Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.
Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?
Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.
Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 35
Hari ini pertama Ray masuk setelah mangkir beberapa hari, Ray menatap malas ke sekeliling ruangan yang terlihat membosankan, belum lagi dosen yang menjelaskan materi yang tak kunjung selesai.
Di lihatnya lagi jam yang melingkar di tangannya beberapa kali, lalu mendengus sebal. Ray ingin pulang dan bertemu Kanaya, entah kenapa perasaannya semakin hari semakin besar pada gadis itu.
Sejenak ia berfikir apakah Kanaya juga merasakan hal sama seperti yang ia rasakan? Atau gadis itu menyukai cowo lain?
"Shit!"
Perasaan ini begitu menyiksa Ray, ia sampai tidak fokus dengan materi yang sedang di terangkan oleh dosennya.
Begitu sang dosen keluar ruangan, Ray segera memasukan bukunya lalu membawa ransel itu di pundaknya. Berjalan sedikit cepat untuk segera sampai di parkiran mobilnya, saat ini ia ingin segera pulang dan bertemu dengan Kanaya. Hanya itu.
Brukk
"Sorry!"
Ray kembali melangkahkan kaki panjangnya melewati cowok berkacamata yang baru saja ia tabrak. Bayu hanya melongo melihat kepergian Ray begitu saja tanpa menghajarnya seperti sebelumnya, dan apa tadi? Maaf? Apa ia tidak salah dengar, seorang Rayhan meminta maaf ? Demi tuhan ini lebih mengerikan dari sekedar angin ribut!.
"Ray!"
Edo mengejar Ray yang baru saja melewatinya, ada apa lagi sama manusia satu itu? Edo mulai menyampingkan akal sehatnya untuk mengerti jalan fikiran sahabatnya itu jauh dari kata normal.
"Wooyy! Buru buru amat si Lo mau kemana?!"
Edo berdiri di samping mobil Ray sebelum pintu itu tertutup sempurna. Ray menatap Edo tajam "Gue mau pulang!" Jawab Ray singkat.
"Bukan nya masih ada 1 mata kuliah lagi?"
"Gue gak peduli" Ray menutup pintu itu keras lalu memutar stir mobilnya dan keluar dari area parkiran itu dengan kecepatan sedang.
Edo mengangkat tangannya ke udara seakan pasrah dengan perilaku Ray, siapa lagi Yang bisa bertingkah seenaknya selain Ray. Anak dari salah satu pemilik saham terbesar di gedung ini.
"Edo"
Edo menoleh ketika namanya di panggil, lalu menarik bibirnya untuk tersenyum. Gadis yang ia sukai sejak lama kini agak sedikit lunak padannya, seperti sekarang gadis itu mencari dirinya dan berjalan mendekat dengan tersenyum manis.
"Gue cari Lo di kantin gak ada, kemana aja sih Lo ?" Ayrin mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kenapa? Lo kangen?"
Bukanya menjawab Edo malah melempar pertanyaan pada gadis itu dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Dihh, ogah!!"
Jawaban itu sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang kini merona merah, ia tidak mengerti kenapa hatinya berdebar jika Edo menggodanya. Berbeda dengan yang ia rasakan pada Ray dulu.
"Gue jemput Lo tar malem." Ucap Edo berbisik di telinga Ayrin lalu berjalan menjauh meninggalkan gadis itu yang termangu. Ayrin mematung di tempat dengan jantung yang berdebar hebat, pengaruh Edo pada dirinya begitu kuat hingga membuat tubuhnya bereaksi lain saat bersama Edo. Sialan!!
****
Sepanjang jalan Ray tersenyum memikirkan Kanaya, ia ingin mengutarakan isi hatinya pada gadis itu. Ya, harus.
Beberapa kali Ray mencoba merangkai kata-kata untuk mengutarakan isi hatinya pada Kanaya, namun semua terdengar berlebihan bahkan dominan alay. CK! Itu bukan gayanya.
Ray melirik bunga mawar di atas dashboard mobilnya dengan senyum yang tak luntur dari wajah tampannya.
'kanaya gue emang bukan cowo yang baik, bahkan kasar sama Lo, dan gue gak seromantis cowok lain. Tapi, satu hal yang perlu Lo tau, Gue tulus sayang sama Lo. Lo mau gak jadi cewe gue?'
Ray merapalkan kata itu bak mantra dukun untuk memikat hati korbannya, sesekali ia melihat pantulan wajahnya di kaca spion mobilnya. Perfect! Keturunan Ferbiano memang tidak ada cela. Cih! Ia menyesal mengakui sebagai keturunan Febriano.
Tanpa terasa mobilnya sudah memasuki area komplek perumahannya, jantungnya terasa berdetak lebih cepat serta rasa gugup yang menyerang membuat Ray mencoba mengatur nafasnya agar tetap terlihat cool.
Netra hitamnya menajam, untuk melihat dua manusia yang sedang berbicara di depan gerbang rumahnya. Apa ia tidak salah lihat? Kanaya sedang berbicara dengan seorang cowok?
Ray mengehentikan mobilnya agak jauh dari tempat Kanaya berdiri dengan cowok itu. Ray mendesah pasrah, tubuhnya terasa lemas hingga menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Interaksi Kanaya dengan cowo itu begitu intens dari caranyq memandang Kanaya, belum lagi saat cowok itu mengacak-acak pucuk kepala Kanaya yang malah tersenyum senang. Sungguh saat ini Ray merasa sesak seperti ada yang menghimpit dadanya, hingga membuatnya sulit bernafas.
"Beg**!!!"
Ray meremas keras stir mobilnya, lalu melajukan mobil itu pelan sambil menoleh kesamping hingga melewati Kanaya dan cowok itu. Tunggu!! Sepertinya ia ingat wajah cowo itu.
Ray memarkirkan mobilnya di pelataran rumah dan menutup pintu mobil itu keras, berjalan mendekat ke arah Kanaya dengan mengepalkan tangannya kuat.
Bugh bugh bugh
Ray memukul perut hingga wajah cowok itu tanpa ampun, bertubi-tubi tanpa ada yang terlewat. Jino yang mendapat serangan mendadak hanya diam tanpa bisa membalas, karena Ray tidak memberi kesempatan untuk membalas.
"Rayy...stop! Udahh"
Kanaya berteriak histeris melihat Ray memukuli Jino tanpa belas kasih hingga darah mengalir di hidung dan sudut bibir Jino, hingga Kanaya nekad berdiri di antara mereka sebagai tameng untuk Jino.
Tangan Ray nyaris mendarat di wajah cantik Kanaya yang pucat pasi sembari memejamkan matanya erat.
"Brengsek!"
Ray meninju udara dengan kesal lalu pergi meninggalkan Kanaya yang justru membatu cowok itu untuk bangkit berdiri ketimbang mengejar dirinya.
Nafasnya memburu serta wajah yang merah padam menahan kesal lalu membuka pintu utama itu dengan keras hingga membuat Raka yang berada di ruang tengah pun berjengit kaget.
"Kenapa Lo?"
Bukan jawaban normal yang terdengar dari mulut Ray, justru suara benda yang jatuh berserakan di lantai. Raka hanya mampu menggelengkan kepalanya maklum. Siapa yang berani membangunkan harimau tidur di siang bolong? Ck!Suatu kebodohan!.
\*\*\*\*
"Gue balik aja Nay, biar di obatin di rumah" Jino menaiki motor sport miliknya.
"Kamu yakin? Aku obatin aja dulu sebentar ya" tawar Kanaya merasa tidak enak.
"Gak usah, bisa mati disini gue, kalo di obatin disini" Celetuknya dengan sedikit kekehan, agar Kanaya khawatir karena merasa bersalah.
"Maafin temen aku ya" ucap Kanaya lagi tulus dengan wajah sedihnya.
"Gue gak yakin dia anggap Lo temen juga, jaga diri Lo baik baik gue pergi dulu" Jino menstater motornya lalu berjalan pelan meninggalkan Kanaya yang terdiam di tempat.
Kenapa Kanaya terlihat begitu dekat dengan cowok itu? Dan setau Ray cowok itu sudah punya kekasih.
"Arkkhh, beg* ***** beg*" Ray meremas rambutnya kuat "kenapa gue mukulin itu cowo sih, Kanaya pasti takut sama gue, dan dia bakal mikir seribu kali buat Nerima gue jadi cowoknya, Bangs**!!"
🍁🍁🍁
Yah gagal deh acara nembaknya😂
Sampai sini dulu yah
Okeh see you😉