Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keroyokan
Bergegas Nino mendekati Asep. Pemuda itu menarik tangan Asep, namun usahanya sia-sia. Tubuh Asep bergeming, tarikan tangan Nino tetap tak bisa membuatnya terlepas dari pegangan dua tangan di kedua pergelangan kakinya.
“Tarik, No!”
“Ini lagi ditarik. Buset kuat amat pegangan tuh hantu tangan,” gerutu Nino sambil terus menarik tangan Asep.
“Kela-kela, tong ditarik deui, melar henteu, nu aya potong leungeun urang (Bentar-bentar, jangan ditarik lagi, melar ngga, yang ada tangan gue putus).”
Nino melepaskan pegangannya di tangan Asep. Pemuda itu mengusap keningnya yang berkeringat. Sejenak dia beristirahat untuk memulihkan tenaga. Setelah beristirahat sebentar, Nino kembali berupaya melepaskan Asep dari tangan misterius yang masih memegang kakinya. Kali ini Nino mencoba mengangkat tubuh Asep.
“Mmmppppmmm.. buset berat banget. Nih setan makan apaan sih? Tenaganya gede bet dah ah.”
“Makanna sangu sakontener meureun (Makannya nasi sekontener kali).”
“Sep, baca doa!”
“Oh enya.”
Asep dan Nino kompak langsung membaca ayat kursi yang disambung dengan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Perlahan pegangan di kaki Asep mulai mengendur. Sambil terus membaca doa, Asep berusaha menarik kakinya. Nino pun berusaha menarik kaki Asep.
Akhirnya kerja keras mereka berhasil. Pegangan di kaki Asep terlepas. Keduanya langsung tancap gas berlari meninggalkan gedung tersebut. Tapi di dekat pintu, kedua pemuda itu melihat sesosok pria bertubuh jangkung, kepalanya berlumuran darah dan kedua tangannya putus.
“Mana tangan saya?” tanya hantu pria itu.
“Mana gue tahu! Cari sendiri sono!” teriak Nino sambil ketakutan.
“Leungeun maneh di ditu tuh, halik sia! (Tangan elo di sana tuh, minggir!).”
Asep segera berlari menerobos cegatan hantu tersebut sambil menarik tangan Nino. Keduanya berhasil menembus hantu tersebut dan terus berlari sampai keluar dari gedung. Mereka langsung terduduk di halaman gedung dengan nafas terengah.
“Ceuk maneh, mun dua orang borangan ngahiji, bakalan wani. Geningan angger we kabur! (Lo bilang, kalau dua orang penakut barengan bakal jadi berani. Ternyata tetap aja kabur!).”
“Mending kabur bareng kan? Dari pada kabur sendirian. Kita takut bareng, teriak bareng. Siapa tahu tuh setan ngga kuat dengar teriakan kita.”
“Ngaco sia. Hayulah balik!”
Asep berdiri lebih dulu. Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Nino, membantunya berdiri. Keduanya segera berjalan menuju parkiran motor. Hanya tersisa beberapa motor saja di parkiran. Sudah banyak mahasiswa yang meninggalkan kampus. Setelah membayar uang parkiran, keduanya segera melajukan kendaraan roda duanya.
Beriringan keduanya melajukan sepeda motor dengan kecepatan sedang. Jalanan yang mereka lalu cukup ramai dengan kendaraan roda empat dan dua. Setelah melewati lampu merah, keduanya berbelok ke kiri. Jalanan di sini cukup sepi, dengan kanan, kiri jalan dipenuhi oleh pepohonan besar. Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dari sebuah mushola.
Begitu adzan selesai berkumandang, tiba-tiba saja Nino melihat di belakang Asep, ada pocong yang tengah berdiri.
“Sep! Di belakang lo ada pocong!!” teriak Nino.
Sontak Asep menengok ke belakang. Betul saja, sesosok pocong tengah berdiri di atas jok motornya.
“Turun sia!! Rek naon ngilu ka aing! Turun! Jadol pisan! (Turun lo! Mau ngapain ikut gue! Turun! Brengsek banget!).”
Asep menjalankan motornya ke kanan dan kiri agar si pocong kehilangan keseimbangan. Namun pocong itu tetap berdiri tenang di belakangnya. Karena kesal, Asep mengerem motor mendadak. Dia langsung menoleh ke belakang, tapi sosok pocong itu langsung menghilang. Kemudian Asep melihat pada Nino.
“No, eta pocong pindah ke tukangeun maneh!”
“Hah?”
Refleks Nino menolehkan kepalanya. Benar saja, sekarang pocong itu sedang duduk dengan posisi menyamping di belakangnya.
“HUAAAAA!! BJIIIRRRR.. ngapain nih pocong ikut gue? Turun woy! Gue bukan ojek pocong!!”
“Hahaha..”
Mendengar ucapan Nino ditambah melihat gaya pocong itu duduk, tak ayal membuat Asep tertawa. Pemuda itu kembali menjalankan motornya, mencoba menyusul Nino yang sudah melesat cukup jauh di depannya.
Ketika motornya hampir menyusul motor Nino, Asep menjulurkan kakinya seperti hendak menendang pocong tersebut.
“Turun sia!!”
Di saat Nino dan Asep tengah melepaskan diri dari pocong yang mengikuti mereka, tiba-tiba saja di depan mereka berdiri sosok wanita berbaju putih dan berambut panjang hingga menyentuh aspal. Kompak keduanya mengerem motor masing-masing.
“Eta si kunti rek naon mejeng di tengah jalan?”
“Janjian sama si poci kali. Heh! Turun lo! Noh si kunti udah nungguin elo!”
Perlahan sosok kuntilanak itu melayang mendekati motor Nino dan Asep. Suasana di antara keduanya semakin mencekam saja. Belum hilang ketakutan yang ditebar sang kunti, tiba-tiba saja muncul makhluk lain. Kini wanita tua dengan buah dada besar dan menjulur hampir ke bawah muncul dari balik pohon.
“Buset, sekarang wewe gombel ikutan nongol. Cinta segitiga nih ceritanye!” teriak Nino, berusaha menyingkirkan ketakutannya.
“Maneh mah wanina keroyokan. Teu kaci! (Lo mah beraninya keroyokan. Ngga boleh!),” sambung Asep.
Kuntilanak dan wewe gombel terus mendekati keduanya, membuat mereka semakin ketar-ketir. Asep langsung membaca ayat kursi seraya memejamkan matanya, begitu pula dengan Nino.
“Buruan jalan, mereka udah ngga ada!”
Seketika Nino membuka matanya ketika mendengar suara Eris. Baru kali ini dia senang sekali melihat hantu wanita itu.
“Eris.”
“Cepat jalan, sebelum mereka nongol lagi.”
“Eta Eris?” tanya Asep.
“Hooh.”
“Geulis euy (Cantik euy).”
“Cepetan pergi, nanti keburu mereka nongol lagi.”
Secepatnya Nino dan Asep kembali menjalankan kendaraannya. Sekarang di belakang motor Nino, Eris yang duduk dengan posisi menyamping. Matanya melihat pada Asep yang motornya tepat berada di samping motor Nino.
“Neng jangan ngelihatin aja atuh. Aa Asep jadi geer nih.”
“Buset, ganjen banget lo. Hantu nih bukan orang!”
“Lah lamun hantuna geulis kitu, urang mah ridho didatangan unggal poe (Lah kalau hantunya cantik gitu, gue ridho didatengin tiap hari).”
Nino hanya berdecak saja. Tentang Asep yang begitu jeli ketika melihat wanita cantik, dia sudah khatam betul. Tapi baru kali ini dia tahu kalau Asep memegang prinsip, mau manusia atau hantu, yang penting cantik, gass aja.
Setelah melalui perjalanan menegangkan, akhirnya mereka sampai juga ke kost-an. Begitu masuk ke kamar masing-masing, mereka langsung menunaikan shalat maghrib. Setelahnya Asep diminta ke kamar Nino atas permintaan Eris.
Nino, Asep dan Eris duduk bersama di atas ranjang Nino. Mata Asep terus melihat pada Eris tanpa berkedip, membuat Nino hanya berdecih saja.
“Selamat ya, akhirnya mata batin si Asep terbuka.”
“Iya, hehehe.. sekarang gue punya teman buat teriak bareng.”
“Karena mata batin Asep sudah terbuka, jangan kaget kalau mulai besok hantu yang suka ada di kelas kamu bakal nongol lagi.”
“Tadi juga kita ketemu hantu di gedung belakang. Kakinya si Asep dipegang tangan buntung. Terus nongol setan cowok nanyain di mana tangannya. Lah kocak, itu tangannya yang megangin kaki si Asep, ngapain tanya ke kita,” cerocos Nino menceritakan kejadian menyeramkan yang dialaminya di kampus tadi.
“Hantu itu dulunya kuli yang bekerja membangun kampus. Dia mengalami kecelakaan kerja. Dia terjatuh dari ketinggian, kepalanya luka parah dan kedua tangannya putus.”
“Hiii… pantes serem bet mukanya.”
“Eh.. maneh duaan ngomong naon sih? Naha urang teu bisa ngadangu suara si geulis (Eh.. kalian berdua ngomong apa sih? Kenapa gue ngga bisa dengar suara si cantik).”
“Lo ngga bisa dengar suara si Eris?”
Kepala Asep mengangguk cepat. Sedari tadi dia hanya bisa mendengar suara Nino saja, tapi tidak bisa mendengar apa yang Eris katakan walau pemuda itu melihat mulut Eris terbuka seperti tengah berbicara.
“Asep memang belum bisa berkomunikasi dengan makhluk astral.”
“Wah repot, gue harus jadi translater buat dia.”
“Aku bisa membuatnya bisa berkomunikasi dengan makhluk astral.”
“Serius? Gimana caranya?”
Asep memandangi Nino dan Eris bergantian dengan kening berkerut. Dia mencoba menerka apa yang dibicarakan dua makhluk di dekatnya. Tiba-tiba saja Eris mendekatinya kemudian menyentil kening Asep dengan kencang.
“Aduh!!”
Sontak Asep mengusap keningnya yang baru saja disentil Eris. Nino melongo melihat kening Asep berwarna kebiruan, tepat di bagian tengahnya.
“Cuma disentil doang, dia udah bisa ngobrol sama hantu?” tanya Nino tak percaya.
“Asep..” panggil Eris dengan suara lembut.
“Iya sayang,” sahut Asep sambil melihat Eris dengan senyum manisnya.
“Najis!” seru Nino.
***
Parah si Asep🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/
Ayo duo Upin Ipin segera keluar, tunjukan kehebatanmu jadi detektif, segera bantu polisi Miko agar segera kasus pembunuhan Maya segera terungkap