Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Ledakan di Ambang Keadilan
Suara ledakan itu tidak besar, namun cukup untuk mengubah ruang sidang yang kaku menjadi neraka yang penuh kepanikan. Kaca-kaca jendela bergetar, lalu pecah berkeping-keping, menghujani para penonton dengan kristal tajam. Asap tebal mulai merayap masuk dari lorong, membawa bau belerang dan karet terbakar.
"Tiarap!" teriak salah satu petugas keamanan.
Di tengah kekacauan itu, Alicia merasa tubuhnya ditarik dengan kasar. Ia mencium aroma tembakau dan antiseptik yang sangat ia kenali. Rafael. Pria itu mendekapnya, menggunakan tubuhnya yang masih terluka sebagai perisai manusia.
"Kau tidak apa-apa?" suara Rafael parau, penuh ketakutan yang nyata.
"Aku tidak apa-apa, tapi lihat!" Alicia menunjuk ke arah mimbar terdakwa.
Kursi itu kosong. Hector Montenegro, pria yang baru saja akan dihancurkan oleh bukti di tangan Alicia, telah menghilang di balik tirai merah besar di belakang meja hakim. Beberapa pengawal bersenjata berpakaian sipil tampak mengawal pelariannya, melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menjauhkan kerumunan.
"Dia melarikan diri, Rafael! Dia tidak boleh pergi!" teriak Alicia, air matanya bercampur dengan debu di wajahnya.
Rafael meringis, memegangi perutnya yang kembali berdenyut perih, namun matanya memancarkan kilat yang mematikan. "Dia tidak akan keluar dari gedung ini hidup-hidup. Tidak kali ini."
Mereka berlari menembus asap. Setiap langkah Rafael adalah perjuangan melawan rasa sakit, namun ia menolak untuk berhenti. Alicia memegang lengannya, menjadi tumpuan bagi pria yang selama ini menjadi tembok pelindungnya.
"Ke arah basemen!" perintah Rafael. "Dia pasti punya kendaraan cadangan di sana."
Mereka sampai di tangga darurat yang remang-remang. Suara langkah kaki sepatu bot yang berat bergema di atas mereka. Di sebuah bordes, mereka berhadapan dengan salah satu orang suruhan Hector. Tanpa ragu, Rafael menerjang pria itu. Perkelahian singkat namun brutal terjadi. Rafael menghantamkan kepala pria itu ke dinding hingga tak sadarkan diri, sementara Alicia memungut pistol yang terjatuh.
"Kau bisa menggunakannya?" tanya Rafael, napasnya tersengal.
"Aku akan belajar dalam satu detik jika itu demi membunuh Hector," jawab Alicia dengan tatapan yang membara.
Mereka mencapai area parkir bawah tanah tepat saat sebuah sedan hitam mewah menderu, mencoba menerobos barikade keluar. Di belakang kemudi, Hector Montenegro tampak panik—sebuah ekspresi yang jarang sekali terlihat di wajah sang penguasa Madrid itu.
"BERHENTILAH, HECTOR!!!" raung Rafael, suaranya menggema di seluruh basemen yang hampa.
Mobil itu mendecit, berhenti hanya beberapa meter dari mereka. Hector turun, menggenggam sebuah tas kerja yang mungkin berisi paspor dan uang tunai untuk pelariannya. Ia menatap putranya dengan kebencian yang murni.
"Kau anak yang malang, Rafael," ujar Hector, suaranya tetap tenang meski dikepung. "Kau menghancurkan kerajaan yang aku bangun untukmu. Kau memilih wanita ini dibandingkan darahmu sendiri."
"Darahmu kotor, Ayah!" balas Rafael, melangkah maju meski tertatih. "Darahmu membunuh Maria Fernández! Darahmu menghancurkan hidup Alicia! Aku tidak bangga memiliki tetesan darahmu di tubuhku!"
"Lalu selesaikanlah," tantang Hector, ia merogoh sesuatu dari balik jasnya. "Tembak ayahmu. Jadilah monster yang kau takuti, Rafael."
Alicia mengangkat senjatanya, tangannya gemetar. "Dia tidak akan melakukannya, Hector. Tapi aku... aku tidak punya ikatan darah dengannmu. Aku punya ribuan alasan untuk menarik pelatuk ini."
"Alicia, jangan!" Rafael menahan tangan Alicia. "Jika kau membunuhnya di sini, kau akan menghabiskan sisa hidupmu di penjara. Dia tidak layak mendapatkan pengorbananmu lagi. Kini, biarkan hukum yang melumatnya."
Tiba-tiba, sirene polisi mengepung area basemen. Pasukan khusus menyerbu masuk dari segala arah. Hector menyadari bahwa pelariannya telah berakhir. Ia menjatuhkan tas kerjanya, mengangkat tangan dengan senyum miring yang penuh ejekan.
"Kalian pikir kalian menang?" bisik Hector saat polisi memborgolnya. "Lihatlah ke luar. Proyek Ibiza sedang membakar reputasi kalian. Kalian mungkin menangkapku, tapi kalian akan jatuh bersamaku ke dasar jurang."
Hector telah dibawa pergi oleh pihak berwajib, suasana basemen yang dingin itu mendadak menjadi sangat sunyi. Alicia menjatuhkan senjatanya, tubuhnya merosot ke lantai. Segala adrenalin yang menopangnya sejak dari Ibiza seolah menguap, meninggalkannya dalam keadaan kosong dan hancur.
Rafael berlutut di sampingnya, menarik Alicia ke dalam pelukannya. Mereka duduk di atas lantai beton yang dingin, bersandar pada pilar gedung yang retak.
"Maafkan aku, Alicia," bisik Rafael, mencium puncak kepala wanita itu. "Maafkan aku karena meragukanmu. Maafkan aku karena menjadi bagian dari keluarga yang merenggut segalanya darimu."
Alicia terisak, membenamkan wajahnya di dada Rafael. "Aku sangat lelah, Rafael. Aku menemukan kebenarannya, tapi rasanya tidak seperti kemenangan. Rasanya seperti aku sedang berdiri di atas puing-puing hidupku yang sudah hancur."
"Kita akan membangunnya kembali," janji Rafael, meski suaranya sendiri terdengar ragu. "Kita punya bukti sekarang. Kita bisa membersihkan nama kita."
"Dunia tidak peduli pada bukti itu sekarang, Rafael," Alicia mendongak, menatap mata Rafael yang lelah. "Kau dengar apa yang dikatakan Hector? Di luar sana, orang-orang sedang membakar foto kita karena skandal Ibiza. Mereka tidak melihat kita sebagai korban. Mereka melihat kita sebagai penjahat yang sedang bertengkar memperebutkan harta."
Rafael terdiam. Ia tahu Alicia benar. Kemenangan mereka di ruang sidang tertutup oleh awan hitam dari Ibiza.
...****************...
Tidak ada waktu untuk beristirahat. Tidak ada waktu untuk mengobati luka secara layak. Sore itu juga, sebuah jet pribadi telah menunggu di landasan pacu pribadi Bandara Barajas.
Alicia dan Rafael duduk berhadapan di dalam kabin pesawat yang mewah namun terasa mencekam. Di atas meja di antara mereka, layar tablet menampilkan berita utama dari seluruh dunia: "SKANDAL IBIZA: RATU SOLERA DAN PUTRA MONTENEGRO DI BALIK PENGGUSURAN BERDARAH."
"Kita harus sampai di sana sebelum massa membakar lokasi proyek," ujar Rafael, sambil menekan perban baru di perutnya.
Alicia menatap ke luar jendela, melihat awan yang berwarna jingga kemerahan. "Jika kita gagal meyakinkan penduduk Ibiza malam ini, Solera akan bangkrut dalam hitungan hari. Investor sudah mulai menarik dana mereka."
"Aku tidak peduli pada uangnya, Alicia," sahut Rafael, ia meraih tangan Alicia dan menggenggamnya erat. "Aku peduli pada caramu menatapku. Sejak kejadian di kantor jaksa, ada sesuatu yang hilang dari matamu."
Alicia menarik napas panjang, menatap tangan mereka yang saling bertautan. "Aku masih mencintaimu, Rafael. Tapi kepercayaan itu seperti vas kaca. Kau tidak bisa hanya merekatkannya kembali dan berharap retakannya hilang. Setiap kali aku melihatmu, aku teringat bahwa kau menyembunyikan rahasia Ibiza dariku."
"Aku melakukannya karena aku takut kehilanganmu!" bela Rafael, suaranya bergetar oleh emosi. "Aku tahu betapa rapuhnya kau setelah pengkhianatan Santiago. Aku ingin menjadi pahlawan yang memberimu dunia yang sempurna, tanpa noda. Aku salah, aku tahu itu sekarang."
"Aku tidak butuh pahlawan, Rafael!" Alicia melepaskan tangannya, suaranya meninggi. "Aku butuh pasangan! Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk berbagi beban yang paling kotor sekalipun. Kau memperlakukanku seperti pajangan di istanamu, bukan sebagai rekan."
Pertengkaran itu terhenti saat pilot mengumumkan bahwa mereka akan segera mendarat. Ibiza menyambut mereka dengan pemandangan yang mengerikan. Dari jendela pesawat, mereka bisa melihat asap hitam membumbung dari area konstruksi.
...****************...
Begitu turun dari jet, aroma asap kayu dan kemarahan langsung menyengat indra mereka. Mereka tidak menuju hotel, melainkan langsung ke jantung konflik: desa nelayan yang menjadi titik nol skandal tersebut.
Ribuan penduduk berkumpul di depan gerbang proyek, membawa obor dan poster-poster yang menghujat. Keamanan proyek tampak kewalahan menahan massa yang mencoba merobohkan pagar.
"Turunkan mobilnya di sini," perintah Alicia kepada sopir.
"Nyonya, itu terlalu berbahaya! Massa sedang beringas!" cegah pengawalnya.
"Biarkan aku bicara dengan mereka," tegas Alicia. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, diikuti oleh Rafael yang tertatih-tatih di belakangnya.
Begitu sosok Alicia terlihat, teriakan massa semakin kencang. "PEMBUNUH! PENINDAS! PERGI DARI PULAU KAMI!"
Sebuah batu melayang, nyaris mengenai kepala Alicia, namun Rafael dengan cepat menariknya ke belakang tubuhnya.
"DENGARKAN SAYA!" teriak Alicia, suaranya menembus kebisingan. Ia naik ke atas sebuah kotak kayu tua agar semua orang bisa melihatnya. "SAYA ADALAH ALICIA VALERO! SAYA BERDIRI DI SINI BUKAN SEBAGAI CEO SOLERA, TAPI SEBAGAI WANITA YANG JUGA DIKHIANATI OLEH PRIA YANG MERANCANG PROYEK INI!"
Kerumunan sedikit mereda, rasa penasaran mulai menggantikan kemarahan sesaat.
"Kalian melihat dokumen itu? Kalian melihat tanda tangan saya di sana?" Alicia mengangkat hard drive yang ia temukan di vila tua. "Itu dipalsukan oleh mantan suami saya, Santiago Valero! Dia bekerja sama dengan Hector Montenegro untuk menghancurkan pulau ini dan menjebak saya sebagai kambing hitamnya! Saya memiliki rekaman suaranya!"
Alicia menyalakan pengeras suara yang dibawa asistennya, memutar rekaman suara Santiago yang mengaku telah merancang suap dan penggusuran tersebut.
Suara Santiago yang licik bergema di malam yang gelap itu, menjelaskan bagaimana ia membenci Alicia dan ingin menghancurkannya.
Keheningan yang mencekam menyelimuti massa. Kemarahan mereka mulai beralih arah. Namun, seorang nelayan tua maju ke depan, wajahnya penuh air mata.
"Lalu bagaimana dengan rumah kami yang sudah hancur?" tanya pria itu dengan suara gemetar. "Rekaman suara tidak bisa membangun kembali atap kami, Nyonya."
Alicia turun dari kotak kayu, ia berjalan mendekati pria tua itu tanpa rasa takut. Ia meraih tangan pria itu yang kasar. "Saya berjanji, mulai malam ini, proyek resor ini dibatalkan. Kita akan membangun kembali desa ini. Kita akan menjadikan tempat ini sebagai cagar alam yang dikelola oleh kalian sendiri. Saya akan menggunakan seluruh harta pribadi saya untuk menebus dosa yang tidak saya lakukan ini."
Rafael berdiri di samping Alicia, menaruh tangannya di bahu wanita itu. "Dan Montenegro Group akan membiayai semua kerugian kalian tanpa menuntut satu sen pun kembali. Ini bukan lagi soal bisnis. Ini soal kehormatan."
Massa mulai berbisik-bisik. Ketegangan yang tadinya seperti bom waktu perlahan-lahan mulai mendingin. Meskipun belum ada maaf yang sepenuhnya, kebencian yang buta mulai memudar.
...****************...
Malam itu, setelah situasi mulai terkendali, Alicia dan Rafael berdiri di tepi pantai yang sunyi, jauh dari kerumunan. Suara ombak yang lembut menjadi latar belakang bagi dua jiwa yang sedang kelelahan.
"Kau luar biasa tadi," gumam Rafael, menatap Alicia dengan kekaguman yang dalam. "Kau mempertaruhkan segalanya untuk mereka."
"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Valero yang sebenarnya," jawab Alicia, matanya menatap cakrawala. "Tapi perjalanannya masih panjang, Rafael. Memperbaiki nama baik tidak semudah membangun gedung."
Rafael mendekat, memeluk Alicia dari belakang. Kali ini, Alicia tidak menghindar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rafael, merasakan kehangatan yang jujur.
"Apakah ada tempat untuk kita di masa depan nanti?" tanya Rafael dengan nada yang sangat rentan.
Alicia terdiam lama, menikmati angin laut yang menerpa wajahnya. "Aku tidak tahu, Rafael. Dunia kita sudah hancur. Kita sedang berdiri di atas reruntuhan. Tapi mungkin... hanya di atas reruntuhanlah kita bisa melihat fondasi yang asli."
Ia berbalik, menatap mata Rafael yang penuh harapan. "Mari kita selesaikan ini dulu. Satu per satu. Jika setelah semua debu ini menghilang kita masih berdiri berdampingan... maka mungkin, itu adalah jawaban yang kita cari."
Di bawah langit Ibiza yang luas, di antara sisa-sisa ambisi yang terbakar, Alicia dan Rafael menyadari bahwa mereka bukan lagi penguasa Madrid. Mereka hanyalah dua manusia yang sedang belajar untuk saling percaya di tengah kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.
Tiba-tiba, ponsel Rafael bergetar. Sebuah pesan singkat dari pengacaranya di Madrid.
^^^"Hector Montenegro ditemukan tewas di dalam selnya. Bunuh diri."^^^
Rafael melepaskan pelukannya, wajahnya memucat. Rahasia terakhir ayahnya telah terkubur selamanya, namun beban yang ditinggalkannya kini sepenuhnya ada di pundak mereka.
"Brengsek! Pria pengecut, sialan!" raung Rafael. Suaranya pecah, menggema di sepanjang garis pantai Ibiza yang sunyi.
Ia jatuh berlutut, tinjunya menghantam pasir berkali-kali. "Dia melakukannya lagi! Dia melarikan diri lagi!"
Alicia terpaku, melihat pria yang biasanya begitu terkontrol itu kini hancur berkeping-keping. Kemarahan Rafael bukan karena kehilangan seorang ayah, melainkan karena pengkhianatan terakhir seorang pria yang menolak untuk mempertanggungjawabkan dosa-dosanya.
"Rafael, tenanglah..." Alicia mencoba mendekat, namun Rafael justru tertawa getir di sela isak tangisnya yang tertahan.
"Lihatlah, Alicia! Dia mati sebagai seorang pengecut! Dia membunuh dirinya sendiri agar tidak perlu melihat wajah orang-orang yang hidupnya ia hancurkan! Dia tidak mau melihatku menang, dia tidak mau melihat hukum menghakiminya. Dia mencuri keadilan kita!" Rafael mendongak, matanya merah karena amarah dan kekecewaan yang murni. "Bahkan di saat terakhirnya, dia tetap seorang egois yang hanya memikirkan cara tercepat untuk keluar dari kekacauan yang ia buat!"
Rafael berdiri dengan susah payah, memegangi perutnya yang luka, namun ia mengabaikan rasa perih itu. Ia menunjuk ke arah kegelapan laut, seolah-olah sedang berbicara langsung pada hantu ayahnya.
"Kau pikir kau bebas, Hector? Kau pikir dengan mati kau membawa semua rahasiamu ke liang lahat? Tidak! Kau meninggalkan kekacauanmu padaku! Kau membiarkan aku yang membersihkan darah di tanganmu!" umpatnya dengan suara parau.
Kecewa itu terasa lebih menyakitkan daripada peluru. Rafael mengharapkan sebuah konfrontasi terakhir di pengadilan, sebuah momen di mana ia bisa melihat ayahnya mengakui segala kesalahan. Namun, Hector Montenegro memilih jalan keluar yang paling mudah, meninggalkan Rafael sebagai satu-satunya pewaris dari sebuah nama yang kini telah ternodai.
Alicia melangkah maju, tanpa ragu ia menarik Rafael ke dalam pelukannya, meski pria itu masih gemetar karena emosi.
"Dia tidak melarikan diri darimu, Rafael," bisik Alicia dengan tegas, memaksa Rafael menatapnya. "Dia melarikan diri dari kenyataan bahwa dia telah kalah. Kematiannya bukan kemenangan baginya. Itu adalah pengakuan bahwa dia tidak cukup kuat untuk menghadapi dunia yang kau bangun kembali."
Rafael menyandarkan keningnya di bahu Alicia, napasnya yang memburu perlahan mulai melambat, meski dadanya masih terasa sesak oleh sisa-sisa amarah.
"Dia tidak pernah bertanggung jawab, Alicia. Tidak pernah sekali pun," gumam Rafael, suaranya kini terdengar hampa.
"Maka biarkan kita yang melakukannya," sahut Alicia pelan namun penuh tekad. "Kita akan menanggung beban ini, bukan sebagai Montenegro atau Valero yang lama, tapi sebagai diri kita sendiri. Dia mungkin sudah mati, tapi dia tidak akan menghancurkan masa depan kita lagi."
Di kejauhan, fajar mulai menyingsing di cakrawala Ibiza, garis tipis cahaya yang mulai mengusir kegelapan malam. Meski kabar kematian Hector menambah luka baru, di atas pasir pantai itu, Rafael menyadari bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar membunuh bayang-bayang ayahnya adalah dengan hidup lebih baik daripada pria itu.