NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: LANTAI 44

BAB 5: LANTAI 44

Menara Kaca berdiri angkuh mencakar langit malam Jakarta. Gedung ini adalah simbol kekuasaan, namun bagi Arga, gedung ini tampak seperti nisan raksasa yang bercahaya.

Mobil hitam yang mengejarnya berhenti mendadak di depan lobby. Arga tidak punya pilihan. Ia melompat dari motornya yang masih melaju, berguling di lantai granit yang licin, dan langsung berlari menuju pintu putar kaca.

"Berhenti, sialan!" teriak pria berwajah jahitan itu sambil melepaskan tembakan.

TAAAR!

Kaca lobby pecah berantakan. Arga tidak menoleh. Ia memeluk toples kaca di dadanya seolah itu adalah nyawanya sendiri. Kain hitam penutup toples itu sudah setengah terbuka, dan mata merah di dalamnya mulai berkedip liar, memancarkan aura panas yang membakar kulit dada Arga.

"Jangan sekarang... kumohon jangan keluar sekarang!" bisik Arga pada isi toples itu.

Arga melihat lift hampir tertutup. Ia melompat masuk di detik terakhir. Pria berwajah jahitan itu tertinggal di lobby, berteriak murka sambil mencoba memukul pintu lift yang sudah tertutup.

Lift meluncur naik dengan kecepatan tinggi. 10... 20... 30...

Tiba-tiba, lampu lift padam. DEG.

Lift berhenti mendadak di lantai 40. Keheningan yang mencekam langsung menyergap. Di dalam kegelapan itu, Arga mendengar suara napas yang berat. Bukan napasnya.

Sreeek... sreeek...

Kain hitam di toplesnya jatuh sepenuhnya.

Cahaya merah darah terpancar dari dalam toples, menerangi isi lift. Di dalam toples itu bukan lagi hanya sebuah mata, melainkan gumpalan daging berbentuk janin manusia dengan taring panjang dan rambut hitam yang tumbuh keluar dari pori-pori kulitnya yang transparan.

"Aku... haus..." makhluk di dalam toples itu bicara. Suaranya seperti suara tangisan bayi yang dicampur dengan geraman serigala.

Tiba-tiba, tangan-tangan hitam mulai muncul dari celah pintu lift yang tertutup. Tangan-tangan itu kurus dan sangat panjang, mencoba meraih kaki Arga.

"Sial!" Arga memanjat ke atas pegangan lift. Ia melihat koin emas di kantongnya bersinar kuning terang.

Arga teringat sesuatu. Ia mengambil koin itu dan menempelkannya ke panel tombol lift yang mati. Ajaib, koin itu tersedot masuk ke dalam slot mesin lift seolah-olah itu adalah koin untuk wahana permainan.

DING!

Lampu lift menyala kembali. Angka di monitor bergerak cepat melewati 41, 42, 43... dan terbuka di lantai 44.

Lantai ini berbeda dengan lantai lainnya. Lantai ini tidak memiliki kantor. Hanya ada satu lorong panjang dengan karpet merah tebal dan pintu kayu jati besar di ujungnya. Di sepanjang dinding, tergantung lukisan-lukisan kuno orang-orang berseragam Belanda yang matanya seolah-olah mengikuti gerakan Arga.

Lantai ini berbeda dengan lantai lainnya. Lantai ini tidak memiliki kantor. Hanya ada satu lorong panjang dengan karpet merah tebal dan pintu kayu jati besar di ujungnya. Di sepanjang dinding, tergantung lukisan-lukisan kuno orang-orang berseragam Belanda yang matanya seolah-olah mengikuti gerakan Arga.

Arga berjalan menuju pintu kayu itu. Setiap ia melangkah, lampu lorong di belakangnya padam satu per satu, seolah kegelapan sedang mengejarnya dari belakang.

Ia mengetuk pintu jati itu. 03.59. Satu menit lagi!

Pintu terbuka. Tidak ada orang di sana. Ruangan itu adalah kamar VIP super mewah dengan pemandangan kota dari ketinggian. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja makan besar, dan di sana duduk seorang pria tua yang sangat rapi, memakai jas mahal, namun wajahnya tertutup masker oksigen.

Pria itu adalah Hendrawan, salah satu konglomerat terkaya di negeri ini yang dikabarkan sedang sakit parah.

"Kau... membawa pesananku?" suara Hendrawan terdengar melalui pengeras suara di lehernya.

Arga meletakkan toples itu di atas meja. Tangannya gemetar hebat. "Ini paket Anda. Tolong tandatangani..."

Hendrawan tidak menandatangani kertas. Ia justru membuka toples itu dengan tangan gemetar. Saat tutupnya terbuka, makhluk di dalamnya melompat keluar dan langsung merayap masuk ke dalam mulut Hendrawan yang terbuka lebar.

Arga mual melihatnya. Tubuh Hendrawan bergetar hebat, tulang-tulangnya mengeluarkan suara krak... krak... seperti sedang disusun ulang. Keriput di wajahnya menghilang, rambut putihnya berubah menjadi hitam legam dalam hitungan detik. Hendrawan kembali muda, namun matanya kini berubah menjadi merah darah—persis seperti mata makhluk di dalam toples tadi.

"Terima kasih, Kurir," Hendrawan berdiri dengan tegap. Suaranya kini dalam dan kuat. "Kau telah memperpanjang hidupku satu tahun lagi. Tapi kau tahu kan? Sesuatu yang diambil harus ada gantinya."

Hendrawan menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, dari balik tirai kamar, muncul dua orang pengawal yang memegang seorang wanita yang mulutnya dilakban.

Arga membelalak. Wanita itu adalah Suster yang merawat ibunya tadi pagi.

"Dia adalah 'biaya' tambahan untuk paket ini," kata Hendrawan dingin. "Tugasmu bukan hanya mengantar, Arga. Tapi juga menyaksikan proses 'pembayaran' itu terjadi."

Di telapak tangan Arga, angka "2" mulai pudar dan perlahan berubah menjadi angka "3".

Arga menyadari kenyataan pahit: Ia bukan hanya mengantar paket, ia sedang membantu monster-monster manusia untuk tetap hidup dengan mengorbankan nyawa orang-orang tak bersalah.

"Aku berhenti! Aku nggak mau lagi!" teriak Arga.

Hendrawan tertawa, suara tawa yang tidak terdengar seperti manusia. "Berhenti? Lihat tanganmu, Arga. Kontrak itu tertulis di jiwamu. Jika kau berhenti, maka paket nomor 4 akan dialamatkan ke jantungmu sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!