NovelToon NovelToon
Kisah Cinta Ketua OSIS Dingin Dan Si Gadis Bar-bar'

Kisah Cinta Ketua OSIS Dingin Dan Si Gadis Bar-bar'

Status: tamat
Genre:Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romansa / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Rosma Sri Dewi

Arkana Rafandra Pramana, seorang ketua OSIS di sebuah sekolah bonafit. Ia memiliki wajah yang sangat tampan dan banyak diidolakan oleh kaum hawa. Di samping itu, ia adalah putra dari Arsenio Raymond Pramana, pemilik perusahaan nomor satu di Indonesia. Di saat hidupnya merasa damai, tiba-tiba dikacaukan oleh seorang gadis yang sangat bar-bar. Senja ... ya nama wanita itu adalah Senja. Seorang gadis manis yang merupakan adik kelas Arkana. Senja memiliki pribadi yang ceria dan mampu menarik perhatian seorang Arkana. Namun, sayangnya perjalanan cinta mereka tidak bisa mulus, karena Arkana dijodohkan dengan gadis bernama Hanna, putri dari sahabat papa dan mamanya. Arkana dengan sangat terpaksa menerima perjodohan, karena hutang budi, dimana mamanya Hanna pernah menyelamatkan nyawa mamanya Arkana. Arkana benar-benar dilema, terjebak di antara dua pilihan. Antara cintanya atau balas budi.Apakah, Arkana bisa bersatu dengan Senja? ataukah dia memang ditakdirkan berjodoh dengan Hanna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehebohan Aozora dan Adelia

"Kamu dari mana? Kenapa baru pulang jam segini, Nak?" Arkan yang baru saja masuk, terjengkit kaget begitu mendengar suara Aozora, mamanya. Wanita itu tiba-tiba muncul dari arah dapur. Di tangan wanita yang usianya sudah masuk kepala empat itu, ada segelas kopi, yang Arkan yakin adalah kopi untuk Arsen papanya.

"Maaf, Ma, tadi aku__"

"Astaga, kenapa dengan lenganmu!" pekik Aozora, kaget melihat lengan Arkan yang sudah dibalut dengan kain kasa, dan masih sedikit mengeluarkan darah.

"Emm, tadi aku dicegat begal. Aku melawan, ya, hasilnya begini deh," sahut Arkana yang masih bisa bersikap santai, seakan yang terjadi padanya bukanlah hal yang besar.

"Arkan! kamu masih bisa menjawab dengan santai ya? Kamu tidak lihat wajah mama yang panik, hah! Kalau seandainya tadi kamu tidak selamat bagaimana? Kalau tadi kamu __"

"Ma, sudah deh. Yang penting sekarang aku selamat kan? Jadi, mama tidak perlu khawatir ya," potong Arkana dengan cepat, karena kalau bukan begitu, mamanya itu akan mengomel panjang lebar tak berhenti.

"Ada apa ini? Kok ribut-ribut?" tiba-tiba Arsenio, datang menuruni undakan anak tangga.

Aozora sontak menghambat ke arah suaminya, setelah sebelumnya menaruh gelas berisi kopi ke atas meja.

"Tuh, lihat anakmu! Itu yang kamu ajarkan selama ini. Laki-laki itu harus punya harga diri, laki-laki itu harus berani, lihat, dia melawan begal, Sayang!" oceh Aozora.

Arsenio menoleh ke arah Arkan yang dengan santainya mendarat tubuhnya duduk di sofa.

"Ka, apa benar kamu melawan begal?" tanya Arsen, menyelidik.

Arkan tidak menjawab, akan tapi dia tetap menganggukkan kepalanya.

"Begalnya ada berapa?" tanya Arsen, lagi.

"Emm, kalau tidak salah, begalnya ada sekitar 7 orang deh. Aku juga lupa, Pa," sahut Arkan masih santai, membuat Aozora gregetan.

"Tuh, dengar, begalnya ada tujuh. Sementara anakmu hanya satu. Sumpah, aku gregetan sumpah!" Aozora kembali mengoceh.

"Sayang, sudahlah! Yang penting anakmu masih selamat. Tidak usah berlebihan begitu," tegur Arsen, membuat mata Aozora membesar, mulutnya terbuka, tidak percaya, suaminya masih bisa tetap sesantai itu.

"Arghh, papa sama anak sama aja! Sama-sama tidak waras!"Aozora menghempaskan tubuhnya duduk di sofa, dan memilih untuk diam.

"Di mana ada keributan, pasti di situ ada mama. Kenapa sih, Ma kali ini, ribut-ribut! ini sudah larut malam, lho. Suara Mama buat aku tidak bisa tidur saja!" dari anak tangga terdengar ocehan perempuan remaja yang tidak sadar diri kalau dirinya tidak jauh berbeda dengan Aozora. Sama-sama suka ribut dan bersikap berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

Arkan dan Arsen papanya, hanya silang pandang dan tersenyum penuh makna.

"Tuh, lihat lengan kakakmu terluka, hampir kena begal. Bagaimana Mama tidak panik coba,"

"Apa!" pekik Adelia dengan mata membesar, membuat Arkan dan Arsen menutup telinga. Adelia dengan paniknya berlari menuruni anak tangga dan menghambur ke arah Arkan.

"Kakak tidak apa-apa kan? selain ini yang terluka di mana lagi? Makanya jangan suka keluyuran!" oceh Adelia, mengalahi ocehan Aozora mamanya.

"Arghh, aku pusing! Bisa diam nggak sih? Kali lihat aku bagaimana? kan jelas yang terluka hanya ini saja. Dan paling pipi saja sedikit biru. Tidak ada masalah yang terlalu serius. Jadi, tidak usah berlebihan!" ucap Arkan, jengah. Sementara Adelia, hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

"Papa lihat, lengan kamu sudah dibalut dengan rapi. Apa kamu tadi sempat ke rumah sakit?" Arsen buka suara kembali, membuat perhatian Aozora dan Arsen kembali mengarah ke arah lengan Arkan.

"Tidak Pa. Luka ini hanya dibersihkan dan diobati seadanya,"

"Diobati seadanya? Siapa yang mengobatinya? Tidak mungkin kan kamu sendiri?" sudut alis Arsen naik sedikit ke atas, menyelidik.

"Emm, iya Pa. Tadi ada teman yang membantuku menghadapi begal, dan dia juga yang mengobati lukaku," terang Arkan.

Aozora memicingkan matanya lalu mendekatkan matanya ke arah balutan kain kasa di lengan putranya itu.

"Tapi, kalau dilihat-lihat dari hasil balutannya yang rapi ... yang melakukan ini pasti perempuan. Apa dugaan mama benar?" tatapan Aozora kini beralih dari luka ke wajah tampan putranya.

Arkan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, lalu menganggukkan kepalanya.

"Aku dibantu sama Senja," sahut Arkan.

"Hah? Senja? Kok bisa Kakak dibantu sama Senja? Kamu keluar malam mingguan sama Senja ya?" cecar Adelia, beruntun.

Sebuah sentilan sedikit keras mendarat di jidat gadis remaja itu. Yang tentu saja dilakukan oleh Arkan.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh! Senja ternyata kerja part time jadi pelayan di Cafe, tempat kakak dan teman-temanku sering nongkrong. Dia kebetulan pulang, dan lihat Kakak dikeroyok sama begal, jadi dia bantuin Kakak," terang Arkan, berharap adiknya itu tidak berpikir aneh-aneh.

"Wah, sahabatku ternyata hebat!" sorak Adelia dengan wajah berbinar.

"Senja yang kalian bicarakan itu, teman yang kamu kasih sepeda, tapi dikembalikan lagi itu ya?" celetuk Aozora.

"Iya, Ma. Dia kembalikan karena kesalahpahaman. Tapi, seperti yang sudah aku ceritakan ke mama, kalau kesalahpahamannya sudah selesai. Kamu sudah baik-baik saja. Bahkan semakin berteman baik," tutur, Adelia. Gadis itu begitu semangat kalau menceritakan tentang Senja.

"Senja? Senja itu usia berapa? Apa dia satu kelas denganmu, Ka?" Arsenio kembali buka suara.

"Tidak, Pa. Dia satu kelas dengan Adelia. Dia murid yang mendapatkan bea siswa dan dia juga tidak punya orang tua. Sekarang dia tinggal di rumah Paman dan bibinya," terang Arkan.

"Tapi tunggu dulu! Dia masih berusia sekitar 16 tahun berarti. Dan itu berarti dia masih remaja. Kalau dia memang tinggal di rumah Paman dan bibinya, kenapa dia harus bekerja part time? Sementara biaya sekolahnya kan ditanggung bea siswa?" tanya Arsen lagi, menyelidik.

Raut wajah Adelia sontak berubah sendu.

"Dia sangat kasihan, Pa. Dia bisa makan dan ada uang jajan, kalau bekerja. Kalau tidak, dia tidak dikasih makan sama bibinya. Bahkan, uang hasil kerjanya, sering diambil sama Bibinya itu," terang Adelia.

"Bagaimana dengan pamannya? apa pamannya tahu dan justru membiarkan?" raut wajah Arsen terlihat memerah seakan sedang menahan amarah.

Arkan menggelengkan kepalanya. "Yang aku dengar pamannya bekerja di luar kota. Kalau tidak salah di Jogja, Pa. Kalau pamannya ada, dia akan dimanja, tapi kalau pamannya sudah kembali ke Jogja, bibinya itu baru mengulah,"

"Kalian tahu semua itu dari mana? Apa Senja sendiri yang cerita? kalau iya, bisa saja dia bohong untuk mencari simpati kan?" Aozora menimpali pembicaraan, setelah diam menyimak dari tadi.

"Bukan Senja yang cerita, Ma. Tapi, adik sepupunya," Arkan kemudian menuturkan bagaimana caranya dia bisa mengorek cerita tentang Senja, dari gadis remaja bernam Keysha.

"Brengsek!" umpat Arsen tiba-tiba sembari berlalu pergi, membuat Aozora, Arkan dan Adelia saling silang pandang, heran dengan reaksi pria paruh baya itu.

Tbc

1
Aliandro Nahak
asekkk
urllovergirl✨☘️
🤣👍🏾👍🏾
rahmawaty
si keysa kadang ada baiknya , kadang ada judesnya
Nafisatun Najah
/Curse//Curse//Curse//Curse//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Nafisatun Najah
hhhh
Nafisatun Najah
mammmpyyyuuussss
Rika Hari
c Arkan tdk merasa bahwa c petang hamil simpatik 😊😊
Rika Hari
hamil tuh c petang ☺️☺️☺️
Rika Hari
lusi urg nya kan imut ngapa gak sama kan aja peran laki laki nya dgn zhuyen 😊
Rika Hari
bibik nya c senja seperti ular ber kepala dua d dpan suami nya
Rika Hari
k lau blg Cilla ulat Kekek yg menempel 🤣novel yg aku baca mengejar cinta pak guru
Rika Hari
bukan senja yg gila tapi Hanna yg gila 😂😂😂😂
Rika Hari
wow hebat senja bisa bela diri 👍
Rika Hari
wanita mandiri gitu ya
juwita
mampir
Lismawati Salam
Luar biasa
Nana Sulistiana
Kecewa
Nana Sulistiana
Buruk
Azriel Baxter
Luar biasa
rubyy rubyy
suka visualnya
Anaknya Baba: coba baca novel Poppen kak, siapa tahu sesuai selera kakak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!