NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Pagi yang tenang di balik bayangan yang bergerak

Pagi itu udara kosan masih lembap, embun menggantung di pagar dan suara motor satu-dua kali lewat di depan gang. Raina berdiri sebentar di depan pintu kamar baru Julian, menyeimbangkan kotak makanan dan termos kecil di tangannya. Ia mengetuk pelan.

“Julian… ini aku.”

Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka sedikit. Julian muncul dengan rambut yang belum terlalu rapi dan kaus polos yang membuatnya tampak lebih manusiawi dibanding kesan dingin biasanya.

Raina mengangkat kotak sarapan. “Ini… kalau kamu mau.”

Julian menatap benda itu sejenak sebelum memberi anggukan kecil. “Terima kasih.”

Ia masuk dan menaruh sarapan di meja kecil. Raina berdiri ragu, memastikan tidak merepotkan, lalu berkata pelan, “Aku cuma takut kamu lupa makan. Kamu kan… masih pemulihan.”

Julian memandangnya lama dengan ekspresi datar, tapi nadanya lembut. “Aku tidak lupa. Tapi aku menghargai perhatianmu.”

Kata itu membuat wajah Raina memanas tanpa alasan. “Ah… iya. Ya sudah. Ehm… obat pagi kamu… sudah diminum?”

Julian memilih jujur. “Belum.”

“Kalau begitu… diminum dulu, ya? Biar cepat sembuh,” ucapnya lirih, seolah takut terdengar memaksa.

Julian mengikuti permintaannya tanpa protes. Ia meneguk air, menelan obat, lalu meletakkan gelas.

“Kau mengingatkanku lebih sering daripada orang lain,” katanya tenang.

Raina mengangkat bahunya cuek"karena kamu tanggung jawab ku"

Keheningan sejenak turun dengan cara yang anehnya hangat. Julian menatap Raina—bukan menilai, bukan menguji—hanya… melihat.

“Raina.”

“Ya?”

“Terima kasih. Untuk semuanya.”

Jantung Raina seperti melompat. Ia menelan ludah. “Iya… sama-sama,” ujarnya cepat.

Ia mengalihkan pandangan karena degupnya terlalu keras. “Aku ke warung dulu, ya. Hari ini sepertinya ramai.”

“Hati-hati di jalan,” jawab Julian.

Raina berhenti. Terkejut. “Kamu… ingat bilang begitu.”

Julian menunduk tipis. “Kau mengatakannya setiap hari. Aku hanya mengulang.”

Pipi Raina terasa hangat. “Kalau begitu… sampai nanti.”

---

Warung tempat Raina bekerja sudah mulai dipenuhi aroma minyak goreng dan suara pelanggan. Raina mengikat celemek, disambut karyawan lain.

“Hari ini semangat banget, Mbak Rain!” celetuk Dito.

Raina tersenyum “😊 biasa saja.”

Ia melayani pelanggan, menata stok, mencatat belanjaan, dan sesekali memainkan ponselnya. Saat warung mulai sepi, ia duduk sebentar di bangku kecil dan membuka aplikasi affiliate. Ia merekam konten singkat:

“Halo semuanya, ini rekomendasi hari ini… murah tapi bagus, link ada di bawah yaa~”

Tidak lama, pelanggan baru masuk, dan Raina langsung kembali bekerja. Rutinitas itu melelahkan tapi membuat pikirannya tenang.

---

Menjelang siang, Raina pulang sebentar untuk memastikan Julian baik-baik saja. Ia membawa minuman hangat.

“Ini… supaya tenggorokan kamu nggak kering,” katanya sambil menyerahkan gelas.

Julian menerimanya tanpa banyak bicara. “Kau datang hanya untuk ini?”

Raina mengangguk kecil. “Iya. Aku cuma ingin memastikan obatnya nggak bikin kamu pusing, sekalian bawa makan siang.”

Julian memandangnya lama, seakan ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tidak keluar. “Aku baik-baik saja.”

Raina tersenyum kecil. “Syukur kalau begitu. Aku balik kerja dulu.”

Julian mengangguk lagi, sedikit lebih lembut.

---

Sore harinya, begitu Raina benar-benar pergi, Julian mengunci pintu dan meraih ponsel baru pemberian Daniel. Notifikasi pesan sudah menunggu.

DANIEL:

Kondisi Vivienne stabil. Tapi ada beberapa hal yang… tidak biasa.

Julian mengetik cepat.

Apa maksudmu?

Telepon berdering. Julian mengangkat tanpa menunggu detik kedua.

“Dia tenang, terlalu tenang,” kata Daniel langsung. Suaranya rendah, berhati-hati. “Tidak seperti orang yang baru saja ditemukan di pinggir hutan.”

Julian menyandarkan diri di kursi. “Vivienne selalu tenang.”

“Tidak seperti ini.” Daniel menghela napas. “Ada pola yang tidak cocok. Caranya menjawab. Caranya bereaksi. Seolah-olah… dia tahu lebih banyak dari yang ia katakan.”

Julian mengatupkan rahang pelan. “Vivienne tidak punya alasan untuk—”

“Tuan,” potong Daniel, suaranya lebih lembut namun lebih tegas, “Saya hanya meminta Anda… mempertimbangkan kemungkinan bahwa tidak semua yang terlihat adalah apa adanya.”

Hening merayap masuk. Julian memejamkan mata sejenak.

Antara kepercayaannya pada Vivienne… dan intuisi dingin Daniel yang jarang salah.

“Teruskan penyelidikan,” kata Julian akhirnya.

“Baik. Dan satu lagi,” tambah Daniel. “Hati-hati. Kita tidak tahu siapa yang bermain di balik semua ini.”

Panggilan berakhir.

Dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kos itu, Julian merasakan sesuatu yang jarang ia akui—ketidakpastian yang menggantung seperti bayangan panjang.

Di luar, suara langkah Raina kembali menuju kos.

Dan entah kenapa… suara itu terdengar paling menenangkan dari semua hal hari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!