---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Di sebuah gudang tua yang dijadikan markas, hawa dingin berubah menjadi panas ketika Melisa mengamuk.
BRAK!
Meja besar di depannya terpental beberapa centimeter karena pukulannya. Semua anak buahnya tiarap ketakutan.
“KENAPA SELALU GAGAL?!”
Suara Melisa melengking tajam, memantul ke seluruh sudut gudang seperti pisau tajam.
Seorang anak buah yang gemetar mencoba bicara, “Bu… kami sudah—”
“DIAM!!”
Melisa menendang kursi hingga terpelanting.
Di lantai, laporan kematian tiga sekutu kepercayaannya—Gio, Dio, dan Bagas—berserakan. Ketiganya adalah tangan kanan yang selama ini menjadi tulang punggung rencananya.
Kini, nama mereka hanya tinggal tulisan, tanpa nyawa.
Melisa mengambil satu kertas laporan, meremasnya, lalu melemparkannya tepat ke wajah salah satu anak buahnya.
“Tiga orang yang paling aku andalkan… mati semua?!” desisnya pelan tetapi mematikan.
“Bagaimana mungkin kalian kalah… dari seorang perempuan hamil dan suaminya?!”
Tidak ada yang berani menjawab.
Melisa mulai berjalan perlahan, langkah sepatunya menggema seperti suara ancaman. Napasnya berat, wajahnya merah padam, rambutnya acak-acakan seperti orang yang kehilangan kewarasan.
“Gio itu sniper terbaik…” katanya sambil berjalan memutari ruangan.
“Dio itu ahli strategi…
Bagas itu petarung jarak dekat terkuat…”
Ia berhenti dan menatap anak buahnya dengan tatapan tajam seperti pisau.
“Dan kalian bilang… mereka semua tewas karena DIKEPUNG bala tentara Armand?!”
Suara Melisa meninggi lagi.
“Apa kalian kira Armand bakal tinggal diam?! KALIAN INI BEGO ATAU APA?!”
Anak buahnya berlutut, tak ada yang berani mengangkat kepala.
Kalau hewan-hewan yang ia sebutkan saat memaki betulan muncul, markas itu mungkin sudah berubah jadi kebun binatang.
Melisa menghempaskan tubuhnya ke sofa lusuh, tangannya menutupi wajah.
Kelopak matanya bergetar menahan amarah sekaligus… rasa takut.
Takut kehilangan segalanya.
“Kalau ini terus terjadi… aku nggak hanya kehilangan rencana… aku kehilangan masa depan…” gumamnya lirih.
Namun detik berikutnya matanya berubah dingin kembali.
“Aku nggak akan kalah dari Mala,” bisiknya.
“Tidak sekarang. Tidak pernah.”
Ia berdiri lagi, menendang pecahan kaca di lantai.
“Siapkan rencana baru. Aku akan turun tangan sendiri.”
Anak buahnya semakin pucat.
Melisa yang ini… bukan lagi manusia waras.
Setelah kejadian baku tembak di capé serabi, rumah keluarga Armand diperketat. Pengawal berjaga di setiap sudut, kamera CCTV autofocus merekam tiap detail.
Tapi ruangan keluarga masih terasa hangat, penuh tawa—terutama karena satu orang.
Kayla.
Ia melompat ke sofa sambil menutup laptop, wajahnya cerah.
“Ma, aku resign dari capé,” katanya santai seperti mengumumkan menang undian berhadiah.
Mala memutar badan cepat. “Hah? Capé kamu gimana?”
“Aku serahin ke Wulan. Dia kan memang pekerja kamu juga. Jadi aman.”
Mala melongo. “Terus kamu mau kerja apa?”
“Aku mau ikut adegan laga. Tapi yang asli.”
Aurelia yang lagi minum teh hampir menyembur. “Apa?!”
Kayla mengangkat dua tangannya dramatis seperti di atas panggung.
“Aku baru sadar tujuan hidup aku.”
Mala mengernyit. “Tujuan apa?”
Kayla menunjuk keluar jendela, ke arah halaman luas tempat para bodyguard Armand berlatih.
Gerakan mereka tegas, seragam, penuh disiplin. Tubuhnya atletis, pakaiannya rapi, wajahnya… jelas masuk kategori “berbahaya untuk jomblo”.
“TUH LIAT!” jerit Kayla.
“Mereka tuh… ganteng! Gagah! Bawa senjata kayak di film! Nggak ada yang muka kriminal! Sumpah Ma… hidup aku selama ini ternyata hampa!”
Mala sampai menepuk wajah. Aurelia tertawa keras.
Kayla melanjutkan, “Aku mau daftar jadi… tim dokumentasi khusus bodyguard! Merekam mereka aksi! Dapet gaji! Dapet pemandangan!”
Ia kipas-kipas pipinya sendiri.
Mala menggeleng pasrah. “Jadi tujuan hidup kamu… ngevlog cowok-cowok tampan berotot?”
“Betul sekali!” jawab Kayla tanpa ragu.
Aurelia makin ngakak.
Beliau membawa nampan berisi teh hangat.
“Wajar saja mereka tampan dan terlatih,” ucapnya tenang sambil duduk.
“Setiap orang yang masuk tim pengamanan keluarga kami… melalui seleksi sangat ketat. Bukan hanya fisik, tapi juga mental dan integritas.”
Kayla langsung berdiri tegap, memberi hormat dramatis.
“Kalau gitu Tante Maya… saya siap masuk pelatihan!”
Aurelia sampai hampir jatuh dari sofa.
Tidak lama kemudian, suara mobil terdengar di luar.
Pak Wira masuk dengan wajah letih—benar-benar letih.
“Ayah?”
Mala segera menghampiri.
Pak Wira menghela napas panjang, seperti menumpahkan seluruh beban di dadanya.
“Sudah resmi,” katanya pelan.
“Ayah dan Melisa… bercerai.”
Suasana rumah langsung hening.
Kayla berhenti bercanda. Aurelia menaruh gelas. Nyonya Maya menatap lembut.
Mala mendekat, memegang lengan ayahnya. “Ayah nggak apa-apa?”
Pak Wira tersenyum kecil, namun matanya berkaca-kaca.
“Ayah baik… hanya… Ayah nggak pernah menyangka Melisa sejauh ini. Ambisinya… sampai membutakan semuanya.”
Mala memeluk ayahnya erat.
“Yang penting Ayah selamat.”
Kayla berkata lirih, “Akhirnya juga ya, Om… semoga Om bisa tenang.”
Nyonya Maya menepuk bahu Pak Wira.
“Mulai hari ini… Ayah Wira bersama kami. Keluarga Armand.”
Pak Wira menunduk, terharu. “Terima kasih… terima kasih.”
Mala tersenyum lega meski hatinya masih getir.
Ia tahu ayahnya terluka—bukan karena perceraian, tetapi karena dikhianati seseorang yang pernah ia percaya.
Di markas, setelah semua anak buahnya pergi untuk menyiapkan rencana baru, Melisa berdiri menatap dirinya di kaca.
Bayangannya terlihat berbeda—mata merah, wajah kurus, senyum miring yang tidak sehat.
Ia mengambil vas kaca dan—
PRANG!!
Pecahan kaca berserakan di lantai.
“Kalian pikir aku berhenti?!”
Suara Melisa gemetar namun penuh kebencian.
“Tidak.”
Ia menatap foto Mala yang dicetak besar dan ditempel di dinding.
“Mala…” bisiknya pelan, tetapi penuh racun.
“Anak kecil sok suci yang merusak semuanya.”
Ia menelusuri foto itu dengan ujung kukunya.
“Hamil pula… menggandeng kekuasaan Armand pula…”
Ia tersenyum kecil—senyum yang membuat siapa pun merinding.
“Aku akan akhiri semuanya…
Dengan tanganku sendiri.”
Di luar ruangannya, para anak buahnya saling menatap pucat.
Melisa tidak lagi sekadar ambisius.
Ia kini… tak terkendali.
Assalamualaikum selamat malam
Selamat membaca...