Vira, terkejut ketika kartu undangan pernikahan kekasihnya Alby (rekan kerja) tersebar di kantor. Setelah 4 tahun hubungan, Alby akan menikahi wanita lain—membuatnya tertekan, apalagi dengan tuntutan kerja ketat dari William, Art Director yang dijuluki "Duda Killer".
Vira membawa surat pengunduran diri ke ruangan William, tapi bosnya malah merobeknya dan tiba-tiba melamar, "Kita menikah."
Bos-nya yang mendesaknya untuk menerima lamarannya dan Alby yang meminta hubungan mereka kembali setelah di khianati istrinya. Membuat Vira terjebak dalam dua obsesi pria yang menginginkannya.
Lalu apakah Vira mau menerima lamaran William pada akhirnya? Ataukah ia akan kembali dengan Alby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Sangat Manis, Sayang.
"Aku tidak mau mama baru, Papa!" protes Chika, putri sulungnya William. Gadis berusia 11 tahun—dengan rambut loose waves yang terurai indah itu tampak anggun di hari ulang tahunnya. Namun, niat William untuk mencarikan ibu baru membuat wajahnya berubah masam.
“Tapi papa mau, Chika,” ujar William tak mau mengalah.
“Ya sudah papa saja, aku dan Anggi tidak mau mama baru. Ya, kan Anggi?” Chika mencari dukungan dari adiknya.
Anggi yang masih mengunyah steak hanya mengangguk mengikuti kakaknya.
“Kalian belum kenal dengan Tante Vira. Dia cantik dan baik, kalian pasti suka. Papa saja suka,” ujar William masih memaksa.
“Huh... Papa nyebelin. Aku benci mama baru," Chika bergumam kesal. Ia melirik William dengan mata menyipit, lalu kembali menikmati es krimnya dengan malas.
.
.
Keesokan harinya, William berencana menemui Vira untuk membahas informasi yang didapatkan tentang Jonatan—pria yang dijodohkan dengan Vira oleh keluarganya.
Begitu mobilnya memasuki kota Bandung, William segera meraih ponselnya dan menghubungi Vira.
Tut… Nada sambung terdengar.
"Halo?" suara Vira menyapa dari seberang.
"Sayang, aku sudah sampai Bandung. Ada yang ingin aku bicarakan, bisa kita bertemu sebentar?" ujar William, matanya tetap awas pada jalanan, sementara suara Vira terdengar jelas dari carplay mobilnya.
“Eum… aku cari celah dulu untuk ijin dengan orang tuaku. Kita bertemu di kafe banana split dua jam lagi,” jawab Vira.
“Oke sayang aku …”
Tut…tuttt… belum sempat kalimat itu selesai, Vira sudah menutup telepon.
“...aku merindukanmu,” bisik William melanjutkan ucapannya tadi.
Mobil William menyusuri jalanan Bandung yang ramai. Sesampainya di kafe kecil yang dijanjikan Vira, ia bergegas masuk. William memilih lantai dua, dengan sofa nyaman dekat jendela. Hingga bisa mengamati setiap orang yang turun dari mobil atau taksi ketika menengok ke bawah.
“Astaga, seumur hidup baru kali ini aku dibuat menunggu oleh seorang wanita... hah…” keluhnya pelan sambil menyesap kopinya.
Sebuah taksi berhenti di depan kafe, dan seorang wanita keluar. Penampilannya sederhana—kaus putih kasual, celana jeans, dan tas selempang kecil yang bertengger di pundaknya.
William, yang tadinya mengamati area parkir, terpaku pada seorang wanita yang baru turun dari taksi. Saat wanita itu berbalik, William tersenyum lebar. “Vira…”
Ia jarang melihat Vira dengan pakaian santai seperti ini. Sinar matahari yang memantul di kulitnya membuat wanita 26 tahun itu tampak begitu mempesona, hingga membuat jantung duda itu berdebar kencang. Ia segera mengirim pesan pada kekasihnya untuk menunggu di bawah, karena William berniat membahas hal tentang Jonatan di dalam mobil. Menjaga privasi.
“Sayang…” panggil William, ketika kakinya sampai di anak tangga paling bawah.
Vira menoleh dan tersenyum menatap kekasihnya. William segera menggenggam tangan Vira keluar dari kafe dan keduanya masuk kedalam mobilnya.
Di dalam mobil, William segera menunjukkan pada Vira foto Jonatan bersama anak dan istrinya dengan status yang disembunyikan.
“Apa ini, Pak?” tanya Vira, matanya melebar mengamati beberapa foto yang disodorkan William.
“Pak… pak… terus,” protes William kesal, berasa sangat tua ketika Vira memanggilnya Pak.
Vira menatap William, menyadari jika kekasihnya kesal. Dengan cepat mengusap lembut pipi kekasihnya untuk mencairkan amarahnya. “Iya, iya… sayang. Apa ini?”
William menghela napas panjang sebelum bercerita. “Jonatan ternyata sudah menikah, Vira,” ujar William.
Vira melepaskan sentuhannya, matanya semakin melebar mengamati foto di tangannya. “Bapak… eh… maksudku, kamu dapat dari mana?” tanya Vira penasaran.
“Aku meminta seseorang untuk mengawasinya, tapi… apa kamu dan keluargamu tidak tahu persoalan ini?” William tampak curiga.
Vira menggelengkan kepala. “Tentu tidak,” jawabnya mantap.
“Sayang bawa foto ini tunjukkan pada ayahmu, aku yakin dia akan berubah keinginan untuk menikahkan mu dengan pria itu,” kata William.
Vira mengangguk, lalu menyusun kembali beberapa foto itu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tas.
“Tapi… aku takut penyakit jantung ayah kambuh.” Vira diam sejenak memikirkan jalan lain. “Aku akan menemui dia, meminta kejelasan.” tambahnya.
William segera menarik tangan Vira dengan lembut. “Aku ikut jika kamu menemuinya,” ucapnya cepat.
“Kenapa? Kamu tidak percaya padaku?” Vira memicingkan matanya.
“Tentu, bagaimana jika dia berbuat macam-macam denganmu. Menyentuhmu dan ah… yang lainnya,” ujar William, menggelengkan kepalanya, benaknya sudah berkecamuk hal aneh-aneh.
“Aku bisa jaga diri, lagian aku tidak tertarik padanya.” Vira mengusap kembali pipi William, kali ini membuat duda itu meremang ketika jari kecil dan lembut Vira menyentuh kulitnya.
“Aku tidak percaya,” jawab William cepat.
“Lihat mataku, apa aku terlihat berbohong?” ujar Vira, matanya melebar di tunjukkan tepat di depan wajah William.
William menahan senyumnya. “Mana aku lihat!” ujarnya, menyentuh lembut kedua pipi Vira, hingga kedua mata mereka bertemu lebih intens. “Coba aku lihat lebih jelas,” William sedikit menarik wajah Vira, lalu mengecup singkat bibirnya.
Vira membulatkan matanya karena terkejut, lalu berdecak kesal. “Aku suruh lihat mata aku, kenapa jadi cium aku sih,” keluhnya.
William terkekeh. “Oh, salah ya? Habis mata dan bibir kamu jaraknya dekat, sayang, jadi sekalian saja.”
“Ih.. selalu saja cari kesempatan,” protes Vira.
William menahan senyumnya lagi, dengan lembut kembali menyentuh wajah kekasihnya yang cemberut. “Iya iya aku minta maaf… habis bibir kamu manis. Aku jadi candu ingin menciumnya,” ucapnya.
Vira menoleh. “Alasan.” bibirnya mengerucut kesal, tapi hanya bercanda.
William kembali melepas seatbelt-nya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Vira. “Satu kali lagi,” bisiknya, matanya menatap bibir Vira. Sebelum Vira sempat menjawab, William sudah meraup bibir itu. Ia menciumnya dan menyesap setiap inci bibir Vira.
Vira tersentak kaget, namun kemudian berusaha mengimbangi. Menikmatinya perlahan, tanpa sadar tangannya menggenggam erat lengan William.
Napas keduanya saling memburu, menciptakan keheningan yang penuh dengan gairah. William melepaskan ciumannya perlahan, menempelkan dahinya ke dahi Vira. “Aku tidak bisa berhenti menciummu,” bisiknya lembut.
“Ini sangat manis… aku tidak ingin berhenti, sayang.”
Bersambung…