Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Saat bu Lina mendatangi Yuda, menceritakan masa lalu Tuan Andi, bu Lina meminta Afifah ikut duduk mendengarkan.
Yuda baru pulang saat waktu menunjukan pukul sembilan malam. Hari pertama dilalui dengan cukup berat bagi Yuda. Setelah menyaksikan sendiri pemecatan Wirda oleh tuan Andi berlanjut pada drama Wirda yang tak menerima pemecatan dirinya dan berbuat kegaduhan.
Hari pertama bekerja, mereka mulai memeriksa data-data, terdapat banyak perbedaan dari data komputer dan data yang setiap bulan Mario pantau.
Saat rumah makan tutup dan menghitung pendapatan dalam satu hari, perbedaannya sungguh mencengangkan. Penghasilan hari ini saja, selisihnya hampir dua ratus persen dari yang selalu dilaporkan Wirda, padahal hari ini weekday, pengunjung masih biasa saja, apalagi jika weekend dimana pengunjung yang datang bisa berlipat dan sering ada reservasi untuk pesta.
Hari ini juga baru ketahuan, jika gaji karyawan selama ini ada pemangkasan. Mereka tak berani melapor, karena takut dengan ancaman pemecatan dari Wirda.
Banyak hal yang perlu dibenahi, baru satu cabang, belum dua cabang lainnya. Agenda untuk besok, tuan Andi akan mengadakan rapat, untuk semua staf restoran, dan semua staf wajib menyerahkan laporan kerja mereka selama tiga tahun terakhir.
Tujuan rapat, juga untuk mengetahui, jika ada keterlibatan karyawan lain, selain Wirda.
Afifah dengan setia menunggu kepulangan suaminya. Sebelum sampai, Yuda sudah mengabari Afifah, sehingga Afifah bisa menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
Selesai mandi, Yuda terlihat lebih segar. Tadi saat sampai wajah Yuda sangat kuyu. Afifah menyiapkan teh hangat untuk menemani mereka mengobrol sejenak sebelum tidur. Untuk dirinya sendiri, Afifah membuat susu hamil rasa strowberi. Afifah menunggu suaminya di meja makan.
Yuda menceritakan pengalamannya kerja hari pertama sebagai Asisten tuan Andi. Secara hati-hati juga Yuda memberitahu istrinya, jika rumah makan tuan Andi berada dekat dengan kantor lamanya.
Afifah cukup kaget mendengar hal itu, pikirannya langsung tertuju Nindi. Ada ketakutan menyelusup dalam hatinya, jarak yang dekat, memungkinkan Nindi bisa melihat Yuda kapan saja.
Yuda mengerti risau yang nampak jelas di wajah istrinya. Yuda menenangkan Afifah, semoga dalam dua bulan, Nindi tak melihatnya. Setelah itu jika memang, Afifah keberatan Yuda meneruskan bekerja pada tuan Andi, maka Yuda akan langsung mundur.
Yuda memberitahu Afifah, kemungkinan untuk satu bulan ke depan, dia akan sering pulang malam. Yuda meminta Afifah untuk segera beristirahat dan jangan banyak pikiran, demi menjaga kesehatan kandungannya. Sementara dirinya, harus menyiapkan agenda untuk rapat besok, dan mempelajari banyak hal tentang rumah makan tuan Andi.
Afifah sudah masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tapi pikirannya masih melayang pada yang Yuda katakan. Hatinya tak tenang, memikirkan rencana yang mungkin akan Nindi persiapkan untuk menghancurkan rumah tangganya.
Namun dengan cepat, Afifah segera beristighfar, meminta ampun karena telah berburuk sangka pada Nindi. Afifah membaca do'a tidur, perbanyak membaca istighfar, hingga matanya tertutup sempurna.
Waktu menunjukan pukul setengah dua belas malam, Yuda belum menyelesaikan pekerjaannya. Tubuhnya lelah, dan matanya sudah mengantuk sekali, meminta untuk segera diistirahatkan. Yuda menyudahi pekerjaannya, dan akan disambung esok pagi.
¤¤FH¤¤
Afifah menjalankan shalat malam seorang diri, saat suaminya dibangunkan, dia mengatakan sudah melaksanakannya. Afifah tetap diatas sajadah, berdo'a dan mengaji sampai waktu shubuh tiba.
Afifah memasrahkan segala urusan hanya pada Alloh, dia juga memohon perlindungan untuk rumah tangganya dan keselamatan untuk semua orang yang disayanginya.
Yuda bangun saat kumandang adzan masih terdengar, segera Yuda membersihkan dirinya, dan shalat berjamaah dengan istrinya. Sementara dirinya masih berdoa yang disambung mengaji, Afifah memilih ke dapur, mempersiapkan sarapan dan air jahe, yang masih rutin suaminya konsumsi.
"Mas, ayo sarapan dulu!" Afifah menghampiri suaminya yang sedang Fokus menyelesaikan pekerjaannya.
"Sebentar lagi, dek. Ini mas cek dulu, takut ada yang salah."
Afifah duduk di samping suaminya, melihat ke arah suaminya yang sedang fokus melihat layar laptop dihadapannya. Afifah mengakui, dengan kacamata yang bertengger di wajahnya, menambah daya tarik dalam diri Yuda.
"Mas tahu, mas ganteng. Nggak usah ngelihatin mas segitunya." Lamunan Afifah buyar, Yuda menyadari sedang diperhatikan oleh istrinya.
"Iiish, mas apaan iih."
"Hati mas untuk kamu seorang, dek!" Secara tiba-tiba Yuda mengatakan itu, dengan netra memandang netra Afifah.
Keduanya saling pandang, sebelum Yuda mengakhirinya dengan sebuah ciuman lembut.
"Morning kiss.. Manis."
Afifah tersipu diperlakukan seperti itu oleh suaminya.
"Udah selesai, ayo kita sarapan dek!"
Yuda menuntun tangan istrinya menuju meja makan, meski hanya berjarak beberapa langkah, namun Yuda ingin memberi keyakinan pada Afifah, bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
Afifah mengambilkan sarapan untuk suaminya.
"Adek belanja? kapan?"
"Kemarin, mas. Belanja online saja, dikirim kurir. Adek belum hafal daerah sini."
"Adek seharian di rumah, bosan nggak?"
"Nggak ko, mas. Adek kemarin ke rumah utama, Alhamdulillah pekerja di sini baik-baik, bu Lina juga, bisa jadi teman ngobrol."
Setelah piring tersaji di hadapan mereka, mereka makan dalam diam. Setelah sarapan, Yuda inisiatif membuatkan susu hamil untuk istrinya.
"Mas jangan terlalu risau memikirkan Nindi. Mas fokus saja kerja sebaik-baiknya. Masalah Nindi, kita serahkan pada Alloh, semoga mas, selalu terhindar dari fitnah."
"Aamin, terima kasih, dek. Adek juga jangan banyak Fikiran! Jaga kesehatan adek dan janin dalam kandungan!
Mas kepikiran untuk kembali ke rumah kita, dek. Tapi mungkin nggak sekarang, nunggu masalah di rumah makan selesai dulu."
"Iya, mas. Adek ikut kemana saja, mas melangkah, selama dalam kebaikan."
"Iya, dek! Habiskan susunya! Mas mau bersiap dulu."
¤¤FH¤¤
Yuda berangkat semobil dengan tuan Andi, sepanjang jalan Yuda menjelaskan rancangan rapat yang dibuatnya semalam. Yuda menjelaskan dengan sangat detail dan terperinci, membuat tuan Andi kagum, dan merasa harus mempertahankan Yuda agar tetap mau bekerja padanya.
Rapat dimulai sejak pagi, tuan Andi sudah meminta agar semua karyawan menghadirinya dan menyerahkan laporan yang dimintanya.
Tuan Andi menarik kesimpulan, jika Wirda melakukan kecurangan seorang diri, mungkin dibantu Sakti. Dia tidak melibatkan karyawan lain untuk membantunya. Semua staf, memberikan laporan real, hanya saja Wirda merubahnya, agar dia bisa mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Rapat pertama selesai saat waktu hampir menunjukan jam makan siang. Tuan Andi memperkenalkan Yuda secara resmi di hadapan semua karyawan. Tuan Andi juga menekankan agar mereka bekerja dengan profesional, agar tak ada Wirda-wirda yang lainnya.
Rumah makan langsung buka begitu rapat selesai. Sebelumnya sudah ada pemberitahuan, atas keterlambatan buka, sehingga mereka tidak banyak menerima komplain.
Tuan Andi meninggalkan Yuda di rumah makan, untuk bekerja sendiri, sementara dirinya akan menuju kediaman orang tuanya, untuk meminta maaf.
Saat jam makan siang, pengunjung sangat ramai, karena rumah makan mengadakan diskon, sebagai kompensasi keterlambatan buka.
Yuda melihat beberapa rekan kerjanya dulu, makan siang di rumah makan yang dia kelola. Belum siap jika rekan-rekannya mengetahui, Yuda memilih mengawasi keadaan rumah makan dari CCTV saja.
Namun sayang terlambat, saat Yuda berbalik kebelakang, sosoknya sudah terlihat oleh seseorang.
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.