Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam menggantung berat di atas perbukitan utara London.
Di balik kabut tipis, sebuah mansion tua berdiri angkuh dikelilingi pagar besi hitam dan pepohonan tinggi yang menutupinya dari jalan utama.
Itulah markas Gagak Hitam.
Mobil hitam tanpa lampu berhenti sekitar dua ratus meter dari lokasi.
Evans turun lebih dulu.
Gerakannya tenang, wajahnya datar, tapi sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang sudah diasah berhari-hari.
“Tidak ada kamera di sisi barat,” lapor Ben pelan melalui alat komunikasi.
“Terlalu bersih.”
Gerry berjongkok di samping Evans, mengamati mansion dengan teropong malam.
“Penjagaan depan cuma dua orang. Itu… tidak masuk akal.”
Evans tidak langsung menjawab.
Ia memandangi bangunan itu terlalu lama untuk sekadar mengamati.
“Bryan bukan orang bodoh,” ucapnya akhirnya.
“Kalau dia menyimpan Xerra di sini, tempat ini seharusnya seperti neraka.”
Ia mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
“Ini jebakan,” lanjutnya dingin.
“Tapi kita tetap masuk.”
Ben menoleh cepat.
“Evans”
“Aku tahu risikonya,” potong Evans. “Justru karena itu kita tidak boleh gegabah.”
Mereka bergerak menyebar, memanfaatkan bayangan pepohonan.
Pagar belakang berhasil dilewati tanpa suara. Bahkan anjing penjaga yang biasanya menjadi momok… tidak ada.
Gerry berbisik,
“Tidak normal.”
Evans mengangguk tipis.
“Tetap fokus.”
Pintu samping mansion terbuka hanya dengan satu sentuhan ringan. Tidak terkunci.
Itu membuat jantung siapa pun berdebar,bukan karena kemudahan, tapi karena ketidakwajaran.
Lorong dalam mansion gelap, lampu dibiarkan mati.
Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela tinggi.
Langkah mereka nyaris tak bersuara.
Evans berjalan paling depan.
Setiap sudut diperiksa.
Setiap pintu ditandai.
Namun tidak satu pun tanda perlawanan.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada suara.
Tidak ada darah.
“Terlalu tenang,” gumam Ben.
Evans berhenti mendadak di depan tangga besar yang menuju lantai dua.
Di sana
tercium aroma samar yang membuat dadanya menegang.
Aroma Parfum yang sangat ia kenal.
Evans mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat berhenti total.
Ia menarik napas perlahan.
“Xerra ada di sini,” katanya rendah.
Gerry menelan ludah.
“Bagaimana kau yakin?”
Evans tidak menoleh.
“Aku tahu.”
Mereka naik perlahan.
Di ujung lorong lantai dua, sebuah pintu kamar terbuka sedikit.
Lampu dari dalam memancar lembut, kontras dengan kegelapan sekitar.
Evans mendekat satu langkah… dua langkah…
Namun sebelum ia menyentuh gagang pintu..
Klik.
Lampu di seluruh lorong menyala bersamaan.
Suara langkah berat terdengar dari belakang.
Puluhan.
Evans berbalik cepat, pistol sudah terangkat.
Dari arah tangga, pria berambut keriting cokelat melangkah santai, mengenakan kemeja hitam tanpa rompi pelindung.
Wajahnya tenang bahkan terlalu tenang.
Bryan Adams.
“Sangat cepat,” katanya sambil bertepuk tangan pelan.
“Aku kira kau akan lebih lama.”
Ben dan Gerry langsung mengarahkan senjata.
“Di mana Xerra?” suara Evans dingin, nyaris tanpa emosi.
Bryan tersenyum kecil.
“Tenang. Dia aman.”
Evans maju satu langkah.
“Jawab pertanyaanku.”
Bryan mengangkat kedua tangannya, bukan menyerah lebih seperti menikmati situasi.
“Dia tidak di ruang bawah tanah. Tidak di ruang rahasia. Dan tidak dalam kondisi yang kau bayangkan.”
Evans mengepalkan rahangnya.
“Kalau kau menyentuhnya....”
Bryan memotong dengan nada santai tapi tajam.
“Aku tidak menyentuh barang milik orang lain.”
Ia melirik pintu kamar yang terbuka.
“Setidaknya… belum.”
Detik itu juga, aura Evans berubah.
Udara di lorong terasa menekan.
“Apa maumu?” tanya Evans pelan, berbahaya.
Bryan mendekat selangkah.
“Aku ingin kau mendengarkan.”
Ia tersenyum bukan senyum musuh, melainkan pria yang yakin memegang kartu truf.
“Aku tidak ingin wilayahku kembali,” lanjutnya.
“Tidak ingin perang. Tidak ingin darah.”
Evans menyipitkan mata.
“Lalu?”
Bryan menatap langsung ke mata Evans.
“Aku ingin Xerra.”
Hening.
Gerry mengumpat pelan.
Ben menegang.
Evans tertawa kecil tanpa humor.
“Kau memilih mati.”
Bryan menggeleng pelan.
“Tidak. Aku memilih sesuatu yang lebih berisiko.”
Ia menoleh ke arah pintu kamar.
“Meminta seorang pria menyerahkan apa yang paling ia lindungi.”
Di balik pintu itu, Xerra berdiri membeku.
Ia mendengar semuanya.
Sejak pertama kalinya diculik
Ia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan dari ketakutan.
Ia telah menjadi alasan perang.
Langkah kaki kecil terdengar dari balik pintu.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Xerra muncul dengan gaun sederhana berwarna pastel,Rambutnya tergerai, wajahnya sedikit pucat, tapi matanya jernih tidak menangis, tidak runtuh.
Evans menoleh.
Untuk sepersekian detik, dunia berhenti.
“Xerra…” suaranya turun, nyaris tak terdengar.
Xerra membeku saat melihat Evans berdiri di lorong gelap dengan pistol di tangan. Dadanya terasa sesak, antara lega dan takut bercampur jadi satu.
“Om…” bisiknya.
Sebelum Evans bisa melangkah maju
Bryan bergerak lebih cepat.
Tangannya menangkap pergelangan tangan Xerra, menariknya ke sampingnya dengan gerakan tegas namun terkontrol.
Evans langsung mengangkat senjata lebih tinggi.
“Lepaskan dia,” ucapnya dingin.
Bryan tidak melirik senjata itu. Matanya justru tertuju pada Evans, senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
“Tenang,” katanya santai. “Aku hanya memastikan dia tidak lari.”
Jari Bryan mengencang di pergelangan tangan Xerra.
Xerra meringis kecil, refleks menoleh ke arahnya.
“Lepas,” ucapnya tegas, suaranya bergetar tapi jelas.
Bryan menunduk sedikit, mendengar nada itu.
Namun alih-alih melepas, ia justru mengubah posisi tangannya,menggenggam lebih erat, seolah ingin menunjukkan sesuatu.
Evans melangkah maju satu langkah.
Udara di sekitar berubah.
“Jangan ulangi kesalahanmu,” katanya pelan.
“Kesabaranku ada batasnya.”
Bryan terkekeh pelan.
“Itu yang membuatmu berbahaya. Dan itu pula yang membuatku penasaran.”
Ia melirik Xerra sekilas.
“Kau tahu? Istrimu tidak seperti yang kubayangkan.”
Evans tidak berkedip.
“Dia bukan topik untukmu.”
“Dia tenang,” lanjut Bryan, seolah sengaja mengabaikan ancaman itu.
“Bahkan saat tahu siapa aku. Bahkan saat tahu hidupnya ada di tanganku.”
Xerra menarik napas, berusaha tetap berdiri tegak.
“Aku tenang karena aku tahu Om akan datang,” katanya pelan namun pasti.
Kalimat itu seperti pisau yang menancap tepat di dada Evans,bukan menyakitkan, melainkan menguatkan.
Sorot matanya mengeras.
Bryan mendengus kecil.
“Keyakinan yang menarik.”
Ia kembali menatap Evans.
“Kau beruntung.”
“Tidak,” sahut Evans cepat. “Aku menjaga apa yang kumiliki.”
Ia mengulurkan tangan ke arah Xerra.
“Kemari.”
Xerra ingin melangkah.
Namun Bryan tidak memberinya ruang.
Tangannya berpindah bukan lagi di pergelangan, melainkan mencengkeram jari-jari Xerra, mengaitkannya di jemarinya sendiri.
Isyarat itu jelas.
Provokatif.
Evans berhenti.
Ekspresinya berubah.
Rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang.
“Bryan,” ucapnya pelan, penuh tekanan.
“Kau sedang menggali kuburmu sendiri.”
Bryan tersenyum, menikmati reaksi itu.
“Cemburu?”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Xerra.
“Dia bereaksi cepat saat aku menyentuhnya. Itu insting. Menarik.”
Xerra menarik tangannya sekuat tenaga.
“Jangan sentuh aku,” katanya dingin.
“Aku bukan milikmu. Dan aku tidak pernah akan menjadi Milikmu”
Bryan terdiam sesaat.
Bukan marah.
Justru… tertarik.
Evans memanfaatkan jeda itu.
Satu langkah lagi.
“Permainanmu selesai,” katanya.
“Kau ingin bicara denganku, bicaralah sebagai pria. Bukan dengan menyentuh istriku.”
Bryan menatap Evans lama, lalu akhirnya melepas tangan Xerra.
Xerra langsung bergerak.
Ia berlari kecil, nyaris tersandung, dan berhenti tepat di depan Evans. Tangannya menggenggam jas pria itu erat, seolah memastikan dirinya benar-benar nyata.
Evans menurunkan pistolnya sedikit, tangan satunya terangkat menyentuh punggung Xerra dengan lembut namun protektif.
“Aku di sini,” ucapnya pelan.
Xerra mengangguk, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis.
Bryan memperhatikan adegan itu dalam diam.
Lalu ia tersenyum tipis senyum pria yang belum kalah, hanya mengubah strategi.
“Baik,” katanya akhirnya.
“Kalau begitu… kita bicara.”
Ia menatap Evans tajam.
“Sebagai dua pria yang sama-sama tidak suka kehilangan.”
Dan di lorong itu, di antara senjata terangkat dan napas tertahan, satu hal menjadi jelas
Perang ini belum selesai.