Di dalam hening dan gelapnya malam, akhirnya Shima mengetahui sebuah rahasia yang akan mengubah seluruh hidupnya bersama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaLibra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Gara-Gara
Shima kembali bekerja seperti biasa. Sofeea Boutique sangat sibuk di minggu- minggu ini karena banyaknya pesanan baju pengantin. Banyak pula costumer yang datang langsung untuk melihat kualitas baju yang dijual di Sofeea Boutique, sehingga para karyawan disana tampak begitu sibuk melayani mereka.
Shima yang awalnya sibuk, atensinya teralihkan dengan kedatangan seorang wanita muslimah yang berjalan dengan pongah.
"Tunjukkan padaku, gamis yang paling bagus" perintahnya pada Shima.
"Maaf Bu. Saya sedang banyak urusan. Rekan saya yang akan melayani Ibu" tolak Shima halus.
"Saya maunya kamu dan kamu panggil saya apa? Ibu? Bahkan matamu sudah rabun karena tidak melihat kecantikanku. Aku ini baru dua puluh sembilan tahun. Aku juga belum punya anak. Jangan panggil aku Ibu. Cepat kamu layani saya. " tunjuknya pada Shima.
Shima melipat bibirnya ke dalam agar tawanya tidak menyembur. Apa katanya? Cantik? Cantik sih, tapi Shima yang jauh lebih cantik pun tidak sesombong dirinya.
"Oke Tante. Tapi saya memang sedang sibuk"
"Tante? " Wanita itu berang lalu secepat kilat menjambak rambut Shima.
Shima mengaduh dan mencoba melepaskan jambakan wanita tersebut. Beberapa rekan Shima bahkan ikut melerai.
"Saya akan laporkan kamu ke atasan kamu biar kamu dipecat. Pembeli itu raja. Layani dong. Udah gak becus malah kamu menyinggung saya dengan panggilan kamu yang menghina"
Tak lain tak bukan, wanita itu ialah Nadia. Ia merealisasikan ucapannya tempo hari saat tidak berhasil menyalurkan cemburu butanya pada Shima.
"Ada apa ini? " Tanya Bu Sofie yang tiba - tiba muncul dari luar.
"Saya mau komplain tentang karyawan Ibu yang satu ini. Dia sombong tidak mau melayani saya. Dia sudah mengatai aku sudah tua. Tempo hari, dia juga sempat menggoda suami saya. " Adu Nadia.
Shima merasakan darahnya dengan cepat naik ke ubun - ubun. Ia tidak terima dengan kata - kata Nadia yang sudah memfitnahnya. Bisa rusak citra janda terhormat yang disematkan rekan - rekannya untuk dirinya.
"Heeeeii.. Ngomong apa barusan? Aku gak godain suami jelekmu ya. Suami kamu yang ngejar aku sampai ke atas. Dan apa kamu bilang? Kapan aku menyebutmu tua. Playing victim. " Shima mencibir. Shima jelas tidak terima.
"Kamu pengen dapat suami kaya kan? Makanya kamu goda suami aku? " Sewot Nadia.
"Dasar wanita sin_ting. Aku sudah katakan, aku tidak menggoda suami kamu"
"Mana ada maling mau ngaku" Cibir Nadia.
"Stooop" Bu Sofie menengahi.
"Apa benar yang dikatakan Bu dhe ini Shisi? "
Tanpa menunggu jawaban Shima, Bu Sofie menyeret Shima masuk ke ruangannya.
Nadia kesal setengah hidup. Apa kata Bu Sofia tadi? Bu dhe? Semakin kesal saja ia pada Shima. Mungkin esok ia akan melakukan perawatan pada wajahnya agar tampak awet muda seperti kulit Shima. Nah loh.
Shima yang diseret Bu Sofie hanya menggeleng pelan saat bu Sofie mencecarnya.
"Emang bener? kamu jadi seling_kuhan suami Bu dhe yang tadi?"
"Yaa enggak lah Ibuk. Berondong masih banyak, ngapain godain suami Mak Lampir. Dia itu istrinya mantan suami aku Buk. Kemarin mereka sempat beli gamis disini. Aku juga kaget ternyata mereka datang ke butik ini. Si mantan lihat aku tuh kaya lihat bongkahan emas. Aku kan jadi risih terus aku suruh lah si Ika ganti_in aku buat layani mereka. Nah si mantan malah ngejar aku sampe ke atas, terus yang bikin aku gedek banget, masa iya dia tanya berapa tarif aku. Kan kamp*ret ya Buk. Refleks aku tonjok hidungnya. Hahahaha. Terus si istri bilang kalau aku mau godain suaminya. Iiihhh mana mau aku. Udah ku buang juga, masa iya mau dipungut lagi" Shima mulai menceritakan Cello pada Bu Sofie.
"Bagus. Jadi wanita memang harus tegas. Terus saat ini, cowok mana yang dekat sama kamu?" Pancing Bu Sofie.
"Ada sih Buk. Dia ngajak aku nikah, tapi aku belum siap Buk. Dia kayanya anak orang kaya, apa iya keluarganya mau nerima rakyat jelata kaya aku gini? " Shima insecure sendiri.
"Siapa?"
"Kapan - kapan deh, aku kenalin ke Ibuk"
"Oke. Cuma satu pesan Ibuk. Jangan mau di apa - apain dulu sama dia"
Uhuuuk
Shima tersedak air liurnya sendiri.
"Kamu kenapa? Kamu udah diapain sama dia? " Bu Sofie melipat bibirnya kedalam.
"ng-nggak kok Buk" Shima tersenyum canggung.
"Kamu yakin mau nerima laki - laki itu. Ibu maunya kamu nikah sama anak duda Ibu. Hiks hiks hiks" Bu Sofie mulai melancarkan aksinya.
Shima jadi simalakama. Ia tidak tega menolak permintaan Bu Sofie, orang yang sudah banyak membantunya. Tapi bagaimana dengan Kim? Apalagi tadi malam, ahhhh sudah lah.
"Maaf Buk. Tapi apa nanti anak Ibu mau nerima aku yang udah punya buntut? Aku gak mau jadi janda dua kali" Shima menunduk.
"Dia mau kok. Mau banget malah"
Kaki Shima terasa lemas. Bagaimana ini?
Shima akhirnya keluar dari ruangan Bu Sofie dengan wajah tertunduk lesu. Ia berjalan gontai, memikirkan langkah apa yang seharusnya ia ambil.
"Rasain. Dipecat kan kamu? "
Shima terlonjak kaget mendengar suara yang lebih mirip suara kunti itu. Ia mendongak dan mendapati Nadia berdiri seperti jargon semen, kokoh tak tertandingi.
Shima tak mengindahkan gumaman setan yang berdiri di depannya. Ia melengos. Baru beberapa langkah, tangannya di tarik dari belakang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan wanita suci pilihan mantan suaminya.
"Mbak ini maunya apa sih? Suka banget cari gara- gara. " Sentak Shima.
"Urusan kita belum selesai ya." Mata Nadia melotot seakan bola matanya akan jatuh.
"Kita gak saling kenal ya. Mbak gak usah sok akrab" Shima menyentakkan tangannya hingga cekalan tangan Nadia terlepas.
"Mbak mau rebut mas Cello lagi kan? " Tuduh Nadia.
Shima muak. Geram sekali dengan jelmaan bidadari keseleo ini. Kalau tidak ingat saat ini suasana sangat sibuk, dia pasti dengan senang hati men_je_dotkan kepala Nadia ke tembok.
"Aku gak akan mungut sampah yang udah ku buang. Jadi ambil saja, laki - laki tercintamu itu buat dirimu saja. Lagian Mbak suka sekali gangguin aku. Pulang sana Mbak. Kerjaan aku banyak" Shima meninggalkan Nadia untuk kembali bekerja.
Nadia mengepalkan kedua tangannya dan menghentakkan kakinya, sangat kesal pada Shima. Rupanya Nadia iri dengan Shima. Ia sudah merasa insecure dengan Shima yang jauh lebih di atas segalanya ketimbang dirinya. Nadia memang cantik tapi Shima lebih unggul dari Nadia. Lebih besar dan padat. Eh.
Nadia menelpon Cello yang masih tertidur di rumah. Sampai panggilan ke empat, Nadia baru mendapatkan jawaban dari ujung sana.
"Kenapa sayang? "
"Jemput aku Mas! "
"Memang kamu dimana? " Tanya Cello.
"Aku belanja di Sofeea Boutique."
Mendengar jawaban sang istri, mata Cello terbuka dengan lebar. Pasti Nadia sedang cari gara - gara dengan Shima. Cello sudah memperingati Nadia agar tak usah bertemu Shima. Memang dasarnya Nadia keras kepala berbeda dengan Shima yang dulu sangat penurut. Kan?
"Tunggu. Aku akan menjemputmu sekarang"