia justru tampak sangat tenang. Terlalu tenang.

​Nara mengamati dada Raka yang naik turun. Ada sesuatu yang salah. Irama napas Raka aneh.

​Satu tarikan napas panjang... tahan sepuluh detik... lalu hembusan napas pendek yang terputus.

​Itu bukan ritme napas orang tidur. Itu ritme napas orang yang sedang menyelam.

​DI DALAM MIMPI RAKA

​Raka tidak lagi berada di ruang tengah Joglo.

​Ia berdiri di sebuah ruangan yang luas dan gelap. Lantainya bukan tegel dingin, melainkan genangan air setinggi mata kaki. Air itu hangat, kental, dan berbau amis.

​Raka melihat sekeliling. Dinding ruangan itu terbuat dari tanah merah yang basah, dengan akar-akar pohon besar yang menembus keluar seperti urat nadi raksasa. Di langit-langit, tidak ada genteng atau plafon, hanya lubang bulat kecil yang jauh di atas sana, memancarkan cahaya bulan yang pucat.

​Raka sadar di mana ia berada. Ia berada di dasar sumur.

​Tapi anehnya, ia bisa bernapas. Tidak ada rasa sesak. Justru, udara di sini terasa manis, memabukkan, seperti menghirup gas tawa bercampur parfum melati.

​"Mas Raka..."

​Suara itu datang dari balik akar pohon besar di sudut ruangan tanah itu.

​Raka menoleh. Jantungnya tidak berdegup kencang karena takut. Sebaliknya, jantungnya berdegup karena antisipasi. Di alam mimpi ini, ketakutannya telah dikebiri, digantikan oleh kepatuhan mutlak dan gairah yang tidak wajar.

​Sosok itu melangkah keluar.

​Wanita Sumur.

​Ia tidak menakutkan seperti saat di hutan. Kali ini, ia tampil dalam wujud manusia sempurnanya. Tubuhnya ramping, kulitnya pucat bersinar dalam gelap, rambut hitamnya yang panjang dan basah menutupi bagian-bagian strategis tubuhnya, namun menyisakan cukup banyak celah untuk memancing imajinasi liar.

​Wajahnya adalah campuran yang membingungkan. Sekilas ia mirip Rini, gadis desa itu. Sekilas ia mirip Siska. Sekilas ia mirip ibunya Raka. Wajah itu berubah-ubah, menyesuaikan dengan memori terdalam Raka tentang "wanita ideal".

​"Kenapa lari tadi, Mas?" tanya wanita itu, berjalan mendekat. Kakinya tidak membuat kecipak air, ia meluncur di atas permukaan. "Padahal kita belum selesai main."

​"Sakit..." jawab Raka. Suaranya di dalam mimpi terdengar bergema. "Dada saya sakit."

​Wanita itu tersenyum sedih. Ia berdiri tepat di depan Raka, menempelkan tubuh basahnya ke tubuh Raka yang kering. Dingin bertemu panas. Sensasinya meledak di syaraf Raka.

​"Sakit itu karena Mas Raka nolak," bisik wanita itu, tangannya yang dingin merayap ke dada Raka, tepat di atas luka cakarannya. "Kalau diterima... rasanya enak. Rasanya nikmat."

​Jari wanita itu menekan luka di dada Raka.

​Bukannya perih, Raka justru mengerang nikmat. Rasa sakit itu berubah menjadi gelombang endorfin yang membanjiri otaknya. Kakinya lemas. Ia jatuh berlutut di air, memeluk pinggang wanita itu, membenamkan wajahnya di perut yang dingin dan basah.

​"Buka pintunya, Mas," bisik wanita itu lagi, mengelus rambut Raka. "Biar saya bisa masuk sepenuhnya. Biar nggak cuma lewat mimpi."

​"Pintu apa?" gumam Raka, matanya terpejam menikmati sentuhan itu.

​"Pintu hatimu... pintu rumahmu... pintu teman-temanmu..."

​Tiba-tiba, Raka merasakan kehadiran orang lain di sana.

​Di samping wanita sumur itu, muncul sosok lain dari dalam kegelapan.

​Lala.

​Lala memakai kebaya merahnya yang basah kuyup. Wajahnya pucat, bibirnya biru, tapi matanya menyala-nyala penuh gairah.

​Raka mendongak, bingung. "Lala? Lo ngapain di sini?"

​Lala tertawa renyah. Ia berjongkok di samping Raka, lalu mencium pipi Raka. Bibir Lala terasa asin, rasa air laut.

​"Kita kan satu paket, Rak," kata Lala. Tangannya ikut meraba dada Raka, bergabung dengan tangan si Wanita Sumur. "Mimpi kita nyambung. Kabelnya udah dipasang."

​Raka menatap bingung. Dua wanita di hadapannya—satu hantu, satu manusia—saling tersenyum, lalu saling menyentuh. Wanita Sumur membelai wajah Lala, dan Lala memejamkan mata menikmatinya.

​"Rasain apa yang gue rasain, Rak," desis Lala.

​Lala mendekatkan bibirnya ke telinga Raka, sementara Wanita Sumur memeluk mereka berdua dari belakang, membungkus mereka dengan rambut panjangnya yang basah dan berbau lumpur.

​Mereka bertiga menyatu dalam pelukan yang grostek namun erotis.

​Di alam nyata, Raka tidak tahu bahwa ia sedang berbagi frekuensi gelombang otak dengan Lala yang tidur di kamar sebelah. Apa yang Lala rasakan—sentuhan dingin entitas itu—langsung ditransfer ke syaraf Raka.

​"Enak kan?" bisik Lala dan Wanita Sumur bersamaan. Suara mereka stereo di kepala Raka. "Nggak usah dilawan. Lemesin aja."

​Tangan Wanita Sumur turun ke perut Raka, lalu lebih rendah lagi.

​Raka mengerang panjang. Di dalam mimpi itu, ia merasa dirinya sedang bercinta. Liar. Primitif. Tanpa aturan. Ia melupakan Siska, melupakan Nara, melupakan Bima yang mati. Yang ada hanya kebutuhan untuk menuntaskan hasrat yang membakar ini.

​Namun, tepat di puncak kenikmatan itu, wajah Wanita Sumur berubah.

​Kulit cantiknya meleleh. Matanya yang indah berubah menjadi lubang hitam yang mengucurkan nanah. Mulutnya melebar, memperlihatkan barisan gigi taring yang runcing dan berlumut.

​"Sekarang bayarannya," geram makhluk itu.

​KRAK!

​Makhluk itu menggigit bahu Raka. Bukan gigitan kecil. Ia menggigit daging bahu Raka dan menyentakkannya, seolah hendak merobek otot trapezius-nya.

​"ARGGHHH!" Raka menjerit di dalam mimpi.

​Tapi ia tidak bisa lepas. Rambut basah itu kini melilit tubuhnya seperti rantai besi. Lala yang ada di sampingnya tidak menolong. Lala justru tertawa histeris, menjilati darah yang keluar dari bahu Raka.

​"Lagi! Lagi!" sorak Lala gila. "Kasih Ibu makan!"

​DI ALAM NYATA — JOGLO

​"ARGHHH!"

​Raka terbangun dengan teriakan yang tertahan, seperti orang tercekik. Tubuhnya melengkung ke atas (posisi arched back), kaku, seolah ada tangan tak terlihat yang mengangkat punggungnya dari lantai.

​Nara terlonjak kaget, langsung berdiri dengan pisau terhunus. "Raka?!"

​Dion dan Siska juga terbangun, panik.

​"Sakit! Sakit!" jerit Raka, memegangi bahu kirinya. Matanya melotot, urat lehernya menonjol. "Dia gigit gue! Dia gigit gue!"

​Dion memberanikan diri mendekat, menyalakan senter hp-nya ke arah Raka.

​"Astagfirullah..." desis Dion.

​Di bahu kiri Raka, di balik kaosnya yang basah kuyup, terlihat rembesan darah segar. Kaos itu robek, seolah digigit dari dalam.

​"Buka kaosnya!" perintah Nara.

​Dion menarik paksa kaos Raka.

​Semua tercekat.

​Di bahu Raka, terdapat bekas gigitan manusia yang sangat jelas. Dalam. Berdarah. Jejak giginya rapi, tapi ukurannya sedikit lebih besar dari mulut manusia normal. Daging di sekitar gigitan itu membiru seketika.

​"Siapa yang gigit lo?!" tanya Siska histeris, mundur sampai menabrak tembok. "Kita semua jauh dari lo!"

​"Wanita itu..." Raka menangis, air mata bercampur ingus. Ia menggigil hebat. "Sama Lala... Lala ada di sana... Lala ikut makan..."

​Tiba-tiba, dari arah kamar Lala yang tertutup, terdengar suara.

​Bukan teriakan kesakitan.

​Suara tawa. Dan desahan panjang.

​"Ahhh... enak... pinter Mas Raka..."

​Suara Lala terdengar jelas menembus dinding kayu tipis itu. Nadanya penuh kepuasan, seolah ia baru saja menyelesaikan hubungan intim yang luar biasa memuaskan.

​Nara menatap pintu kamar Lala dengan horor.

​"Mereka..." Nara menelan ludah, tangannya gemetar memegang pisau. "Mereka mimpi bareng. Mereka ada di tempat yang sama."

​Dion mendekatkan wajahnya ke luka di bahu Raka. Ia mengendus sedikit.

​"Nar," panggil Dion, wajahnya pucat pasi. "Luka ini bau mulut."

​"Bau mulut gimana?"

​"Bau mayat. Bau gigi busuk."

​Dion menoleh ke Nara.

​"Makhluk itu nyerang Raka di mimpi, tapi lukanya muncul di fisik. Batasnya udah jebol, Nar. Alam mimpi sama alam nyata udah nyampur di rumah ini."

​Raka masih menangis, memegangi bahunya. "Dia minta dibukain pintu... dia minta dibukain pintu..."

​"Pintu apa, Rak?" desak Nara, mencengkeram lengan Raka yang tidak terluka. "Jawab gue! Pintu apa?!"

​"Semuanya," bisik Raka, matanya kosong menatap Nara. "Dia mau masuk lewat semua lubang. Lewat pintu rumah... lewat mulut kita... lewat pori-pori kita..."

​Raka tiba-tiba batuk hebat. Ia membungkuk, memuntahkan isi perutnya ke lantai.

​Tapi yang keluar bukan makanan.

​Air.

​Raka memuntahkan air sumur yang hitam, berbau lumpur, dan penuh dengan jentik nyamuk. Jumlahnya banyak, lebih dari satu liter, menggenangi lantai tegel.

​Di tengah genangan muntahan air itu, ada benda kecil yang berkilau kena cahaya senter.

​Nara memungutnya dengan ujung pisau.

​Itu sebuah kancing. Kancing kebaya warna merah. Kancing dari baju yang dipakai Lala.

​Nara mundur, menjatuhkan kancing itu.

​"Kancing Lala ada di dalem perut Raka," bisik Siska, akal sehatnya nyaris putus. "Gimana caranya?"

​"Jangan tanya gimana," potong Dion, membersihkan kacamatanya yang berembun. "Pertanyaannya adalah: apa lagi yang bakal keluar?"

​Tiba-tiba, pintu kamar Lala terbuka lebar. BRAK!

​Lala berdiri di sana. Ia memakai daster tipis yang transparan karena basah kuyup. Rambutnya lepek, meneteskan air ke lantai. Padahal di dalam kamar itu tidak ada kamar mandi.

​Lala tidak melihat ke arah mereka. Ia berjalan lurus ke arah dinding ruang tengah, tempat sebuah lukisan kaligrafi tua tergantung.

​Ia berhenti di depan dinding itu.

​Lalu, dengan kuku jarinya yang panjang, Lala mulai menggaruk tembok kayu itu. Pelan. Iramanya konstan.

​Krek... krek... krek...

​"La?" panggil Nara hati-hati.

​Lala menoleh.

​Di mulutnya, ada sisa darah. Darah segar. Persis seperti darah yang keluar dari bahu Raka.

​Lala tersenyum, memperlihatkan giginya yang merah.

​"Kenyang," kata Lala dengan suara anak kecil. "Tapi Ibu masih laper."

​Lala menunjuk ke arah pintu depan yang diganjal meja.

​"Tamu udah dateng," kata Lala. "Buka pintunya, Mbak Nara. Nggak sopan tamu disuruh nunggu di luar."

​TOK. TOK. TOK.

​Tiga ketukan pelan terdengar di pintu depan.

​Sangat pelan. Sangat sopan.

​Dan kemudian suara Pak Wiryo terdengar dari luar, ramah dan kebapakan, seolah ini adalah kunjungan silaturahmi biasa di pagi hari.

​"Assalamualaikum... Nak Nara... ini Bapak bawakan sarapan. Bubur merah putih. Spesial."

​Nara menatap jam dinding.

​Pukul 03.33 pagi.

​Ini bukan jam sarapan. Ini jam jamuan.

​"Jangan dibuka," bisik Dion. "Itu bukan Pak Wiryo."

​"Tapi kalau nggak dibuka..." Raka menunjuk ke arah jendela.

​Di sela-sela papan kayu yang memalang jendela, ribuan kelabang hitam kecil mulai merayap masuk. Mereka keluar dari celah kusen, jatuh ke lantai seperti hujan serangga.

​Lala tertawa kegirangan, memungut satu kelabang dan membiarkannya merayap di lengannya.

​"Masuk... masuk semua..." senandung Lala.

​Desa Wanasari tidak lagi menunggu di luar. Mereka mulai merembes masuk, memaksa Nara dan kawan-kawannya untuk memilih: mati dikepung di luar, atau mati digerogoti dari dalam.

​Nara menatap pisau di tangannya. Ia sadar, malam ini tidak akan berakhir dengan matahari terbit. Malam ini baru akan berakhir jika ada darah lagi yang tumpah.

​Dan Raka, dengan luka menganga di bahu dan paru-paru penuh air sumur, sepertinya adalah kandidat terkuat untuk menjadi hidangan penutup sebelum fajar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!