Tidak terbayang kehidupan Elina yang tadinya biasa-biasa saja berubah dalam sekejap mata. Hari dimana ia mendapatkan kabar dari sang kekasih berselingkuh dan berhubungan intim dengan kekasih gelapnya.
Detik itu juga Elina bersumpah perasaan dan juga cintanya ia akan kubur sedalam dalamnya. Baik itu mantan pacarnya atau pria lain semuanya sama brengsek dimata gadis itu.
Namun naasnya malam itu saat ia bertemu dengan pria bernama Damian Aditama Sanjaya janji itu ia ingkari sendiri. Karena insiden itu seorang anak lahir ke dunia.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Elina selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34. Bawa Elina Kembali
Mansion Sanjaya.
Didepan pintu dua bodyguard dengan patuh membukakan pintu bergagang keemasan tersebut untuk sang majikan.
Damian didalam sana tergesa-gesa mencari keberadaan wanita paru baya. Ibunya itu. Dia tidak bodoh membuang waktu hanya bertemu dengan Rosalina. Wanita tua itu sangat licik apalagi bersangkutan tentangnya. Tahun memang telah berganti namun kekhawatirannya masih ada sampai saat ini. Terlebih Rosalina begitu membenci sosok Elina dan anaknya.
Dia takut ibunya akan sama seperti dulu mencoba menjauhi dirinya dengan wanita yang dia cintai serta putra kandungnya.
"Nia, kenapa ibu ku tidak ada disini kemana dia pergi!?" tanyanya pada kepala pelayan di mansion.
"Maaf tuan, nyonya Rosalina telah lama pergi mungkin beberapa saat lagi dia akan kembali," jawab Nia spontan membungkuk hormat.
"Seberapa lama dia pergi!?" tanya Damian lagi memastikan.
"Dua jam yang lalu, tuan. Ada baiknya tuan Damian jangan pergi dulu saya rasa nyonya akan cepat pulang," ujar Nia masih dengan kesopanannya.
Nia begitu tenang seperti yakin Rosalina memang akan segara pulang. Tentu semua ini telah direncanakan oleh Rosalina sebelum kedatangan Damian ke mansion. Rosalina lebih cepat tahu Damian mencarinya sebab mata-matanya telah mengabari akan hal itu. Wanita tua itu mengirim pesan dan menugaskan Nia agar menghentikan Damian pergi.
Mobil Mercedes Benz e-class nampak memasuki pekarangan. Sosok didalam sana langsung diberi hormat para bodyguard yang menjaga.
"Nyonya Rosalina tuan-"
"Diam lah saya tahu orang yang menunggu ku didalam."
Setelah masuk tatapan tak bersahabat didapatnya dari sang putra. Damian yang tadinya terduduk di sofa bangkit dan menghampiri Rosalina.
"Aku tidak ingin berlama-lama disini dan pasti ibu tahu kedatangan ku karna siapa," akunya tanpa basa-basi.
"Nia lihat siapa yang datang, putra tertua ku, kenapa hanya berdiri disitu sajikan sesuatu untuk menyambut kedatangannya," perintah Rosalina tidak memedulikan ucapan Damian dia malah dengan tenang duduk di sofa.
"Tidak perlu bersandiwara cepat katakan jika ibu sudah tahu segalanya," beo Damian naik pitam.
"Duduk lah tenangkan dirimu dulu, kamu nggak cape apa sepanjang hari bersama gadis murahan itu," tantangan ibunya menyoroti putra tertuanya yang juga menatapnya tak suka.
"Ingat dia juga istri ku sekarang tidak ada yang bisa menyangkal status Elina bahkan ibu sekalipun," tegas Damian tidak main-main dengan ucapannya sendiri.
Rosalina menelan saliva tertegun untuk beberapa saat. Kenapa selalu aura menyeramkan Damian yang ia lihat. Mungkin bertambahnya usia perilaku patuh putranya tidak akan berlaku lagi.
"Ya aku tau itu tapi aku ingin menawarkan kesempatan."
"Aku menolaknya."
"Begini saja dengarkan ibu mu, aku akan menerima status Elina sebagai istrimu tapi dengan syarat dalam seminggu yang akan datang kamu harus membawa Elina kembali dan ibu berjanji tidak akan mengusik rumah tangga kalian." Rosalina menjelaskan maksudnya sembari menyunggingkan senyum.
Mana tahu kalau Elina akan menolak ajakan Damian. Rosalina akan merasakan senang jika hal itu akan terjadi.
Entah itu perkataan Rosalina tulus atau bukan, Damian memang sudah berencana membawa istri keduanya itu ke mansion keluarga Sanjaya. Percuma saja ibunya menawari hal tersebut. Itu tidak berguna bagi Damian.
Lelaki bermata kelabu itu menghela nafas sejenak.
"Tenanglah ibu tempat seharusnya bagi Elina memang ada disini," tuturnya.
Sebelum Damian beranjak pergi. Lily sudah menampakkan diri di depannya dia tidak seorang diri Liora juga bersamanya.
"Mas tidak boleh pergi kemanapun," pinta Lily tiba-tiba berwajah sedih.
Aktingnya berhasil memancing emosi Liora. Gadis kecil itu mengerek dihadapan Damian.
"Daddy! Nggak boleh ketemu lagi dengan wanita itu keluarga daddy akan ada disini buat apa harus bersama orang yang tidak penting," rengek Liora seraya mengguncang-guncang legan besar Damian.
Air matanya pun tak bisa dia tahan untuk meluap keluar dari kelopak mata bulatnya. Liora gadis itu menatap sendu kearah Damian. Dia masih berharap bahwa pria yang bukan ayah kandungnya itu menuruti permintaannya.
Damian sontak melepas genggaman tangan Liora. Bukan waktunya sekarang untuk menjelaskan semua yang telah terjadi. Liora masih anak-anak mungkin untuk sekarang dia tidak akan paham situasinya saat ini.
"Liora, daddy janji akan pulang tapi untuk sekarang daddy harus pergi sayang," bujuk Damian kepada anak dengan rambut dikepang dua itu.
Liora menggeleng cepat air matanya tak henti keluar.
"Apa betul daddy udah nggak sayang kami lagi!?" lirih Liora sambil menangis sesenggukan.
Lily juga ikut mensejajarkan posisi tubuhnya sama dengan Liora. Gadis itu mengelus pucuk kepala putrinya. Didalam hatinya dia sangat senang reaksi Liora kini membuat Damian tak berkutik samasekali. Tidak sia-sia dia mempengaruhi isi pikiran gadis kecil itu. Sekarang Damian ingin menjawab apa lagi secara Liora sangat sakit hati pada lelaki itu.
"Rasakan itu mas kamu sekarang terpojok kalo kamu jawab yang salah, ku pastikan Liora tidak akan mau melihat mu lagi."
Lily tertawa dalam hati setelah melihat ekspresi bimbang dari sang suami. Beruntung juga dirinya Damian belum pernah membahas kontrak itu pada Rosalina. Sangat di sayangkan bagi Damian dan untuk gadis itu dia merasa kemenangan sudah ada di pihaknya.
"Maafin daddy janji tetaplah janji daddy harus bertanggung jawab untuk perbuatan daddy selama ini. Liora, mau kan bantu daddy menebus kesalahan daddy!?" pekiknya alhasil perkataannya dapat meluluhkan hati anak perempuan itu.
Bukan namanya, Damian jika semua yang dia inginkan tidak terpenuhi seberat apapun itu bahkan harus membodohi Liora dia bisa dengan mudah lakukan untuk tujuan utamanya.
Sedangkan Lily perempuan setinggi bahu Damian itu, menganga lebar tak percaya bahwa sang anak tidak membantah seperti tadi. Ada apa ini? Kenapa dia selalu saja kalah pada Damian! Tidak-tidak Lily tidak akan membiarkan Damian berhasil bertemu Elina.
Sebelum Lily bersuara dia didahului oleh Rosalina. Wanita setengah baya itu, malah mendukung keputusan cucu dan putranya.
"Betul apa kata Damian kita turuti saja keputusannya lebih baik sekarang kamu pergi temui Elina dia lebih membutuhkan mu sekarang," pungkasnya dan mendapat anggukan kepala Damian.
Setelah beberapa saat kepergian Damian dari mansion. Lily langsung saja marah-marah sendiri.
"Kalian ini kenapa sih buat apa suruh Damian pergi jelas sekali kalo aku yang dikhianati disini dan kamu Liora mommy kan udah ajarin kamu tadi kenapa tiba-tiba setuju perkataan daddy mu, hah!!" Lily tak segan-segan membentak putri kecilnya itu.
Anak itu berlari bersembunyi dibelakang tubuh neneknya. Dia tahu kalau dirinya memang pantas disalahkan.
"Lily cobalah tenangkan diri mu dulu, ibu akan jelaskan semua padamu," ujar Rosalina tidak salah Lily memang berhak semarah itu.
"Kamu udah baca pesan ibu kan kita akan mulai bahas tentang rencana kita selanjutnya," lanjutnya menyungging senyum miring.
Lily yang tadinya tidak bisa mengontrol kemarahannya lambat laun mulai menenangkan dirinya. Setelah mendengar ucapan mertuanya Lily tertawa jahat.
"Ibu sangat lihai membalaskan dendam seseorang baiklah aku setuju rencana itu," lontar Lily.
Rencana apa yang mereka bahas kali? :-)
BERSAMBUNG.
ninggalin jejak dulu ❤️