Aku adalah gadis minang, tapi tak banyak yang ku ketahui tentang ranah minang dan adat istiadatnya. Aku di lahirkan di perantauan dan menghabiskan waktu berpindah pindah daerah pulau sumatra.
Aku adalah asisten pengacara, tentu sudah banyak kasus yang aku selesaikan bersama sang pengacara yang tak lain adalah teman ku saat kami kuliah di salah universitas swasta di Jakarta.
Saat ini usia ku sudah 27 tahun, keluarga besar semua khawatir aku menjadi perawan tua. Aku sih enjoy aja toh yang penting aku kerja dan jalan jalan ke daerah mana saja yang objek kasus yang harus di tangani oleh tim pengacara tempat aku kerja.
Sampai suatu ketika aku kaget mendengar keputusan paman dari adik sepupu ibu ku di Padang. Beliau menjodohkan ku dengan seorang duda yang memiliki usaha perniagaan yang cukup berkembang pesat dengan pundi pundi yang fantastis.
aku tak menerima perjodohan itu dan menolaknya, paman marah besar dan berkata dengan sangat kasar pada ayah ku, aku yg tak terima dengan keputusan paman berasumsi apa hak nya paman dengan sampai marah besar karena aku menolak keinginannya?????. Pasti ada maksud terselubung, ayah ku hanya diam saja beliau tidak mau komentar apapun. Tapi aku melihat air mata ayah mengalir perlahan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengajak nikah seorang pria yang baru aku kenal, pemuda itu seorang guru SMU di Serang Banten.
Apakah keputusan ku ini menikahi nya yang terbaik????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Caniago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 35 Masa Lalu Nada
Adzan maghrib telah berkumandang, Nada segera berwudhu dan melaksanakan sholat maghrib. Selesai sholat ia berzikir dan berdoa.
Alhamdulillah, Azzaam tidak rewel, ia tetap asyik dengan mainannya. Saat Nada mendekati si bocil itu menangis merengek.
"Nda...nda...cyuchu...", ucapnya.
"Iya bentar ya nak...bunda bikinin", berjalan keluar kamar menuju dapur.
Semua sudah di siapkan oleh Ridho, botol susu yang sudah stril, air panas di thermos, sehingga Nada lebih cepat menyiapkan susu tuk Azzaam.
Baru satu langkah meninggalkan dapur, Nada melihat Azzaam berjalan menghampirinya sambil mengucek matanya.
"hmmm....anak bunda dah ngantuk ya...yuuuk bobok sayang", Nada memegang tangan Azzaam menggandengnya ke kamar.
Nada menyanyikan lagu islami yang pernah populer di nysnyilan oleh Sulis dan Hadath Alwi, sambil mengusap lembut punggung ponakannya.
Tak butuh waktu lama menidurkan Azzaam, ia pun tak lama juga tertidur, sehingga tak menyadari jika suami sudah pulang dari mushala.
Ridho memutar kunci rumahnya, setelah pintu terbuka ia pun masuk rumah sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum...Nada...", mengunci kembali pintu rumahnya.
Tak ada jawaban, Ridho berjalan ke kamarnya, terlihat sepi tak ada siapa siapa, membuka pintu kamar mandi juga tak ada.
"Nada".
Membuka pintu kamar satunya lagi, tersenyum karena melihat ada dua orang berbeda generasi yang tertidur lelap.
Ridho berjalan mendekati istrinya dan duduk di pinggiran kasur, memandang wajah istrinya, dengan seksama memperhatikan, aura wanita yang lagi hamil sangat berbeda, kecantikan semakin bercahaya.
Dalam batinnya Ridho berkata,
"Setiap melihat wajahmu dengan tatapan yang sendu, aku takut kehilanganmu, aku takut kau akan bertemu kembali dengannya, meski kau berusaha melupakannya, tapi kenangannya bersamamu tak mudah kau lupakan. Aku marah, cemburu, karena aku mencintai mu".
Ridho kembali ke kamarnya dan menganti pakaiannya. Kemudian ia memesan makanan tuk makan malam karena ia tau Nada belum makan malam.
Sambil menunggu pesanannya datang, Ridho kembali ke kamar di mana istri dan ponalannya tidur.
"Sayang.....bangun...makan dulu yuk, kamu belum makan kan?", mencium kening isterinya, karena tak juga berhasil membangunkan istrinya terpaksa ia mencium bibir istrinya sekilas, tapi ia semakin iseng mencium cukup lama.
"Masss...", menggeliat karena merasa tidurnya terusik.
"Ayo, bangun Nada, makan dulu ya", mengisap pipi istri dan menciumnya.
"Ngapain cium cium", ucap Nada dengan raut wajah yang masih kelihatan kesal pada suaminya.
"Emangnya ada larangan tuk suami memcium istrinya".
" Tak ada, tapi lagi marah ama suami yang udah mulai menunjukkan karakter aslinya yang pemarah dan suka membentak".
"Maaf ya Sayang, mas khilaf, terbawa emosi karena cemburu", Ridho menjelaskan agar pertengkaran kecil tak terjadi lagi.
"Makan...emang udah pesan makanan?", tanya Nada.
"Udah", menarik lengan istrinya.
Tak lama terdengar suara pintu diketuk, dengan langkah cepat, Ridho berjalan membukakan pintu, seorang kurir Gofood mengantarkan pesanan makanan untuk nya.
---***---
Nada dan Ridho masih duduk di depan meja makan ala lesehan di dekat dapur. Nada sedang menikmati potongan apel yang telah di siapkan oleh Ridho sebagai camilannya.
"Nada...mas mau nagih janji kamu tuk menceritakan masa lalu mu, ceritakan sekarang biar mas ngak kamu gantung", sambil menatap tajan ke arah Nada, tetap binarcmata penuh cinta, meski ia cemburu dan marah tetap tak menyurutkan cintanya pada Nada.
"Apanya yang mau di gantung mas...?".
"Status mas sebagai suami kamu...mungkin kamu akan pergi jauh setelah ini, karena ingin mendapatkan kembali cinta mu yang masih bersemi di hati mu!".
"hahhh...apa maksudnya mas?".
"Tak ada maksud, ceritakan semua, apapun itu konsekwensinya", tegas Ridho pada istrinya.
Nada berdiri dan berjalan ke wastafel tuk mencuci tangannya dan wadah buah.
Tanpa bicara apapun Nada kembali ke kamar tempat Azzaam tidur bukan kamar mereka berdua.
Ridho mengikuti Nada, dengan cepat ia melangkah dan menggendong istrinya ke kamar mereka.
"Ini kamar kita, kenapa mau ke kamar tamu?" membaringkan istrinya di kasur.
"Mas...bukan kah kamu yang nyuruh aku ama Azzaam tidur di kamar tamu, apa kamu lupa?" menatap tajam pada manik mata Ridho dengan wajah cemberut dan bibir yang sengaja di manyunkan.
"Mas lupa...ngak ingat...".
"Lupaaaaa...".
"Sudahlah, mending sekarang kita main", ucap Ridho menggoda istrinya dengan tangan yang sedari tadi sudah menggerayangi pakaian istri yang memakai daster tanpa bra.
plakkkk
"Awww....sakit my honey", teriak Ridho reflek karena lengannya dapat pukulan tangan Nada.
"Sakiiit...apanya yang sakit suami ku tercita?" tanya Nada dengan Nada mengejek.
"Masss...",
"Iya, istriku..."
Terdengar suara desahan dari mulut Nada karena Ridho sudah mencumbunya. Sebenarnya Nada sangat inginkan hal itu, entah kenapa sejak hamil gairah seksnya meningkat, dan itu sudah pasti bonus tuk suami yang juga ingin dan ingin terus menikmati percintaan dengan istrinya yang sudah menjadi candu.
Nada merasakan lelah sekali, meski percintaanya tak terlalu lama karena juga Ridho tidak tega cukup satu kali dan sentuhan yang lembut.
Baru saja percintaan mereka selesai, Azzaam tiba tiba muncul di depan pintu kamar mereka memanggil sang bunda.
"hahhh...untung udah kelar bermain bola..."
"Sini sayangnya ayah", memanggil Azzaam dengan melambaikan tangannya.
"Yah...yah chu apa chu?", tunjuk Azzaam.
Secepat kilat Ridho meraih handuk dan berlari ke kamar mandi, ada perasaan malu yang teramat sangat pada ponakannya, karena ia dalam keadaan polos.
Nada tertawa terpingkal pingkal melihat reaksi suami yang kalang kabut karena yang di tunjuk oleh Azzaam adalah si junior suaminya.
---***---
Azzaam sudah tertidur kembali setelah minum sebotol susu dan di nina bobokan oleh Nada.
Nada dan Ridho duduk di atas kasur khusus mereka dan Azzaam di kasurnya sendiri bebas berguling di atas sana tanpa takut jatuh.
"Ceritakan sekarang masa lalu mu, istri ku!"
"Yakin nich"
"Iya!"
"Semua berawal dari tugas akhir nyusun skripsi. Nada butuh riset di instansi pemerintah tuk mendapatkan data dan kajian ilmiah. Biasanya ada bang Farel yang nemani dan ngantar kemana aja, tapi karena ada kerjaan dadakan dari kantornya, bang Farel memberikan no telpon teman akrabnya bang Rayhan. Cukup aneh satu kampus satu fakultas tapi kok Nada ngak pernag sosok bang Rayhan yang nyatanya teman dekat bang Farel."
"Nada...hmmm" menatap istrinya karena ceritanya berhenti.
Lanjut cerita.
"Malam harinya Nada telpon bang Rayhan...untung aja yang jawab telepon rumah itu bang Farel. Pertama kali dengar suaranya agak kaget juga...gimana gitu rasanya...ada sesuatu yang membuat jantung berdebar debar tak menentu...Nada mah langsung to the point aja, maksud dan tujuan nelpon bang Rayhan, bukan jawab ia atau ngak malah nanya dapat nomor telpon rumah dari siapa...hahhh tau ngak mas ia ngomong apa Nada?" tanya Nada pada suami.
"Mana mas tau...coba aja waktu itu mas udah kenal ama kamu...", mencubit pipi Nada yang udah mulai gempil.
"Emang mau apa kalau waktu itu udah kenal ama mas Ridho", tanya Nada.
"Yang pasti sekarang kamu ngak galau kan...???".
"Mau lanjut ngak nich cerita, atau berseri aja dech biar penasaran?".
"Lanjut...sayang".
"Dengan gaya cool nya ia bilang yang tau no telpon rumah dan hpnya hanya orang penting dan tertentu....dapat dari mana no telpon rumah saya...ukh nich orang sok penting banget sih...".
"Waktu itu Nada jawab apa?", tanya Ridho.
"Nada, jawab dari orang penting juga...trus ia tertawa, akh malah di ketawain...trus ia lanjut bicara ternyata ini si adik manjanya bang farel, adek ketemu gedhe, katanya".
"Nada kesal sekali mas Ridho, di ledekin trus, tapi syukurlah untungnya ia mau nemani. Satu hal lagi masa iya kita janjian di cafe tapi Nada sendiri ngak tau ciri cirinya, yang penting besok ketemu".
"Apakah ia menepati janjinya?" tanya Ridho.
"Bang Rayhan selalu memepati janjinya jika Nada meminta sesuatu, pada waktu yang telah di tentukan kami pun bertemu untuk pertama kalinya, ternyata ia cukup tampan, tinggi ideal dan hitam manis semakin di pandang semakin manis".
"Apakah wajah tampannya sekarang masih ada memory otak mu?", menyentil kecil kening istrinya, sesaat kemudian mencium kening istrinya dengan penuh cinta.
"Suamiku...kau adalah masa depan...bang Rayhan masa laluku...karena pelarian ku dari rasa cinta yang tak berujung membuat ku memutuskan menikah dengan suami ku secara mendadak karena tak mau di jodohkan, emangnya zaman Siti Nurbaya".
Nada memeluk erat suaminya, ada rasa hangat yang ia rasakan, damai, dan nyaman. Kini ia yakin suaminya adalah tempat ternyaman ia untuk bersandar, dan belajar tuk mencintainya, ya karena ia merasakan detak jantungnya yang berdebar setiap berada di dekat suaminya, akhirnya debaran jantung yang sama yang ia rasakan dari sang suami jika berada di dekatnya. Akhirnya cinta itu bersemi, cinta yang tulus tuk suami.