Nuna yang berniat menggrebek calon suaminya yang sedang berselingkuh di hotel tapi nasib nya begitu sial karena dia malah di sangka seorang menjual diri.
"Hey lepaskan aku!"
"Apa kau sedang membuat drama, dasar wanita murahan! Cepat puaskan aku atau aku tidak akan membayar mu sepeserpun!"
Malam yang tak seharusnya benar-benar merubah kehidupan Nuna, apalagi setelah Nuna mengetahui jika yang mengambil kesucian nya itu adalah Ananda Haidar, bos di tempat dia bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nilam nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Haidar dan Nuna pulang ke hotel, dan saat keduanya sampai di lobby secara kebetulan keduanya berpapasan dengan Rama dan Liana yang juga sedang di lobby.
Mereka nampak canggung untuk saling sapa, lebih tepatnya Nuna nampak acuh untuk menyapa dan saat itu juga Haidar menggandeng tangan sang istri.
Liana melihat Rama, suaminya nampak melihat terus menerus ke arah Nuna.
"Lihat apa?" tanya Liana dengan tatapan mata tajam nya.
"Nggak ada, ayo" ajak Rama sambil berjalan.
Liana melirik ke arah Nuna, lalu menunduk.
"Saya duluan tuan" ucap Liana yang langsung pergi.
Dan Nuna melihat pasangan itu dengan wajah malas nya.
"Kenapa di bolehin sih" Nuna melirik Suaminya.
"Siapa?" tanya Haidar.
"Ya itu, Rama. kenapa mereka bisa bersama dan nginep di hotel yang di booking kamu" tanya Nuna lagi.
Haidar menaikan sebelah alis nya ke atas, merasa curiga dengan istrinya yang belum move on.
"Mereka suami istri, jadi tidak salah kan kalau mereka satu kemar?" Haidar menjawab dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ya emang suami istri tapi kan saat ini Liana sedang kerja, gimana kalau kerja nya nggak bener dan___" ucap Nuna terpotong.
"Dan kamu cemburu?" tanya Haidar.
Nuna dengan cepat menggeleng mendengar tuduhan sang suami.
"Nggak ya, siapa yang cemburu sama mereka, nggak ada" Nuna menjawab sambil berjalan.
"Lalu kenapa kamu nggak suka mereka satu kamar? kalau bukan kamu cemburu?" Haidar kembali memberikan pertanyaan yang menjebak.
Dan Nuna nampak gelagapan untuk menjawab pertanyaan menjebak dari suaminya.
Nuna sendiri dia memang sudah merasa tidak mencintai Rama lagi, dia sudah move on tapi rasa kesal saat melihat wajah Rama yang bajingan masih Nuna simpan.
"Kamu tidak bisa menjawab itu artinya kamu memang belum move on kan" Haidar kembali menuduh.
"Aku nggak jawab bukan berarti aku belum move on, tapi aku masih kesal saja nggak tau kenapa setiap melihat wajah bajingan itu rasanya mau marah aja gitu" Nuna menjelaskan agar suaminya tak salah arti.
Dan keduanya masuk ke dalam lift, Nuna terus menjelaskan jika dia sama sekali tidak memiliki perasaan lagi untuk Rama.
"Aku tidak percaya" balas Rama sambil meleos keluar dari lift.
Nuna mengikuti dari belakang, hingga keduanya masuk ke dalam kamar hotel mereka.
"Aku benar-benar jujur, aku sudah move on dan tidak mencintainya lagi. sumpah" kata Nuna berani bersumpah.
"Aku masih tidak percaya, kamu pasti masih berharap padanya dan ingin kembali kan" Balas Haidar lagi.
"Nggak sama sekali, enak saja aku nggak mau sama dia. lagi pula Rama itu pelit bahkan setiap makan pun nggak pernah mau bayar" Nuna menjawab dengan nada sewot nya.
"Tapi kamu betah hubungan sama Rama sampai beberapa tahun" Haidar membalas lagi.
"Ya itu karena dia selama pacaran baik, nggak banyak minta yang aneh dan selalu ada saat aku sedih" ucap Nuna sambil duduk.
Haidar yang mendengar itu hanya tersenyum lalu ikut duduk di tepi ranjang tepatnya di samping sang istri.
"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Haidar.
Yang langsung mendapatkan lirikan dari Nuna.
"Kamu juga baik, tapi kadang nyebelin" balas Nuna sambil menatap Haidar dari samping.
"Nyebelin? maksudnya" tanya Haidar lagi.
Hufh..
Nuna menghembuskan nafasnya kasar lalu kembali menatap suaminya.
"Ya gitu nyebelin suka bikin kesel, udah tau mood orang menstruasi itu aneh malah suka bikin kesel, contoh nya kaya tadi kamu jemput lama bikin aku bosan nunggu mana di godain sama bapak-bapak security botak lagi" ucap Nuna menjelaskan.
"Di godain apa?" tanya Haidar malah penasaran dengan cerita Nuna.
"Katanya aku di ajak jadi istrinya aja, dia duda" balas Nuna cepat.
Apa!
"Enak saja, kamu istriku kalau mau nikahi kamu langkahi dulu mayat ku" kata Haidar sewot.
"Terus kamu jawab apa?" lanjut Haidar bertanya.
"Ya aku jawab saja kalau aku sudah nikah dan suami ku tampan" jawab Nuna santai.
"Kamu jawab begitu?" Haidar tersenyum.
"Iya, lagian siapa yang mau nikah dua kali mana sama bapak-bapak botak, kalau sampai nikah lagi juga aku akan pilih-pilih mending sama yang muda, ganteng seger dan___" ucap Nuna terpotong.
Grepp..
Tubuh Nuna di peluk oleh Haidar.
"Tadi apa? yang ganteng muda seger dan apa? hah kurang keras" Haidar mengigit leher Nuna.
Awww!
"Sakit tau" ringis Nuna.
"Biarin itu hukuman untuk kamu yang mau nikah lagi" sahut Haidar kesal.
"Aku ngomong gitu cuman sama bapak botak itu ya, nggak nyata aku mau nikah lagi" Nuna menjawab cepat.
"Sama saja, awas saja kamu nikah lagi aku akan culik dan akan aku pukuli pria itu sampai bonyok" Haidar masih memeluk Nuna dan sekarang beralih memberikan hujan kecupan di wajah istrinya.
Dan Nuna hanya manyun mendengar ucapan Haidar, hingga tiba-tiba Haidar mengelitiki pinggang Nuna, membuat Nuna kegelian dan tertawa.
Haha..
"Geli, udah aduh geli" teriak Nuna.
"Rasakan itu hukuman mu" balas Haidar masih mengelitiki sang istri.
Haha..
Sekali lagi Nuna tertawa karena kegelian dan Haidar nampak masih betah mengelitiki perut Nuna.
Hingga beberapa menit berlalu dan akhirnya Haidar berhenti mengelitiki sang istri.
Cup..
Haidar memberikan kecupan singkat di bibir.
"Jangan menikah lagi" kata Haidar.
"Kenapa?" tanya Nuna dengan deru nafasnya yang tidak beraturan karena terlalu banyak tertawa yang membuat nya cape.
"Tentu saja karena aku mencintai mu" Haidar berbaring di ranjang.
Nuna ikut berbaring dan kepalanya sengaja dia tindihkan ke tangan Haidar.
"Apa itu cinta?" tanya Nuna melirik Haidar.
"Cinta itu adalah perasaan suka sayang yang lebih besar, dan aku rasa aku sudah mencintai mu." ucap Haidar menatap Nuna.
Nuna diam dengan mata yang menatap netra mata Haidar yang memperlihatkan kejujuran.
Sudut bibir wanita itu tersenyum, lalu Nuna meluk Haidar dan berbisik di telinga pria itu.
"Aku rasa aku juga memiliki perasaan sama, aku mencintaimu" balas Nuna berbisik yang membuat Haidar tersenyum senang mendengar nya.
harga kesucian cinta?