NovelToon NovelToon
Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rha Setia

Kisah cinta rumit terjalin di antara empat bersaudara, seorang wanita hadir menjadi rebutan.

Dialah Art Tara Biancasandra, seorang wanita cantik yang memiliki nasib buruk semenjak memiliki ibu tiri. Nasibnya berubah setelah mengenal seorang pria kaya yang memanfaatkan dirinya. Dari sanalah ia mendapatkan kisah asmaranya yang rumit, segala keluh kesah kehidupan di dapatinya mulai dari hal baik hingga hal buruk.

Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Apakah ia mampu menghadapi asmara jajar genjang itu?

Tidak ada permasalahan yang tidak mendapatkan jalan keluarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rha Setia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AJG 34

Sammuel memarkirkan Merci SL Class putihnya di samping kendaraan roda empat milik istrinya yang telah dia berikan pagi tadi.

Dengan riang, ia melangkahkan kakinya, ketika mendapati kendaraan sang istri tengah terparkir pada tempat semula, itu jelas merupakan tanda bahwa sang istri tengah menanti kepulangannya.

Sesampainya ia di dalam kediamannya, sebuah kejutan tampak di hadapannya, membuat emosinya meluap tanpa pamit mengalir menuju kepalanya. Kesenangannya luntur seketika, perubahan suasananya terjadi sangat cepat.

Tidak sedikit pun terdapat kehidupan di dalam kediamannya. Seluruh ruang telah ia telusuri, nampaknya kekecewaan menambah luapan emosinya ketika mendapati sang istri tidak berada di sekitarnya.

"Berani lo ya? Ini baru satu hari, tapi udah kayak gini?!" umpatnya bermonolog, geram rasanya ketika mendapati hal ini terjadi, ini bahkan belum 24 kehidupan pertama mereka usai menikah. "Awas aja lo balik, jangan ngarep gue maafin lo." Ia menambahkan, sebelah tangan ia taruh di pinggang. Ia berdecih kesal dan berjalan mondar-mandir beberapa kali.

Dalam emosinya yang tertahan, Sammuel berdiri di balik jendela menghadap luar ruangan dengan sebatang rokok menyala menjadi temannya. Meski asap terus mengepul dari mulut dan hidungnya, hal tersebut tak membuat bara dalam dirinya padam. Rokok itu sama sekali tak membantunya menghilangkan rasa kesal dan amarahnya, urat-uratnya masih menegang mengisyaratkan kekesalannya atas tingkah sang istri.

"Ga nongol 5 menit lagi...."

Tepat saat Sammuel menghabiskan batang ke dua rokok yang diisapnya, pintu ruang tersebut terbuka yang langsung menampakkan sosok Tara di baliknya, tentu saja dalam keadaan tubuhnya yang sudah basah kuyup, namun tidak terlihat olehnya.

Sammuel jelas tahu siapa yang muncul meski ia berdiri membelakangi pintu tersebut. Setelah melihat bayangan siluet dari balik kaca yang berada di hadapannya, bak spion ia melihat pergerakan istrinya dari sana, namun basahnya tubuh Tara tidak akan terlihat olehnya.

"Gue baru tau sifat asli lo ternyata gini!" ucapan yang bengis dari Sammuel memecah kebekuan dan kesunyian. Pria itu masih tetap pada tempatnya, berbicara tanpa menggerakkan tubuhnya yang membelakangi istrinya, menyembunyikan emosinya. Melontarkan kalimat sedingin seperti biasanya ketika ia berbicara dengan orang asing di luar.

Tara membeku hingga membisu dalam getaran tubuhnya setelah mendengar nada bengis dari perkataan suaminya.

"Pantes mantan lo kayak gitu." Tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Pergi tanpa pamit, pulang ga tau waktu. Kenapa ga tidur di jalanan sekalian?" tegur Sammuel masih menghadap jendela di sana.

"Sorry, a … aku lupa bilang." Tara membalas dengan suara yang gagap, diiringi getaran yang entah karena ketakutan akibat perkataan pria itu, atau dikarenakan dia kedinginan, atau mungkin keduanya benar, yang jelas suaranya membuat Sammuel menolehkan pandangan kepadanya.

Sammuel membulatkan matanya ketika melihat busana istrinya yang sudah basah kuyup. Begitu pula dengan rambutnya yang penuh dengan tetesan air. Wanita ini hujan-hujanan.

Shit! Sammuel mengumpat tak ayal disertai olokan dalam benaknya.

Ia segera meraih tubuh istrinya, menanggalkan kain pembalut tubuh istrinya dengan kasar, setelahnya menyeretnya ke dalam ruang tempat membersihkan diri. Ia melakukannya tanpa mengatakan apa-apa lagi, entah gengsi atau tak tahu mesti berkata apa, mungkin juga ia dilema antara iba dan kesal padanya. Entahlah apa yang ada di dalam pikiran pria itu.

Tara mengerti apa yang harus dilakukan, ia segera membersihkan dirinya meski dalam keadaan canggung, itu dikarenakan Sammuel menatapnya dengan keadaan berdiri bersandar pada dinding dengan kedua tangan saling menumpu di dadanya.

Kebanyakan orang akan merasa tak nyaman, bahkan merasa risi ketika aktivitas yang dia lakukan ternyata diperhatikan seseorang. Gugup, salah tingkah, tak suka, gusar, jengah dan segala macam perasaan lain pasti akan dirasakan.

Mengabaikan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Tara, Sammuel tetap pada posisinya, tanpa bergerak sama sekali.

"Ke mana aja tadi?" Sammuel segera melontarkan pertanyaan dengan nada yang ketus. Proses interogasi segera dimulai.

"Konser di mall." Wanita itu menjawab singkat dan jujur seadanya.

"KONSER?!" pekik Sammuel tidak percaya, pada usia yang lebih tua darinya, istrinya masih melakukan hal kekanak-kanakan. Ia sampai memfokuskan tatapan dan menggerakkan kepala.

"Aku lupa bilang kalau aku punya grup band." Tara mencuri pandang yang membuat rasa takutnya merangkak seketika, setelah melihat mata suaminya yang menatapnya penuh dendam. "Tapi tadi konser terakhir. Jadi ga akan ada lain kali." Tara mencoba menjelaskan dengan nada lirihannya berharap pengampunan akan didapatinya.

Sammuel mengembuskan napas leganya yang tersembunyi di balik nada bicaranya yang selalu ketus. "Cuma itu?"

"Ya."

Sekilas Sammuel memalingkan arah pandangnya. "Soal mobil?" Kegiatan Tara rupanya membuat Sammuel menelan ludah kasarnya berkali-kali. Harusnya dia membuang pandangan sejak awal, tapi interogasi tak mungkin dilakukan jika pandangannya berkeliaran ke mana-mana.

"Aku juga lupa, soalnya kebiasaan pake motor," balas Tara masih dalam lirihannya. Meski sedang berbincang, atau tepatnya sedang diinterogasi, ia tidak menghentikan kegiatan membersihkan dirinya.

Kini gairah itu menjadi emosi menggelegar mendengar penjelasan istrinya yang dirasanya tidak masuk akal sama sekali. Pikiran buruknya berkumandang menyatakan sang istri ingin menarik simpatinya.

Suara dering ponsel tiba-tiba mengganggu proses interogasi itu, suara itu terdengar samar melantun dari luar ruang tempat membersihkan diri tersebut, Sammuel segera pergi meninggalkan sang istri dan bergegas mencari asal suara ponsel yang memprotes minta segera diangkat.

Maka setelah beberapa detik berlalu, akhirnya ia menemukan asal bunyi itu, segera didapatinya jika ponsel milik istrinya yang berdering, ia memegang dan melihat jika terdapat sebuah tulisan 'Aldi' dari balik layar tersebut sebagai sang pemanggil, jelas itu membuat emosinya kian menjalar. Dengan tergesa ia pun menjawab panggilan.

"Siapa?" ketus Sammuel penuh dendam setelah panggilan terhubung. Tanpa ada keramahan sama sekali dari nada bicaranya.

"Di mana Tara?" Pria dari seberang sana membalas pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Nada khawatir terlontar darinya setelah mendengar suara seorang pria yang menjawabnya.

Begitu pula dengan Sammuel yang semakin geram setelah mendapati suara seorang pria di balik alat media milik istrinya itu. Ternyata bukan hanya namanya saja, si penelepon memang seorang pria.

"Di rumah gue." Sammuel melampiaskan amarahnya.

"Lagi ngapain dia?!" Aldi memekik mulai heran dengan kalimat singkat itu, apa maksudnya ini?

"Mandi." Sammuel mengucap katanya semakin bernada ketus.

"Dia mandi di rumah cowok?!" pekik Aldi tidak percaya. "Ga mungkin." Sejauh yang pria itu ketahui, Tara tak pernah terlalu intim dengan seorang pria hingga membuat wanita itu mandi di rumah seorang pria. Kekehan ledekan terdengar Sammuel lebih memilukan.

"Apa salahnya dia mandi di rumah suaminya?" Telanjur geram, Sammuel melupakan perjanjiannya untuk tidak mempublikasikan status pernikahannya pada siapa pun. "Ada masalah!" Pekikan teriakan Sammuel dalam nada bicaranya menyayat indra pendengaran lawan bicaranya di seberang sana membuatnya memutus panggilannya.

Kian frustrasi ia dibuatnya. Kini ia kembali menuju tempat semula di mana istrinya masih melakukan aksinya.

Akhirnya Tara usai membersihkan dirinya, dengan ragu ia, melangkahkan kakinya melewati Sammuel yang masih berdiri di sana tanpa menggerakkan tubuhnya.

Kini Tara tengah membalut tubuhnya dengan rapat. Belum sempat mengeringkan rambut, Sammuel menghampirinya, lantas meraih tubuh itu ke dalam pangkuannya. Membawanya ke atas tempat tidur dengan mengempaskannya secara kasar.

Sammuel merangkak hingga mengukung tubuh molek itu di bawahnya, sebelah tangannya menyegel kedua pergelangan tangan istrinya, sedang sebelahnya yang lain menjalar menyusuri setiap lengkuk tubuh istrinya.

Jangan lupakan bibirnya yang sudah berhasil membungkam mulut istrinya, dicumbunya wanita itu dengan kasar untuk melampiaskan emosi serta gairahnya. Kini sebelah tangannya berhasil mempermainkan dada istrinya meski masih terbalut busana tidurnya.

Ringisan Tara akibat permainan tangan kasar itu tidak dihiraukan Sammuel sama sekali, Tara mencoba melepas cengkeraman pada tangannya meski tidak membuahkan hasil sedikit pun. Akhirnya Sammuel melepaskan cengkeraman itu, namun tidak dengan cumbuannya.

Di tengah cumbuannya, Sammuel tersadar akan perilaku yang membuat ia melampiaskan pada bibir istrinya, ia menggigit keras bibir bawah Tara hingga menggoreskan luka yang meneteskan darah di sana.

Lantas cumbuan pun berakhir tragis, sebelah tangannya terulur mengusap darah segar itu dengan ibu jarinya.

Lalu ia bangkit hingga melangkahkan kakinya. Diraihnya kunci kendaraan roda empat serta dompetnya yang berserakan di atas nakas.

Tara hanya membiarkan perbuatan itu dengan hanya menatapnya penuh luka. Hingga Sammuel membuka pintu lantas menutupnya dengan kasar yang membuahkan suara debuman nyaring, membuat Tara melirih tanpa mampu mencegahnya.

Tara paham atas emosi suaminya, namun apalah dayanya yang hanya bisa membiarkan kepergian suaminya itu begitu saja.

Hingga malam semakin larut, ia baru dapat memejamkan matanya, membawa jiwanya menuju alam mimpi buruknya.

***

Samar-samar terdengar suara percikan air hujan. Meski hari masih dini, Tara sudah terbangun dari tidurnya, ia mengingat kejadian semalam yang membuat pilu di hatinya kembali menyeruak.

Dalam posisi masih terbaring, ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping tungkak kepalanya. Dilihatnya 10 panggilan tidak terjawab dari adiknya tertera di balik layar itu, ia pun segera membalasnya dengan memanggil nomor tersebut. Melakukan panggilan beberapa kali padanya, jelas ini ada yang ingin dibicarakan, mungkin saja sesuatu yang penting.

Beberapa detik berlalu seolah berjam-jam lamanya saat menunggu bunyi panjang tanda jika dari seberang sana belum mendapat respons, tiga kali bunyi panjang berlalu dan akhirnya panggilan itu segera dijawab.

"Key, kamu tadi telepon?" sapa Tara setelah panggilan terhubung.

"Ya."

"Ada apa? Ada masalah? Ada sesuatu yang penting?” Tara menyingkapkan selimutnya penuh kegelisahan dan melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus, dia kira jika ibunya telah berbuat ulah pada adiknya. Sesuatu seperti itu bisa terjadi kapan saja, mengingat tabiat ibunya yang seperti itu, Tara selalu was-was.

“Iya. Ada masalah.” Tara panik dengan jawaban itu.

“Masalah apa? Apa ibu ....”

"Semalem suami aku telepon kakak, tapi yang angkat cowok, terus bilang dia suami kakak. Itu yang jadi masalahnya.” Suara dari seberang menyelanya. UcapanUcapan sang adik membuat mata Tara membelalak sempurna hingga mengembuskan napas kasarnya. Sammuel menyebarkan tentang hubungan mereka? Siapa yang membuat perjanjian dan siapa yang melanggarnya? Bagaimana bisa pria pria begitu seenaknya dan melakukan ini?

Tara menyentuh wajahnya dengan tangan yang bebas, sesaat tak ada yang berbicara, karena Tara tak juga mengatakan apa-apa maka adiknya melanjutkan.

“Apa maksudnya itu? Kakak bisa jelasin apa maksud cowok itu? Siapa dia dan apa ka ....”

“Dengar dulu,” sela Tara sebelum lebih banyak pertanyaan lagi terlontar dari sana, wanita dari seberang tak melanjutkan kalimatnya.

"Nanti kakak ceritain kalo ke Bandung." Ia beranjak dari tempat tidurnya.

"Sekarang ga bisa?" Lirihan Keyla di seberang sana dapat terdengar Tara hingga membuatnya terasa memilukan.

“Nggak.”

“Kenapa? Kakak mau main rahasia-rahasiaan? Atau usah nggak nganggap aku saudara lagi? Atau karena ....”

“Bukan itu.”

“Lalu apa? Kenapa kakak bungkam dan bikin aku makin penasaran?”

"Key, masalah ini terlalu gede, ga bisa diobrolin lewat telepon." Langkahnya menepi di dalam tempatnya memasak. Ia meraih minuman dingin dari dalam tempat yang tersedia untuk menenangkan tenggorokannya. "Sekalian kakak jenguk kalian nanti." Sang adik, Keyla. Ia merasa jika tak ada gunanya untuk membujuk atau memaksa kakaknya lebih jauh lagi, maka dia memutuskan untuk menyerah dan tak menekan kakaknya, jika sudah waktunya tiba dan apabila dia memang tahu, suatu hari nanti kakaknya akan membeberkan semuanya pada dirinya. Ia tak perlu egois dan membuat kakaknya tertekan

"Ya udah lah, kapan kakak pulang?" Kali ini wanita itu bicara dengan lebih tenang dan tak seperti sebelumnya. Tara agak lega dengan perubahan nada bicara itu.

"Kakak sekarang kerja di kantoran, jadi ga bebas kayak dulu. Nanti kakak liat waktunya dulu ya." Ia meneguk minuman itu seolah melampiaskan kegelisahannya.

"Kalau kerja di kantoran gajinya kecil dong? Gimana bisa bayar kontrakan rumah?" Suara sang ibu menginterupsi di seberang sana, membuat Tara tersentak hingga mulutnya tersedak.

Astaga, apa yang dipikirkan ibunya? Belum cukupkah ibunya mencoreng namanya dengan menjalin hubungan bersama seorang pria muda bahkan lebih muda darinya, lebih muda dari putrinya sendiri?

Ia segera meredakan sedakannya dengan meneguk kembali minumannya. "Oke nanti aku ngelacur lagi biar kalian bisa hidup mewah, meski aku harus masuk neraka ga jadi masalah." Tara melontarkan kalimat itu beserta kekesalan pada ibunya sendiri, seseorang yang ... berat baginya untuk ia akui tapi tak akan terbantahkan oleh segala bahwa itu adalah ibunya sendiri.

"Mamah! Ap…." Suara bentakan Keyla yang terpenggal lantaran panggilan terputus begitu saja membuat Tara kembali melirih.

Itulah sikap sang ibu yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri tanpa tahu perjuangan anak sulungnya agar dapat menopang hidup lebih baik untuk mereka.

Anak yang baik dan berbakti memang harus patuh pada orangtuanya, harus berbakti, tapi apakah mesti dengan cara seperti ini?

Apakah orangtua seperti itu layak diperjuangkan dan dilayani sepenuh hati? Memang jika ibu kandung memiliki jasa besar dalam kehidupan seorang anak, tapi untuk apa jika itu pada akhirnya hanya untuk kesenangan sendiri dan menghancurkan kehidupan anaknya?

Tara dilema, dia tak bisa berontak dan melawan, apalagi ada yang harus dia jaga dan menjadi tanggung jawab dirinya.

TBC

1
☠ᵏᵋᶜᶟℛᵉˣ🍾⃝ ͩ ʏᷞᴜͧɴᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰
selamat atas tamatnya novel nya kakak, moga novel selanjutnya tamat dengan bagus seperti ini
☠ᵏᵋᶜᶟℛᵉˣ🍾⃝ ͩ ʏᷞᴜͧɴᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰
moga kandungan Tara baik baik aja dan untuk mama Tara semoga cepat insyaf
☠ᵏᵋᶜᶟℛᵉˣ🍾⃝ ͩ ʏᷞᴜͧɴᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰
jangan minta maaf kalau itu bukan dari hati, karena itu gak akan berguna
☠ᵏᵋᶜᶟℛᵉˣ🍾⃝ ͩ ʏᷞᴜͧɴᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰
hadeh disuruh punya anak Mulu nih, yang susah nya pihak perempuan.pihak laki laki cuma ingin enak buat aja
☠ᵏᵋᶜᶟℛᵉˣ🍾⃝ ͩ ʏᷞᴜͧɴᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰
aku baca dulu nya kakak, semangat kakak
🍒⃞⃟🦅 R⃟tunggadevi
aahh berbuah jua akhirnya ,tumbuh seorang putra yg sangat tampan.

hmm...apakah jackson tahu bahwasanya dia telah jadi seorang ayah??
semoga segera dipertemukan oleh takdir.
🍒⃞⃟🦅 R⃟tunggadevi
waah ...kejadian lalu itu ,rupanya sangat membekas dihati jackson hingga kini....
dan perasaan mendalam antara kasihan sesal dan tumbuhnya cinta ...
🍒⃞⃟🦅 R⃟tunggadevi
tak mengerti sepenuhnya sikap ibu kandung tara,kenapa seolah dia keberatan mengasuh anak2 nya??
mengapa pula sikap nya sungguh terlihat kejam ke tara,mungkinkah tara anak yg tdk di inginkan kelahirannya??

selamat berjuang tara,menata masa depan dengan peluh halalmu.
🍒⃞⃟🦅 R⃟tunggadevi
puitis
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎𝖓 𝐖ᵍᵇ𝐙⃝🦜
semoga tara gk kena napa yah
Qia'badR⃟i 💤
mampir moms😊
ujian terberat tara akan segera dimulai,kenapa kebablasan?kenapa tdk dengerin sahabat kamu tara
ᴠͥɪͣᴘͫ✮⃝⏤͟͟͞R. ALICE off
ishhh keren keren
saya langsung cus ngingip visualnya mom😁
VIDAYA
Buat anak sama jack tapi nikahnya sama samuel🙄
ᵃⓂᵉⓁ☪️𝐙𝐨ͤ𝐍ᷤ𝐞ͣ🌏
berharat Tara sm Jackson 😭😭
ᵃⓂᵉⓁ☪️𝐙𝐨ͤ𝐍ᷤ𝐞ͣ🌏
si Jack jd kaget kan
ᵃⓂᵉⓁ☪️𝐙𝐨ͤ𝐍ᷤ𝐞ͣ🌏
pokok ny lanjut baca aja
ᵃⓂᵉⓁ☪️𝐙𝐨ͤ𝐍ᷤ𝐞ͣ🌏
sadarkanlah Tara thor 🤣🤣
ᵃⓂᵉⓁ☪️𝐙𝐨ͤ𝐍ᷤ𝐞ͣ🌏
oh jd Tara sama Jack udh ktmu ?
ᵃⓂᵉⓁ☪️𝐙𝐨ͤ𝐍ᷤ𝐞ͣ🌏
Tara jd kupu2 malamkah ???
ᵃⓂᵉⓁ☪️𝐙𝐨ͤ𝐍ᷤ𝐞ͣ🌏
kasian anaknya cm bs memandang sang ayah dr kejauhan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!