Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Wajah cemberut Aezar berganti sumringah saat pintu kantornya terbuka, menampilkan sosok cantik dengan tiga bento di tangan.
"Kau datang" ia ingin beranjak namun gadis itu sudah duluan menghampiri mejanya.
Zevanya mengangguk, ia meletakan tas dan kantong bento diatas meja panjang di depan meja kerja Aezar, lalu duduk di sofa.
Mata gadis itu menangkap sosok Antoni yang berdiri di sisi Aezar dengan patuh, seperti guru les.
"Kau boleh pergi dulu" Aezar masih kesal dengan Antoni hingga nadanya sedikit ketus.
Pria itu mengangguk dan berniat untuk keluar, namun Zevanya menghentikannya dan mengulurkan satu kotak.
"Aku membeli tiga, sampaikan maafku pada sekretaris didepan.. jika tahu aku akan membeli empat tadi" ujar gadis itu.
Antoni masih membeku, ia melirik bos nya takut kalau pria itu mengulitinya hidup-hidup jika menerima pemberian Zevanya.
"Kenapa kau menatapku? terima saja" Aezar berkata dengan malas, kalau dipikir-pikir Antoni sudah banyak membantunya.
"Terimakasih Nyonya" mengambil kantong plastik, pria itu keluar dengan lega.
Aezar meninggalkan berkas-berkas yang masih tidak kunjung habis, ia berjalan menghampiri Zevanya yang sudah mulai menata makanan di meja, gadis itu duduk disofa dengan tenang.
"Bagaimana hari ini?" tanyanya, ia menerima sepasang sumpit yang terulur ke arahnya.
"Itu menyenangkan" kata Zevanya sambil menuang beberapa saus.
Aezar mulai makan, ia biasanya tidak terlalu peduli pada makan siang namun hari ini entah mengapa ia hanya ingin membuang seluruh pekerjaan untuk menemani Zevanya makan.
"Kenapa kau pendiam sekali hari ini?" tanyanya setelah sadar gadis itu tidak berbicara satu patah katapun setelah lima belas menit.
"Karyawanmu bilang kau tidak suka wanita berisik, kau bahkan mengusir model saat ia bicara lebih dari tiga kata" Zevanya bercerita tentang apa yang ia dengar tadi di lift.
Aezar ingin tertawa terbahak-bahak namun mulutnya penuh dengan makanan. Ia hanya bicara saat semua makanannya tertelan, takut tersedak.
"Kau tidak bisa disamakan dengan mereka, kau istriku bagaimana bisa disamakan dengan model jelek berwajah musang itu, Vanya aku akan tetap menyukaimu meski kau bicara tiga puluh ribu kata setiap menit"
"Berhenti mengatakan omong kosong" gadis itu menggerutu namun ada senyuman tipis di sudut bibirnya
Benar juga, desas-desus tentang Aezar di lift tadi mungkin hanya dilebih-lebihkan, pria didepannya ini jelas pria yang hangat dan pandai menggoda orang.
Selesai makan ia langsung bergegas kebawah, Aezar mengingatkannya untuk menunggu di tempat tadi pagi ia turun setelah pulang kerja.
Ternyata seru juga menjadi istri rahasia bos.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu minggu berlalu dengan cepat, Zevanya sudah bisa beradaptasi dengan rekan tim yang lain, ia bahkan dipercaya untuk ikut survey ke perusahaan elektronik baru yang ingin bergabung dengan e-commerce dan home shopping milik Aezar.
Rekannya adalah pria yang mengajaknya makan siang tempo hari, ia bernama Bagas, salah satu pegawai yang digadang-gadang akan dipromosikan sebagai manager penjualan yang baru.
Siang ini mereka harus survey produk ke Dingho tech, perusahaan elektronik yang sedang naik daun dengan nilai penjualan peralatan elektronik yang fantastis tahun ini.
Zevanya sudah antusias sejak pagi, ia berulangkali mengatakan pada Aezar kalau ia pasti akan bekerja dengan sebaik-baiknya, Aezar hanya mendengarkannya dengan sabar sambil menyelidiki perusahaan Dingho tech dari layar ipad nya.
Perusahaan ini meningkat begitu pesat dan mulus, ia tidak percaya kalau itu adalah perusahaan yang benar-benar jujur, pasti ada sesuatu dibelakang yang membuatnya bisa berkembang sedemikian pesat.
Tidak bisa dipungkiri bahwa meskipun Aezar mendirikan AEZ Company dengan usahanya sendiri namun ia juga mendapat bantuan koneksi dari Wiguna Group yang dipimpin ayahnya, itulah yang dinamakan privillege. Hal yang memudahkan seseorang mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Kembali ke Dingho tech mereka baru saja mengangkat CEO baru yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari Aezar, kabarnya baru pulang dari luar negeri dan langsung mendapatkan jabatan itu. Ini terlalu aneh, Aezar mengerutkan keningnya.
"Apakah kau benar-benar ingin kesana?" pria itu bertanya pada gadis disisinya.
"Tentu saja, ini pengalaman pertamaku" jawab Zevanya dengan gembira, tidak menyadari raut wajah Aezar yang khawatir.
"Jangan terlalu dekat dengan siapapun disana, langsung pulang setelah kau menyelesaikan survey produk" ujar Aezar mengingatkan,
"Baiklah" gadis itu menjawab dengan patuh.
Mereka berpisah di tempat biasa, siangnya Zevanya pergi ke Dingho tech dengan Bagas.
Perusahaan itu cukup besar, kantornya sendiri terpisah dari pabrik tempat produksi, butuh empat puluh lima menit sebelum mereka tiba di perusahaan itu.
Zevanya mengekor pada pria didepannya, kesannya pada Bagas cukup baik, setidaknya pria itu sopan dan bagus dalam pekerjaan.
Mereka langsung diarahkan ke ruang meeting di lantai lima oleh resepsionis, mereka tidak menunggu lama sampai seseorang masuk ke ruangan lima menit kemudian.
Pria itu masih sangat muda dan tampan, disampingnya ada seseorang berkacamata tipis yang memegang dokumen.
"Kalian perwakilan dari AEZ Company?" suara itu terdengar sakit-sakitan namun lembut,
Bagas langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya dengan Zevanya.
"Aku CEO baru Dingho tech, Abian Lim" katanya balik memperkenalkan diri, ia tersenyum dan melirik Zevanya dengan penasaran.
"Tidak usah terlalu kaku, silahkan duduk" tambahnya,
Mereka mendiskusikan tentang produk hingga sore, tidak ada yang aneh seperti yang di khawatirkan oleh Aezar, sebaliknya Zevanya merasa CEO muda ini adalah orang yang baik dan ramah, biasanya mereka dengan jabatan CEO akan sulit didekati dan sombong, namun dia berdiskusi selayaknya teman lama.
Ditengah percakapan seorang wanita mengetuk pintu membawakan nampan berisi beberapa butir obat dan air mineral. Pria itu terlihat mengerutkan kening namun hanya diam.
"Aku punya badan yang lemah, jadi tidak boleh terlewat minum obat" jelasnya singkat, ia menenggak beberapa butir obat sekaligus tanpa merasa kewalahan, sepertinya itu memang rutinitas harian.
Selesai dengan survey produk jam menunjukan pukul lima sore, Abian bersikeras mengantar mereka sampai ke depan,
Zevanya tidak menyadari pria itu meliriknya beberapa kali didalam lift.
"Aku berterimakasih atas kerja samanya, dan sampaikan salamku untuk Tuan Aezar, aku ingin bertemu dengan pria hebat itu suatu saat nanti" ujarnya sebelum mereka keluar,
"Ya, bos kami sedang sibuk akhir-akhir ini," bagas menjelaskan situasi dimana Aezar jarang masuk kantor setelah menikah.
"Istrinya pasti luar biasa hingga ia senang menemaninya di rumah" gurau Abian matanya kembali melirik Zevanya,
Bagas tertawa tipis namun Zevanya benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa, rasanya seperti ia digosipkan didepan muka, dan akhirnya hanya tertawa canggung.
Mereka masuk kedalam mobil, namun perhatian Abian tidak teralihkan, ia masih menatap gadis itu sampai mobil menghilang di kejauhan.
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww