Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Celetuk mang Darman mengatakan itu pada Tumang. dan memang itulah yang di rasakan Tumang ketika itu. Jika hujan lebat itu tak lama lagi terjadi, maka bagi dirinya terbukalah peluang mengais rejeki. Dirinya berniat menajur/neger ikan di sungai atau memancing di malam hari tanpa di tunggui. dan akan di lihat umpan di makan ikan ataukah tidaknya setelah beberapa jam kemudian.
"kalau sekarang jadi hujan lebat, nanti malam kita neger ikan yo mang ?Pasti banyak ikan lele yang keluar dari lubang kalau hujan lebet begini mang"
Tanya Tumang sembari tetap mendongak menatap langit seperti meyakinkan gumpalan awan hitam itu pertanda hujan lebat akan segera datang.
"ya bagaimana nanti saja mang. Ayo saja kalau memang memungkinkan. Lagi pula mendung itu bukan berarti mau hujan kan? Kaya yang tidak tau saja kau ini. Kemarin juga mendung begini kan. Tapi sampai sekarang belum hujan juga"
Balas mang Darman menimpali ajakan Tumang dan tersenyum seakan tak yakin akan turun hujan di hari itu.
Berbeda halnya dengan Tumang yang merasa yakin. Jika hari itu hujan yang di tunggu sejak lama itu pasti akan datang. Sehingga atas keyakinan itu, sembari pulang bersama mang Darman, Tumang sengaja melewati kebun pisang yang berada di sepanjang perjalanan ke rumahnya. Di sanalah Tumang mencari hujung daun pisang yang menggulung. Serta di dalamnya terdapat ulat daun pisang untuk di jadikan umpan kailnya nanti malam.
Tak heran selama perjalanan pulang sembari mencari ulat pisang itu, keduanya berbicara ringan terutama rencana neger ikan ketika sudah selesai menunaikan sholat tarawih nantinya. beragam topik pembicaraan keduanya bicarakan berulang kali. Termasuk mengenai tawaran ikut saembara menangkap sosok pocong di kampung sebelah.
"kalau kita berdua merasa tak akan mampu, kau bisa kok mang ajak temanmu. Ya... Bertiga saja cukupkan ? Ingat mang hadiahnya lumayan loh. 10 petak sawah sama uang itu bukan hadiah yang sedikit mang. Kapan lagi kita mendapatkan kesempatan seperti ini"
Untuk terahir kalinya mang Darman berusaha meyakinkan Tumang. Dua lelaki beda jauh usia itu seperti sepasang sahabat yang tak sungkan mengutarakan keluh kesah masing masing.
"saya pikirkan dulu ya mang. Ayo sekarang kita harus segera pulang. Sepertinya sudah mau magrib ini"
Balas Tumang seperti menutup obrolan itu karena mang Darman lagi lagi berusaha membujuknya. dan Tumang sebenarnya bukan tak tertarik pada hadiah sembara itu. Terlebih memang itulah yang ia cari selama ini. pikirannya sudah bisa membayangkan bagaimana senangnya ibunya jika di beri sepetak sawah saja. Tentu untuk menyambung hidup dan mencari sesuap nasi Tumang tak akan terlalu kesulitan seperti yang di alami saat ini.
Setelah melewati beberapa jalanan setapak, mengambil jalan pintas melewati perkebunan warga, pada akhirnya Tumang dan mang Darman harus berpisah di jalanan menyagak. Tumang mengambil jalan ke arah kanan menuju rumahnya, sementara mang Darman tetap lurus sembari menanggung sepasang keranjang rumput.
Bersamaan terdengarnya suara samar bedug dari tengah kampung, ketika itu Tumang baru sampai ke rumahnya. Dan di depan pintu reot yang tampak temaram oleh lampu templok itu, seorang perumpuan tua tampak tersenyum dan menyambut hangat kedatangan Tumang.
"kok magrib magrib baru pulang jang ? Emak itu tadinya cemas loh. Iniloh si gembul sudah lama ada di sini, tapi kau sendiri belum ada di rumah. Kenapa anjingmu ini pulang duluan jang ?"
Tanya ibu tua itu yang tak lain adalah mak Eha ibunya Tumang.
mendengar pertanyaan itu dari ibunya, Tumang tak segera menjawab. Melainkan lebih mendahulukan menyalami mak Eha. Setelahnya Tumang tampak tersenyum dan menyempatkan melirik pada si gembul yang tampak merungkut dan masih ketakutan karena di tatap tuannya.
Hatinya merasa lega ketika itu. Karena sedikitpun tak mengira jika anjingnya yang merajuk itu sudah lebih dulu pulang ke rumahnya.
"iya mak tadi aku cari ini dulu soalnya"
Balas singkat Tumang pada mak Eha sembari memperlihatkan sekantung plastik hitam yang berisikan gulungan ulat pisang.
"ulat pisang ? Buat apa jang kau cari ulat pisang. Apa kau mau buka puasa sama goreng ulat ?"
Sahut mak Eha tersenyum mencandai Tumang. Lalu segera meminta Tumang ke belakang rumah untuk membersihkan diri.
Tak lama setelahnya, keduanya tampak duduk bersila di tengah rumah. Dua gelas air putih yang tampak sedikit keruh tersaji di samping sepiring rebus biji nangka yang memang sengaja di siapkan oleh mak Eha sebelumnya.
"baca doa dulu jang. Buka puasanya seadanya saja ya. Hari ini emak cuma punya takjil ini"
ucap mak Eha sembari mengelus kepala Tumang penuh ketulusan. Hati kecilnya itu sebenarnya menjerit namun tetap ia sembunyikan di hadapan Tumang demi tetap terlihat tegar di depan anak semata wayangnya itu. dan begitupun sebaliknya yang di rasakan Tumang ketika itu.
Sekalipun hidangan sederhana itu bukan pertama kalinya bahkan sudah terbiasa, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Tumang ingin sekali mencukupi kebutuhan ibunya itu.
"alhamdulilah mak hari ini kita ada makanan untuk buka puasa. Besok lusa mak aku pergi berburu ya. Siapa tau masih ada ayam hutan di sekitar sini. Sudah lama kan kita tak makan daging mak"
Sahut Tumang setelah membaca doa buka puasa lalu meneguk air putih dan menyuapkan sebutir biji nangka pada ibunya itu sembari tersenyum penuh haru.
Tak heran sekalipun keduanya hidup berdua saja selama ini, namun kehangatan itu tetap ada seperti keluarga utuh dan sang bapak tetap ada di tengah tengah keduanya.
Tak terasa makanan pembuka itu pada akhirnya seperti pertanda. jika harapan tumang di hari itu terkabul. Di mana tiba tiba di luar rumah hujan besar seketika mengguyur kampung. Sehingga tak heran mak Eha dan Tumang pun di sibukan mencari beberapa wadah guna menampung tetesan air hujan yang sering terjadi ketika ada hujan besar datang.
"kalau kau pergi ke hutan, sekalian cari daun nipah yang jang. Sepertinya atap dapur sudah harus di ganti"
Ujar mak Eha setelah keduanya berdiam di salah satu sudut rumah yang di anggap lebih pantas dan tak terkena tetesan air hujan.
dari tempat itulah keduanya bisa menyaksikan bagaimana ke adaan rumah sebenarnya. Terlebih ketika huja deras itu di barengi terpaan angin di sertai suara guntur yang silih berganti memekakkan telinga. Dan bukan tidak mungkin jika rumah panggung yang sudah tua itu akan roboh karena terpaan angin besar di malam itu.
"iya mak. Nanti aku bikinkan atap yang baru ya"
Balas Tumang singkat dengan bola mata berkaca kaca. Bicaranya singkat namun sejuta harapan itu tetap ada di hatinya untuk membahagiakan ibunya itu. Sampai pada akhirnya, hujanpun perlahan mereda lantas keduanya bergegas bersuci dengan air yang tertampung di sebuah ember di halaman rumah. Lalu Tumang dan mak Eha segera menunaikan sholat.
sebuah kewajiban seorang hamba pada Penciptanya. sebagai bentuk pengakuan dan pengabdian diri pada kebesarannya Sang Maha Tunggal. Yang menciptakan bumi, langit, berikut isinya.
Usai Tumang dan mak Eha melakukan sholat, keduanya berbincang bincang ringan sembari sesekali melihat ke luar rumah. Seakan akan menunggu hujan itu benar benar reda dan Tumang berniat pergi ke surau guna menunaikan sholat tarawih.
"apa hujan besar begini orang orang pada ke surau mang ?
lagi pula katanya Ustad Somad nya masih sakit"
Ujar mak Eha pada Tumang dan mengerti jika anaknya itu ingin melakukan sholat berjamaah tarawih. dan mengatakan Ustad satu satu satunya yang biasa jadi imam di surau ataupun ada acara ke agamaan di rumah rumah warga, masih sakit dan sepertinya tak akan bisa hadir di malam itu.
"memangnya ustad Somad sakit apa mak? Apa emak sudah menjenguknya?"
Tanya Tumang sembari duduk di dekat mak Eha yang tampak tengah mengupas biji nangka rebus.
mak Eha mengatakan, jika sakitnya Ustad Somad itu karena di malam kemarin sempat melihat penampakan sosok putih yang menyerupai pocong.
menurut kabar yang di dengar mak Eha, ustad Somad di malam itu sedang dalam perjalanan pulang setelah memenuhi undangan salah satu keluarganya di kampung sebelah. Di dalam perjalan itu, ustad Somad sempat mencium aroma busuk yang begitu menyengat. Lalu karena merasa penasaran, ustad Somad pun menyempatkan melarak lirik di sekitarnya. dan tepat di atas pohon randu yang ada di depannya, sosok pocong itu jelas jelas berdiri tegak di salah satu ranting. Lalu melompat melayang seperti sengaja mendekati ustad Somad.
Sehingga tak heran ustad Somad pun yang merasa ketakutan dan tak tahan dengan aroma busuk itu, pada akhirnya di buat tak sadarkan diri sebelum pada akhirnya di temukan warga di pagi harinya.
"nah begitu jang kalau kata kabar yang emak dengar. Makannya kau hati hati kalo keluar malam"
imbuh mak Eha menyudahi ceritanya. Tentu saja Tumang yang mendengar ibunya mengatakan itu, dirinya terkejut dan teringat pada cerita mang Darman ketika di sawah tadi. Terlebih malam ini dirinya berniat meneger ikan bersama mang Darman.