Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Gangguan Kecil dan Bertemu Mahendra Lagi
Nadinta membalikkan badannya dari railing kaca, meninggalkan pemandangan menyedihkan di lobi bawah—di mana Arga dan Maya sedang terjebak dalam drama finansial mereka sendiri—dengan langkah yang jauh lebih ringan.
Ada kepuasan yang menjalari dadanya, sebuah rasa manis dari kemenangan kecil yang baru saja ia raih.
Ia tidak hanya berhasil menghindari pembayaran jutaan rupiah, tetapi juga berhasil membuat Arga berhutang budi dan berhutang uang pada wanita yang seharusnya menjadi selingkuhannya.
Ia melirik jam tangan analog yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Pukul dua siang lewat sedikit.
"Masih terlalu sore untuk pulang," gumam Nadinta pada dirinya sendiri.
Jika ia pulang sekarang, ia hanya akan kembali ke apartemen yang sepi, menunggu notifikasi dari Arga yang mungkin akan datang dengan seribu satu alasan atau keluhan.
Nadinta tidak menginginkan itu. Ia ingin menikmati sisa harinya. Ia ingin merayakan kebebasannya sejenak dari benalu yang selama bertahun-tahun menghisap energinya.
Nadinta memutuskan untuk membuang waktu. Ia ingin berkeliling, melihat-lihat etalase toko high-end yang berjejer di Grand Indonesia, mungkin membeli satu atau dua skincare mahal untuk dirinya sendiri menggunakan uang pribadinya yang aman tersimpan.
Ia melangkah menyusuri koridor mal yang luas dan dingin. Suara langkah kakinya yang berirama berpadu dengan musik latar mal yang elegan.
Nadinta berjalan dengan kepala tegak, memancarkan aura percaya diri yang membuat beberapa orang menoleh. Hari ini, dengan setelan kasual namun chic yang ia kenakan, ia merasa menjadi dirinya sendiri yang baru: wanita yang memegang kendali.
Ia berhenti di depan sebuah butik perhiasan, mengamati kalung berlian di balik kaca etalase. Matanya menelusuri kilauan batu mulia itu, membayangkan betapa cantiknya jika ia membelinya sendiri suatu hari nanti tanpa harus menunggu lamaran palsu dari pria seperti Arga.
"Cantik sekali."
Sebuah suara pria yang asing terdengar dari sampingnya. Nadinta tidak menoleh, mengira komentar itu ditujukan pada perhiasan di etalase.
"Kalungnya memang cantik, tapi wanita yang melihatnya jauh lebih bersinar," lanjut suara itu, kali ini lebih dekat dan jelas ditujukan padanya.
Nadinta menoleh perlahan. Di sampingnya berdiri seorang pria yang tidak ia kenal. Pria itu mengenakan kemeja bermerek yang kancing atasnya dibuka terlalu lebar, memperlihatkan sedikit dada dan kalung emas.
Rambutnya ditata dengan gel yang berlebihan, dan aroma parfumnya terlalu menyengat, seolah ia mandi dengan cologne. Senyum di wajahnya adalah tipe senyum yang terlalu percaya diri, senyum seorang pemburu yang merasa telah menemukan mangsa yang mudah.
"Terima kasih," jawab Nadinta singkat, sopan namun dingin. Ia segera memutus kontak mata dan berniat melangkah pergi.
Namun, pria itu tidak menangkap isyarat penolakan tersebut. Atau mungkin, ia memilih untuk mengabaikannya. Ia melangkah cepat, menyejajarkan langkahnya dengan Nadinta.
"Sendirian saja, Nona? Atau sedang menunggu seseorang?" tanyanya dengan nada sok akrab.
"Saya perhatikan dari tadi Anda berjalan sendiri. Sayang sekali wanita seanggun Anda tidak ada yang menemani."
Nadinta terus berjalan, mempercepat langkahnya sedikit. "Saya sedang sibuk, Mas. Permisi."
"Sibuk apa? Belanja? Kebetulan saya juga lagi cari kado buat... ya, buat relasi. Mungkin Anda bisa bantu saya pilih? Selera Anda kelihatan bagus," pria itu tertawa kecil, tawa yang membuat Nadinta merasa risih.
"Nanti saya traktir kopi deh sebagai ucapan terima kasih. Atau makan siang? Restoran di lantai atas enak-enak lho."
"Tidak, terima kasih," tolak Nadinta tegas, matanya lurus ke depan. "Saya tidak tertarik."
"Ah, jangan jual mahal begitu dong," pria itu semakin agresif. Dia mempercepat langkahnya dan tiba-tiba memotong jalan Nadinta, berdiri tepat di hadapannya sehingga Nadinta terpaksa berhenti mendadak agar tidak menabraknya.
"Minggir," ucap Nadinta, suaranya mulai meninggi.
Pria itu tidak bergerak. Dia justru tersenyum miring, menatap Nadinta dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan yang membuat kulit Nadinta meremang jijik.
"Galak amat. Punya pacar ya? Atau suami? Kalau nggak ada cincin di jari manis, berarti masih free market dong?"
Nadinta mengepalkan tangannya. Di tengah keramaian mal elit ini, pria ini berani bersikap seolah ia memiliki hak atas waktu Nadinta.
"Saya bilang minggir," tekan Nadinta, menatap mata pria itu tajam. "Atau saya panggil sekuriti."
"Wow, santai, Cantik. Saya cuma mau kenalan. Nama saya Riko. Kamu?" Pria itu mengulurkan tangannya, mengabaikan ancaman Nadinta.
Ketika Nadinta tidak menyambut tangannya, pria itu justru maju selangkah lagi, mempersempit jarak di antara mereka. Tangan pria itu bergerak, hendak menyentuh lengan Nadinta. "Ayolah, jangan sombong..."
Refleks, Nadinta menepis tangan itu dengan kasar. "Jangan sentuh saya!"
"Eits, kasar banget," pria itu menyeringai, terlihat menikmati perlawanan Nadinta. Dia kembali mencoba meraih lengan Nadinta, kali ini lebih cepat, berhasil mencengkeram siku Nadinta.
"Cuma mau ngajak ngobrol sebentar..."
"Lepaskan tangan Anda dari dia."
Suara itu tidak keras, tidak berteriak. Namun, nada bariton yang berat, dingin, dan penuh otoritas itu membelah udara di antara mereka seperti pedang tajam. Suara yang sangat familiar di telinga Nadinta.
Nadinta menoleh. Jantungnya berdesir.
Beberapa langkah di belakang pria asing itu, berdiri Mahendra Abimanyu.
Sang Direktur Operasional tidak mengenakan setelan jas lengkap seperti di kantor. Dia mengenakan kemeja navy lengan panjang yang digulung rapi hingga siku dan celana chino berwarna beige.
Pakaian kasual, namun postur tubuhnya yang tegap dan tatapan matanya yang mengintimidasi membuatnya terlihat jauh lebih berkuasa daripada siapa pun di koridor itu.
Mahendra menatap tangan pria asing yang masih mencengkeram siku Nadinta. Tatapannya turun ke sana, lalu naik kembali ke wajah pria itu. Sorot matanya sedingin es kutub.
"Saya bilang, lepaskan," ulang Mahendra. Kali ini lebih lambat, lebih menekan.
Pria bernama Riko itu tersentak. Dia menoleh, melihat sosok Mahendra yang menjulang tinggi di hadapannya.
Ada aura dominan yang menguar dari Mahendra, jenis aura yang membuat orang lain secara naluriah merasa kerdil. Riko melepaskan tangan Nadinta, namun egonya sebagai laki-laki membuatnya berusaha tetap tegak.
"Siapa Anda?" tanya Riko dengan nada menantang, meski matanya bergerak gelisah. "Ini urusan saya sama dia. Anda jangan ikut campur."
Nadinta segera melangkah mundur, berdiri di sisi Mahendra. Kehadiran Mahendra memberinya rasa aman yang instan, sebuah benteng perlindungan yang kokoh di tengah situasi yang tidak menyenangkan.
Mahendra tidak langsung menjawab. Dia melangkah maju satu langkah, masuk ke dalam ruang personal Riko, memaksanya mundur karena intimidasi fisik. Mahendra menatap lurus ke dalam mata Riko tanpa berkedip.
"Apa itu penting bagi Anda siapa saya?" tanya Mahendra balik. Suaranya tenang, namun mengandung ancaman yang tidak tersirat. "Yang penting adalah wanita ini sudah bilang tidak. Dan di tempat umum seperti ini, 'tidak' berarti Anda harus menyingkir. Sekarang."
Riko membuka mulut hendak membantah, mungkin ingin mengeluarkan kata-kata kasar.
Namun, saat dia melihat ekspresi Mahendra—ekspresi seseorang yang terbiasa memberi perintah dan menghancurkan lawan bisnis tanpa ampun—nyali Riko menciut seketika. Dia menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan seseorang yang berada jauh di atas levelnya.
Pria itu mendengus, berusaha menutupi rasa malunya. "Cih. Dasar orang kaya sombong. Ambil aja tuh ceweknya."
Dengan gerutu pelan, Riko berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan mereka, menghilang di balik kerumunan pengunjung mal.
Hening sejenak menyelimuti mereka berdua di tengah koridor mal yang ramai. Nadinta menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Tangannya tanpa sadar mengusap lengan bekas cengkeraman pria tadi, seolah membersihkan jejak sentuhannya.
"Terima kasih, Pak," ucap Nadinta pelan, mendongak menatap Mahendra. "Bapak... datang di saat yang tepat."
Mahendra mengalihkan pandangannya dari punggung pria tadi ke wajah Nadinta. Ekspresi dingin di wajahnya perlahan mencair, digantikan oleh sorot mata yang lebih lembut, namun tetap penuh perhatian.
Dia mengamati Nadinta sejenak, memastikan bawahannya itu baik-baik saja.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mahendra.
"Tidak apa-apa, Pak. Cuma sedikit... kaget. Orang aneh," jawab Nadinta, mencoba tersenyum untuk menutupi sisa kegugupannya.
Mahendra mengangguk pelan. Dia memasukkan satu tangannya ke saku celana, posturnya kembali rileks namun tetap tegap.
"Sedang apa kamu di sini sendirian, Nadinta?" tanya Mahendra. Matanya menyapu sekitar, seolah mencari seseorang.
Pertanyaan itu wajar, namun di telinga Nadinta, terdengar ada sedikit nada keheranan. Mahendra tahu statusnya. Melihat Nadinta sendirian di mal besar di akhir pekan—dan diganggu pria lain—tentu menimbulkan pertanyaan.
Nadinta tersenyum tipis, teringat Arga yang sedang memelas di lobi bawah.
"Saya sedang... refreshing sejenak, Pak," jawab Nadinta diplomatis.
"Kebetulan saya sedang ingin menikmati waktu sendiri, melihat-lihat suasana. Mencari inspirasi, mungkin."
Mahendra menaikkan alisnya sebelah, sebuah kebiasaan kecil yang mulai Nadinta hafal. "Inspirasi di mal? Saya kira kamu tipe yang mencari inspirasi di buku atau data."
"Kadang data di lapangan lebih menarik, Pak," balas Nadinta cerdas.
Mahendra terkekeh pelan. Tawa yang sangat jarang terdengar di kantor, namun terdengar renyah dan menyenangkan di telinga Nadinta.
"Kebetulan sekali," ujar Mahendra, melirik jam tangannya yang mewah.
"Saya baru saja selesai meeting dengan klien di restoran Sate Khas Senayan di lantai atas. Dan jujur saja, meeting-nya cukup menguras energi."
Mahendra menatap Nadinta lagi. Kali ini ada binar berbeda di matanya. Bukan tatapan atasan kepada bawahan, melainkan tatapan seorang pria yang melihat kesempatan.
"Kamu sudah makan siang?"
Nadinta menggeleng. "Belum, Pak. Tadi rencananya mau cari makan, tapi keburu dihadang orang aneh itu."
"Bagus," kata Mahendra. "Kalau begitu, temani saya makan siang."
Nadinta terdiam sejenak, sedikit ragu. Makan siang dengan Direktur Operasional di hari libur? Apakah itu pantas? Apakah itu aman?
Seolah bisa membaca pikiran Nadinta, Mahendra segera menambahkan dengan nada profesional namun santai.
"Bukan aneh-aneh. Anggap saja ini makan siang kerja informal," ujar Mahendra meyakinkan.
"Ada beberapa hal mengenai kemajuan divisi pemasaran yang ingin saya diskusikan. Ide-ide kamu tentang rebranding produk kemarin menarik perhatian saya. Saya ingin dengar lebih banyak tentang rencana kamu ke depannya untuk tim."
Alasan itu sempurna. Membahas pekerjaan. Nadinta tidak bisa menolak diskusi tentang karir dan masa depan divisinya. Itu adalah hal yang dia sukai.
Dan sejujurnya, menghabiskan waktu dengan Mahendra yang cerdas dan protektif terdengar jauh lebih menarik daripada pulang ke apartemen yang sepi atau memikirkan Arga.
Nadinta tersenyum, kali ini lebih lebar dan tulus.
"Kalau untuk membahas kemajuan divisi, saya selalu punya waktu, Pak," jawab Nadinta. "Apalagi kalau ditraktir makan siang."
Mahendra tersenyum miring, matanya berkilat jenaka. "Tentu saja ditraktir. Masa saya biarkan manajer andalan saya kelaparan setelah diganggu preman mal?"
"Mari," Mahendra memberi isyarat dengan tangannya, mempersilakan Nadinta berjalan di sampingnya.
Mereka berjalan beriringan menuju eskalator. Di tengah keramaian mal, Nadinta merasa aman. Dia tidak lagi merasa seperti wanita yang sendirian dan mudah diganggu.
Ada Mahendra di sampingnya—sosok yang kokoh, tenang, dan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar jabatan di kartu nama.
Dan tanpa Nadinta sadari, di balik obrolan tentang strategi pemasaran dan target penjualan nanti, sebuah babak baru dalam hidupnya sedang perlahan terbuka. Babak di mana dia tidak lagi berjuang sendirian.