NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

Bab 28: Badai di Balik Jeruji.

​Malam di Lapas High-Security Blackwood biasanya hanya diisi oleh suara dengkur tahanan atau isak tangis penyesalan. Namun, malam ini berbeda. Kesunyian itu terasa tajam, seperti pisau yang siap mengiris kulit. Di sel nomor 102, Alaska baru saja menyelesaikan wirid malamnya saat indra keenamnya—yang telah terlatih selama bertahun-tahun di dunia bawah—menangkap sesuatu yang ganjil.

​Lampu di koridor blok C tiba-tiba padam secara serentak. Bukan karena pemadaman bergilir, tapi karena sistem keamanan pusat telah diretas dari dalam.

​"Tuan Alaska!" bisik sebuah suara dari sel sebelah. Itu adalah paman tua bernama Yusuf, seorang narapidana kasus ekonomi yang sering diajak bicara oleh Alaska tentang arti kehidupan.

"Ada yang aneh. Sipir tidak ada di pos mereka."

​Alaska segera berdiri. Ia tidak memakai senjata, hanya melilitkan kain sorban pemberian Sania di pergelangan tangannya untuk perlindungan.

"Tetap di belakang selmu, Yusuf. Jangan mendekat ke jeruji."

​Penyerbuan The Blackout.

​Tiba-tiba, pintu blok utama meledak kecil. Sekelompok pria berseragam taktis hitam—tanpa atribut resmi—masuk dengan kacamata night vision. Mereka bukan polisi, dan mereka bukan tahanan. Mereka adalah tim likuidasi profesional yang dikirim langsung dari Meksiko.

​"Target ditemukan. Sel 102. Habisi tanpa jejak," perintah suara dari interkom salah satu penyerbu.

​Namun, Alaska bukan lagi target yang mudah diprediksi. Saat mereka melepaskan tembakan ke arah tempat tidur sel, mereka hanya menemukan bantal yang ditumpuk. Alaska sudah berada di langit-langit, berpegangan pada pipa air, dan turun seperti bayangan di belakang mereka.

​Prak!

​Satu gerakan cepat mematahkan leher penyerbu pertama secara non-letal namun melumpuhkan. Alaska merebut tongkat listrik miliknya, bukan untuk membunuh, tapi untuk mempertahankan diri.

​Pilihan Sulit.

​Kekacauan meluas. Kelompok pembunuh ini mulai melepaskan gas air mata ke sel-sel lain untuk menciptakan kepanikan. Para narapidana yang tidak bersalah mulai berteriak kesakitan, tercekik asap kimia.

​"Tolong! Aku tidak bisa bernapas!" teriak Yusuf dari sel sebelah.

​Alaska menghadapi dilema. Ia bisa saja menggunakan kesempatan ini untuk lari melalui jalur ventilasi yang ia ketahui, menyelamatkan nyawanya sendiri dari kejaran kartel. Namun, ia teringat wajah Sania dan kata-katanya:

“Kekuatan yang sesungguhnya adalah saat kau menggunakan tanganmu untuk mengangkat orang lain, bukan untuk menjatuhkannya.”

​"Bara, kau dengar aku?" Alaska berteriak ke arah kamera pengawas, berharap Bara berhasil meretas kembali sistem tersebut dari luar.

​Di markas rahasianya, jemari Bara menari di atas keyboard.

"Tuan! Saya sudah masuk ke sistem penjara! Saya akan membuka seluruh pintu sel agar para tahanan bisa lari ke area terbuka, tapi itu berarti Anda akan berada di tengah kerumunan pembunuh!"

​"Lakukan sekarang!" perintah Alaska.

​Perjamuan Terakhir di Blok C.

​Klik!

Semua pintu sel terbuka secara otomatis.

​Ratusan tahanan berlarian keluar dalam kepanikan. Di tengah arus manusia itu, para pembunuh bayaran kesulitan mengidentifikasi Alaska. Alaska memanfaatkan momen ini untuk menggendong Yusuf di punggungnya sambil memandu tahanan lain menuju pintu darurat.

​Namun, di ujung lorong, ia dihadang oleh pemimpin tim likuidasi, seorang pria raksasa bernama 'El Lobo'. Pria itu memegang parang panjang yang dilarang di dunia manapun.

​"Sang Naga menjadi perawat sekarang?" ejek El Lobo dalam bahasa Spanyol. "Sungguh akhir yang menyedihkan untuk seorang legenda."

​Alaska menurunkan Yusuf dengan hati-hati.

"Yusuf, pergi. Cepat!"

​Alaska berbalik menghadap El Lobo. Ia mengambil posisi kuda-kuda yang tenang. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ketegasan yang dingin.

​"Aku bukan lagi Naga yang kau kenal," ucap Alaska pelan. "Aku adalah pria yang sedang mencoba pulang. Dan kau... kau hanyalah kerikil di sepatuku."

​El Lobo menerjang dengan babi buta. Parangnya membelah udara, nyaris mengenai dada Alaska. Namun, Alaska bergerak dengan ritme yang berbeda—ia seperti sedang menari di atas sajadah imajiner. Setiap serangan dihindari dengan efisiensi gerakan yang luar biasa.

​Dalam satu kesempatan, Alaska memukul titik saraf di lengan El Lobo, membuat parang itu terjatuh. Ia tidak mengambil parang itu untuk membalas. Sebaliknya, ia melayangkan satu pukulan telak ke rahang El Lobo yang membuatnya langsung tak sadarkan diri.

​Fajar yang Menenangkan

​Saat pasukan brimob yang asli tiba untuk mengambil alih kembali penjara, mereka menemukan pemandangan yang tak terduga. Alaska tidak sedang melarikan diri. Ia duduk bersila di tengah lorong yang berantakan, dikelilingi oleh narapidana yang ia selamatkan dari sesak napas.

​Ia sedang memegang tangan Yusuf yang gemetar, memberikan ketenangan di tengah badai.

​Bara, yang memantau dari satelit, menghela napas lega. Ia melihat melalui layar monitor bagaimana bosnya tidak lagi menggunakan tangan untuk meremukkan tulang, melainkan untuk memberikan perlindungan.

​Di tempat lain, di sebuah pesantren kecil, Sania menutup kitabnya. Ia merasakan getaran di hatinya, sebuah doa yang terjawab. Ia tahu, di balik tembok penjara yang dingin, seorang lelaki sedang benar-benar lahir kembali.

​__Jangan takut kehilangan taringmu saat kau memutuskan untuk berhenti menjadi pemangsa. Karena saat kau berhenti menjadi monster, Tuhan akan memberimu sayap. Kekuatan yang didorong oleh kasih sayang jauh lebih abadi daripada kekuatan yang didorong oleh ketakutan. Ingatlah, pahlawan sejati bukanlah dia yang memenangkan pertempuran dengan darah lawan, melainkan dia yang mampu memenangkan pertempuran di dalam dirinya sendiri tanpa mengorbankan jiwanya__

​Bersambung ....

1
Shas_Neey
Dalam banget bahasanya kak
Saniaa96: iyakah. heee
total 1 replies
𝚊𝚛𝚞𝚗𝚗𝚊
𝚊𝚜𝚜𝚊𝚕𝚊𝚖𝚞'𝚊𝚕𝚊𝚒𝚔𝚞𝚖
𝚖𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚋𝚞𝚊𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚋𝚒𝚊𝚜𝚊, 𝚝𝚙 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚋𝚊𝚗𝚢𝚊𝚔 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚢𝚐 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚔𝚎𝚍𝚊𝚛 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚝𝚙 𝚓𝚊𝚕𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚔𝚠𝚊𝚑...
𝚝𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚜𝚎𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚝𝚒𝚍𝚔 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚜𝚞𝚗𝚐 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚊𝚍𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚔𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚎𝚕𝚊𝚓𝚊𝚛𝚒 𝚜𝚎𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞 𝚑𝚊𝚕 𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛 𝚢𝚐 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚋𝚎𝚛𝚊𝚙𝚊 𝚝𝚊𝚑𝚞𝚗 𝚒𝚗𝚒 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚝𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚔𝚎𝚜𝚊𝚋𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚘𝚕𝚎𝚑 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚜𝚊𝚔𝚒𝚝 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚐 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚢𝚐 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚙𝚎𝚛𝚕𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊𝚗 𝚢𝚐 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚙𝚎𝚕𝚊𝚓𝚊𝚛𝚒, 𝚊𝚍𝚊 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕 𝚑𝚊𝚍𝚒𝚜𝚝 𝚍𝚛 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚢𝚐 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚜𝚊𝚍𝚊𝚛 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚗𝚞𝚑𝚗𝚢𝚊,
𝚝𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚕𝚊𝚐𝚒 , 𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚑𝚊𝚗𝚔𝚊𝚗 𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚞𝚗𝚒𝚔 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚢𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚎𝚕𝚒𝚙𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚍𝚊𝚔𝚠𝚊𝚑,
Saniaa96: terimakasih banyak kak. semoga novel ini ada manfaatnya yang bisa diambil dari ceritanya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Nur Mei
semangat kak😁
Nur Mei: hehe iya
total 2 replies
Demo Tawan
cerita nya sangat bagus..semangat thor💪💪💪💪💪
Saniaa96: terimakasih sudah luangkan waktunya untuk baca. salam kenal yaahh🙏🙏🙏☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!