Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 PERTEMUAN TAK TERDUGA
Perjalanan pulang dari Danau terasa menyenangkan. Kesya dan Dila ,dua sahabat yang sekarang lagi berbagi rahasia besar dipenuhi energi baru. Di tengah perjalanan kembali ke pusat kota, Dila tiba-tiba meminta sopir bus untuk berhenti di depan sebuah bangunan megah.
“Kita turun di sini, Kesya!” kata Dila penuh misteri.
Kesya mengerutkan kening, melihat bangunan di depannya.
Itu adalah "Cuisine Delight Restaurant"
sebuah restoran bintang lima yang sangat mewah.Restoran itu terkenal dengan harga yang mahal dan hidangan yang ditata seindah karya seni.
“Hei, Dila? Mau ke mana? Ini restoran mahal, lho,” tanya Kesya.
Dila tersenyum lebar, menarik tangan Kesya untuk masuk. “Justru itu. Anggap aja ini hadiah dari aku untuk kamu, Kesya. hadiah karena kamu udah menjadi teman penyamaran terbaik di dunia. Kapan lagi kita bisa makan di restoran semewah ini, ya kan?”
Mata Kesya bersinar penuh haru. dia tahu, Dila melakukan ini untuk membuatnya merasa dihargai, sebagai imbalan tulus atas bantuan Kesya keluar dari perjodohan yang rumit itu.
"Wah, aku terharu, Dil! Tapi,kamu serius punya uang? Jangan-jangan kamu udah jual ginjal kamu ya, demi makan di sini?" ledek Kesya sambil menyipitkan mata.
Dila tertawa terbahak-bahak, tawanya keras dan lepas. “Punya lah! Memangnya aku kamu, yang selalu boros dan dompetnya kering? Kali ini aku yang traktir, deal?”
Mereka pun dipersilakan masuk dan duduk di salah satu meja pojok yang elegan. Meja itu jauh dari pandangan orang banyak, memberikan mereka privasi. Suasana restoran itu mewah tapi tenang, dengan musik yang mengiringi dengan lembut.
Saat makanan disajikan, Kesya dan Dila hanya bisa kagum. Hidangan itu benar-benar ditata rapi dan cantik, seperti lukisan di atas piring. Mereka menghabiskan waktu dengan penuh keharuan dan kekaguman.
""Ya ampun, Dila. ini Sayang banget kalau dimakan" kata Kesya, melihat hidangan steak yang dihiasi saus
"Rasanya aku ingin bawa pulang aja, pajang di lemari kaca di rumah!"
"Sama! Ini lebih pantas jadi pajangan daripada jadi santapan perut lapar kita" balas Dila sambil tertawa kecil.
Mereka berdua benar-benar tenggelam dalam momen kebersamaan yang langka dan berharga ini. Mereka mengobrol, berfoto bersama mengabadikan foto mereka di meja mewah itu untuk diunggah di media sosial Kesya dan tertawa ceria. Karena terlalu fokus pada momen dan cerita mereka sendiri, mereka gak sempat melirik meja sebelah atau memperhatikan orang-orang di sekitar mereka.
Tawa Kesya mendadak berhenti. Perutnya mulai mules.
"Aduh, Dil. Aku kebelet banget" ucap Kesya sambil memegang perutnya.
"Aku harus ke toilet sekarang juga"
Kesya memanggil pelayan yang kebetulan lewat. "Permisi, toilet di sebelah mana, ya?"
Pelayan itu menunjuk ke arah belakang, dekat pintu masuk dapur. "Di belakang, Nona. Ada petunjuknya di sana"
Kesya mengangguk cepat dan langsung menuju arah yang ditunjukkan. Perasaan panik karena gak kuat menahan sakitnya itu membuat Kesya berlari tanpa melihat kanan-kiri.
Sesampainya di sana, dia melihat dua pintu. Satu pintu bertuliskan Toilet dengan simbol yang kurang jelas di matanya yang panik. Tanpa pikir panjang yang penting cepat sampai Kesya langsung membuka pintu itu.
BRAKKK
Kesya menabrak seseorang tepat di depan pintu. Pria itu baru aja mau keluar. Tabrakan itu lumayan keras.
Pria itu mengenakan setelan jas yang sangat rapi dan mahal, serta memakai sepatu kulit yang mengkilap bersih .
tapi, rasa ingin buang air yang mendesak jauh lebih kuat daripada rasa bersalah karena menabrak. Kesya bahkan gak sempat meminta maaf dulu. dia hanya ngomong gak jelas dan langsung menerobos masuk, menutup pintu di belakangnya dengan buru-buru.
Pria yang baru aja ditabraknya terdiam, kaget dengan perilaku Kesya yang seenaknya. saat tersadar, pria itu langsung menegur keras.
"Permisi! kenapa kamu masuk ke toilet pria?"kata pria itu
Kesya yang udah ada di dalam cuma terdiam, panik, dan fokus menyelesaikan urusannya. Dia gak menjawab sama sekali. Yang penting baginya saat itu adalah dia sudah masuk ke dalam toilet yang tepat waktu.
Pria itu masih berdiri mematung di depan pintu toilet, menunggu wanita yang baru aja masuk ke toilet itu untuk keluar dan meminta maaf atas perilakunya yang gegabah. Wajahnya terlihat sangat kesal, dan dia ngomong kekesalan pada dirinya sendiri.
"Apa-apaan wanita ini?" kata pria itu pelan dengan nada gak percaya.
"Dia benar-benar gak sopan. Masuk ke toilet yang jelas-jelas bukan untuknya tanpa merasa bersalah sedikit pun"
Setelah beberapa menit yang terasa kaya berjam-jam, pintu terbuka. Kesya keluar, menghela napas lega, baru sadar kalau dia udah berlaku gak sopan. dia mengangkat kepala untuk meminta maaf.
tapi, pada saat mata Kesya bertemu pandang dengan mata pria di depannya, tubuh Kesya langsung membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir.
Pria itu, yang berdiri tegak dengan tatapan penuh keheranan sekaligus ketidaksenangan adalah sosok yang Kesya benci dan kagumi dalam waktu bersamaan.
Mereka saling melirik kaget. Kemudian, sebuah kata-kata kaget yang melengking keluar bersamaan dari bibir mereka.
"KESYA!" kata pria itu dengan keras.
" PAK AKSA!" balas Kesya tak kalah keras.
Suara mereka yang lantang hampir membuat beberapa orang di sekitar menoleh.
Aksa Perwira. CEO Kesya. lagi berdiri di depan toilet pria di restoran mewah ini.
Kesya langsung bertanya, suaranya sedikit bergetar karena kaget.
"Pak Aksa lagi apa di sini?"
Aksa menyatukan alisnya, ekspresi bingung bercampur kesal. "Justru aku yang seharusnya bertanya, kenapa kamu ada di toilet pria?"
Wajah Kesya memerah, sangat malu. dia menunduk dalam-dalam. Malu karena ketahuan melamun di meeting, malu karena ketahuan menjelek-jelekkan Aksa, dan sekarang, malu karena ketahuan masuk toilet pria. Rasanya Kesya mau menangis dan berlari menghilang dari hadapan Aksa.
tapi, rasa malu itu langsung hilang, digantikan oleh rasa panik yang jauh lebih besar. Pikirannya langsung tertuju ke meja tempat Dila duduk.
Dila!
Kesya mengangkat kepala, matanya langsung membulat kaget. kalau Aksa memanggil nama "Dila"dan Dila yang asli kebetulan menoleh, penyamaran mereka akan hancur lebur saat itu juga!
Aksa pasti akan langsung mengenali Dila yang asli. Sementara itu, "Kesya"yang menyamar sebagai Dila kumuh pun pasti akan ketahuan, mengingat Kesya yang asli selama ini bekerja di kantornya. Aksa pasti akan murka, menuntut penjelasan, dan menganggap Kesya telah bersekongkol untuk menipunya.
Hancurlah aku!
Kepala Kesya berputar mencari alasan untuk segera kabur. dia gak bisa membiarkan dua orang yang wajahnya sama itu bertemu di restoran ini!
" Pak Aksa" ujar Kesya, suaranya dipaksakan terdengar tegas meskipun dia gemetar.
"aku harus pergi dulu, Pak. Ada urusan sangat mendesak. Permisi!"
Kesya gak menunggu jawaban. dia langsung membalikkan badan dengan cepat dan berlari kecil, meninggalkan Aksa yang masih berdiri keheranan di depan toilet.
Aksa melihat punggung Kesya yang lari terburu-buru. Wajahnya menunjukkan keanehan. Kenapa dia sepanik itu?
Kepala Aksa mulai bekerja. Perilaku Kesya di kantor selalu formal dan patuh, tapi di luar kantor terutama di depan toilet pria,Kesya menunjukkan kepanikan yang enggak biasa.
Atau, ada yang dia sembunyikan dariku?
Rasa ingin tahu Aksa, ditambah dengan hati yang profesionalnya, muncul. Aksa memutuskan untuk mengikuti Kesya. dia berjalan perlahan, berusaha menyamar di antara para pelayan dan meja makan.
Kesya, dengan langkah cepat dan mata mencari-cari, akhirnya tiba di meja Dila.
"Dila! Ayo kita pergi dari sini!" bisik Kesya setengah berteriak, mengambil tasnya dengan gerakan kasar.
Dila sangat kaget. "Maksudnya? Ada apa, Key? Kita 'kan baru selesai makan"
"Sudah, Dila! Ikut aja! gak ada waktu untuk menjelaskannya di sini. Ayo pergi sekarang!" Kesya gak memberi Dila kesempatan. dia langsung menarik tangan Dila, berjalan cepat menuju pintu keluar.
Dila yang bingung cuma bisa menuruti, mengikuti langkah panik Kesya. Mereka keluar dari restoran mewah itu secepat mungkin, seperti dua buronan yang dikejar polisi, meninggalkan meja yang belum sepenuhnya rapi dan beberapa pasang mata yang melihat juga keheranan.
Aksa, yang bersembunyi di balik tembok,melihat itu di hadapannya. dia mengamati betapa paniknya Kesya. dia juga berusaha mendengarkan, dan menangkap nama yang Kesya panggil pada wanita yang bersamanya, tapi suara itu terlalu samar, gak terdengar jelas.
Aksa terdiam.
Aksa mengerutkan dahi. dia gak mengenali wanita itu, tapi kepanikan Kesya saat bersamanya, setelah insiden toilet pria yang aneh itu, membuat Aksa yakin. Ada sesuatu yang aneh dengan staf administrasinya, Kesya.
Aksa membiarkan mereka pergi. Sekarang, dia punya misi baru: mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Kesya dan siapa wanita yang bersamanya itu. Misteri ini terlalu menarik untuk diabaikan.