NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada yang Hilang

Malam itu Darren memastikan semua lampu sudah diredupkan. Selimut menutup Tafana sampai dada, napasnya teratur, wajahnya tenang. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, memastikan tak ada yang kurang. Air minum di meja, obat terjangkau. Setelah yakin, ia menutup pintu perlahan dan kembali ke apartemennya sendiri.

Langkahnya terhenti.

Yunika berdiri di depan pintu unit, wajahnya pucat tapi rapi, seperti seseorang yang menolak runtuh di tempat umum.

Darren refleks menariknya masuk dan menutup pintu. “Lo bukannya… lagi di rumah sakit?”

Yunika tersentak. “Tahu dari mana?”

Darren menatapnya lama, lalu menghela napas pendek. “Shit. Lo pura-pura?” Nada suaranya turun, dingin. “Ini skenario lo?”

Yunika menegang, lalu menyipitkan mata. “Lo kenal Ravindra?” Ada curiga yang berusaha ia bungkus tenang.

Darren menyeringai tipis. Ada luka kecil di sana. “Iya. Kenapa? Bukan cuma lo yang bisa jadi rubah, Sayang.”

Ia melepas jaket, melemparkannya ke sofa. “Padahal gue sempat khawatir sama lo. Jadi… nyesel.”

Ponsel Yunika berdering. Nama Ravindra menyala. Ia mengangkatnya, suaranya lembut dan terukur. “Halo. Iya. Aku nginep di rumah kerabatku. Kamu jangan khawatir, aku ada yang jagain.”

Jeda.

“Kerabat yang di mana?” Yunika tersenyum tipis, menyengat. “Memangnya kamu tahu apa tentang aku?” Ia menarik napas. “Boleh kan aku minta waktu buat tenang… dari kamu?”

Telepon ditutup.

Darren mendekat, menciumi ceruk lehernya sekilas, senyum menyelinap. “Kerabat, ya?”

Yunika masih menatapnya, kecurigaan belum sepenuhnya luruh. “Cerita. Gimana lo kenal cowok gue?”

Jawaban Darren tak datang sebagai kata. Ia menuntunnya ke arah kamar, gerakannya yakin, menenangkan sekaligus menutup jarak.

“Bukan cuma lo yang boleh punya rahasia,” bisiknya. “Tinggal percayain aja.”

Pintu tertutup. Malam berjalan tanpa saksi.

-oOo-

Hari-hari selanjutnya terasa berjalan lambat. Ravindra seperti kehilangan arah. Ia mondar-mandir, bergerak tanpa rencana, didorong rasa panik yang tak mau ia akui. Kantor Luminara ia datangi lebih dulu, jawabannya singkat dan formal: Yunika ambil cuti sakit. Rumah Yunika menyusul, sunyi, pagar terkunci, tak ada tanda kehidupan. Kekhawatiran menumpuk jadi rasa bersalah yang menyengat.

Di mobil, ia menepuk setir pelan. Bertekad. Ia tak akan mengecewakan Yunika lagi. Ia akan lebih sabar, lebih hadir diam-diam, di balik istrinya sekalipun. Ia menghibur diri dengan logika yang terasa benar saat itu: Yunika perempuan. Tidak boleh dikerasi. Tingkah manjanya harus ditolerir. Bukankah itu bagian dari tanggung jawab?

Sementara itu, Yunika hidup tanpa beban di apartemen Darren. Pakaian disiapkan rapi, makanan tersaji, semuanya ditangani tanpa banyak tanya. Suatu sore, Darren menyandarkan tubuh di ambang dapur, menatapnya lama.

“Lo kenapa nggak sama gue aja sih?” tanyanya ringan, tapi matanya serius. “Ngapain masih ngarepin suami orang? Gue bisa jamin hidup lo. Bikin lo melayang bahagia, kalau lo mau.”

Yunika terdiam. “Entahlah. Mungkin… stabilitas. Jaminan.”

Ia menatap Darren, mengukur. “Gue belum tahu lo siapa. Kerja apa. Uang dari mana. Anak siapa.”

Darren tersenyum, lalu mengulurkan tangan. “Perkenalkan. Darren. Mahasiswa broadcasting Universitas Giandika semester lima. Kerjaan: penyiar radio, pengisi suara cabutan.”

Yunika tertawa kecil dan menjabatnya. “Orang tua?”

Darren menarik tangannya kembali, senyumnya memudar setipis garis. “Emang penting ya gue anak siapa?”

Ia memalingkan wajah. Ada hal yang sengaja ia simpan. Nama keluarga itu—jika terucap—akan membuat Yunika tahu terlalu banyak. Termasuk kenapa ia berada sedekat ini dengan Ravindra.

"Tuh kan, lo nggak bisa kasih gue rasa aman," aku Yunika. "Lo terlalu misterius. Gue masih nggak tahu motivasi lo apa sama gue."

"Tapi lo bisa sampai numpang gini di apartemen gue? Berarti lo percaya sama gue." Darren menggoda dengan seringainya.

"Karena bisa bikin gue nyaman sekarang, belum bisa bikin gue merasa aman untuk kedepannya," jawab Yunika diplomatis.

"Oportunis juga lo," Darren terkekeh. "Boleh lah. Padahal kita sama-sama rubah, udah cocok banget. Lo malah incer suami orang."

"Udah lah bocil, lo siap-siap kuliah sana!" ledek Yunika. "Kerja yang bener, supaya cepet mapan."

"Kalau gue udah mapan, lo mau sama gue?" Darren meminta kepastian.

"Ya lo cari cewek lain kan bisa. Kan pasti banyak yang mau sama lo." Yunika mendorong Darren depan ke pintu unit, seperti mengusirnya.

"Tapi gue maunya lo," ucap Darren, sebelum memagut bibir wanita itu.

-oOo-

Tafana merasakannya lagi. Ravindra selalu ada untuknya, mengurusnya, tapi pikirannya seolah tak hadir. Jiwanya tertinggal entah di mana. Ia tak mau memikirkannya, karena ingin menenangkan diri demi bisa cepat pulih. Tetap saja gelagat suaminya yang kehilangan ketenangannya itu mengganggu pikirannya.

Ravindra menuangkan air panas ke cangkir tanpa melihat skala. Teh meluap, menetes ke meja.

Tafana yang duduk di kursi makan menegakkan punggung.

“Sayang,” panggilnya pelan.

Ravindra tersentak. “Ah—iya.” Ia cepat-cepat meletakkan teko, mengambil lap. Tangannya sigap, gerakannya terlatih, seperti suami siaga yang tak ingin salah. Tapi matanya kosong. Seolah ia sedang mengelap sesuatu yang lain, bukan meja.

Tafana mengawasi tanpa berkomentar. Sejak pulang dari rumah sakit, Ravindra memang selalu ada. Bangun lebih pagi, memastikan obat diminum tepat waktu, mengantar sampai sofa, menata bantal, menyelimuti kakinya. Semua dilakukan sempurna—terlalu sempurna. Seperti daftar tugas yang harus diselesaikan, bukan kebersamaan yang dihayati.

“Tehnya kepanasan nggak?” tanya Ravindra, akhirnya duduk di depannya.

“Nggak kok,” jawab Tafana. Ia tersenyum, berusaha ringan. “Kamu kelihatan capek.”

Ravindra menggeleng cepat. “Nggak. Aku cuma…” Kalimatnya menggantung. Ia menunduk, mengaduk teh yang bukan miliknya.

Di kepalanya, Yunika muncul tanpa izin. Wajah pucat di ranjang rumah sakit. Tangisan yang pecah. Kalimat dokter yang menusuk. Jangan banyak pikiran, atau mentalnya bisa runtuh. Rasa bersalah itu tak mau reda. Ia ada di sini—di rumahnya—bersama istrinya. Tapi separuh jiwanya masih tertahan di lorong RS, di kamar bernomor yang kini kosong.

“Sayang?” Tafana menyentuh punggung tangannya. Sentuhan hangat, nyata.

“Iya,” Ravindra menjawab terlalu cepat. Ia menggenggam balik, kuat, seperti takut Tafana menghilang. “Maaf. Aku melamun.”

Tafana mengangguk. Ia ingin bertanya, tapi memilih diam. Ada sesuatu di mata suaminya—gelisah yang disembunyikan rapi. Ia mengenal Ravindra cukup lama untuk tahu: ini bukan soal pekerjaan. Ini kegelisahan yang lebih personal, lebih dalam.

Ia memalingkan wajah ke jendela. Aku harus cepat sembuh, pikirnya. Supaya semuanya kembali normal.

Ia tak ingin menambah beban. Tak ingin menggali hal yang mungkin hanya akan melukai.

Ravindra berdiri, mengambil piring, lalu berhenti di tengah langkah. Ia lupa hendak ke mana. Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali berjalan.

Tafana melihat punggung itu. Tegak, bertanggung jawab, tapi terasa jauh. Ia tersenyum kecil, meyakinkan diri sendiri.

Mungkin ini cuma lelah. Mungkin ini cuma fase.

Namun di antara detak jam dinding dan aroma teh yang mendingin, ia tahu satu hal: suaminya ada di sisinya, tapi ketenangannya sedang tidak pulang.

-oOo-

Yunika menutup pintu rumahnya perlahan, seolah tak ingin merusak momen. Kunci berputar dengan bunyi klik yang terasa final. Ia berdiri sejenak di ambang, menghirup udara ruangannya sendiri, aroma familiar yang sempat ia tinggalkan beberapa hari. Sepatu dilepas, tas diletakkan di kursi, jaket disampirkan tanpa tergesa.

Rumah ini tidak berubah. Yang berubah adalah dirinya.

Ia melangkah ke ruang tengah, menyentuh sandaran sofa, lalu tersenyum kecil. Bukan senyum lega karena kembali, melainkan senyum puas, jenis senyum orang yang tahu ia baru saja memenangkan satu babak penting.

Ravindra sekarang tidak hanya merasa bersalah padanya. Pria itu kehilangan dirinya. Dan kehilangan, Yunika tahu betul, selalu bekerja lebih efektif daripada kehadiran. Rasa bersalah membuat orang bertahan. Rindu membuat orang kembali.

Ia menuju kamar, membuka jendela, membiarkan cahaya sore masuk. Ponselnya bergetar di telapak tangan. Nama Ravindra muncul sekilas, panggilan tak terjawab. Yunika tidak mengangkatnya. Ia meletakkan ponsel itu telentang di meja, membiarkan layar kembali gelap.

Biarkan dia menunggu, pikirnya tenang. Biar aku jadi yang dicari.

-oOo-

Darren membuka pintu unitnya dengan satu tarikan. Lampu menyala otomatis, menyambut ruang yang terlalu sunyi. Tidak ada tas di sofa. Tidak ada gelas di meja. Tidak ada aroma sampo di udara.

Kosong.

Ia berdiri di tengah ruangan, ransel masih tergantung di bahu. Wajahnya datar, terlalu datar untuk disebut tenang. Ia menoleh ke kamar, lalu ke dapur, seolah masih berharap ada sesuatu yang tertinggal.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan.

Yunika: "Aku pulang ke rumah. Terima kasih mau jadi tempat singgah."

Darren membaca sekali. Lalu sekali lagi. Jarum waktu seperti berhenti di detik itu.

Ia menghembuskan napas pelan, hampir tak terdengar. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih seperti pengakuan yang terlambat.

“Singgah,” gumamnya.

Ia menjatuhkan diri ke sofa, menatap langit-langit. Di luar, lampu kota mulai menyala satu per satu.

Darren memejamkan mata, menyimpan satu fakta pahit di dadanya:

Yunika selalu tahu kapan harus datang.

Dan lebih pintar lagi, kapan harus pergi.

1
Arin
Ternyata kenalan Tafana gak kaleng-kaleng, direktur tempat Yunika bekerja. Jika nanti perselingkuhan terkuak, habislah dia. Semoga di pecat dari tempat kerjanya
amilia amel
yessss...
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
kalea rizuky
lama ketauan cpet donk
kalea rizuky
moga cpet cerai males uda selingkuh tidur bareng jalang ogah klo. balik
nuraeinieni
bagus tuh tafana,kasi pelajaran sama pelakor biar merasa bersalah dan ketakutan.
Ni nyoman Sukarti
lanjut thor.... penasaran nih...😄🤭
nuraeinieni
bagus tuh tafana,bila perlu hampiri mereka dan ucapkan selamat atas selingkuhan mereka.
amilia amel
Alhamdulillah.... Tafana sudah tau dengan mata kepala sendiri
amilia amel
dahlah lepaskan Tafana saja
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
Arin
Kalau memang gak bisa tumbuhin rasa cinta sama Tafana..... udah ceraikan saja. Bersatulah situ sama selingkuhan mu. Biar tau kelakuan cintamu yang suka celap celup sama orang lain juga. Gedeg lihat laki model gini. Bikin naik darah....
nuraeinieni
ayo sierra bantu tafana selidiki hubungan yunika dgn ravind buar mereka terciduk sama tafana.
amilia amel
lepaskan salah satunya, jangan serakah
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅
nuraeinieni
dasar buaya buntung,obral janji,pembohong,bodoh,mau saja di kadalin sama pelakor.
Arin
Suami model gini boleh di getok pake palu gak sih kepalanya. Pura-pura lupa apa memang lupa ada istri dirumah. Kalau memang pilih Yunika, ya harus lepas salah satunya. Jangan main di belakang kayak gini. Perhatian dan semua tindakan sayang dibesarin buat selingkuhan....
amilia amel
jangan sampai Darren jatuh cinta sama yunika.... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Arin
Wanita manipulatif gini di perjuangin hadeuh🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️Ya udahlah namanya juga cinta keblinger. Udah punya istri, masih saja jalan dengan cinta pertama belum kelar
nuraeinieni
semoga saja nih yunika mencerita kan kebohonganya pada darren.
nuraeinieni
bodoh sekali ravindra,terlalu cepat percaya tanpa menyelidikinya,yunika berhasil membodohi ravindra,tp ingat yunika,sepandai pandainya kamu menyimpan rahasia,suatu saay akan terbongkar.
amilia amel
hemmmmm
nuraeinieni
modus ya darren,,,😃menyuruh yunika nginap di tempatmu,,,😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!