Selama tujuh tahun, Reani mencintai Juna dalam diam...meski mereka sebenarnya sudah menikah.
Hubungan mereka disembunyikan rapi, seolah keberadaannya harus menjadi rahasia memalukan di mata dunia Juna.
Namun malam itu, di pesta ulang tahun Juna yang megah, Reani menyaksikan sesuatu yang mematahkan seluruh harapannya. Di panggung utama, di bawah cahaya gemerlap dan sorak tamu undangan, Juna berdiri dengan senyum yang paling tulus....untuk wanita lain.
Renata...
Cinta pertamanya juna
Dan di hadapan semua orang, Juna memperlakukan Renata seolah dialah satu-satunya yang layak berdiri di sampingnya.
Reani hanya bisa berdiri di antara keramaian, menyembunyikan air mata di balik senyum yang hancur.
Saat lampu pesta berkelip, ia membuat keputusan paling berani dalam hidupnya.
memutuskan tidak mencintai Juna lagi dan pergi.
Tapi siapa sangka, kepergiannya justru menjadi awal dari penyesalan panjang Juna... Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan Lupa follow penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aerishh Taher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Makan Malam
Angin malam masih menempel di kaca mobil ketika mereka meninggalkan pantai. Jalanan lengang, hanya suara mesin dan desir ban yang menemani.
Gerald fokus menyetir. Reani bersandar di kursi penumpang, menatap lampu jalan yang lewat satu per satu—hingga ponselnya bergetar di pangkuannya.
Nama Doroti muncul di layar.
Reani mengangkatnya.
“Ya?”
Nada Doroti langsung pecah, napasnya cepat.
“Rea. Kamu sudah dengar?”
Reani menegakkan punggungnya. “Dengar apa?”
“Juna masuk rumah sakit.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Reani tidak langsung bereaksi. Tangannya hanya mengerat di sekitar ponsel.
“Kenapa?”
“Dipukuli,” jawab Doroti. “Katanya orang tak dikenal. Tapi—” Doroti menurunkan suaranya, seolah takut didengar, “aku yakin itu ulah Arian sama Kak Breinzo.”
Gerald yang menyetir sedikit menoleh. Ia tidak mendengar isi percakapan secara jelas, tapi perubahan napas Reani dan jeda panjang di antara kata-kata Doroti sudah cukup membuatnya paham arahnya.
Ia menggeleng pelan.
Reani menangkap gerakan itu dari sudut matanya.
“Seberapa parah?” tanya Reani akhirnya, suaranya tetap rata.
“Tidak sampai kritis,” jawab Doroti. “Tapi cukup untuk bikin dia terkapar. Tulang rusuknya retak, wajahnya…” Doroti terdiam sebentar. “Bengkak seperti kepala babi.”
Reani menutup mata sesaat, bibirnya ia tahan agar tak tertawa.
“Ekhemm.... Arian dan Breinzo tidak bodoh,” katanya tenang. “Kalau memang mereka terlibat, mereka tidak akan meninggalkan jejak.”
Doroti terdiam di ujung sana. “Iya bener sih, mereka emang rapi banget.”
“Apa kamu akan pergi menjenguknya?” lanjut Reani. “Aku jadi penasaran seberapa bengkak wajahnya hingga kamu menjulukinya kepala babi.”
“Hahahaha,” Tawa Doroti pecah. “Makanya aku langsung menelepon kamu, besok mungkin aku akan ke RS, apa kamu mau pergi bersamaku?”
Reani terkekeh kecil. “Oke besok kita pergi bersama, sudah dulu aku sedang bersama Gerald.”
“Baik,” jawab Doroti. “Sampai jumpa besok, hati-hati Gerald nyeremin.”
Panggilan berakhir.
Hening kembali memenuhi mobil.
Lampu merah memantul di kaca depan. Gerald berhenti, lalu menoleh ke arah Reani.
“Ini bukan bagian dari rencanamu,” katanya, bukan bertanya.
Reani menggeleng kecil. “Bukan.”
Gerald menarik napas panjang. “Aku tahu.”
Ia kembali menatap jalan, lalu berkata pelan, “Tapi kakakmu sangat protektif.”
“Dan impulsif,” tambah Reani singkat.
Gerald tidak membantah dan mengangguk.
“Aku tidak ingin ini jadi kekacauan,” ujar Reani. “Tapi aku tak bisa melarang mereka, apalagi Breinzo sangat keras kepala.”
Gerald meliriknya sekilas. “Kalau Arian dan Breinzo benar melakukannya, mereka pikir itu melindungimu.”
“Ya, cara mereka terlalu berbahaya, tapi paling tidak mereka puas dan tidak berniat lebih.” kata Reani pelan, tapi tegas.
Lampu berubah hijau mobil kembali melaju.
Gerald menurunkan sedikit kecepatan, suaranya lembut tapi pasti.
“Apa pun yang terjadi setelah ini, aku di pihakmu.”
Reani menatap ke depan. Bayangan mansion mulai terlihat di kejauhan.
“Ya,” katanya.
Namun di balik ketenangannya, satu hal jelas.
Walau Reani mengatakan tak ada niat lebih dari Arian dan Breinzo, tapi Reani tau kebenarannya.
Breinzo dan Arian buka orang yang mudah melepaskan mangsa mereka.
__
Lampu-lampu mansion menyala hangat ketika mobil Gerald berhenti di pelataran. Pintu besi tinggi terbuka perlahan, seolah mengenali tuannya.
Gerald mematikan mesin. Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Reani. Angin malam membawa aroma taman yang terawat rapi—tenang, tapi berjarak.
“Sudah sampai,” kata Reani singkat.
Gerald mengangguk. “Kalau begitu… aku pamit.”
Reani sudah melangkah setengah jalan, lalu berhenti. Ia menoleh, menatap Gerald yang masih berdiri di dekat mobil, ragu sejenak sebelum berkata,
“Bagaimana kalau kita makan malam bersama di mansionku?”
Gerald terdiam sepersekian detik. Alisnya terangkat tipis, lalu senyum kecil muncul.
“Hmm… boleh.”
Reani mengangguk. “Ayo masuk.”
Pintu utama terbuka dari dalam. Seorang perempuan paruh baya dengan sikap tenang berdiri menyambut.
“Nona,” sapa pelayan itu sambil menunduk sopan.
“Sukma,” jawab Reani singkat. “Apa makan malam sudah siap?”
“Sudah, Nona. Meja makan telah siap.”
Reani melepas mantel tipisnya, menyerahkannya pada Sukma. “Baik. Aku ingin makan dengan tamu.” Ia melirik Gerald sekilas. “Tolong bilang ke koki, siapkan juga camilan.”
“Dan setelah makan malam,” lanjut Reani, nadanya tetap datar, “aku mau dessert itu ada.”
Sukma tersenyum kecil. “Baik, Nona. Permisi.”
Langkah Sukma menjauh, meninggalkan mereka di aula luas dengan lampu kristal menggantung sunyi di atas.
Reani menoleh ke Gerald. “Mari.”
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang makan. Kursi-kursi kayu gelap tertata rapi, meja panjang berkilau di bawah cahaya lampu. Tidak ada musik, hanya denting sendok yang akan datang dan jarak yang perlahan menyempit.
Gerald menarik kursi untuk Reani sebelum duduk di seberangnya.
“Rumah yang nyaman,” katanya.
“Benarkah?” jawab Reani ringan.
Gerald tersenyum tipis.
“Rumah akan selalu nyaman jika kamu ada di dalamnya.”
Reani tersenyum tanpa mengucapkan apapun, ia bingung harus mengatakan apa.
Langkahnya membawa mereka berdua ke ruang makan.
Terlihat hidangan disajikan satu per satu dengan tenang. Cahaya lampu menggantung jatuh lembut di atas meja makan, memantulkan kilau halus pada peralatan perak.
Makan malam berlangsung tanpa tergesa.
Tidak ada pembicaraan berat—seolah keduanya sepakat memberi jarak pada dunia luar untuk sementara.
“Kamu tidak banyak bicara saat makan,” kata Gerald sambil memotong dagingnya perlahan. Nada suaranya santai, tidak menuntut.
“Aku terbiasa makan sambil berpikir,” jawab Reani.
Gerald tersenyum. “Kalau begitu, aku akan menemanimu berpikir.”
Reani meliriknya singkat, lalu kembali pada piringnya. “Itu tawaran yang aneh.”
Sesekali Gerald bercerita—tentang hal-hal ringan. Perjalanan bisnis yang berakhir lucu, rapat keluarga yang terlalu ramai, bahkan kegagalan kecil yang ia ceritakan tanpa gengsi. Reani lebih banyak mendengar.
Namun beberapa kali, tawanya lolos begitu saja—pelan, singkat, tapi nyata.
Setelah makan malam selesai, Sukma kembali dengan nampan berisi camilan manis. Potongan kue kecil, cokelat hangat, dan teh herbal yang mengepul pelan.
Mereka berpindah ke sofa di ruang duduk. Jarak di antara mereka tetap terjaga, tapi suasananya tidak lagi canggung.
“Ini enak,” kata Gerald setelah mencicipi kue. “Manisnya tidak berlebihan.”
“Seperti orang yang tahu batasan bukan,” jawab Reani.
Gerald terkekeh. “Kalau begitu aku harus belajar dari kue ini.”
Reani mengaduk tehnya perlahan. “Kamu tidak lelah?”
“Justru ini hari yang menyenangkan,” jawab Gerald jujur.
“Pantai, kamu, dan makan malam yang… hangat.”
Reani menatap cangkirnya. “Kami berbeda dari apa yang Doroti katakan padaku.”
“Memangnya apa yang Doroti katakan?” Tanya Gerald.
Hening sebentar.
Jam dinding berdetak pelan, nyaris tak terdengar.
Ketika Reani menoleh, jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh.
“Bukan hal yang buruk, hanya beberapa kata. Sudah malam,” katanya. “Kamu harus pulang.”
Gerald mengangguk lalu berdiri, merapikan jasnya. “Terima kasih untuk malam ini.”
Reani ikut berdiri. “Hati-hati di jalan.”
Mereka berjalan hingga ke pintu depan. Udara malam menyusup masuk ketika pintu dibuka.
Gerald berhenti sejenak. “Rea… malam ini cukup berarti untukku.”
Reani mengangguk kecil. “Untukku juga.”
Mereka saling menatap singkat lalu Gerald melangkah pergi. Mobilnya menjauh perlahan dari pelataran.
Reani berdiri di ambang pintu lebih lama tanpa ia sadari, sebelum akhirnya menutup pintu itu pelan.
Di mansion yang kembali sunyi itu, rasa manis dari camilan masih tertinggal—bersama sesuatu yang pelan-pelan tumbuh, tanpa suara.
bersambung.....