Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.
Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.
Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.
Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.
Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.
Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
Daniel tengah berdiri di depan jendela besar di ruang kerjanya di lantai 2 yang menghadap langsung ke deretan kandang hewan peliharaannya.
Dengan kedua tangan yang bersembunyi di dalam saku celana, mata tajam Daniel terus mengintai kegiatan dokter cantik itu di depan kandang Woozi dan Hoshi.
Veronica terlihat begitu akrab dengan Harimau Siberia itu, bahkan Hoshi terlihat begitu tenang dekat dengan Veronica yang jongkok di balik pagar pembatas. Veronica bahkan begitu berani memasukan tangannya kedalam celah kandang lalu mengelus tubuh Hoshi yang sedang tiduran disana.
Ketika melihat keberanian Veronica, Daniel langsung tertarik. Sebab selama ini tak ada pegawai wanitanya yang berani mendekat ke kandang hewan buas peliharaannya. Wanita panggilan yang biasa dia bawa pun tak pernah berani untuk datang ke sana, bahkan menjerit menangis histeris ketika Daniel menyeret mereka mendekati jajaran kandang hewan peliharaannya.
Daniel suka ketika melihat wajah wanita ketakutan dengan hewan peliharaannya. Ada suatu kepuasan tersendiri dalam diri Daniel melihat hal itu. Sehingga, ketika Veronica yang begitu tenang mendekat pada beruang serta harimaunya, Daniel langsung tertarik dan penasaran. Dia tertantang ingin melihat wajah ketakutan Veronica juga. Namun dia masih memikirkannya, apa yang bisa membuat Veronica takut? Daniel ingin melihat Veronica ketakutan ketika berdekatan dengan hewan buas peliharaannya. Ular? Apakah Veronica takut pada ular? Daniel belum memelihara hewan melata itu, haruskah dia melakukan percobaan memelihara ular untuk mendapatkan wajah ketakutan Veronica?
Daniel menggila dengan keinginannya itu. Gara-gara wajah tenang Veronica, Daniel jadi berpikiran gıla hanya karena ingin melihat wajah cantik ketakutan itu.
'wishlistku sekarang ingin melihat wajah cantikmu itu ketakutan, dokter Veronica Alvina.'
Aneh, biasanya Daniel langsung ingin melempar para wanita ke atas tempat tidur, tapi kenapa justru melihat Veronica keinginan Daniel berubah meskipun masih terselip keinginan untuk bercinta dengan Veronica.
***
Vernon sedang dalam perjalanan menuju bandara sekarang. Dia mendapat kabar dari Maxwell bahwa private jet untuknya telah siap landas.
Sebagai pemilik maskapai terbesar di negara ini, Maxwell selalu menjadi agen pesawat untuk teman - temannya. Maxwell tak pernah segan untuk memberikan pelayanan terbaik untuk ketiga sahabatnya itu. Bahkan Maxwell menyediakan ‘wanita’ first class disaat sahabatnya meminta 'teman' perjalanan.
"Kau ingin pramugari yang seksi, kawan? Aku akan menyediakannya." tanya Maxwell dari seberang telepon.
"Tidak, aku sedang tidak ingin bermain." jawab Vernon.
Diseberang sana Maxwell terkekeh. "Adikmu sedang lemas? Kau perlu pijatan? Hahaha" tawa Maxwell terdengar.
Vernon berdecak kesal. "Aku hanya ingin tidur nanti."
"Eii, 17 jam di pesawat hanya tidur saja? Kau harus merasakan sensasi play in the air."
"Hem, aku akan mencobanya nanti. Oh iya, aku harap kau tak mengirimkan pramugari genit padaku. Atau aku akan merubuhkan kantormu dalam hitungan detik." ucap Vernon santai tapi bagi siapa saja yang mendengarnya adalah sebuah ancaman besar. Vernon meskipun terlihat begitu santai, tapi ucapannya adalah sebuah ancaman yang akan menjadi kenyataan.
"Its okay, tak perlu mengancam seperti itu. Aku akan menempatkan adikku untuk menemanimu. Tapi ingat! Jangan macam - macam pada adikku!" seru Maxwell.
"Hem, aku tak akan macam - macam pada adikmu. Aku sungguh sedang tak nafsu sekarang." ucap Vernon sebelum mematikan ponselnya ketika dia sampai dibandara.
***
Vernon langsung berjalan menuju pesawat tanpa memedulikan jepretan kamera atau pun teriakan kaum hawa yang melihat karismanya. Hahh, seharusnya dia meminta limousin hingga didepan pesawat saja tadi.
Vernon duduk di salah satu kursi yang berada di dalam kamar. Vernon tak berangkat sendirian, dia berangkat bersama asisten, sekretaris, dan beberapa bodyguardnya yang duduk dikabin tengah.
Vernon baru saja akan terlelap di kursi saat pesawat mulai terbang di ketinggian. Namun, terdengar pintu diketuk dari luar. Itu adalah asistennya yang mengatakan bahwa ada pramugari yang akan mengantarkan makanan.
Vernon mempersilakan pramugari itu masuk, begitu dia melihat pramugari berseragam merah itu, Vernon langsung menelan ludahnya melihat lekuk tubuh pramugari yang merupakan adik kandung Maxwell Addison itu.
"Selamat siang tuan Vernon, saatnya makan siang, kami menyediakan makanan-"
"Kau adiknya Maxwell, kan?" tanya Vernon memotong ucapan pramugari didepannya.
Dengan anggun dan sopan, gadis itu mengangguk. "Benar tuan Vernon." jawabnya seraya menyusun makanan di meja di depan Vernon.
terdiam menatap gerak gerik gadis itu. Vernon tak tahu jika adik Maxwell yang dulunya gendut kini berubah menjadi gadis seksi.
Ahh, Vernon lupa siapa namanya. Vernon hanya mengingat bahwa dulu dia sering mengejek gadis itu karena dia gendut. Vernon ingat pertama kali dia melihat adik Maxwell saat dia memasuki bangku perkuliahan. Saat itu usianya sudah 18 tahun, dan dia mengingat gadis itu masihlah anak ingusan gendut berusia 10 tahun.
"Siapa namamu?" tanya Vernon kemudian.
Gadis itu mendongak menatap Vernon, masih dengan sikap anggun dan ramahnya. "Olivia Addison, tuan."
"Jangan terlalu formal, dan jangan memanggilku tuan! Berapa usiamu?" tanya Vernon lagi.
Olivia meletakkan botol wine setelah menuangkan isinya ke gelas. "Usia saya 22 tahun."
Vernon berdecak kagum melihat perawakan Olivia. Diusianya yang masih muda, tapi Olivia sudah memiliki body goals, dan itu berhasil membangkitkan hasrat Vernon.
Vernon memindai Olivia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gadis itu terlihat anggun dengan rambutnya yang di gulung rapi memperlihatkan leher jenjangnya. Kemeja putih yang dibalut oleh jas merah khas maskapai Addison’s Air dipadu padankan dengan rok span berwarna senada yang memiliki belahan pendek disalah satu sisinya menampilkan paha mulus Olivia.
Aish sial, kemeja itu kenapa tidak dikancing penuh? Apakah Olivia memang berniat untuk menggoda Vernon? Apalagi gundukan di dadanya yang menonjol semakin mempertegas proporsi tubuh seksi itu.
Olivia hendak pamit, tapi Vernon dengan cepat menarik tangan gadis itu hingga dia terjerembab mengukung Vernon. Olivia terkaget apalagi tangan Vernon dengan cepat menarik pinggangnya hingga dia duduk dipaha pria itu.
Vernon menelan ludahnya lagi dan lagi, ketika belahan gadis itu terpampang didepan matanya begitu dekat.
"Kau berniat menggodaku, gadis manis?" tanya Vernon dengan suara serak.
Olivia berontak, dia mencoba mengurai lengan Vernon di pinggangnya tapi tak bisa. Dia semakin tak nyaman ketika bokongnya merasakan sebuah tonjolan dari bawah.
"Tuan apa yang kau lakukan? Tolong lepaskan." ucap Olivia tapi Vernon tak menggubrisnya, dia justru mendekap tubuh Olivia erat.
"Tolong lepaskan, Vernon Harvey! Atau aku akan melaporkan ini pada Kak Maxwell." seru Olivia.
Vernon ingat bahwa seberengseknya Maxwell pria itu tetap menjaga adikknya dengan baik. Vernon tak akan menyentuh Olivia lebih karena tak ingin mendapat hadiah cantik diwajah tampannya.
"Fine, but I want a cup of coffee, bring that, now." ucap Vernon seraya melepaskan dekapannya pada gadis itu.
Olivia langsung berdiri dan merapikan seragamnya, dia masih mencoba untuk bersikap ramah dan profesional pada Vernon. Dia mengangguk sambil tersenyum kemudian pergi, meskipun tak dapat dipungkiri dalam benaknya timbul kekesalan.
Vernon berdesis ketika dia merasakan ngilu pada bagian intinya yang ingin memasuki Olivia. Sial, padahal dia tadi tak bernafsu sama sekali. Dia bahkan berniat untuk langsung tidur. Tapi gadis ingusan gendut itu telah membuat jiwa jantan Vernon bangkit sekarang. Dia harus apa? Dia bisa saja menyerang Olivia sekarang, tapi dia tak mau ambil risiko berurusan dengan Maxwell.
***
Olivia terus mendengus ketika Vernon memaksanya untuk duduk di kursi di depannya. Namun, dengusan itu semakin lama berubah menjadi uapan kantuk.
"Apa kau masih perawan?" tanya Vernon yang duduk diseberangnya.
"Hem, aku masih perawan." begitu Olivia duduk di kursi itu, rasa sopannya pada Vernon selaku penumpang VVIP langsung hilang.
"Benarkah? Aku tak percaya kau masih perawan dengan tubuh seksi dan pakaian yang menantang seperti itu."
"Aku tak peduli kau percaya atau tidak, dan aku tak akan memaksamu untuk mempercayainya." balas Olivia.
Olivia terus menguap, entah kenapa dia merasakan kantuk yang teramat hingga dia pun perlahan terlelap.
Vernon menyeringai ketika gadis yang duduk dihadapannya itu mulai terlelap dalam tidurnya.
Haruskah Vernon membuktikan ucapan gadis itu? Haruskah Vernon percaya bahwa Olivia masih perawan?
"Lets prove it."
Vernon menggendong Olivia dan meletakkannya lembut dikasur. Dia memandangi wajah cantik itu, wajah ramah dan anggun yang kemudian berubah menjadi wajah angkuh dan sinis.
Pria itu menyusuri wajah Olivia dengan tangannya, membelainya seduktif. Kemudian tangan nakal itu mulai mengurai kancing seragam Olivia hingga menampilkan dalaman berwarna merah darah yang menyala. Shit! Vernon semakin ingin memasuki gadis itu.
"Goddam it!" desis Vernon kemudian membuka kemeja serta celana bahannya menyisakan boxer hitamnya.
Seharusnya dia memasukan obat perangsang bukan obat tidur. Sial, Vernon tak suka bermain dengan orang yang tak sadarkan diri. Dia ingin melihat wajah sadar Olivia yang mendesah dibawahnya.
Holy shit! Vernon masih menghargai persahabatannya dengan Maxwell. Jika tidak, mungkin sekarang dia sudah menghentak tubuh wanita yang hanya dibalut pakaian dalam itu.
Vernon ingin melakukan lebih, tapi dia tak bisa. Sehingga kini dia hanya bisa memeluk tubuh itu, mendekapnya erat, dan dia menyelusupkan wajahnya di leher jenjang Olivia.
"Aku akan menahannya sekarang. Aku berjanji akan menyentuhmu nanti, sayang, gadis ingusan gendutku." bisik Vernon sebelum ikut terlelap bersama Olivia yang ada dalam pelukannya.
.
.
.
17 jam berlalu, asisten Vernon mengetuk pintu memaksanya untuk bangun mimpi indahnya.
"Kita sudah sampai, tuan. Anda harus segera bersiap." ucap asisten Vernon yang dijawab anggukan Vernon, setelah dia kembali menutup pintu.
"Kau tidur nyenyak dalam pelukan hangatku, sayang." ucap Vernon saat dia kembali beralih pada gadis cantiknya.
Olivia melenguh ketika merasakan ciuman basah dilehernya. Dia tersentak dan segera mendorong Vernon lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.
"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Olivia mengeratkan pelukan pada selimutnya.
Vernon mengedikkan bahunya sambil menyeringai, pria itu berjalan menuju kursi dan duduk tenang disana sambil memandangi Olivia.
"What do you think about?" tanya Vernon balik santai.
Olivia terdiam sambil merasakan bagian pusatnya yang tak merasakan sakit apapun, itu artinya Vernon tidak menyentuhnya. Namun dia tidak yakin dengan lehernya. Lalu kenapa dia bisa hanya memakai pakaian dalam saat terbangun? Padahal tadi..
"Aku hanya membantumu untuk tidur dengan nyaman, jadi aku melepas seragammu. Jangan berpikiran macam - macam, aku masih menyayangi wajah tampanku." ucap Vernon sambil memakai pakaiannya dan kembali duduk menatap Olivia.
Olivia ingin memakai pakaiannya, tapi Vernon terus menatapnya membuat Olivia urung untuk mengurai selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apalagi? Cepat pakai bajumu? Atau kau ingin aku pakaikan?"
"Pergilah, aku akan memakai pakaianku sendiri." usir Olivia.
"Kau hanya tinggal memakai pakaianmu, setelah itu kita turun bersama." ucap Vernon.
"Tidak! Pergilah!"
Berapa kali pun Olivia mengusir, tapi Vernon tetap pada pendiriannya. Pria itu tetap diam ditempat sedangkan pesawat sudah terparkir rapi sejak tadi di bandara. Mau tak mau Olivia dengan susah payah memakai pakaiannya sembari menutupinya dengan selimut. Sedangkan Vernon malah asyik menonton gadis itu.
"Sampai jumpa lagi, sayang. Akan ku pastikan di pertemuan kedua kita, kau akan menjadi milikku." bisik Vernon yang memeluk tubuh Olivia dari belakang ketika gadis itu tengah bercermin merapikan rambutnya.
Vernon harus mendapatkan Olivia. Dia akan segera memintanya pada Maxwell dan Paman Aron, sebelum kedua pria itu menyerahkan Olivia pada pria lain. Tak boleh ada yang mengambil Olivia darinya.