Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.
Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.
Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.
" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.
Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas IPA VS Kelas IPS
Aku dan Inka sedang menggunting kertas bergambar untuk di tempelkan di tugas portofolio kami, ketika salah seorang teman kelas berlari masuk ke dalam kelas dan berteriak cukup heboh.
" Gaes... Ke lapangan futsal sekarang. Kelas ipa dan ips lagi tanding. Seru kayaknya", teriaknya heboh.
" Tanding apa?", tanya Inka mengerutkan kening.
" Tanding futsal. Ayo cepetan", teriaknya lalu berlari lagi keluar kelas.
Aku dan Inka saling pandang, lalu kami ikut berlari keluar dengan teman yang lainnya. Meninggalkan pekerjaan yang harusnya di selesaikan.
Benar saja di lapangan sudah ramai dengan penonton dari berbagai kelas. Kelas IPS memang terkenal paling ribut dan rusuh.
" Go....Go... IPS.. Hajar kutu buku....", teriakan yel-yel mereka yang begitu provokatif tidak membuat kami bergerak dari tempat untuk melawan.
Di tengah lapangan tampak Kana berdiri sebagai kapten kelas IPA dan Tian berdiri sebagai kapten kelas IPS. Mereka sedang berdiri berhadapan mendengarkan arahan dari wasit dadakan.
Setelah arahan Tian mendekati Kana dan mereka seperti membicarakan sesuatu. Tetapi Kana menanggapinya degan sikap sinis.
Lalu pertandingan di mulai.
Sepanjang pertandingan skor mereka saling mengejar dan suara supporter begitu heboh mendukung kelas masing-masing. Terlihat beberapa kali Kana dan Tian saling adu skill dalam pertandingan ini.
Setelah berapa lama permainan berjalan, skor kelas Tian menjadi sedikit lebih unggul 1 poin di banding kelas kami. Dan terjadilah hal yang tidak di inginkan.
Salah satu pemain dari kelas IPA menjegal kaki Tian saat akan mengoper bola. Hal itu membuat Tian terjatuh dan seruan kesal dari suporter. Teman satu tim Tian tidak terima dengan yang terjadi. Maka terjadilah adu mulut dan mencengkram baju di tengah lapangan.
Pertandingan ini berakhir dengan sedikit kericuhan dan saling mengancam. Sampai pada akhirnya kepala sekolah datang dan membubarkan pertandingan dadakan itu.
Semua penonton yang tadi sedang berdiri ramai di pinggir lapangan langsung bubar saat melihat kepala sekolah dan seorang guru muncul sambil meneriakkan kata " bubar semua.. Bubar...".
Hasil akhir dari pertandingan ini adalah hukuman untuk pemain kelas IPS dan IPA. Semua pemain di suruh berdiri di tengah lapangan dengan matahari yang sedang terik-teriknya menerangi dunia.
" Kalian ini, masa main bola saja berantem. Di mana sikap suportif kalian?", kepala sekolah memulai ceramahnya. " Masa kalian berantem sama saudara kalian sendiri? Ini kan sama-sama anak Garuda. Aduh kalian ini", kepala sekolah terus mengomel.
Yang di omelin diam saja, mereka hanya bisa menatap kepala sekolah yang sedang berdiri di tempat teduh dan terus mengoceh sedangkan mereka berdiri tepat di bawah terik sinar matahari siang.
" Pokoknya ke depannya bapak tidak mau lihat ada perkelahian lagi, apalagi kubu-kubu anak IPS atau IPA atau Bahasa. Apapun itu. Berikan contoh yang baik untuk adik kelas kalian dong. Mengerti semua?", teriak kepala sekolah ke arah mereka.
" Mengerti paaaaakkkkkkk", mereka jawab serentak sambil berdoa ceramah ini cepat selesai.
" Ya sudah. Bubar semua", kepala sekolah membubarkan mereka.
Dengan bernafas lega akhirnya mereka berlari kecil masuk ke tempat yang teduh. Aku dan Inka yang melihat mereka dari jarak yang cukup dekat hanya bisa menggeleng.
" Ngapain lagi mereka berkelahi begitu.. Gelo pisan", Ina mengomel seperti kepala sekolah.
Kana hendak berjalan menghampiriku tapi Tian lebih dulu menghalangi jalannya dengan sedikit terpincang-pincang.
" Urusan kita belum kelar", Tian menatap Kana kesal karena kakinya cedera.
" Siapa takut", Kana menjawab sinis.
Tian menatap Kana dengan penuh permusuhan. Lalu sepersekian detik dia memalingkan wajahnya ke arahku dan berkata.
" Hai manis.... Cantik banget hari ini", kata Tian padaku tanpa malu-malu walaupun banyak orang di sekitar kami.
Aku hanya melotot ke arahnya, menyuruhnya diam. Tapi yang di pelototi malah cuek bebek.
" Norak", Kana mencicit lalu berjalan meninggalkan Tian untuk menghampiriku. Lalu saat sudah dekat denganku Kana berbalik ke arah Tian dan berkata. " Dasar pincang", Kana berkata dingin dan terlihat puas dengan apa yang di alami Tian.
Tian hanya bisa menatap Kana dengan tajam dan kesal. " Anak setan", cicitnya cukup keras.
***
Drama Tian pun di mulai. Saat jam istirahat aku menemukan Tian yang duduk di kantin sedang menatapku dengan tatapan yang cukup membuatku mengomel sepanjang jam istirahat.
" Kamu ngapain sih liatin aku kayak gitu mulu. Malu tau ", aku mengomel.
" Habis kamu cantik banget. Suka deh", kata Tian tanpa basa basi.
" Jangan mulai aneh-aneh", aku masih mengomel.
" Ini beneran, kok gak percaya", Tian tersenyum lebar.
Aku melihat Kana yang datang dari arah luar hendak menghampiriku, tepat saat itu Tian maju untuk membisikan sesuatu ke arahku. Tapi karena refleks yang berlebihan dariku, tanpa sengaja aku menendang kakinya yang cedera.
" Aduuhh..... Sakit....", Teriak Tian.
Aku terkejut, Inka juga kaget mendengar Tian menjerit. Beberapa siswa yang duduk di dekat kami menoleh ke arah kami.
" Tian maaf, aku gak sengaja", aku refleks memegang tangannya.
Kana melihat ke arah kami tampak penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
Tian masih meringis, tangan sebelahnya memegang kaki yang aku tendang.
" Awan, kamu tendang kaki dia?", Inka menoleh ke arahku masih sambil mengunyah gorengan.
" Aku gak sengaja, serius. Lagian Tian, kamu ngapain sih bikin gerakan aneh kayak gitu. Kan aku jadi waspada", aku mengomel.
" Iya .. Iyaa... Maaf. Tapi kaki aku sakit banget. Kamu tendangnya kencang sekali", Tian masih meringis ke arahku.
" Aya-aya wae kalian berdua ini", Inka menggeleng heran.
Aku masih kuatir karena Tian terus memegang kakinya. " Gimana dong?", Aku melihat ke arah Inka.
Inka mengangkat bahunya ikut bingung.
" Aku mau balik ke kelas. Kamu bisa kan anterin aku?", Tian bertanya padaku.
" Iya bisa", aku menjawab spontan.
" Ya udah sana Awan anterin Tian. Gado-gado aku masih banyak. Sayang banget di buang", Inka menatap ke arah makanannya.
" Iya deh, yuka aku antar kamu", Aku menyanggupi.
Tepat saat itu Kana datang ke arah tempat duduk kami. Melihat ke arahku yang sibuk membantu Tian berdiri tanpa memandangnya sedikitpun. Tapi saat itu aku memang tidak menyadari kehadirannya sampai dia menegurku.
" Mau ke mana?", Kana memegang lenganku.
" Ha ?", aku berhenti dari aktivitasku membantu Tian dan berbalik ke arah Kana. " Oh hai Kana. Aku mau bantuin Tian kembali ke kelas", jawabku tersenyum.
Kana mengerutkan keningnya sambil menatap Tian. " Emang gak bisa jalan sendiri. Kan cuma pincang ", Kana tidak suka.
" Emmm .... Gimana ya. Aku gak bisa. Hanya Awan yang bisa mengantar juga", Tian merespon kalem.
Kana hendak menjawab tapi aku cepat-cepat memotong perdebatan itu. " Sudah-sudah, gak apa-apa Kana. Aku mau bantu Tian dulu", kataku kepada Kana.
" Yuk Tian", aku memapah Tian pelan.
Tian tersenyum ke arah Kana dengan penuh kemenangan. " Sudah ya. Sana makan gado-gado, sampai kenyang", kata Tian pada Kana.
Yang di ledek hanya menatap tanpa ekspresi ke arah kami.
****