NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Seharusnya Ada

Cinta Yang Tak Seharusnya Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Pengganti / Balas Dendam / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunFlower

Setelah kematian istrinya, Nayla. Raka baru mengetahui kenyataan pahit. Wanita yang ia cintai ternyata bukan hidup sebatang kara tetapi ia dibuang oleh keluarganya karena dianggap lemah dan berpenyakitan. Sementara saudari kembarnya Naira, hidup bahagia dan penuh kasih yang tak pernah Nayla rasakan.
Ketika Naira mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya, Raka melihat ini sebagai kesempatan untuk membalaskan dendam. ia ingin membalas derita sang istri dengan menjadikannya sebagai pengganti Nayla.
Namun perlahan, dendam itu berubah menjadi cinta..
Dan di antara kebohongan, rasa bersalah dan cinta yang terlarang, manakah yang akan Raka pilih?? menuntaskan dendamnya atau menyerah pada cinta yang tak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Happy Reading...

.

.

.

Raka membawa tas milik Naira masuk ke dalam kamar mereka. Langkahnya terdengar berat, seolah setiap pijakan menyimpan beban pikiran yang tidak sedikit. Ia meletakkan tas itu di sudut kamar, tepat di dekat lemari. Padahal tidak ada perubahan pada tata letaknya, namun suasananya terasa berbeda. Dingin. Sunyi.

Sementara itu, Naira berjalan menuju tempat tidur dengan Jingga yang sudah mulai mengantuk. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan anak kecil itu di tengah-tengah tempat tidur. Jingga menggeliat kecil, lalu tanpa sadar meraih ujung baju Naira seolah takut ibunya akan pergi. Naira tersenyum tipis, lalu membelai rambut Jingga dengan lembut.

Raka yang sudah selesai meletakkan tas berbalik dan melangkah menuju pintu kamar. Ia berniat keluar, memberi Naira waktu bersama Jingga. Namun baru beberapa langkah, suara Naira menghentikannya.

“Raka.” panggil Naira datar.

Langkah Raka terhenti. Ia menoleh perlahan. “Ada apa?” tanyanya.

Naira menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka suara. “Mulai malam ini, aku akan tidur di kamar Jingga.”

Ucapan itu membuat Raka langsung mengernyit. Tanpa berpikir lama, ia menggeleng tegas. “Tidak...” jawabnya singkat namun jelas.

Naira menoleh ke arahnya, menatap Raka dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak. “Kenapa tidak?” tanyanya.

Raka mendekat satu langkah. “Aku tidak mengizinkan kamu tidur terpisah.” ucapnya. “Bagaimana jika nanti Jingga  mencarimu.”

Naira tersenyum sinis. “Kalau begitu, kamu saja yang tidur di kamar Jingga.” katanya dingin.

Raka kembali menggeleng, kali ini lebih keras. “Tidak bisa.” jawabnya. “Aku juga tidak akan tidur terpisah. Kita sudah terbiasa tidur bersama...”

Nada suara Raka mulai terdengar menekan. Ia menatap Naira dalam-dalam. “Kita sudah menikah secara sah. Tidak ada alasan untuk tidur di kamar yang berbeda..” lanjutnya.

Ucapan itu membuat Naira mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Ia menatap Raka dengan penuh kekesalan, seolah menahan banyak hal yang ingin ia katakan namun memilih untuk disimpan.

“Lagi- lagi kamu memaksakan kehendakmu....” ucap Naira pelan namun tajam.

Raka terdiam sejenak. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar kamar. Perlahan, ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Naira. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia tetap melaju hingga jarak mereka berdua semakin dekat. Naira tidak mundur, namun tubuhnya menegang.

Raka berhenti tepat di hadapannya. “Dengarkan aku.” Ucapnya rendah. “Kamu milikku. Aku tidak akan melepaskan kamu..”

Naira menatapnya, matanya berkilat menahan emosi. Namun Raka belum selesai.

“Dan ingat..” lanjut Raka dengan suara yang lebih tegas. “Aku menikahimu sebagai Naira. Dirimu sendiri. Bukan sebagai Nayla.”

Kalimat itu membuat Naira terdiam. Dadanya naik turun, napasnya terasa sedikit sesak. Nama itu kembali menghantam hatinya tanpa ampun. Ia mengalihkan pandangannya, tidak ingin Raka melihat mata yang mulai berkaca-kaca.

Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Naira. Ia memilih diam. Diam yang lebih menyakitkan daripada perlawanan. Setelah itu, Naira benar-benar mengabaikan Raka. Ia kembali fokus pada Jingga, membenarkan selimut anak itu dan membelai rambutnya dengan lembut.

Raka berdiri mematung beberapa saat sebelum akhirnya duduk di sisi tempat tidur, menjaga jarak. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Keheningan menyelimuti kamar itu dengan kuat.

Tidak ada lagi percakapan yang terjadi, bahkan setelah malam itu Raina mengabaikan Raka. Dan Raka menyadari hal itu. Ia merasakan jarak yang semakin melebar, meski mereka berada di rumah yang sama.

Raka sering menatap punggung Naira yang membelakanginya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap miliknya.

.

.

.

Hubungan Raka dan Naira semakin hari semakin merenggang. Jarak di antara mereka tidak lagi sekadar terasa, tetapi benar-benar terlihat dari sikap dan tutur kata yang kian dingin. Percakapan yang dulu masih bisa dilakukan meski dengan keterpaksaan, kini berubah menjadi perdebatan kecil yang kerap berujung pada pertengkaran. Naira tidak lagi menunduk dan diam seperti sebelumnya. Ia mulai berani membantah setiap larangan dan perintah yang menurutnya mengekang.

Bahkan beberapa kali Raka dibuat terkejut dengan perubahan sikap Naira. Perempuan itu tidak lagi meminta izin. Ia mulai mengambil keputusan sendiri, meski harus berhadapan langsung dengan kemarahan Raka. Hal itu sering kali memicu adu argumen di antara mereka. Suara mereka meninggi, emosi saling berbenturan, namun ada satu hal yang selalu disadari Naira di tengah semua kekacauan itu.

Raka tidak pernah bersikap dengan kasar.

Tidak sekalipun lelaki itu mengangkat tangan untuk memukulnya. Tidak seperti Arvino. Tidak seperti papanya. Raka juga tidak pernah melontarkan makian keji yang merendahkan harga dirinya. Kata-kata Raka mungkin tajam dan penuh tekanan, tetapi tidak pernah disertai hinaan yang menghancurkan mentalnya. Kesadaran itu membuat hati Naira sedikit lega, bahkan di tengah rasa sesak yang sering ia rasakan.

Ada bagian dari dirinya yang diam-diam bersyukur. Bersyukur karena hidup dengan Raka, meski penuh konflik, tidak membuatnya kembali merasa sekecil dan setidak berdaya dulu. Setidaknya, ia masih bisa berdiri sebagai dirinya sendiri.

Pagi itu, Naira melangkah keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya ia biarkan tergerai, wajahnya tampak pucat namun matanya menyimpan tekad. Ia meraih tas kecilnya dan melangkah menuju pintu depan. Belum sempat gagang pintu ia tarik, suara Raka menghentikannya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Raka dari arah ruang tengah.

Naira berhenti sejenak, lalu menoleh. “Keluar.” jawabnya singkat.

Raka berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat. “Aku belum mengizinkan kamu pergi.” ucapnya tegas.

Naira menghela napas pelan. “Aku tidak meminta izin.” balasnya datar.

Kalimat itu membuat rahang Raka mengeras. Ia menatap Naira dengan sorot mata penuh tekanan. “Kamu semakin berani membantah..” katanya. “Kamu istri aku. Kamu seharusnya patuh.”

Naira menatapnya balik tanpa gentar. “Aku hanya akan patuh selama itu masuk akal..” ujarnya.

Raka menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya. “Kamu akan sangat berdosa jika tidak mematuhi ucapan suami kamu, Naira..” ucapnya dengan nada dingin namun penuh penekanan.

Ucapan itu membuat sudut bibir Naira terangkat. Bukan senyuman, melainkan cemoohan. “Dosaku sudah banyak.” jawabnya ringan namun menusuk. “Jadi tidak akan masalah kalau aku menambah dosa lagi.”

Tanpa menunggu reaksi Raka, Naira kembali menghadap pintu dan melangkah pergi. Pintu tertutup dengan suara yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk meninggalkan gema di hati Raka.

Raka berdiri terpaku. Dadanya naik turun, menahan emosi yang bercampur antara marah dan lelah. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang. Perempuan itu semakin sulit dikendalikan, semakin jauh dari genggamannya. Namun di saat yang sama, ada perasaan asing yang muncul, perasaan yang tidak ingin ia akui.

Ia menatap pintu yang sudah tertutup rapat, lalu kembali duduk dengan tubuh yang terasa berat. Raka menyadari bahwa pertengkaran mereka bukan lagi sekadar tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang dua orang yang sama-sama terluka dan tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan diri sendiri.

.

.

.

Jangan Lupa Tinggalkan Jejak..

1
Tutuk Isnawati
raka neh padal dah cinta jg masih pura2 benci🤣
Tutuk Isnawati
cinta tp genngsi😍
Tutuk Isnawati
ayo raka jujur klo dah cinta naura🤭
Tutuk Isnawati
trnyata bapakny naira yg kejam disini gila harta dan kuasa
Tutuk Isnawati
naira trauma y sring d siksa
Tutuk Isnawati
itu ayah kandung bukan sih kok teganya nyiksa ank nya. semoga raka dengerin pas naura cerita
Tutuk Isnawati
knpa g cba trima raka aja nau dia lelaki baik drpd mntn mu itu
Tutuk Isnawati
👍👍
Tutuk Isnawati
kasihan jingga
Tutuk Isnawati
berarti dua2 emg krg perhatian dan kasih sayang ortu pa jgn2 mreka bkn ank kndung
Tutuk Isnawati
iya bwa pergi aja kyanya tunangan nya nai jg jahat
chochoball: padahal raka juga jahat lohhh
total 1 replies
Tutuk Isnawati
semangat thor.
Tutuk Isnawati
trus hamil ank siapa dong naira
chochoball: Hayoooo anak siapa?
total 1 replies
Tutuk Isnawati
semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!