Cerita tentang seorang anak gadis cantik yang cerdas dan memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Gadis itu bernama Aryanti Wihardja, biasa disapa Ary.Dia memiliki seorang sahabat bernama Eno Mundarwati.
Novel ini mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari Ary, mulai dari persahabatan hingga kisah cinta Ary. Ary selalu berdo'a agar tidak jatuh cinta terlebih dahulu sebelum menjadi seorang dokter. Dia tidak ingin sekolahnya terganggu dengan urusan cinta.
Akankah Ary jatuh cinta saat di bangku sekolah, kuliah atau setelah menjadi dokter? Yuk kita baca cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Semoga Engkau Bahagia
"Kita do'akan aja mereka bahagia, No." kata Ary.
Akhirnya hanya bisa mengikhlaskan saja orang yang dicintainya itu menikah dengan orang lain.
"Yah, semoga Alex bahagia dengan pernikahannya." jawab Eno.
"Sebenarnya bukan loe aja yang sedih, Alex pun merasa bersalah banget sama loe. Katanya sih, dia sudah mengkhianati cinta loe. Dia tidak bisa seperti loe yang setia menunggu kedatangannya pulang dari Singapura." lanjut Eno.
"Gue dulu berpikir mengejar cita-cita itu lebih penting dari pada mengejar cinta. Cinta akan datang dengan sendirinya pada waktu yang tepat. Nggak tahunya cinta hadir lebih cepat dan pergi juga dengan cepatnya." kata Ary.
Ary merasakan sesak di dadanya, dia tidak menyangka akan sesakit ini kehilangan Alex. Dulu dia sangat yakin, Alex akan menantinya sukses seperti dia menanti kedatangan Alex. Tuhan berkehendak lain, Alex lebih memilih putar haluan meninggalkan dia disini. Sendiri!
"Ternyata sia-sia gue bertahan sendiri disini. Tapi gue yakin, ini jalan yang terbaik untuk gue. Allah ingin gue lebih deket denganNya." Ary bicara sendiri, tapi Eno masih bisa mendengar.
"Sudah lah, ngapain sedih. Masih ada hari esok, dan yang paling penting, masih banyak cowok ganteng dan baik hati di dunia ini." kata Eno.
"Kayak loe sudah bisa move on aja dari dia!" kata Ary sambil melempar bantal ke arah Eno.
"Hahaha" mereka berdua akhirnya tertawa.
Mereka menertawakan nasib mereka yang tanpa cinta di usia menginjak 26 th.
***
Malam harinya Eno menginap di rumah Ary, karena Ryo tiba-tiba minta diantar ke mamanya. Eno menginap karena ingin menghibur Ary, dia tidak ingin Ary bersedih terus. Dulu saat dia putus dengan Ronald, Ary menemani dan menghiburnya. Bahkan Ary rela bolos kuliah demi menghiburnya. Sekarang saatnya Eno yang melakukan apa yang telah Ary lakukan dulu untuk dia.
"Ryo pulang jadi sepi lagi deh!" kata Ary lemas.
"Padahal dulu sempatkan pulang pagi biar puas main-main sama Ryo. Ryo malah nggak betah disini, karena induknya nggak ada disini. Huh!!!" gerutu Ary.
"Buat sendiri Ar!" celetuk Eno spontan.
"Buat sendiri emang bisa?!" tanya Ary.
"Kalau sendiri ya nggak bisa, cari pasangan dulu baru bisa!" kelakar Eno sambil tersenyum.
"Pasangannya yang nggak ada, dudul!" jawab Ary.
"Carilah!!! Perlu gue yang cariin??" tantang Eno.
"Loe aja jones, gimana nyarinya!" ejek Ary.
"Lha... jones teriak jones!"
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata mereka sendiri.
"Hahaha"
"Ehh, No! Loe kenal no ini nggak? Tadi siang dia chat gue, ini dia chat lagi." kata Ary sambil menunjukkan HP-nya ke Eno.
Eno mengambil HP Ary kemudian membaca chat dari pengirim misterius. Selesai membaca Eno malah tertawa kecil.
"Loe dapat fans baru yang misterius??? Kenapa sih loe dari dulu selalu ada penggemar misterius." kata Eno mengingatkan kejadian saat mereka baru masuk SMU.
"Loe masih ingat aja kejadian memalukan itu, gue aja sudah lupa!" kata Ary.
"Lupa atau sengaja lupa? Eh, kenapa ya mereka nggak ada yang berani terus terang saja sama loe. Maksudnya nunjukin diri gitu ke loe?" Eno heran.
"Nggak tahu gue, gue aja heran kok ada ya orang kayak gitu?!" kata Ary mengedikkan bahunya.
"Balas aja kalau loe penasaran! Tanya dia siapa, maunya apa kok nge-chat loe!" jawab Eno memberi saran.
"Kalau dia niatnya nge-prank gue gimana coba?" Ary malah balik bertanya kepada Eno.
"Itu urusan belakangan, yang penting kita tahu dulu siapa dia. Terus maksudnya apa coba nge-chat loe kayak gitu!" jawab Eno.
"Hmm, nggak lah! Malas gue, entar cuma orang iseng aja yang ngaku sok kenal. Ribet urusane!" kata Ary.
"Iya juga sih, takut penipuan!"
"Nah, itu tahu!" jawab Ary.
"Loe kan dokter, titel sudah berjajar. Sebentar lagi mau tambah titel loe, jadi dr. Aryanti Wihardja, Sp. PD., Sp. P. Nggak ada pikiran gitu buat kawin?" tanya Eno.
"Kawin?! Nikah bukan kawin, gue bukan binatang tahu!" jawab Ary.
Eno malah cekikikan mendengar jawaban Ary.
"Lah sama aja! Alex sudah punya anak, sebentar lagi Candra juga mau nikah! Kita kapan ya, Ar?" Eno tiba-tiba sedih karena mereka berdua belum juga ada pasangan.
"Candra mau nikah? Yang betul? Kapan, kapan? Sama siapa???" tanya Ary sambil menarik-narik tangan Eno.
"Sabar! Nanya tuh, satu-satu neng! Kalau pertanyaan sebanyak itu gimana gue mau jawab!" Eno.
"Gue seneng banget tahu, dengar Candra mau nikah. Itu tadi ekspresi kegembiraan gue tahu!" jawab Ary.
"Gue belum tahu pasti sih, cuma gue denger aja dari tetangganya yang kebetulan adik kelas kita. Ingat???" kata Eno.
"Adik kelas, tetangga Candra??!!" Ary masih mencoba mengingat-ingat sambil menggigit kuku jarinya.
"Tapi, bukannya Candra pindah sekolah sewaktu kenaikan kelas 12. Kok loe masih dapat kabar dia, sedang gue enggak! Parah ya gue jadi orang." Ary masih keheranan mendengar kabar dari Candra.
Sejak Candra pindah sekolah ke Semarang, Ary dan Eno kehilangan kontak dengan Candra. Kepindahan Candra pun terkesan mendadak, karena tanpa ada cerita apa-apa Candra meninggalkan mereka berdua tanpa kabar.
"Henny, kenal Henny nggak sih loe?" tanya Eno
"Owh, Henny! Gue ingat, apa katanya?" kata Ary.
"Gue juga baru tahu dari Henny, kebetulan ketemunya bareng Alex. Pas lagi asik ngobrol sama Alex, dia nyapa gue. Jadi kita bertukar kabar. Kabar Candra pun cuma kabar kabur karena dia cuma bilang katanya." jawab Eno.
"Semua sudah dapat pasangan, tinggal kita berdua nih Ar!" kata Eno tiba-tiba setelah beberapa menit mereka terdiam.
"Kita pasti ketemu jodoh kita, cuma belum tahu pasti kapan. Tenang saja, kalau jodoh tetap bertemu dan bersama." jawab Ary santai.
"Semoga mereka bahagia dengan pernikahannya ya!" kata Eno lagi.
"Aammiinn" jawab Ary sambil menengadahkan kedua tangannya mengaminkan kata-kata Eno.
Tiba-tiba Eno melihat ke meja belajar yang masih ada di kamar Ary. Dia melihat boneka Winnie the Pooh berukuran besar. Lalu Eno mengambil boneka itu dibawanya ke kasur, dimana Ary sedang duduk.
"Enak ya loe, masih ada kenang-kenangan dari Alex! Gue?? Semua barang pemberian Ronald gue bakar, biar gue bisa move on." kata Eno sambil memeluk boneka itu.
"Loe bisa move on dengan membakar, menghilangkan semua barang itu dari hadapan loe?" tanya Ary.
"Tidak! Gue malah semakin teringat sama dia, kadang gue merindukan saat-saat bersama dia." jawab Eno sedih.
"Loe salah! Yang harus dibuang itu pikiran loe tentang dia, bukan barang dia. Ngapain juga dibuang, sayang tahu. Lupain dia itu pelan-pelan, kita kangen pegang barang dari dia. Tapi jangan dikenang terus! Semakin sakit kalau dikenang terus." kata Ary.
"Udah yuk, jangan melo terus. Tidur sudah malam!" kata Ary.
Ary mengambil bonekanya dari tangan Eno. Mereka berdua mulai merebahkan badan bersiap untuk pergi ke alam mimpi. Mereka tidur saling membelakangi.
Ary memeluk boneka itu sambil memejamkan matanya.
"Alex... Semoga engkau bahagia dengan wanita pendampingmu, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Aamiin."
Walaupun mengatakan ikhlas dengan pernikahan Alex, air mata tetap keluar dari mata Ary yang terpejam.
semoga kamu dan Ary kelak berjodoh deh
nyaranin Ary ikut pengkaderan biar bs dekat ama Ary kaaaan ???