NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DOSA DARAH DAN PENGHIANATAN

Hujan turun deras membasahi tanah kekaisaran yang kini berubah merah. Bukan hanya air yang jatuh dari langit, tapi juga darah—darah dari para prajurit yang gugur tanpa ampun. Tubuh mereka berserakan di medan pertempuran, bercampur lumpur dan kehancuran. Di atas reruntuhan menara penjaga, Kaisar Xuanzi berdiri, jubah kebesarannya compang-camping, namun tatapannya tetap menusuk, penuh pertanyaan dan kegelisahan.

Di hadapannya, berdiri Reinzie Laurent—putra bungsunya, namun kini dibalut aura kegelapan. Energi hitam berputar di sekujur tubuhnya, seperti makhluk hidup yang membisikkan kebencian ke telinga Reinzie. Sorot matanya bukan lagi seperti seorang anak kecil, tapi pemberontak yang siap menghunus pedang pada ayah kandungnya.

terlihat reinzie yang di kendalikan oleh energi hitam, kini mulai berbicara “Selama ini... Anda tak pernah datang menghampiri ku, walau hanya sekali saja!” teriak sisi gelap reinzie, suaranya menggema, disertai kilatan petir di langit hitam. Sisa kesadarannya kini mulai hilang

Xuanzi tak langsung menjawab. Dadanya bergetar. Namun sebagai seorang kaisar, ia harus tetap tenang.

“Ayahanda hanya memberimu ujian emosional,” ujarnya dengan nada berat. “Agar engkau tumbuh kuat, tanpa harus bersandar pada kakakmu Kenzie. Dan ayahanda hanya ingin melihatmu menjadi pendekar sejati yang memiliki hati yang baik... karena itulah ayah melakukan semua ini.”

Reinzie mencengkeram dadanya. Energi hitam itu mulai menggeliat lebih buas, seperti hendak melahap kesadarannya.

Saat itu, langkah kaki tergesa mendekat. Kenzie, Chelsea, dan kedua permaisuri—Arcelia dan Yelena—tiba dengan napas memburu. Dua Tetua Suci yang di tugaskan untuk melindungi mereka tak mampu menahan kepergian mereka berempat. Keinginan mereka untuk mengejar Reinzie terlalu kuat, terutama karena firasat buruk telah menyelimuti hati mereka sejak fajar tadi.

“Putraku... Rein! Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” teriak Permaisuri Arcelia, suara ibunya nyaris tercekat di ujung tangis.

Permaisuri Yelena menggenggam lengan Arcelia, berbisik pelan, “Ada yang tidak beres... Reinzie tak lagi sama seperti Reinzie yang kita kenal...”

Reinzie bereaksi dengan teriakan ibunya "ibunda tolong aku!..." teriaknya mulai lemas "Maafkan aku ibunda... Aku tak bisa lagi mengendalikan diriku sendiri"

Kenzie melangkah maju, mata merahnya menyala oleh keprihatinan dan ketakutan yang dalam. “Rein! Kendalikan dirimu! Apa yang sebenarnya terjadi?!... kuat kan dirimu adikku!”

Tubuh Reinzie bergetar hebat. Energi hitam mulai menusuk pikirannya, namun suara kakaknya menembus kegelapan yang menjeratnya. Dengan sisa kesadaran yang hampir padam, ia berteriak, “Kak! Tolong aku!... Aku... aku tak bisa lagi... Aku sudah tak kuat kak...!”

Dan di balik semua itu, berdiri bayangan mengerikan yang seolah menikmati pertunjukan penuh luka itu.

Zatrah.

Wujudnya kabur, namun energi kejamnya tetap terasa. Ia belum bertarung, hanya menonton. Menikmati penderitaan yang ditaburnya.

Tiba-tiba, sebuah siluet muncul dari balik bayangan. Langkahnya perlahan, namun jelas. Suara tawa menggema mendahului kehadirannya.

“Hahaha... aku sangat puas dengan hasil kerja kerasku.”

Semua orang menoleh. Kaisar Xuanzi menyipitkan mata. Seketika, tubuhnya menegang. Ia mengenal suara itu.

Dari dalam bayangan, muncullah sosok pria tua berjubah panjang hitam keungu-unguan. Wajahnya dipenuhi kerut, namun matanya memancarkan kecemerlangan seorang bijak... yang telah menyimpang. Ia adalah Tetua Zarco—tetua pertama dari Tiga Tetua Suci.

“Zarco?” gumam Xuanzi tak percaya. “Kau... kau seharusnya menjaga jalur suci. Di tempat pengasingan...Mengapa kamu ada di sini...?”

Tetua Zarco menyeringai. “Kau selalu percaya bahwa kesucian adalah kunci kedamaian. Tapi bagiku, kedamaian sejati terletak pada kekuasaan.”

Ia mengangkat tangannya. Energi hitam mulai muncul dari telapak tangannya, serupa dengan yang menyelimuti Reinzie.

“Reinzie hanyalah pion. Tapi pion yang... sangat sempurna,” ujarnya sambil melirik ke arah Reinzie. “Ia memiliki darah Kaisar dari dalam dirimu, namun hatinya menyimpan luka. Luka yang kutanamkan sedikit demi sedikit, melalui kata-kata, bisikan,bayangan, dan mimpi buruk.”

Kaisar mengepalkan tangan, namun tubuhnya limbung. Luka dari pertempurannya dengan zatrah sebelumnya masih menguras staminanya.

Kenzie maju, menarik pedangnya, mata merahnya bersinar terang. “Kau yang melukai adikku... Aku tak akan memaafkanmu!”

Tetua Zarco menoleh, senyumnya makin melebar. “Ah, si anak yang tak berguna. Kamu terlalu lemah, Kenzie. Bahkan jika kamu maju dan melawanku sekalipun... hal tersebut tak akan bisa mengubah segalanya .”

Zatrah tertawa lirih. “Pertunjukan ini baru saja dimulai...”..

Tatapan Kaisar Xuanzi membeku. Di hadapannya berdiri lelaki tua yang dahulu ia percayai lebih dari siapa pun, seseorang yang pernah berjuang bersama dengan dirinya di medan perang, bersama sama menyegel mahkluk jahat sisa-sisa dari roh zatrah di Danau Argheral, dan selalu menasihati tentang keseimbangan antara kekuatan dan belas kasih, serta simbol kesucian yang akan membawa perdamaian di dunia.

Tetua Zarco. Dulu dikenal sebagai “Pilar Cahaya Kekaisaran.”

Namun yang berdiri kini bukan lagi cahaya. Ia adalah bayangan paling gelap yang tumbuh dari dalam istana sendiri.

“Kenapa, Zarco...?” suara Xuanzi terdengar lirih, nyaris retak. “Kau pernah berkata bahwa takdir kita adalah menjaga keseimbangan dunia. Lalu mengapa kau justru menyebarkan kegelapan?”

Zarco menatap langit yang menggantung muram di atas kepala mereka. Rintik hujan masih turun pelan, seolah ikut bersedih atas tragedi ini.

“Karena aku pernah percaya,” ujar Zarco pelan. “Aku pernah percaya bahwa keadilan bisa ditegakkan lewat cahaya yang suci, bahwa dunia ini bisa diselamatkan dari kehancuran. Tapi kau tahu apa yang terjadi, Xuanzi? Kau sendiri yang merusaknya.”

“Cukup!” bentak Xuanzi. “Kalau ada dendam padaku, jangan bawa anak-anakku dalam kebusukanmu!”

Zarco terkekeh rendah. “Kau masih belum paham... Ini bukan sekadar tentang kau atau aku. Ini tentang sistem yang kau bangun. Tentang Kekaisaran yang mengutamakan para bangsawannya ‘mereka yang perna memberikan jasa pada kekaisaran’, mengabaikan kejahatan mereka karena status bangsawan, melunakkan hukuman untuk mereka yang berstatus bangsawan!...”

Tatapannya beralih ke Reinzie yang masih berjuang menahan aura hitam yang menggila dalam dirinya.

“Seperti anakmu itu,” bisik Zarco. “Putra dari seorang selir berdarah asing. Yang tak memiliki darah bangsawan. Yang dibesarkan dalam istana tanpa kasih sayang dari ayahnya. Kau tahu apa rasanya hidup seperti itu, Xuanzi? Aku tahu. Karena aku juga pernah menjadi ‘yang tidak diinginkan.’”

Diam-diam, Chelsea mencatat dalam benaknya: Zarco sedang membuka topengnya sendiri... ini kunci memahami kelemahannya.

Zarco mengangkat kedua tangannya ke langit. Dari balik awan gelap, cahaya ungu pekat berputar seperti lubang neraka yang terbuka. Suara-suara samar terdengar—ratapan, jeritan, dan bisikan penderitaan.

“Puluhan tahun lalu,” ucapnya, “aku melihat kematian istri dan anak-anakku di jadikan korban oleh para bangsawan yang tak pernah mendapat hukuman. Kau tahu apa yang dikatakan Istana padaku saat itu? ‘kami tak bisa mengambil tindakan atas kematian mereka.’”

Chelsea terkejut. Bahkan Arcelia dan Yelena menunduk. Mereka tahu bahwa tetua-tetua seperti Zarco bukanlah seseorang yang memiliki garis darah bangsawan. Mereka memiliki masa lalu yang panjang yang penuh luka. Jika bukan karena tetua zarco memiliki kekuatan yang luar biasa, mungkin para bangsawan itu tak akan menghormatinya.

Zarco menatap Xuanzi lurus-lurus. “Sejak saat itu, aku bersumpah. Jika cahaya tak bisa menegakkan keadilan, maka aku akan menjatuhkannya dengan bayangan. Aku bersumpah akan menghancurkan Kekaisaran ini... dan menciptakan dunia baru, tanpa istana, tanpa kasta!”

Kenzie maju selangkah, matanya tajam. “Dengan mengorbankan adikku? Dengan membuatnya menjadi alat untuk kebencianmu?”

Zarco memandang Kenzie. “Adikmu adalah kunci. Ia memiliki dualitas... darah suci dan darah yang kalian semua tak ketahui. dirinya adalah wadah yang paling cocok untuk membuat kehancuran sistem yang kalian jauhi. Dan aku hanya membuka pintu... yang telah Reinzie ciptakan sendiri lewat luka dan kesunyian. ia adalah wadah yang pas untuk membuka segel yang telah kami lakukan pada saat menyegel sisa roh zatrah di danau Argheral.”

Reinzie terisak di belakang. “Aku... aku tak perna melakukan semua itu... aku hanya ingin dekat dengan ayahanda... mendapat perhatian darinya, dan kasih sayang yang tulus...”

Arcelia berlari pergi menuju Reinzie dan memeluk putranya. “Rein... maafkan Ibu... Ibu seharusnya ada untukmu.”

Suasana menjadi hening sejenak. Tapi Zarco hanya menggeleng. “Kata maaf tidak mengubah dunia.”

Tiba-tiba, tanah berguncang.

Zarco tersenyum dingin. “Sudah saatnya perkenalan dimulai. Kegelapan akan membangkitkan kekuatan sejati milik Reinzie dari darah suci yang telah dibasuh oleh kekuatan hitam!...”

Dalam keadaan itu Arcelia bertanya pada anaknya "rein....katakan pada ibunda, sejak kapan semua ini terjadi dan kapan kamu menjadi seperti ini?!." nada suara serak dan penuh kesedihan menggema di telinga Reinzie yang kini di kendalikan oleh energi hitam.

Reinzie menjawab "sejak aku merasakan kecemasan, kesepian dan haus akan pengakuan ayahanda" ucapnya lantang dengan nada sedih dan tanpa menyembunyikan isi hatinya.

Sang kaisar merasa bersalah dengan apa yang telah dirinya lakukan. Akan tetapi alasannya tetap sama ia hanya ingin kedua putranya tetap utuh dan saling mengerti serta saling menyayangi satu sama lain. Ia melakukannya bukan karena tanpa alasan.

Kembali kaisar xuanzi kini bertanya pada zarco "sejak kapan kamu merusak Formasi Penyegel Bintang 13, yang menyegel sebagian sisa roh zatrah di Danau Argheral hingga membuka lubang hitam?!." tanya kaisar dengan meneriaki tetua zarco

"Sejak aku pergi ke pengasingan dan menjauh dari dunia luar!." ujarnya dengan nada suara sinis.

1
Ibar, {iba'rat Askar}
singgungan para petinggi istana yang tak ingin hasil bumi di sembunyikan🤭
Ibar, {iba'rat Askar}
lelucon hirarki para petani menanam hasil panen atau barang untuk di jual kembali jika harga melonjak naik
أسوين سي
💪💪
أسوين سي
💪
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
Ibar, {iba'rat Askar}
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!