21+ 🔥
Monica Alexandra~
Seorang janda muda yang harus terjun ke dunia hitam. Menjadi seorang wanita pekerja malam demi menafkahi anak dan juga ibunya.
21+ Harap bijak dalam berkomentar.
Don't spread with your mouth, what your eyes didn't see!! 🔥🔥🔥
With Love..
Camey smith❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camey smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pikiran
Monica terus menge-cek ponselnya, ia sedang menunggu kabar dari Ken. Bukannya hari ini Ken mengajak dirinya pergi ke Bali? apakah semuanya batal? Monica berdecak kesal karna semenjak Ken pergi kemarin belum juga tahu kabar atau keberadaan Ken.
Jadi gak sih? Ken kemana sih!? Gerutu nya sambil sesekali berjalan mondar-mandir di depan kaca besar yang memperlihatkan indahnya kota dari ketinggian.
Waktu terus berjalan, satu hari.. dua hari.. tiga hari.. Belum juga Ken menampakan batang hidung atau sekedar memberi kabar.
Sementara Monica tampak semakin gusar, khawatir kah? atau rindu mungkin? pikirnya sambil menatap lurus dan mengetukkan jarinya di atas meja membuat sebuah nada abstrak.
Gue susul aja kali yaa? pikirnya lagi.
Tapi kemana dia harus menyusul Ken sedangkan kantor atau rumah Ken saja Monica tidak tahu. Yaa, sampai saat ini Monica belum masuk terlalu jauh dikehidupan Ken, begitupun sebaliknya. Entah apa kata yang cocok untuk menggambarkan apa yang terjadi diantara dirinya dan Ken.
kreeekk!! (suara pintu terbuka)
Monica yang bisa dibilang sedang melamun langsung membulatkan mata untuk memastikan suara yang di dengarnya. Ia pun lantas bangkit dan perlahan menuju sumber suara.
"Keeeenn?" ucapnya tidak percaya saat melihat pria jangkung dan gagah yang baru saja ia pikirkan sudah berada dihadapannya sekarang.
Ken hanya tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya untuk isyarat mempersilahkan pelukan saat melihat ekspresi Monica yang terkejut dan sangat menggemaskan.
Detik selanjutnya Monica langsung berlari dan menghambur ke arah Ken, ia langsung Meloncat ke dalam pangkuan Ken, pahanya melingkar di pinggang Ken dan tanganya sudah di kalungkan di leher Ken dengan erat.
Ken hanya tertawa kecil sambil menerima pelukan wanita-nya itu. Tangannya menahan bokong Monica dan berputar-putar layaknya pasangan yang baru saja bertemu setelah bertahun-tahun berpisah.
"I miss you, Ken.." ucap Monica sambil menghirup aroma tubuh Ken dibalik ceruk leher yang masih di balut kemeja dan jas.
"Really?" jawab Ken sambil mengecup leher Monica.
Setelah saling mengecup kini pandangan mereka bertemu, senyuman itu kembali muncul lagi. Tidak ada cemas atau khawatir lagi sekarang.
Sebelumnya Monica merasa sedikit kesal dan marah karna Ken menghilang, mungkin ia merindukan Ken. Dan saat Ken hadir, semua rasa yang bersarang di dirinya menghilang.
Karna ada segelintir pasangan yang saling merindukan dan menuntut untuk sebuah pertemuan, namun saat waktu itu tiba mereka malah menggunakannya untuk pertengkaran.
Ken perlahan membawa tubuh yang sedang di pangku itu menuju tempat bergulat, apalgi kalo bukan ranjang? Ken terus menghujami Monica dengan kecupan sebelum akhirnya merebahkan tubuh Monica dan beraksi lebih jauh lagi.
Kedua nya saling bergumul menumpahkan rasa rindu. Ada rasa yang menuntut mereka melepaskan gairah yang beberapa hari ini terpendam.
Dengan sekejap mereka terus bercumbu mencari kenikmatan yang tiada akhirnya, meminta terus dan terus.. lagi dan lagi.. lebih dan lebih banyak lagi.
Penyatuan kembali terjadi, desahan dan lenguhan di sela perjalanan menuju puncak ternikmat berdengung tanpa henti menghiasi kegiatan mereka berdua.
Bibir yang terus berpagut, dan lidah yang saling membelit di dalam sana masih sesekali meloloskan desahan dan menuntut untuk ke titik lebih dalam lagi. Hingga akhirnya puncak kenikmatan itu mereka capai.
.
.
.
Setelah kegiatan panas itu berlangsung, kini mereka sedang duduk di kursi yang menghadap ke pemandangan kota dengan di temani segelas wine yang baru saja di tuangkan dari botolnya.
"How your days?" tanya Monica sambil menenggak minuman di tangannya.
"Maaf aku sibuk, sayang.." jawab Ken saat mendengar pertanyaan Monica yang secara tidak langsung menyindir menghilangnya dirinya kemarin.
Monica hanya mengangguk lalu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Monica menghembuskan asap itu berulang di sela keheningan.
"Aku sedang mengejar lawanku! dia sangat licik, aku belum berhasil menangkapnya." Kata Ken.
"Kamu punya musuh?" tanya Monica lagi.
"Tidak. Mereka hanya merasa iri dan tersaingi.. namun cara mereka bersaing sangat tidak sehat!" jawab Ken sambil menenggak wine-nya.
"Salah satu kaki tanganku sedang koma sekarang. Dia di serang oleh sainganku yang tidak tahu diri! Aku bersumpah akan menikamnya dengan tanganku sendiri!" imbuh Ken dengan nada penekanan.
"Sssttt.. jangan mengotori tanganmu, Ken! Dendam hanya akan membuat hidup kamu gak tenang.." jawab Monica sambil menatap ke wajah Ken.
"Aku tidak yakin akan bisa menahan diriku.. apalagi jiga kepar*t itu sudah ada dihadapanku nanti!"
Monica hanya menghela nafas tanpa bisa menjawab ucapan Ken lagi, Ken benar-benar di liputi amarahnya saat ini.
"Dia mencoba mengancurkan ayahku dulu, dan sekarang dia menyerangku juga! Dia mencoba membunuhku.." Ucap Ken sambil menghela nafas dan memejamkan matanya. "Nahas saat itu Kevin yang ada di dalam mobil bersama Alex, dia tertembak. Kepar*t itu mengira aku yang ada di dalam mobil itu.."
Kevin tertembak? ucap Monica dalam hati.
Tanpa sadar saat Ken menjabarkan kronologi masalah yang di hadapinya, Monica membeo dan terus bergumam dalam hatinya.
Artinya Alfian.....
"Heeei.." Seru Ken membuyarkan gumaman Monica yang belum selesai.
"Ah hampir saja aku lupa, siapa nama mantan suami mu itu? biar aku bunuh dua lalat sekaligus. Aku juga tidak akan mengampuninya." sahut Ken lagi.
Tidak.. tidak.. aku gak boleh bilang kalo Alfian adalah Kevin yang sejak tadi Ken ceritakan. Jangan sekarang! mungkin dia tertembak juga sudah cukup sebagai hukuman yang pantas dia terima.. Bathin Monica menghiba.
"Oh..Eh.. Lupakan dulu itu, Ken.. aku gak mau bikin beban kamu makin bertambah." ucap Monica.
"Baiklah, tapi ingat ini. Aku tidak akan mengampuninya sampai kapan pun!"
Mereka pun saling melemparkan senyuman, meskipun hanya senyuman palsu yang menutupi kegaduhan pikiran mereka masing-masing.
Berdosakah jika aku berharap Alfian Mati?
.
.
.
Sorry yak gengs up nya lama, Author lg kurang fit. Semoga suka sama ceritanya, thxyou❤️
Next, ditunggu kelanjutannya.
sana sini sono satu lubang buat rame²