Seorang mafia kelas kakap, Maxwell Powell nyaris terbunuh karena penghianatan kolega sekaligus sahabatnya. Namun taqdir mempertemukannya dengan seorang muslimah bercadar penuh kharisma, Ayesha, yang tak sengaja menolongnya. Mereka kemudian dipersatukan oleh Allah dalam sebuah ikatan pernikahan gantung karena Ayesha tak ingin gegabah menerima lamaran Maxwell terhadapnya. Kehidupan seorang muallaf dengan latar belakang kehidupan gelap seorang mafia mengharuskan sang gadis muslimah yang nyaris sempurna ini harus menguji dulu seberapa mungkin mereka kelak bisa membangun rumah tangga Islami yang seutuhnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurliah Ummu Tasqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35. Masalah Pabrik (Part 6)
Situasi mulai menegangkan. Semua dalam kendali Alex. Orang-orang bertopeng hanya menunggu instruksi darinya. Dengan wajah pongah penuh rasa kemenangan Alex berjalan mengitari ketiga orang di depannya dan tiba-tiba. Dorrrr. Dorrr. Dorr. Suara tembakan membahana dalam ruangan itu. Dua buah CCTV dan komputer kerja di meja Ahmed menjadi sasaran tembakan Alex. Ia cukup waspada untuk menghilangkan semua jejak. Matanya awas menatap sekeliling dan tiba di hadapan Ayesha ia senyum menyeringai.
"Hai Nona Ayesha. Aku penasaran juga dengan wajah di balik cadar ini. Pasti makin dewasa kamu semakin cantik bukan?", tangan kanan Alex yang memegang pistol terjulur meraih ujung cadar Ayesha untuk menyibak kain kecil itu. Namun Ayesha mendadak dengan gerakan kilat menangkap pistol dari tangan Alex dan menarik tangannya dan memutarnya sementara kakinya yang bebas mencekal kedua kaki Alex dengan kuat hingga membanting tubuh yang terkejut itu ke lantai. Alex jatuh terlentang. Posisi Ayesha saat ini sudah memegang pistol Alex dan mengarahkan tepat ke mata coklat lelaki tersebut.
Dorrr
Ayesha mendadak menembak ke jendela kaca dan beralih kembali ke kepala Alex dengan posisi menghadap ke orang-orang bertopeng. Ahmed hanya tersenyum tipis menyaksikan kepiawaian sosok adiknya itu. Ia tidak heran karena sudah beberapa kali menyaksikan sang adik mengeksekusi para perampok jalanan ketika bersamanya. Maxwell yang baru kali ini melihat dengan mata kepalanya sendiri kemampuan sang istri tercekat dan berdecak kagum dalam hati. Sungguh bukan wanita biasa. Ia tersenyum kagum.
"Letakkan senjata kalian atau saya tembak boss kalian ini", teriak Ayesha dingin.
Alex melotot. Ia sama sekali tak menyangka wanita yang dipandangnya lemah saat ini nampak sangat terlatih dan profesional memegang senjatanya.
"Jangan. Bunuh mereka", teriak Alex.
Dorrr.
Argghhh
Alex berteriak nyaring. Kaki kanannya menjadi sasaran pistol yang dipegang Ayesha untuk yang kedua kalinya.
"Tembaklah dan Boss kalian juga akan ku tembak. Aku tidak main-main", Ayesha menatap tajam ke arah orang-orang bertopeng dengan moncong pistol mengarah ke kepala Alex.
Suasana hening menggetarkan. Anak buah Alex terkesima. Mereka bingung dan hanya menunggu instruksi sang boss.
"Jangan ikuti kata-katanya", Alex berteriak. Matanya menyipit menatap ke arah Ayesha menahan amarah. Nafasnya memburu. Bibirnya menyeringai menahan sakit di kakinya. Aku tak akan menyerah tikus kecil, geramnya dalam hati.
Tiba-tiba Maxwell dan Ahmed menodongkan pistol ke arah orang-orang bertopeng di depan mereka. Ternyata mereka selama ini menyimpan senjata di balik bajunya.
"Jika kalian ingin aman, pergilah. Jika kalian ingin ikut boss kalian ke hotel prodeo silakan!", Maxwell berkata tegas.
Para sosok bertopeng tertegun. Mereka saling melirik satu sama lain dan tak lama mereka pun langsung melarikan diri. Tinggallah Alex terpana tak menyangka prilaku anak buahnya. Kini ia duduk bersandar di dinding menahan sakit di kakinya. Maxwell, Ahmed dan Ayesha berdiri di depannya menjaga jarak dengan pistol di tangan mereka masing-masing.
"Sepertinya Anda lebih menyukai jeruji penjara Tuan Alex."
"Tidak. Kalian tidak akan bisa menangkapku. Aku tak sebodoh yang kalian kira. Jika kalian membunuhku maka kalian yang akan masuk penjara. Kalian tak punya bukti apapun saat ini. Hahaha", Alex tertawa kalut.
"Kami masih punya salinannya Tuan Alex. Aku tak sebodoh itu. CCTV itu bisa dirusak untuk menyembunyikan perbuatanmu hari ini pada kami semua tapi aku masih punya kamera record dengan jam tangan ini", Maxwell tersenyum smirk ke arah Alex.
"Sekarang aku tak punya waktu menunggu lagi. Menyerah atau kami panggil aparat sekarang dan menyerahkanmu ke pengadilan."
"Terserah kalian. Uang itu sudah habis. Aku tidak bisa mengembalikannya. Aku tak punya apapun untuk menggantinya. Bunuh saja aku.....", Alex berteriak marah. Bukannya takut dan menyesal, yang ada di raut wajah dan matanya hanyalah kemarahan. Ahmed dan Ayesha hanya menggelengkan kepala mereka dan berdecak geram.
"Kami tak menyangka Paman bisa setega ini melakukan hal kotor pada pabrik. Apa kurangnya hak yang sudah kami berikan pada Paman selama ini? Bahkan hak Paman lebih dari yang lain karena menganggapmu sebagai keluarga", Ahmed menyahut. Dia merasa sangat gemas melihat kelakuan pria dewasa yang selama ini ia nilai cukup baik dan tidak mencurigakan sama sekali.
"Kalian memang sudah memberikannya padaku. Tapi itu tak senilai dengan yang sudah didapatkan Kak John. Kalian tidak adil padaku.
"Paman Alex. Apa yang paman katakan? Tidaklah sama orang yang sudah lama bergabung bahkan dari awal berjuang bersama mendirikan pabrik ini dengan susah payah dengan orang yang baru masuk di tengah jalan. Selain itu Uncle John mempunyai tugas yang lebih berat dari Paman Alex. Lagi pula beliau itu kan saudara paman sendiri. Mengapa Paman cemburu pada kakak sendiri?", Ayesha menjawab. Hatinya sungguh heran dengan kepicikan pandangan lelaki di depannya dan kedengkian hatinya.
"Dia bukan suadara kandungku. Dia selama ini sudah banyak mengambil dariku. Kakek kalian lebih menyayangi dia dariku dan memberikan lebih banyak hartanya. Ini tidak adil".
"Tidak adil? Adil itu jika meletakkan sesuatu sesuai porsi dan hukumnya Paman Alex, bukan harus sama jumlah atau besarannya. Perlu Paman ketahui, dalam agama kami pembagian warisan hanya jatuh pada saudara seiman, sedangkan Paman, maaf, karena paman tidak seiman dengan kakek maka apa yang kakek berikan pada Paman adalah sekedar hadiah dan itu sudah lebih dari cukup. Lihatlah Uncle John. Dia sudah menjadi muallaf maka ia mendapatkan haknya sebagai ahli waris kakek", jelas Ahmed.
"Aku tidak percaya. Sejak aku kecil dulu Kakek kalian sudah tidak berlaku adil padaku. Apakah karena aku anak tirinya? Jadi untuk apa ia menikah lagi dengan ibuku jika aku tidak dianggap. Apakah ibuku hanya untuk dijadikan pembantunya untuk mengurusnya di masa tuanya?".
"Cukup Paman Alex. Jangan mendramatisir keadaan seakan-akan Paman adalah orang yang dizalimi Kakek. Kami tahu bagaimana perlakuan Kakek yang selalu berusaha adil pada keturunannya meski bukan keturunan kandungnya. Paman tidak sepatutnya menjadi orang yang tak pandai bersyukur seperti ini. Kurang apa lagi Kakek memberikan kasih sayang pada Paman yang notabene pernikahan ibu paman dengan Kakek sebenarnya hanyalah sebuah amanah?", Ayesha menatap nanar wajah pria di depannya. Hatinya tak terima Alex menuduh kakeknya seperti itu.
"Apa maksudmu?", Alex terperanjat. Ia bingung dengan yang Ayesha katakan.
"Maafkan aku Paman, aku tidak bermaksud untuk mengungkap ini karena Ibu Paman sudah meninggal dunia. Tapi aku katakan ini agar Paman tidak terus memendam prasangka buruk pada Kakek. Ibu paman dan kakek sebenarnya tidak benar-benar menikah karena Kakek belum bisa menerima ibu paman yang..."
"Cukup Ayesha. Aku sudah tau. Bunuh saja aku. Aku tak mau dipenjara. Aku lebih baik mati daripada hidup hina di dalam sel", Alex memalingkan wajahnya yang pias. Malu dan marah bercampur menjadi satu memenuhi perasaannya. Malu karena ia menyadari kesalahannya sendiri dan marah karena ia sudah kalah.
/Pray//Pray//Pray/