Latizia adalah wanita yang bersuami. Parasnya yang cantik dan nyaris sempurna melekat tapi tak bisa merubah kenyataan rumah tangganya.
Ia harus menerima kepahitan saat melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamarnya sendiri.
Tibalah suatu malam Latizia tak sengaja menyaksikan hubungan panas kakak iparnya bersama istri pria itu.
"Kau pasti juga ingin merasakannya, bukan?!" Desis sesosok pria bertubuh kekar tinggi yang tengah membekapnya dalam kegelapan.
Sejak saat itu Latizia terlibat hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang bahkan lebih bengis dari sang suami. Pria itu menekankan jika hubungan mereka hanya sekedar saling memuaskan dan terlepas dari masalah apapun, pria itu tak ingin ikut campur.
Bagaimana nasib Latizia selanjutnya?! Mampukah ia terus bertahan dengan hubungan terlarang dirinya dengan pria bangsawan itu?!
......
Tinggalin like, komen and subscribe-nya ya say..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau akan membayar semua ini!
Setelah bicara dengan Latizia tadi, Milano akhirnya pergi dan tak tampak lagi di sekitar kerajaan. Sepertinya pria itu sangat sibuk bahkan tak sempat untuk menjahili Latizia yang bersyukur Milano tak menggempurnya lagi.
Karena Milano tak ada, jadilah Latizia bebas melakukan apapun yang ia mau termasuk menemui Ximus yang semalam gagal berunding dengannya.
Pria itu sudah menunggu di dekat labirin bunga mawar yang terus mekar sepanjang hari.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Latizia mendekati Ximus.
Pria itu menoleh padanya. Seperti biasa tatapan Ximus begitu hangat dan sangat bersahabat membuat siapa saja nyaman di dekat pria ini.
"Tidak juga, aku baru saja ke sini. Emm..semalam kau.."
"Maaf, semalam aku ada urusan mendadak jadi tak bisa menemui-mu," Jawab Latizia tersenyum canggung.
Ximus mengangguk paham. Ia memetik setangkai bunga mawar yang mekar di depannya lalu menyodorkan bunga itu pada Latizia yang bingung.
"Ini.."
"Ambilah! Ini bunga yang cantik sepertimu," Ucap Ximus dengan kalimat penuh makna yang cukup dalam.
Latizia diam sejenak. Ia mengambil bunga itu dengan perasaan biasa saja tak ada yang spesial.
"Soal semalam. Apa kau serius ingin bicara bisnis denganku?"
"A..yah, aku butuh pasokan bunga yang indah dari wilayah-mu. Apalagi di kerajaanku akan mengadakan festival yang besar. Jadi kami butuh bunga-bunga yang indah untuk di pertontonkan," Jawab Ximus mengusap tengkuknya canggung.
Ntah kenapa berhadapan dengan Latizia membuatnya jadi gugup dan tak bisa mengendalikan sikap kikuk ini.
Sangat berbeda dengan Latizia yang lebih tenang dan lugas. Wanita bermanik ungu mistik bak kristal bening itu seperti memahami apa yang Ximus katakan.
"Baiklah. Aku sudah menyiapkan beberapa sampel untuk kau lihat. Jika cocok aku akan mengurusnya!"
"Baiklah, tunjukan padaku!" Pinta Ximus berjalan lebih dekat bahkan bahu keduanya bersentuhan.
Latizia membuka ponselnya dan menunjukan beberapa foto bunga yang memang asli berasal dari kerajaanya bahkan hanya bisa tumbuh di tanah subur Garalden.
"Ini, ada bunga Panhtos, Caprichone dan Fresa! Ini tiga sampel yang paling unggul!"
"Ketiganya bagus. Apa kalian bisa merangkainya?" Tanya Ximus beralih memandang wajah cantik Latizia yang mengangguk.
"Bisa. Biasanya para klien yang memesan juga minta di rangkai dulu. Aku sering membantu para pekerja disana untuk membuat desain rangkaian yang di minta."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Seperti bunga mawar ini juga bisa di bentuk agar lebih bernilai," Jawab Latizia memetik beberapa tangkai mawar dengan hati-hati lalu membawanya ke atas bangku taman.
"Tolong pegang ponselku dulu!" Pinta Latizia memberikan benda itu pada Ximus yang berdiri di depannya.
Latizia duduk di atas bangku taman dan mulai merangkai bunga-bunga cantik itu menjadi mahkota. Ia memilih beberapa bunga yang tak berduri lalu mengikatnya sampai membentuk bulatan tapi ini sangat indah.
Tangan lentiknya yang lincah seakan sudah biasa memelintir beberapa tangkai dan memposisikan bunga-bunga itu dengan teratur di pinggirnya.
"Selesai!"
Ximus terkagum. Dalam waktu beberapa detik saja tangkai-tangkai bunga yang tadi tak menyatu sekarang seperti rangkaian yang sangat indah dan rumit. Latizia berdiri dan memakaikan itu ke kepalanya membuat Ximus terpaku kosong.
Senyuman tulus Latizia dengan mata tenggelam karna pipi terangkat manis membuat bingkai di dada Ximus.
"Bagaimana? Ini cantik-kan?"
"Sangat cantik," Gumam Ximus tanpa sadar bicara karna memang Latizia begitu cantik dengan pakaian atau riasan apapun.
Di tambah lagi ia punya keterampilan tangan yang baik.
"Baiklah, kau ingin rangkaian seperti apa?" Tanya Latizia tapi Ximus masih diam tak berkedip memandangnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Latizia memukul pelan bahu Ximus yang segera tersadar langsung berdehem canggung.
"Ehemm...aku memikirkan soal desain rangkaiannya. Yah, desain itu harus romantis atau banyak lagi temanya. Aku kurang paham," Kikuknya gugup.
"Jadi festival itu untuk pameran?"
"Yah, bisa di katakan begitu," Jawab Ximus sudah kembali dalam kendali yang normal.
Latizia mangut-mangut mengerti. Ia sudah memikirkan beberapa desain di kepalanya untuk pesanan kali ini.
"Baiklah, nanti-ku buatkan beberapa desain dan kau pilih sendiri saja."
"Yah, aku rasa itu lebih baik!" Gumam Ximus diam-diam membuka ponsel Latizia sedangkan wanita itu tengah melihat-lihat rangkaian bunganya tadi.
Ximus berbinar saat ponsel wanita ini tak di kunci. Ia pergi mencari nomor ponsel Latizia dan menghafalnya dengan cepat.
"Apa ada yang ingin di bicarakan lagi?"
"A..iya, harganya kau tentukan sendiri. Aku akan bayar sekarang!" Jawab Ximus segera mematikan ponsel itu saat Latizia sudah memandangnya.
"Masalah harga kita sepakati saat desain dan barangnya ada. Kau katakan saja berapa kau ingin membeli!"
"Aku ingin membuat 7 Galery bunga dan 3 Galery rangkaian. Bagaimana menurutmu?"
"Bisa di atur. Aku pergi dulu! Kalau desainnya sudah selesai aku akan menemui-mu," Ucap Latizia mengambil kembali ponselnya lalu menyerahkan rangkaian bunga mawar tadi pada Ximus.
"Baiklah, aku menunggu!"
Latizia mengangguk dan segera pergi. Tapi, belum sempat ia menjauhi Ximus tiba-tiba saja ada rombongan pelayan yang datang mengiring kehadiran Ratu Clorris dan putri Veronica yang tampak sekarat bahkan Ximus terkejut melihat kondisi kulit wanita itu.
"Ibu!! Itu Latizia! Dia pasti senang melihatku seperti ini!!"
"Tenanglah, aku akan bicara dengannya," Ucap Ratu Clorris berjalan mendekati Latizia di dampingi dua pelayan setianya.
"Latizia! Kau tentu tahu apa yang akan ku tanyakan!"
"Tidak, Aku tak tahu! Memangnya ada apa?"
Tanya Latizia pura-pura bingung.
Ratu Clorris ingin berucap lebih pedas tapi karna ada Ximus disini tentu ia tak akan menjatuhkan citranya.
"Nak!"
"Nak? Dia memanggilku dengan kata yang begitu menjijikan," Batin Latizia merasa ngeri dengan perubahan Ratu Clorris.
"Putri Veronica tiba-tiba mengalami penyakit serius. Dokter kerajaan sudah menanganinya tapi masih belum membaik. Dia mengatakan jika kaulah yang meracuninya dan apa itu benar?"
"Tidak mungkin putri Latizia berbuat seperti itu," Bantah Ximus membuat Ratu Clorris menghela nafas.
"Aku juga berpikir seperti itu, Pangeran! Tapi, putri Veronica kekeh mengatakan penyakitnya ini terjadi karna ulah Latizia!"
"Dia sudah biasa menuduh tanpa bukti yang jelas. Dulu dia bilang aku membawa pergi suaminya dan sekarang meracuni tubuhnya. Apa aku se-senggang itu sampai mau merusak hidupnya?!" Gumam Latizia dengan niat mencemari nama putri Veronica.
Apalagi, Ratu Clorris pasti tak akan gegabah di depan Ximus. Wanita ini terlalu licik mencari keuntungan.
"Latizia!! Kau pasti ingin merebut suamiku!! Kau penjahat yang liciik!!"
"Putri Veronica!" Tegur Ratu Clorris membuat putri Veronica emosi antara marah dan menahan gatal di tubuhnya.
"Ibu!! Aku ingin dia di hukum berat atas semua ini!"
"Yang Mulia! Apa kerajaan Madison tak pernah menyelidiki sesuatu sebelum bertindak?" Tanya Ximus terkesan tak suka dan itu memberi respon bahaya di wajah Ratu Clorris.
Latizia tersenyum simpul. Pasti Ratu Clorris akan kalang kabut saat Ximus mulai tak nyaman dengan kebijakan istana.
"Pangeran! Kami akan menyelidiki ini dengan baik."
"Aku harap begitu. Putri Latizia tak mungkin bertindak sekejam yang di katakan putri Veronica. Aku yakin itu!" Tegas Ximus membuat Latizia semakin merasa puas dengan wajah panik Ratu Clorris.
"Ibu!! Dia berencana membunuhku!! Jangan lepaskan bajingan kecil itu!!" Teriak putri Veronica saat Latizia di bawa Ximus pergi.
Sebelum benar-benar menghilang, Latizia mengedipkan satu matanya pada putri Veronica sebagai bentuk penghinaan elagan.
"Latiziaa!! Kau akan membayar semua ini!!!"
....
Vote and like sayang..