Karena hukuman, akhirnya Eighar harus di pindahkan ke sekolah aneh yang berisi orang-orang yang aneh pula. Sekolah macam apa yang di maksud?? Tak ada yang khusus, kecuali murid-murid serta sistem sekolahnya yang terbalik. Lalu, apa yang mengganjal dari hal itu??
Baca lah sendiri!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekas Perbudakan
Mendengar hal itu, dokter Melissa langsung terkesiap. Ia mengerjap cepat dan tangannya bergetar kala melihat reaksi Eighar. Dua orang pasien dengan dua kepribadian yang berbeda sedang ia hadapi. Namun seperti sebelumnya, ia harus bisa menghadapi mereka berdua bagaimana pun kondisinya.
Dokter Melissa berulang-ulang menarik napas dan menghelanya. "Kenapa kamu ngomong gitu? Bagaimana pun, sekejam apapun orang tua, dia selalu mau memberikan yang terbaik untuk anaknya."
Eighar menatap dokter Melissa dengan tajam. "Salah satunya nyuruh dokter buat ngejauhin saya dari temen-temen?"
Perkataan Eighar lagi-lagi membuatnya terkejut. Ia terdiam, dan bertanya-tanya darimana Eighar tau hal tersebut. Elle kah? Sepertinya tidak mungkin Elle yang memberitahu, toh.. ia sudah menolak permintaannya kemarin, bahkan menolak di beri upah juga. Tapi, bukannya dokter Melissa menyuruh Elle untuk menjaga dan memahami Eighar, dalam artian mendekatinya. Kenapa Eighar malah berpikir orang tuanya ingin menjauhi Eighar dari teman-temannya?
"Eighar, mungkin kamu sedang salah paham disini." Dokter Melissa berusaha menjelaskan dengan tenang, padahal pikirannya sedang berkecamuk sekarang. "Orang tua kamu gak pernah meminta temen kamu ngejauhin kamu, malah mereka meminta agar temen kamu selalu berada di dekat kamu."
"Karena minta di kasihani? Karena saya punya penyakit?? Justru hal itu yang bikin temen saya mikir dua kali buat temenan sama saya. Mereka pasti takut dan mikir saya ini orang gila. Saya waras dok, saya gak gila. Saya sehat, saya gak sakit!!" ucap Eighar dengan nada yang ia hentak-hentakkan. Dokter Melissa terdiam. Ia kini tak berani memandang wajah Eighar.
"Sejak dulu, dia selalu begitu. Selalu menganggap dirinya superior, kata-katanya mutlak, gak boleh di bantah sedikit pun. Dari saya kecil, dia sibuk gila-gilaan dengan perempuan-perempuan pribumi murahan, sampai-sampai mama hampir minta cerai, tapi gak jadi karena mikirin saya."
"Ekspektasinya terlalu tinggi, dan itu harus jadi kenyataan. Saya dari kecil kehilangan masa-masa bermain, sibuk di rumah dengan tugas-tugas sekolah, belum lagi les, belajar sampai larut padahal dia sendiri enak-enakan tidur! Dia mana mengerti, pokoknya saya harus belajar belajar belajar dan nurut!"
"Saya muak!! Sampai pada detik saya benar-benar membenci tulisan dan pelajaran apapun. Saya sering ketiduran di kelas, nilai saya perlahan turun dan peringkat menurun. Sampai saat itu dia nunjukin neraka yang gak akan saya lupain seumur hidup." mata Eighar berkaca-kaca kala menceritakannya. Tangannya begitu dingin dan bergetar hebat. Jantungnya bergemuruh dengan cepat, dan ia selalu merasa ketakutan setiap mengingat saat-saat itu.
"Dia mengikat saya, menaruhnya di dalam peti sempit dan mengunci saya sampai pagi. Saat saya di keluarkan, saya menangis memohon ampun, tapi saya di ikat lagi di atas loteng bersama dengan tikus-tikus dan juga ribuan kecoak yang terbang dan hinggap ke badan dan wajah saya." air mata Eighar mulai mengalir tanpa ia sadari, ia menceritakannya dengan detil dan mata yang terus terbelalak, seolah kejadian itu ia lihat di depan matanya lagi.
"Setelah itu saya di ancam, kalau nilai saya turun, malas belajar dan masih ketiduran di kelas, saya akan dipukuli sampai sekarat, bahkan saya pun di tampar berkali-kali kala ia mengatakan ancamannya." pupil mata Eighar mengecil, dan matanya benar-benar melotot besar, membuat dokter Melissa merasa ketakutan.
Mata kosongnya itu perlahan bergerak, menilik dan menatap dokter Melissa dengan lekat. Senyum sumringah yang menyeringai terpancar, dan tentu saja itu membuat dokter Melissa benar-benar panik dan gemetaran.
"Setelah itu.. saya mulai melawan.. Saya tak menurut, membangkang dan pernah adu pukul dengannya. Dokter tau apa yang saya rasa kala itu??" desak Eighar sambil mendekat ke arah dokter Melissa. Dokter Melissa hanya menggeleng dengan wajah yang memucat. "Ternyata orang ini menyenangkan juga kalau di lawan. Jadi sejak saat itu, saya pikir anak polos dan baik itu sudah tidak ada. Eighar yang itu sudah tidak ada. Ini adalah Eighar yang liar, yang kuat, tangguh dan tak terkalahkan. Eighar itu udah gak ada.. Eighar yang itu sudah mati, dan yang sekarang adalah Eighar baru yang tak terkalahkan. Hahaha." Eighar tertawa kencang, dan tentu saja itu membuat dokter Melissa merinding seperti melihat hantu yang menyeramkan.
Dokter Melissa langsung beranjak, ia berlari ketakutan dan meninggalkan Eighar yang masih tertawa sendirian. Dokter Melissa menjauh dan sembarang masuk ke ruangan dokter lainnya. Dokter Melissa menangis, bukan hanya karena rasa takutnya. Tapi, ia merasa Eighar itu adalah korban, namun ia salah mengekspresikan penderitaannya.
"Mel? Melissa? Kamu kenapa?" tanya dokter Rayn saat dokter Melissa memeluk tubuhnya sendiri dalam tangis yang tak ia mengerti.
Bukankah Eighar seorang NPD dan sekarang mengalami gegar otak ringan akibat kecelakaan? Tapi ia bisa mengingat dengan detil luka di masa lalunya, bahkan di setiap kalimatnya terdengar begitu menyayat dan menyakitkan. Eighar melupakan hal traumatis dalam hidupnya pasal kecelakaan, tapi mengingat dengan detil apa yang telah menyakitinya, dan membuatnya mengidap gangguan kepribadian. Seolah hal traumatis itu benar-benar selalu ia ulang berkali-kali sampai itu sudah melekat di benaknya.
Dokter Melissa tak menyesal mendapatkan dua pasien spesial, yaitu Zeam dan Eighar yang sama-sama bergulat dalam masa lalu yang menyakitkan. Ia merasa beruntung, karena pekerjaannya terasa lebih mulia dan berguna. Ia benar-benar ingin menyembuhkan mereka berdua dari luar dan juga dalam.
.........
Elle melihat obat-obatan yang sama di berikan kepadanya. Ia menarik napas dalam, bahkan merasa bosan hanya dengan melihatnya saja. "Depresi brengs (brengsek)!" gerutunya.
Leon keluar dari ruangan dokter dan menghampiri Elle. "Haduh, masa' gara-gara badan gue gak naik-naik beratnya, gue di kasih dokter Velton obat cacing!!" keluhnya.
Elle tersenyum tipis. "Itu artinya elu cacingan!!"
"Sembarangan!!" sambar Leon kesal. Leon melirik sekeliling, "Lah, Eighar belum keluar?" Elle menggeleng. "Pasti dia di kasih obat cacing juga, cacing kermi. Hehe."
"Brengs lu!!" balas Elle sambil ikut terkikik.
Tak lama berselang, Eighar keluar dari dalam ruangan dokter Melissa, berjalan cepat dan tergopoh-gopoh, bahkan ia melewati Leon dan Elle begitu saja.
"Lah? Buta dia?" ujar Leon.
"Hus!! Lu mah berisik banget!!" desis Elle.
"Lah, dia kenapa tuh gak negor kita? Orang udah di tungguin juga!!" omelnya.
Elle langsung menarik tangan Leon untuk mengikutinya. "Dia gak keliatan mungkin, yuk susulin!!" ajaknya sambil menyeret Leon.
Eighar langsung menuju ke kamarnya, Leon dan Elle yang tertinggal jauh pun menyusul dan mengetuk pintu. Eighar membukanya, menunjukkan kedua mata sembab dan terdengar sedikit pilek.
"Hah? Lu nangis? Di suntik dokter ya?" terka Leon, dan Elle langsung menyikut perutnya.
"Kok lu buru-buru tadi, gak liat kita??" tanya Elle, dan Eighar hanya diam menatapnya. "Gak ke kantin dulu?? Mumpung belum rame." tawarnya.
Eighar menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepalanya. "Take away aja, sekalian gue mau minum obat." ucapnya, dan Elle melihat kedua tangan dan kaki Eighar begitu gemetaran.
"Oke." sahut Elle dan Leon serentak.
Sesampainya makanan di kamar, Eighar banyak terdiam dan hanya menggoyangkan air putih di dalam gelas dan memperhatikannya. Elle dan Leon yang duduk di depan kasurnya saling sikut, saling suruh untuk mengobrol terlebih dahulu.
Pada akhirnya Elle lah yang mengambil alih untuk bicara. "Ada masalah ya pas pemeriksaan?" tanya Elle ragu, membuat Eighar meliriknya dengan lekat.
"Ada." singkatnya.
"Apaan?"
Eighar yang duduk di atas tempat tidur, sedikit beringsut ke pinggir kasur. Ia menatap Elle dan Leon dengan lekat. "Kalian tau, pas gue ke ruangan dokter Melissa, gue gak sengaja ngeliat Zeam. Punggungnya Zeam itu, ada bekas luka perbudakan. Jelas banget tulisannya, gue sempet ngecek informasi pribadinya Zeam, dia itu kaum bangsawan. Kok, bisa ada bekas luka perbudak-" Elle langsung membekap mulut Eighar, melirik sekeliling takut ada yang lewat dan mendengarkan mereka.
"Sssst!! Jangan gede-gede suaranya!! Itu isu sensitif!!" bisik Elle, dan Leon langsung menutup pintu agar tak ada yang tau obrolan mereka.
"Hm, hohm (Hm, oke)." ucap Eighar dari bekapan Elle, dan Elle melepaskannya saat pintu kamar Eighar sudah tertutup rapat.
"Bekas perbudakan?? Mana ada yang punya itu di zaman sekarang?" bisik Elle, dan Leon mengangguk.
"Gue juga tau, tapi Zeam punya!!" Eighar memperjelas.
"Ssstt, jangan berisik." desis Elle lagi. "Harusnya, setiap budak yang punya bekas luka perbudakan yang di tandai, mereka itu bakalan di incar.." Elle menelan ludahnya. "...Sampai mati."
Bersambung...
sekolah militer juga bukan
waktu itu Meta ngasih infonya salah terus, aku bilang payah.
si Meta bilang "gunakan bahasa yg baik & sopan"
lah aku jawab Meta marah, ngambek? katanya tidak, saya tidak punya emosi trus dia lgsg mengalihkan topik pembicaraan
takut ketahuan kalo sebenarnya ada "manusia" yg mengoperasikan si meta ini.
othor pernah chat sama meta jg ga? 😁