Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tamat
"Apa cara ini bakal berhasil?" tanya Vivi di samping Chika.
"Liat aja ntar."
Chika membawa Arsel ke sebuah bioskop yang terletak di salah satu mall di kota Tokyo.
Lampu biokop sudah padam dan film sudah diputar ketika mereka duduk di kursi. Arsel tidak melihat penonton lain di barisannya, mungkin penonton lain duduk di depan, pikirnya.
"Setelah ini, pulanglah dan jangan temui aku lagi," ucap Arsel dingin.
Chika hanya diam dan memandang pemuda di sampingnya.
Tiba-tiba layar besar itu mati dan berganti kumpulan foto dan momen kebersamaan Arsel bersama Chika dan keluarga. Lagu melow mengiringi setiap bagian foto-foto itu.
"Apa-apaan itu?" tanya Arsel.
"Tonton aja sampai habis," kali ini Chika yang mengacuhkan Arsel.
Arsel mendesah berat, tak tahu apa yang sebenernya direncanakan gadis di sampingnya itu. Tapi akhirnya ia memandangi setiap foto kebersamaannya bersama keluarga, dadanya terasa sesak, kerinduan yang mendalam sekarang timbul lagi ke permukaan.
Berulang kali ia berusaha menepis semua rasa sayang itu, berulang kali pula ia berusaha melupakan orang-orang yang pernah ia anggap keluarga.
Tanpa terasa air matanya mengalir. Setiap momen di foto yang diiringi lagu itu terasa begitu indah, Tiba-tiba Klara dan Kyos berdiri dari kursi penonton dua baris di depannya.
Mata Arsel mengerjap berusaha mencerna penglihatannya, apakah masih berfungsi dengan benar atau tidak.
"Mama ... Papa ... Kenapa ... kalian bisa ada di sini?" ucapan itu keluar begitu saja tanpa Arsel sadari.
"Arsel, jika kamu masih berfikir darah lebih penting dari pada kenangan maka jangan pernah kembali pada kami. Tapi jika kamu merasa kasih sayang kami jauh melebihi ikatan darah, kembalilah ... Karena kami sebagai orang tuamu selalu menunggumu," ungkap Kyos.
Sementara Klara tampak memandang Arsel dengan rasa rindu yang luar biasa.
"Tapi aku bukan keturunan kalian," sanggah pemuda itu sembari berdiri menatap mereka.
"Apa itu penting? Apa itu akan menghapus rasa sayang kamu ke kami?" tanya Klara.
Arsel tidak bisa berkata lagi, ucapan Klara benar-benar membuatnya tak bisa menjawab, dalam hati kecilnya dia membenarkan perkataan Klara. Selama bertahun-tahun perasaan sayang Arsel untuk keluarga itu tidak pernah pudar.
Mengetahui Arsel hanya tertunduk dalam diam, Kyos dan Klara mendekat. Ditepuklah bahu Arsel oleh Kyos.
"Keturunan hanyalah hubungan antara DNA ayah dan kebersamaan seorang janin selama sembilan bulan di perut ibu, tapi kamu sudah menghabiskan waktu enam tahun bersama kami dan mewarisi didikan kami, bukankah itu lebih dari cukup?" tanya Kyos bijak.
Air mata Arsel mengalir, selama ini dia selalu menganggap memiliki keluarga adalah keinginan yang tak akan pernah ia dapatkan.
Klara memegang tangan Arsel.
"Keluarga adalah tempat kita kembali, sejauh apapun kamu pergi. Tempat ternyaman untuk pulang adalah keluarga. Bagi kami, kamu adalah keluarga. Pulanglah ke rumah saat kamu rindu, ketika kehidupan di luar begitu berat kami akan selalu berada di sisimu." Klara menggenggam erat kedua tangan Arsel.
"Kalian tidak membenciku?" tanya Arsel di sela sesenggukannya.
"Kenapa membencimu? Setiap anak pernah melakukan kesalahan, dan orang tua akan selalu memaafkannya," jawab Kyos sembari tersenyum.
Mendengar jawaban Kyos, Arsel tak kuasa menahan haru dan langsung memeluk mereka berdua. Chika yang berada di samping mereka ikut meneteskan air mata.
"Kakak nggak kangen sama aku?" tiba-tiba Halim berada tak jauh dari mereka.
Mata Arsel mengerjap, melihat Halim yang tingginya sekarang setara dengan dirinya.
"Halim?"
"Kenapa? Kaget ya sekarang aku lebih ganteng dari kakak," kata Halim sembari mendekat, ia sekarang berumur 14 tahun tapi pertumbuhannya sangat cepat.
Arsel hanya tersenyum sembari mengusap air matanya.
"Jadi ini Kak Arsel, kok ganteng banget sih, Ma." Cinta sudah berada di dekat Arsel tanpa pemuda itu sadari.
Mata Arsel beralih pada gadis berusia sepuluh tahun itu, sangat mirip dengan Chika ketika Arsel meninggalkannya.
"Cinta udah besar ya." Arsel mengusap lembut gadis kecil itu.
"Iya dong, kan Cinta mau jadi artis jadi harus cepet besar dan cantik," kata Cinta dengan tersenyum lebar.
Perkataan manis gadis kecil itu membuat semua orang tersenyum geli, kebersamaan itu telah kembali. Menghapus seluruh luka dan rasa sakit karena merindu selama sepuluh tahun.
Sementara itu Vivi tampak canggung dan hendak pergi, Chika sudah tidak membutuhkannya lagi karena Arsel telah kembali.
Akan tetapi Chika menarik tangan Vivi dan menghantikan hantu itu melangkah. Vivi memandang Chika penuh tanya, tapi Chika tak berkata apapun dan terus menggenggam tangan Vivi sembari ngobrol dengan keluarganya.
TAMAT.
Follow igeh @Ka_Umay8 buat dapet info. makasih banyak.
nyimak aah