Keegoisan istrinya, yang bersikeras menolak untuk hamil. Membuat Sam terpojok dengan permintaan neneknya. Satu sisi wanita yang dia cinta sepenuh hati menolak untuk hamil, satu sisi, wanita yang Sam cinta, yaitu nenek dan ibunya. Sangat menginginkan akan kehadiran penerus keluarga Ozage. Sam terpaksa menyetujui, untuk menikah lagi, demi membahagiakan neneknya dan ibunya.
Pernikahan kedua pun terjadi. Seorang wanita bernama Moresa Haya. Menjadi istri kedua Sam. Apakah Sam akan berpaling hati pada istri keduanya? Atau dia tetap setia dengan perasaannya pada Vania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Dikunci
Perlahan gagang pintu kamar itu bergerak.
Krekk krekkk!
"Dikunci." Terdengar gerutu orang itu.
Resa membuang napasnya begitu lega. Dia mengenali suara itu. Itu suara pelayan wanita yang bekerja di Villa ini.
Sam tersenyum melihat Resa ketakutan seperti itu. Dia naik ketempat tidur, dan langsung menarik Resa kedalam pelukannya. "Pintu kamar itu, sudah aku kunci," bisik Sam.
"Tuan …."
"Diam, ayok kita tidur dulu." Sam menenggelamkan wajah Resa kedada bidangnya.
Resa merasa seluruh tubuhnya mengalami goncangan hebat. Perlakuan Sam seperti ini, membuat dirinya merasa gemetaran. Namun, ada kenyamanan yang dia rasa. Aroma tubuh itu, sungguh membuat hatinya tenang. Di luar kesadarannya. Resa menciumi dada bidang suaminya.
"Aku ini laki-laki normal, kalau kau seperti ini, jangan salahkan aku, jika aku--"
Sam tersenyum sambil melakukan kegiatannya. Rasa ini yang dia inginkan selama ini.
***
Untuk pertama kalinya, Sam menyentuh perempuan, selain Vania dengan kesadarannya. Malam yang dingin, tidak dirasa oleh dua orang yang merajut jalinan mereka di kamar itu.
Sam memakai kembali pakaiannya, dia kembali berbaring di samping Resa. Resa mengulurkan tangannya, untuk meraih pakainnya yang ter onggok begitu saja.
"Jangan, cukup selimut dan diriku saja yang menghangatkan dirimu," goda Sam. Sam kembali berbaring di samping Resa, dan memeluknya erat.
Pergerumulan santai barusan, membuat Resa cepat terlarut ke alam bawah sadarnya. Perlahan Sam melepaskan pelukannya pada tubuh Resa. Dia menyelimuti Resa terlebih dulu. Sam terus memandangi wajah Resa. Tidak terasa, kedua sudut bibirnya saling menarik, hingga terukir senyuman di wajahnya.
Apa ini yang namanya bahagia? Sam terus tersenyum. Dia mendaratkan satu kecupan lembut di alis Resa. Sebelum pergi dari kamar itu. Perlaham Sam melangkah menuju pintu kamar, dia membuka kunci dengan sangat hati-hati, agar wanita yang lelap itu, tidak terganggu tidurnya.
Sam mengeluarkan kepalanya, diatara pintu yang sedikit terbuka. Melihat-lihat keadaan sebelum keluar dari kamar Resa. Ada keseruan tersendiri dalam hatinya. Sehingga bibirnya kembali mengukirkan sebuah senyuman.
Gila! Mendatangi istri sendiri, serasa jadi seorang pencuri!
Gerutu Sam.
Merasa aman, Sam segera keluar dan menutup pintu itu kembali. Dia melangkah menuju sofa, dan melanjutkan tidur di sofa panjang itu.
******
Moresa POV
Kelopak mataku masih terasa berat untuk dipaksa agar terbuka. Namun, tenggorokkan ini terasa sangat kering. Mataku memandang kearah nakas. Sialnya, air dalam gelas itu sudah habis. Ku lihat kearah jam dinding. Jam sudah menunjukkan jam 03:15. Tapi apa daya, tenggorokkan tidak mau diajak berdamai.
Setelah kedua mataku terbuka sempurna. Aku mengulurkan kaki, hingga kaki ini menjutai kelantai. Saat menyadari tubuhku polos, entah kenapa bibir ini tersenyum, saat teringat kebersamaan, bersama Sam beberapa jam lalu.
Jemariku menutup bibirku yang masih betah tersenyum. Perlahan tangan yang satu meraih pakaian yang tergeletak begitu saja. Kekhawatiranku tidak terbukti, 'kenapa kejadian barusan tidak terasa menyakitkan sepeti di Villa waktu itu?'
Kubuang semua pertanyaan yang timbul begitu saja di hatiku, kulangkahkan kaki, menuju pintu. Saat membuka pintu, terlihat ujung kaki seseorang di ujung sofa panjang itu. Niat ingin kedapur mengambil air minum, berubah. Karena kaki ini melangkah menuju kearah sofa.
Sam? Setelah bercinta denganku, dia tidak kembali kekamarnya? Entah kenapa ada perasaan senang dan iba di dalam hatiku. Aku kembali kekamar, untuk mengambil sesuatu.
Setelah mengambil selimut dari dalam lemari, kaki ini kembali ku langkahkan keruang tamu. Sampai di sana, kututupi sekujur tubuh Sam dengan selimut. Mataku terpana melihat garis wajahnya yang nyaris sempurna, tanpa cela. Mungkin kekurangan Sam, hanya kebodohannya dalam cinta.
Ada tarikan aneh dalam diriku, mungkin karena aku mengadung benih dari laki-laki yang ada di hadapanku ini. Seketika aku mendaratkan satu kecupan lembut yang mendarat di bagian alisnya. Sial! Kenapa aku begitu puas.
Aku ingin kembali pada tujuan awalku. Tapi ada tangan yang menahanku. Sam membuka matanya, dia menarikku, hingga tubuh ini jatuh diatas tubuhnya.
Tanpa rasa malu, kadua bibir bersatu, saling bertukar sesuatu. Lama saling bertaut. Aku menarik Diri. Sam 'pun terlihat pasrah, dia tersenyum dan kembali memejamkan matanya.
Aku kembali melanjtkan tujuan semula, mengambil air putih kedapur. Untuk meredakan rasa haus yang menderaku. Sesampai di dapur, langsung saja jemari tangan ini menekan tombol despenser. Irama air yang mengalir semakin membuat air liurku semakin ingin menetes. Membayangkan segarnya jika air itu sampai di temggorokkan.
Gelas terisi penuh. Aku tidak bisa menahan lagi, kuraih kursi, lalu duduk di sana, sambil menikmati segelas air putih. Selesai minum, tidak lupa gelas itu ku isi kembali untuk jaga-jaga kalau haus lagi. Selesai dengan tujuan, aku kembali kekamar. Untuk melanjutkan kembali perjalananku di alam mimpi.
******
Samuel Ozage POV
Suasana dinginnya pagi, mulai terasa menusuk permukaan kulit. Perlahan mataku terbuka, saat menyadari sesuatu yang terasa sedikit hangat menutup tubuhku. Saat mata ini terbuka sempurna, aku sangat terkejut. Saat melihat selimut membalut tubuhku.
Ternyata, itu bukan mimpi, tadi malam aku bermimpi menarik Resa, dan mencumb*nya dengan liar. Ternyata itu nyata.
Aku segera menegakkan tubuhku menyandarkan punggung, di sandaran Sofa. Mataku memandang kearah kamar Resa. Perlahan pintu itu terbuka. Hingga nampak seorang perempuan dengan rambut basah keluar diatara pintu itu.
Dia memandang kearahku. Tapi tiba-tiba dia langsung menundukkan wajahnya kembali, saat mata kami saling tatap.
Dia berlalu begitu saja, melangkah kearah dapur. Mataku terus mengikutinya. Aku terpaksa berhenti memandangnya saat mendengar Vania memanggil namaku. Entah kenapa, Vania tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
"Sayang, kamu tidur di sini tadi malam?" Tanya Vania.
"Hem, aku tidak bisa tidur tadi malam," jawabku.
Vania tiba-tiba naik keatas pangkuanku. Dia menenggelamkan wajahnya di lekukan leherku sambil mengendus-endus di sana.
"Sayang, jangan menggodaku, kamu belum periksa kedokter, bagaimana aku bisa, melakukannya lagi."
"Hemm!" Gumamnya.
Wajah cantik itu tiba-tiba cemberut.
Akh! Ini pertama dalam hidupku, setelah menikah dengan Vania, baru sekarang aku bisa menolak pesonanya. Rasanya aku ingin party untuk merayakan ini.
"Bibi, kepasar sama siapa?"
"Bibi mau ke rumah Tuan Arnaff dulu, nanti minta antar sopir Tuan Arnaff."
"Maaf ya bi, aku gak bisa nemenin bibi, pasti Nyonya Ramida melarangku, untuk pergi.
"Iya Non Resa, gak apa-apa, bibi sudah mahir pergi-pergi sendiri, asal ada yang antar jemput saja."
Obrolan dua orang itu, semakin terdengar jelas. Mataku memandang kearah suara itu. Tampak, Resa dan Pelayang yang berumur 40 tahunan itu berjalan bersama. Seketika mata Resa melotot, saat memandang kearahku.
S**t! Dia melihat aku memangku Vania. Belum sempat aku berkata, Vania sudah pergi dari pangkuanku. Vania berjalan kearah Resa dan Pelayan itu.
"Bibi mau ke rumah Arnaff? Aku ikut, aku belum ketemu nenek," pinta Vania.
"Oh, ayuk Non," jawab pelayan itu.
"Tunggu, aku mau ambil tas aku dulu," Vania berjalan kearah kamar kami, tidak berselang lama, dia kembali dengan membawa tas kecil kesayangannya.
"Yukk bi," seru Vania.
"Non, Nona mau makan apa? Nanti kalau Nona kembali, sarapan sudah siap," ucap Resa.
Aku hanya memandangi ketiga perempuan itu. Meyadari kalau hanya ada aku dan Resa di Villa ini, aku gembira, karena Vania dan pelayan itu akan pergi. Pikiran licik pun menari-nari di benakku.
"Nona masak buat Anda saja sama Tuan Sam. Sepertinya, kami akan sarapan di rumah Tuan Arnaff," jawab pelayan itu.
Terlihat Resa hanya menganggukan kepalanya. Dia mengantar Vania dan pelayan itu, sampai kedepan pintu utama. Vania dan pelayan itu pergi dari Villa, menuju kediaman Arnaff. Setelah punggung mereka terlihat jauh, Resa mulai menutup pintu utama. Aku tidak mau buang-buang kesempatan ini. Langsung kaki ini melangkah mendekatinya. Lalu melingkarkan tangan ini di pinggangnya.
"Tuan---" ringisnya.
*****
Bersambung.
pokoknya serba ga masuk akal
seolah2 semua org suka merengek
bukannya merengek itu bearti seperti manja