Demi biaya operasi ibunya,kiran menjual sel telurnya.Matthew salah paham dan menidurinya,padahal ia yakin mandul hendak mengalihkan hartanya pada yoris ponakan nya tapi tak di sangka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EPI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke rumah
"Ayah dan Ibu sangat sayang padamu, Anakku. Kelak kamu akan mengerti dan mengetahui segalanya. Pergilah dari rumah ini. Ayah dan Ibu telah siapkan segala apa yang kamu butuhkan. Tinggalkan kota ini dan hiduplah dengan bahagia, sayang."
—Dari Ayah dan Ibu yang selalu mencintaimu,
Aditya dan Rahayu.
Selesai membaca, tangisan yang ditahannya pecah begitu saja.
"Apa yang tidak aku tahu, Ayah? Apaaa!! Azzahra takut, Ayah, Ibu... aaaaaaaaaaaaaaa," teriak Azzahra penuh kepiluan.
Merasa dirinya tak tahu harus bagaimana, ia segera beranjak mengambil semua uang, buku tabungan, dan kartu ATM yang berada di laci. Ia bergegas keluar dari kamar itu menuju kamar pribadinya dan langsung menyusun pakaiannya ke koper.
"Aku harus cepat pergi. Mungkin saja para penjahat itu datang lagi dan ingin membunuhku juga," lirihnya.
Azzahra ingat akan mobil di garasi. Ia cepat menuju mobil tersebut dan langsung membawa mobil itu sendiri.
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Kalian begitu baik menyiapkan segalanya. Bahkan kunci mobil pun sudah ada di sini," Azzahra berbicara sendiri.
Setelah masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi dari rumahnya, Azzahra sangat terkejut melihat empat orang laki-laki masuk ke rumah itu. Bersyukur ia telah berada di gang ujung rumahnya.
"Ya Tuhan, mereka benar-benar kembali," lirihnya. "Aku harus cepat pergi!"
Di dalam rumah Azzahra
"Gimana, ada yang mencurigakan?" ucap Adam.
"Sepertinya perempuan itu datang kemari. Lihat bekas pembakaran itu bersih dan lihat kamar itu terbuka..." balas Eko.
"Sial, kita terlambat! Apa yang harus kita katakan sama bos ini?" ucap Adam.
"Alah, sudahlah. Kita bohong saja dari pada kita dimutilasi," kata Eko sambil bergidik membayangkan dirinya dimutilasi.
Akhirnya, setelah tidak menemukan apa yang mereka cari, mereka semua pergi dan segera melapor ke bosnya.
Markas Besar Handika Abadi
Setelah kembali dari rumah Azzahra, para anggota penjahat itu langsung menuju ruangan bosnya.
"Bagaimana??" tanya Handika.
"Maaf, Bos. Tidak ada tanda-tanda perempuan itu kembali ke rumahnya," Adam berbohong.
"Sial, kalian semua bodoh! Menangkap satu orang saja tidak mampu!" teriak Handika.
Semua anak buah yang berada di dalam markas ketakutan. Mereka sudah pasrah jika tiba-tiba Handika melampiaskan amarahnya.
DORRR...
DORRR...
DORRR...
Tiga tembakan ia lepaskan secara tiba-tiba dan tepat mengenai tiga orang anak buah yang berdiri tepat di depannya.
"Itu adalah hukuman bagi kalian yang telah gagal dalam tugas! Kematian!! Hahahahahahahaha," teriak Handika di depan semua anak buahnya.
Mereka yang melihat tidak mampu berbuat apa-apa, karena mereka sadar Handika adalah laki-laki psikopat berdarah dingin yang tak berperasaan.
Setelah membunuh tiga orang anak buahnya, Handika berlalu meninggalkan begitu saja. Dia tak pernah peduli dengan harga nyawa manusia. Baginya, membunuh adalah sebuah kepuasan!!
Handika pulang ke rumahnya dengan wajah penuh amarah, melempar apa yang ada di depannya.
Elena, istri dari Handika Abadi, yang melihat langsung kelakuannya datang dan merangkul pinggang Handika.
"Ada apa, Sayang? Kamu kok marah-marah gitu," ucap Elena manja.
"Haaa... mereka gagal menangkap anak si Aditya dan Rahayu itu," kata Handika begitu kesal.
"Apa kamu pernah melihat wajah anaknya?" balas Elena sambil mencium pipi Handika.
"Tidak pernah. Bahkan aku baru tahu kalau Aditya dan Rahayu ternyata punya anak yang telah dewasa," lirih Handika.
Setelah mengatakan itu, entah kenapa hati Handika begitu sakit, tapi dia tak tahu mengapa dia merasa seperti itu.
Handika yang bingung dengan perasaannya, berlalu begitu saja tanpa peduli Elena yang merangkulnya.
Elena yang melihat gelagat Handika merasa bingung, namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Aku tahu hatimu, Sayang. Pasti kamu mengingat bayi kita yang telah hilang 20 tahun yang lalu," lirih Elena. Ia tak sadar air matanya jatuh begitu saja, mengingat masa lalu saat mereka kehilangan bayi perempuan mereka yang baru saja lahir ke dunia.
Azzahra memutuskan untuk kembali ke rumah singgah tempat ia dibawa oleh Reina dan Rino. Ia merasa tempat itu lebih aman daripada sendirian di jalanan. Sambil menunggu, ia bergumam pada dirinya sendiri, "Semoga mereka cepat datang. Aku tidak tahu harus ke mana lagi."
Ia mondar-mandir di ruang tamu, sesekali melihat ke luar jendela. Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan rumah singgah. Azzahra mengintip dari balik gorden. Ia melihat Rino dan Reina keluar dari mobil.
"Itu mereka!" serunya lega. Ia segera berlari membuka pintu.
"Kalian datang!" ucap Azzahra dengan nada lega bercampur haru.
Reina tersenyum. "Tentu saja. Kami sudah janji, kan?"
Rino mengangguk. "Bagaimana keadaanmu? Apa ada masalah?"
Azzahra menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya merasa lebih aman di sini."
"Baguslah. Ayo masuk, kami sudah membelikanmu beberapa keperluan," kata Reina sambil menggandeng Azzahra masuk ke dalam rumah.