"Tuan Putri, maaf.. saya hanya memberikan pesan terakhir dari Putra Mahkota untuk anda"
Pria di depan Camilla memberikan sebilah belati dengan lambang kerajaan yang ujungnya terlihat begitu tajam.
.
"Apa katanya?" Tanya Camilla yang tangannya sudah bebas dari ikatan yang beberapa hari belakangan ini telah membelenggunya.
"Putra Mahkota Arthur berpesan, 'biarkan dia memilih, meminum racun di depan banyak orang, atau meninggal sendiri di dalam sel' "
.
Camilla tertawa sedih sebelum mengambil belati itu, kemudian dia berkata, "jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan membiarkan Arthur mati di tangan Annette!"
Pria di depannya bingung dengan maksud perkataan Camilla.
"Tunggu! Apa maksud anda?"
.
Camilla tidak peduli, detik itu juga dia menusuk begitu dalam pada bagian dada sebelah kiri tepat dimana jantungnya berada, pada helaan nafas terakhirnya, dia ingat bagaimana keluarga Annette berencana untuk membunuh Arthur.
"Ya.. lain kali aku akan membiarkannya.."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Bab 35
Langit sore itu berwarna keemasan, seperti terbakar sinar matahari yang hendak tenggelam. Seluruh istana dipenuhi kegaduhan, bukan karena pesta, melainkan karena kabar besar yang baru saja diumumkan, Putra Mahkota Arthur akan kembali ke ibu kota setelah satu tahun lebih berada di medan perang.
Camilla berdiri di balkon kamarnya, matanya menatap ke arah jalan besar yang memanjang lurus menuju gerbang utama kerajaan. Jalan itu kini sibuk dipenuhi para pelayan, prajurit, dan rakyat yang bersemangat menunggu kedatangan sang pangeran.
Mary berdiri di belakangnya sambil memegangi baki berisi teh hangat. “Yang Mulia.. akhirnya, kabar yang kita nanti selama ini datang juga. Putra Mahkota akan pulang dengan kemenangan.”
Camilla hanya menghela napas, senyum samar tersungging di bibirnya. “Ya.. kemenangan. Tapi aku khawatir, kemenangan itu juga membawa banyak mata yang tertuju pada kita.”
Mary memiringkan kepalanya, tidak mengerti. “Maksud Anda.. Annette?”
Camilla menoleh sekilas, tatapannya dingin. “Sejak delapan bulan lalu, aku tahu ia sudah mulai bergerak. Dan sekarang, dengan kepulangan Arthur, ia akan semakin berani. Selir Rosseta pasti tidak akan membiarkan kesempatan emas ini berlalu begitu saja.”
Mary menunduk, meremas ujung bajunya. Ia tahu, perkataan Camilla bukan sekadar kekhawatiran kosong. Sejak kecil ia sudah terbiasa melihat wanita-wanita istana bertarung dalam diam, dan kini, pertarungan itu akan mencapai puncaknya.
***
Sementara itu, di paviliun timur, Annette berdiri di depan cermin besar. Gaun biru pucatnya membalut tubuh rampingnya dengan sempurna.
Wajahnya dipoles rias tipis, hanya sedikit bedak dan sapuan lipstik merah muda. Namun sorot matanya.. bukan lagi sorot mata seorang gadis muda yang malu-malu mencintai.
Itu adalah tatapan seorang wanita yang penuh ambisi.
Selir Rosseta duduk di kursi ukiran naga, menyeruput teh melati dengan anggun. “Hari ini, panggung milikmu, Annette. Putra Mahkota akan melihatmu lagi setelah sekian lama. Kau harus pastikan pandangannya tidak bisa lepas darimu.”
Annette menatap bayangan dirinya di cermin, lalu tersenyum tipis. “Aku tidak akan gagal.”
Rosseta meletakkan cawannya, matanya berkilat tajam. “Ingat, cinta hanyalah permulaan. Tujuanmu bukan sekadar mendapatkan hatinya.. melainkan singgasana itu sendiri. Jika Arthur berdiri di hadapanmu, lihatlah bukan hanya seorang pria, tapi juga kunci menuju takhta.”
Annette mengangguk pelan. Suara Rosseta bergaung dalam benaknya, mengusir sisa keraguan yang pernah ada.
Sore beranjak menuju senja ketika derap kuda terdengar menggema di kejauhan. Prajurit-prajurit yang berjaga di menara tiup segera meniup terompet panjang, tanda bahwa iring-iringan Putra Mahkota telah memasuki wilayah kota.
Rakyat berhamburan ke jalan, bersorak gembira. Bendera-bendera kerajaan dikibarkan di sepanjang gerbang utama. Suasana penuh suka cita, seakan seluruh penderitaan setahun lebih perang terbayar lunas dengan kepulangan pangeran mereka.
Camilla ikut berjalan ke aula depan istana, gaunnya berwarna putih keperakan, sederhana namun anggun. Rambutnya digelung tinggi dengan sisipan bunga melati segar. Ia tahu, malam ini akan jadi titik balik antara kerinduan dan intrik, antara cinta dan pengkhianatan.
Mary berjalan di sampingnya, berbisik cemas, “Yang Mulia.. hati-hati. Semua mata akan mengawasi Anda, terutama Annette.”
Camilla tersenyum samar, meski matanya tetap tajam. “Biarkan mereka mengawasi. Aku tidak akan goyah.”
Derap kuda semakin dekat. Dan akhirnya, dari balik debu jalanan, sosok tinggi dengan zirah perak muncul di atas kuda hitam yang gagah. Sorak rakyat semakin membahana.
Itulah Arthur, Putra Mahkota, panglima perang, lelaki yang selama ini menjadi poros kehidupan Camilla. Wajahnya sedikit lebih matang, sorot matanya lebih tajam, kulitnya terbakar matahari. Namun pesonanya tak berkurang sedikit pun, justru semakin bertambah dengan aura kemenangan.
Camilla menahan napas. Rasa rindu yang dipendam selama ini menyeruak begitu saja, membuat dadanya sesak. Arthur.. akhirnya kau pulang.
Di sisi lain, Annette berdiri anggun bersama para selir. Begitu tatapannya bersirobok dengan Arthur, hatinya berdebar. Tapi kali ini berbeda. Ia tidak lagi hanya sekadar gadis yang jatuh cinta. Ia melihatnya sebagai mahkota berjalan dan ia ingin memilikinya.
Malam itu, aula istana bersinar lebih megah daripada biasanya. Ratusan lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi, memantulkan cahaya lilin yang membuat ruangan laksana langit penuh bintang. Para bangsawan berkumpul, mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menyambut kepulangan Putra Mahkota.
Musik lembut dari biola dan kecapi mengisi udara, bercampur dengan tawa para tamu yang mencoba menutupi ketegangan mereka sendiri. Perang sudah berakhir, dan sang pangeran pulang dengan selamat, sebuah alasan yang cukup untuk merayakan.
Camilla berdiri di sisi aula, ditemani Mary yang selalu setia di belakangnya. Gaun putih keperakan yang ia kenakan membuatnya tampak seperti cahaya bulan di tengah pesta. Namun matanya terus mencari satu sosok yang paling ia rindukan.
Tak lama, Arthur masuk. Ia mengenakan jubah hitam berhias bordir emas, rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir Camilla melihatnya, sorot matanya penuh wibawa. Semua orang membungkuk memberi hormat, dan suara riuh tepuk tangan menggema di aula.
Seperti biasa.. dia selalu menawan..
Entah dulu atau sekarang, dia selalu pulang dengan kemenangan.
Arthur berjalan mendekat, langkahnya mantap, dan berhenti hanya beberapa langkah dari Camilla. “Camilla.” Suaranya rendah, berat, namun mengandung kehangatan yang hanya ditujukan padanya.
“Yang Mulia…” jawab Camilla.
Mereka hanya saling menatap, Camilla sendiri tidak tau arti dari tatapan itu.
Annette melangkah maju, gaun biru pucatnya berkilauan di bawah cahaya lampu. Wajahnya tersenyum manis, matanya berkilat penuh ambisi yang disamarkan sebagai ketulusan.
“Yang Mulia Putra Mahkota,” ujarnya dengan suara lembut, seraya membungkuk dalam.
“Selamat datang kembali ke istana. Kami semua begitu merindukan kehadiran Anda.”
Arthur menoleh sekilas, tatapannya sopan namun dingin. “Terima kasih, Annette.”
Pesta berlangsung meriah. Para bangsawan berdansa, piala-piala anggur beradu, musik mengalun tanpa henti. Namun di balik semua kegembiraan itu, suasana penuh intrik bersemayam.
Camilla duduk di sisi aula, sesekali berbincang dengan para selir lain yang datang memberi salam. Namun matanya selalu mengikuti Arthur, yang kini sibuk menerima salam dari para menteri dan panglima.
Mary berbisik pelan, “Yang Mulia, lihatlah. Annette terus mencari celah untuk berada di dekat Putra Mahkota.”
Benar saja, Annette bergerak anggun, setiap langkahnya seolah dirancang untuk menarik perhatian. Ia mendekati meja minuman, lalu pura-pura menjatuhkan cawan, membuat Arthur secara alami menoleh.
“Oh, maafkan kelalaianku,” Annette berkata sambil tersipu, menunduk dengan ekspresi lemah lembut.
Arthur hanya memberi anggukan kecil, tidak lebih. Tetapi di mata para bangsawan yang memperhatikan, adegan kecil itu cukup untuk menimbulkan bisik-bisik.
Camilla mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu trik itu. Ia tahu persis bagaimana Annette bermain, berlagak rapuh untuk menarik simpati.
Tiba-tiba, suara lembut namun dingin terdengar dari belakang Camilla. “Dia bermain dengan baik, bukan?”
Camilla menoleh, dan mendapati Selir Rosseta berdiri di sana, anggunnya bagai bunga beracun.
“Yang Mulia Selir,” sapa Camilla dengan tenang, meski dadanya berdebar.
Rosseta tersenyum samar. “Camilla, kau selalu menjadi pusat perhatian Putra Mahkota. Tapi ingatlah, perhatian seorang pria bisa berubah. Terutama jika ada wanita lain yang tahu cara membuatnya terikat.”
Kalimat itu bagai racun yang dibungkus gula. Camilla menahan diri untuk tidak merespons dengan emosi. Ia hanya menatap lurus ke depan, sambil berkata pelan, “Hanya ada satu kebenaran. Waktu yang akan membuktikannya.”
Malam semakin larut, pesta mendekati akhir. Arthur akhirnya berhasil melepaskan diri dari kerumunan pejabat dan bangsawan. Ia berjalan langsung menuju Camilla.
“Temani aku sebentar,” ucapnya lirih.
Camilla bangkit, mengikuti langkahnya keluar dari aula menuju taman istana yang tenang. Di bawah cahaya bulan, mereka berdiri berdua, hanya ditemani suara gemericik air mancur.
Arthur menatapnya dalam-dalam. “Kau terlihat lebih kurus.”
Camilla menunduk, tersenyum samar. “Dan kau terlihat lebih keras. Perang mengubahmu.”
Arthur mengangkat tangannya, menyentuh wajah Camilla dengan lembut. “Aku kembali. Itu yang terpenting.”