menikah dengan laki-laki yang masih mengutamakan keluarganya dibandingkan istri membuat Karina menjadi menantu yang sering tertindas.
Namun Karina tak mau hanya diam saja ketika dirinya ditindas oleh keluarga dari suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35. menemui Karina
Karina hidup dengan tenang dan bahagia di kampung halaman orangtuanya, dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah dan udara yang segar. Dia menikmati kehidupan yang sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan merasa lebih dekat dengan akar dan tradisi keluarganya. Setiap hari, Karina dapat menikmati keindahan alam, seperti matahari terbit yang memancarkan cahaya keemasan, burung-burung yang berkicau merdu, dan bunga-bunga yang mekar dengan warna-warna yang cerah. Kehidupan yang tenang dan damai ini membuat Karina merasa lebih sejahtera dan bahagia.
Seperti pagi ini, Karina sedang menikmati kesendiriannya di teras rumah, dikelilingi oleh tanaman hijau yang rimbun dan bunga-bunga yang sedang mekar. Udara pagi yang segar dan sejuk membuatnya merasa lebih hidup dan bersemangat. Dengan secangkir teh hangat di tangan, Karina menikmati kesunyian pagi, mendengarkan suara burung-burung yang berkicau dan merasakan sinar matahari yang lembut di kulitnya.
Semalam, setelah berdiskusi dengan Pak Rahmat tentang Aldo, Pak Rahmat menyerahkan semua keputusan pada Karina, memberinya kebebasan untuk memilih jalan yang dia anggap tepat. Pak Rahmat mengatakan bahwa Karina sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri, dan bahwa dia percaya pada kemampuan Karina untuk membuat pilihan yang tepat.
"Ngalamunin apa to?" Tanya Bu Indri dengan nada yang hangat, menghampiri Karina yang sedang duduk di teras dengan pandangan yang jauh. Bu Indri membawa sepiring pisang goreng yang masih hangat, dan menaruhnya di depan Karina.
"Eh, Bu..." Tanpa menunggu perintah lagi, Karina langsung mengambil pisang goreng yang masih hangat dan harum itu, lalu memakannya dengan lahap.
"Kamu itu lagi ngalamunin apa?" Tanya Bu Indri sekali lagi, dengan nada yang lebih lembut dan penasaran. Dia duduk di sebelah Karina, memandang wajahnya dengan mata penuh kasih sayang.
Karina menarik napasnya dalam-dalam, seolah-olah mencari kekuatan untuk mengungkapkan pikirannya. "Aku masih bingung, Bu. Harus menerima penawaran Pak Andrew atau menolaknya." Wajahnya terlihat kusut oleh keraguan, dan matanya yang tadinya ceria kini terlihat murung.
"Memangnya kamu belum tanya pendapat Bapakmu?" tanya Bu Indri dengan nada penasaran, sambil memandang Karina.
"Sudah, Bu," jawab Karina dengan suara yang lembut, "Semalam aku sudah tanya pendapat Bapak. Tapi Bapak menyerahkan semua keputusan kepada aku, memberiku kebebasan untuk memilih jalan yang aku anggap tepat."
"Lalu, apa yang membuat kamu berat memutuskan?" tanya Bu Indri dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang. "Kamu harus segera memberikan kepastian, kasihan Aldo pasti sudah menunggumu," imbuhnya.
"Aku takut, jika melawan ucapan Bapak sama Ibu, takutnya bakalan kejadian seperti kemarin."
Bu Indri meraih tangan Karina dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Waktu kamu meminta restu untuk menikah dengan Rudi, Bapak dan Ibu memang tidak merestui karena feeling kami mengatakan Rudi bukan laki-laki yang baik untuk kamu," jelasnya dengan nada yang santai.
"Dan jika sekarang kamu bertanya pendapat Bapakmu tentang keputusan menerima atau tidak penawaran Nak Andrew, Bapakmu sudah menjawab dia menyerahkan semua keputusan sama kamu." Bu Indri memandang Karina dengan mata yang bijak. "Artinya, apapun keputusan yang akan kamu ambil, sudah pasti Bapak akan setuju," imbuhnya.
"Apa Bapak sama Ibu ridho, aku kembali ke kota?" tanya Karina dengan suara yang lembut dan penuh keraguan, seolah-olah mencari kepastian dan restu dari Bu Indri.
"Nduk, kami ridho kalau kamu niatnya bekerja," kata Bu Indri dengan nada yang lembut. "Tapi Bapak dan Ibu tidak ridho kalau kamu berniat untuk kembali sama Rudi." Suara Bu Indri sedikit berubah, menunjukkan ketegasan dan kekhawatiran orang tua terhadap keputusan anaknya.
Karina memeluk Bu Indri dengan erat, seolah-olah mencari kehangatan dan kepastian dari pelukan orang yang dicintainya. Bu Indri membalas pelukan Karina dengan lembut, menunjukkan kasih sayang dan dukungan yang tulus.
****
Hari Minggu yang Aldo tunggu-tunggu pun tiba, dimana papanya sudah berjanji untuk mengajaknya menemui Karina, wanita yang sudah Aldo anggap sebagai mamanya. Matanya bersinar dengan harapan dan kegembiraan, karena dia sangat merindukan Karina dan ingin sekali bertemu dengannya. Aldo telah mempersiapkan diri sejak pagi, berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang spesial dan membawa kebahagiaan bagi dirinya dan "mamanya" Karina.
Dengan wajah yang ceria dan mata yang bersinar, Aldo menyapa Papa dan Oma-nya dengan suara yang keras dan jelas, "Pagi, Papa... Oma..." Begitu sampai di meja makan, Aldo langsung memeluk keduanya, menunjukkan kasih sayang dan kegembiraan yang memancar dari dalam hatinya.
"Pagi, sayang..." jawab Lusi dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, sambil memeluk Aldo erat.
Sementara itu, Andrew hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis, matannya terlihat bahagia melihat keceriaan anaknya yang tidak terbendung.
"Oma, hari ini aku mau sarapan yang banyak biar kuat menempuh perjalanan jauh," kata Aldo dengan semangat. Aldo berharap sarapan yang banyak akan memberinya energi untuk menempuh perjalanan jauh.
"Harus dong! Oma ambilkan, ya," kata Lusi dengan senyum, sambil bangun dari tempat duduknya untuk mengambilkan makanan. Aldo pun menganggukkan kepalanya.
Aldo makan dengan lahap sekali, tidak ada satu pun makanan yang tersisa di piringnya. Dia makan dengan semangat dan antusias.
Begitu selesai sarapan, dengan tidak sabar Aldo meminta untuk segera berangkat, "Papa, Oma, aku sudah siap! Kita berangkat, ya? Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mama Karina!" katanya dengan nada yang penuh harapan, sambil melompat-lompat tidak sabar.
"Iya, kita berangkat sekarang, ya," kata Andrew dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Perjalanan menuju kampung halaman Karina membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam, melewati jalan yang berliku-liku dan pemandangan alam yang indah. Aldo terlihat sangat bersemangat dan tidak sabar untuk tiba di tujuan, terus-menerus bertanya kepada Andrew, "Papa, masih lama, ya? Apakah kita sudah dekat?"
"Masih lumayan lama, Aldo. Kamu bisa tidur dulu kalau mengantuk, nanti kalau sudah dekat papa bangunin," kata Andrew dengan lembut.
Aldo menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Pa. Aku tidak ngantuk," katanya sambil memandang jalan yang dilewati.
Namun, siapa sangka, setengah jam kemudian, Aldo yang tadinya penuh semangat dan antusias, malah tertidur pulas di pangkuan Lusi. Kepalanya yang kecil terjatuh ke samping, dan napasnya menjadi teratur, menandakan bahwa dia telah terlelap dalam tidur yang nyenyak.
Oma Lusi tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sambil memandang Aldo yang tertidur pulas. "Lucu sekali cucuku ini," ucapnya dengan nada yang penuh kasih sayang. "Katanya tidak mengantuk, tapi ketiduran juga. Anak kecil memang tidak bisa bohong, ya?"
Andrew tersenyum lembut, matanya terlihat hangat dan penuh kasih sayang ketika memandang Aldo yang tertidur pulas. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi senyumnya saja sudah cukup untuk menunjukkan betapa bahagianya dia melihat anaknya yang lucu dan menggemaskan.
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya mereka tiba di kampung halaman Karina. Rumah yang cukup besar untuk ukuran rumah di kampung dan asri terlihat di depan mata, dengan taman yang rimbun dan bunga-bunga yang mekar. Andrew mematikan mesin mobil dan memandang Aldo yang masih tertidur pulas.
"Aldo masih tidur, ya, Ma?" Matanya memandang ke arah Aldo yang masih terlelap, wajahnya yang polos dan damai membuat Andrew tersenyum.
Lusi mengangguk pelan. "Masih, biar mama bangunkan," ucapnya dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang, sambil mengusap rambut Aldo dengan lembut, berusaha membangunkannya dengan cara yang halus.
"Aldo, bangun sayang," panggil Oma Lusi dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang.
Aldo membuka matanya lebih lebar, memandang Lusi dengan mata yang masih agak berat. "Oma, apa kita sudah sampai?"
"Iya, kita sudah sampai," kata Andrew dengan senyum, sambil membuka pintu mobil dan keluar.
Lusi juga turun dari mobil, membawa Aldo yang masih terlihat sedikit mengantuk. "Sudah bangun, sayang? Kita sudah tiba di rumah Mama Karina," ucap Lusi.
Andrew, Lusi, dan Aldo segera berjalan menuju rumah Karina, dengan langkah yang ringan dan penuh harapan. Mereka berjalan melewati taman yang rimbun dan bunga-bunga yang mekar, dengan suara burung-burung yang berkicau di latar belakang. Aldo berjalan di antara Andrew dan Lusi, dengan mata yang bersinar penuh harapan untuk bertemu dengan Karina.
Tok... Tok... Tok...
"Iya, tunggu sebentar," terdengar jawaban dari dalam rumah, suara Karina yang lembut dan ramah.
Suara langkah kaki terdengar dari dalam, semakin mendekat ke pintu. Andrew, Lusi, dan Aldo saling memandang dengan senyum, menunggu pintu dibuka.
Ceklek...
"Mama..." Teriak Aldo begitu pintu terbuka, suaranya penuh kegembiraan. Aldo langsung melompat ke arah Karina, memeluknya dengan erat membuat Karina terkejut.
Bersambung...
lanjut Thor, penasaran!
wong data semua dari kamu