NovelToon NovelToon
The Cleaner

The Cleaner

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:35
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di Chicago modern, kekuasaan bukan lagi soal siapa yang paling banyak menembak. Tapi siapa yang paling bersih menutupinya.
​Kenalan dengan Luca Rossi, si Cleaner. Dia bukan tukang bersih-bersih biasa, tapi Consigliere dingin yang jadi otak di balik organisasi mafia Moretti. Dinding kantornya rapi, suit-nya mahal, tapi tangannya berlumur semua dirty work Keluarga—dari pembukuan yang dimanipulasi sampai menghilangkan jejak kejahatan.
​Masalahnya, kini Keluarga Moretti di ambang collapse. Bos lama sekarat. Kekuasaan jatuh ke tangan Marco, si pewaris baru yang psikopat, ceroboh, dan hobi bikin drama. Marco melanggar semua aturan, dan Luca tahu: kalau dia diam, seluruh empire mereka hancur. Dengan bantuan Sofia, istri Bos yang terlihat polos tapi menyimpan banyak kartu, Luca memutuskan satu hal brutal: Ia harus mengkhianati bos barunya sendiri.
​Di tengah rencana kotornya, Luca bertemu Isabella. Dia cantik, pintar, dan vibe-nya langsung nyambung sama Luca yang kaku. Luca akhirnya merasakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: THE GARDEN OF SECRETS (Taman Rahasia)

​Toko bunga "Bloom & Stem" terletak di sudut jalan yang tenang di Lincoln Park, terhimpit di antara bangunan bata merah bergaya Victoria dan butik kopi modern. Di musim dingin seperti ini, kaca jendela toko itu selalu berembun, menyembunyikan keindahan warna-warni bunga di dalamnya dari kejamnya udara Chicago.

​Marcus Thorne mendorong pintu kayu berat toko tersebut. Suara denting bel kuningan menyambutnya, diikuti oleh serangan aroma yang kontras dengan bau knalpot dan aspal di luar—wangi tanah basah, lili, dan mawar segar.

​Seorang wanita tua dengan celemek hijau tua sedang memangkas duri mawar di balik konter. Namanya Martha, pemilik toko yang telah melayani warga Lincoln Park selama tiga dekade.

​"Ada yang bisa saya bantu, Anak Muda?" tanya Martha tanpa mengalihkan pandangan dari bunganya.

​Marcus tidak langsung menunjukkan kartu persnya. Ia belajar bahwa orang lebih terbuka pada percakapan daripada interogasi. "Saya sedang mencari bunga untuk peringatan kematian seorang teman. Saya melihat seseorang mengirimkan mawar putih yang luar biasa ke makam keluarga Moretti minggu lalu. Apakah itu dari sini?"

​Martha mendongak, matanya yang dibingkai kacamata tebal menatap Marcus dengan rasa ingin tahu. "Keluarga Moretti? Oh, ya. Mawar putih kualitas terbaik. Hanya satu orang yang memesan itu setiap tahun, tepat di tanggal yang sama."

​Jantung Marcus berdegup lebih kencang. "Seorang pria? Tinggi, pendiam, dengan tatapan yang seolah bisa menembus dinding?"

​Martha tersenyum tipis, kenangan seolah menari di matanya. "Tuan Rossi. Dia pelanggan lama. Sangat sopan, meski bicaranya sedikit. Dia tidak pernah menggunakan aplikasi atau situs web. Dia selalu datang sendiri, membayar tunai, dan menulis kartu ucapannya di sini."

​Marcus mengeluarkan nota kecil yang ia temukan di amplop cokelat—nota yang ia curigai sebagai kelalaian Luca. "Saya menemukan ini jatuh di dekat makam. Saya ingin memastikan ini miliknya agar bisa saya kembalikan."

​Martha mengambil nota itu, melihat kode transaksi yang tertera. "Ya, ini dari mesin kami. Tapi aneh... Tuan Rossi biasanya sangat rapi. Dia tidak pernah meninggalkan sampah atau nota sembarangan."

​"Dia tampak seperti pria yang sangat menghormati mendiang Marco Moretti," pancing Marcus.

​"Lebih dari sekadar hormat, Nak," bisik Martha sambil mendekat. "Dia tampak seperti seorang putra yang sedang berduka, namun tidak diizinkan untuk menangis di depan umum. Dia selalu memesan mawar yang paling murni, seolah-olah dia sedang mencoba menutupi bau sesuatu yang lain... sesuatu yang pahit."

​Marcus mencatat setiap kata dalam benaknya. "Apakah dia pernah meninggalkan alamat atau nomor telepon?"

​"Tidak pernah. Tapi dia selalu datang dengan mobil hitam yang sama. Dan terkadang, saya melihatnya berdiri di seberang jalan setelah membeli bunga, menatap toko ini seolah-olah dia sedang memastikan tidak ada orang yang mengikutinya."

​Marcus berterima kasih dan keluar dari toko. Di trotoar yang membeku, ia menyadari sesuatu yang krusial. Luca Rossi bukan hanya seorang mesin pembersih; dia adalah manusia yang terikat oleh beban kesetiaan. Dan kesetiaan itulah yang akan menjadi pintu masuk Marcus ke dalam labirin rahasia Moretti.

​Di lantai teratas Moretti Tower, Luca Rossi duduk di kursinya yang tidak berputar, menatap ke arah jendela. Di tangannya terdapat sebuah laporan intelijen yang baru saja diberikan oleh tim keamanannya.

​"Dia mendatangi toko bunga itu dua jam yang lalu," suara Vito terdengar berat dari balik bayang-bayang ruangan. "Dia bicara dengan Martha selama lima belas menit."

​Luca tidak terkejut, namun ada kilatan kemarahan pada dirinya sendiri di matanya. "Aku meninggalkan nota itu di dalam amplop disinformasi. Sebuah kesalahan amatir."

​"Mungkin itu bukan kesalahan, Luca," sahut Vito, melangkah maju ke cahaya lampu meja. "Mungkin di alam bawah sadarmu, kau ingin ditemukan. Kau sudah lelah menjadi hantu."

​Luca menoleh, tatapannya begitu tajam hingga Vito sempat merasa gentar. "Aku tidak punya kemewahan untuk menjadi lelah, Vito. Jika aku ditemukan, Elena jatuh. Jika Elena jatuh, yayasan hancur. Dan jika yayasan hancur, ribuan orang yang kita bantu akan kembali ke jalanan atau mati."

​"Lalu apa yang akan kita lakukan pada Thorne? Dia sekarang punya bukti fisik bahwa 'L.R.'—Luca Rossi—memiliki hubungan emosional dengan Marco Moretti. Itu adalah titik awal untuk menghubungkanmu dengan masa lalu kriminal keluarga ini."

​Luca terdiam sejenak. Ia mengambil sebatang pensil dan memutarnya di antara jari-jarinya. "Thorne merasa dia sedang memegang ujung benang merah. Jika dia menariknya, dia pikir dia akan menemukan mayat. Kita harus memastikan bahwa saat dia menarik benang itu, yang dia temukan hanyalah jalan buntu yang lebih membingungkan."

​"Kau ingin melakukan pembersihan lagi?"

​"Tidak," jawab Luca. "Pembersihan fisik hanya akan membuat Martha di toko bunga itu menjadi saksi yang lebih berbahaya. Kita akan melakukan profiling terbalik. Kita akan mencari tahu siapa yang membiayai Marcus Thorne."

​"Bukankah dia bekerja untuk The Chicago Chronicle?"

​"Gajinya sebagai jurnalis investigasi tidak akan cukup untuk membiayai perjalanan ke Palermo atau menyewa informan tingkat tinggi di Italia," Luca beralih ke komputernya. "Isabella, kau dengar?"

​"Aku sudah di sini, Luca," suara Isabella terdengar dari speaker tersembunyi. "Aku sedang menelusuri rekening pribadi Marcus Thorne. Dan kau benar. Ada aliran dana anonim melalui yayasan hukum di Washington yang masuk ke rekening operasional penelitiannya."

​"Washington?" Luca mengernyit. "Ini bukan lagi soal jurnalisme. Ini soal politik."

​"Tepat," lanjut Isabella. "Dana itu berasal dari komite aksi politik yang berafiliasi dengan lawan terkuat Elena di pemilihan Gubernur mendatang—Robert Sterling."

​Luca menyandarkan punggungnya. Peta permainan kini berubah. Marcus Thorne bukan hanya seorang idealis yang mencari kebenaran; dia adalah senjata yang dipinjam oleh politisi kotor untuk menjatuhkan politisi lain yang mencoba menjadi bersih.

​"Gunakan ini, Isabella," kata Luca. "Jangan cegah Thorne. Biarkan dia menggali. Tapi pastikan setiap bukti yang dia temukan tentang aku, juga terhubung secara rahasia dengan Robert Sterling. Kita akan membuat seolah-olah Sterling sedang menciptakan bukti palsu untuk menjatuhkan Elena."

​Sore itu, Elena Moretti mengunjungi kantor Luca. Ia tidak mengetuk pintu; ia langsung masuk dengan langkah yang menunjukkan ketegangan luar biasa. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru laut yang elegan, namun wajahnya tampak pucat di bawah riasan mahalnya.

​"Luca, aku baru saja mendapat telepon dari tim humasku," kata Elena, suaranya bergetar. "Marcus Thorne mengirimkan draf pertanyaan untuk wawancara eksklusif. Dia secara terang-terangan menanyakan tentang hubungan 'Consigliere pribadi' saya dengan sejarah hitam di Sisilia."

​Luca berdiri, mencoba menenangkan Elena, namun ia tetap menjaga jarak profesionalnya. "Itu hanya taktik gertakan, Elena. Dia tidak punya bukti yang cukup untuk dipublikasikan."

​"Dia menyebutkan tentang bunga mawar putih, Luca!" teriak Elena. "Dia tahu kau mengunjungi makam ayahku. Dia tahu kau menulis kartu ucapan di sana. Kenapa kau begitu ceroboh?"

​Luca menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. "Aku menghormati ayahmu, Elena. Itu adalah satu-satunya ritual manusiawi yang tersisa dalam hidupku."

​"Ritualmu hampir menghancurkan segalanya!" Elena berjalan mondar-mandir di ruangan itu. "Jika pers mencium hubunganmu dengan ayahku di masa lalu, mereka akan merobek-robek kampanye ini. Mereka akan mengatakan bahwa aku adalah boneka mafia."

​"Kau bukan boneka siapapun, Elena," kata Luca tegas. "Aku adalah orang yang memastikan kau tetap bersih. Jika ada lumpur yang terlempar, lumpur itu akan mengenai aku, bukan kau."

​"Tapi kau adalah aku, Luca!" Elena berhenti dan menatap Luca dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dunia melihatmu sebagai tangan kananku. Jika tangan kananku berdarah, maka seluruh tubuhku dianggap berdosa."

​Luca mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang menenangkan. "Aku akan menangani Thorne. Aku akan memastikan bahwa saat dia merilis ceritanya, publik akan melihatnya sebagai serangan politik bayaran dari Robert Sterling. Namamu tidak akan tersentuh."

​Elena menghela napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya. "Kadang aku bertanya-tanya, Luca... apakah kita benar-benar sedang melakukan kebaikan, atau kita hanya sedang membangun istana di atas kuburan?"

​"Dunia tidak peduli pada fondasinya, Elena. Mereka hanya peduli pada atap yang melindungi mereka dari hujan," jawab Luca filosofis. "Tugasmu adalah memberikan perlindungan itu. Tugasku adalah menjaga agar fondasinya tetap tersembunyi."

​Marcus Thorne tidak puas hanya dengan toko bunga. Ia tahu bahwa untuk menjatuhkan orang seperti Luca Rossi, ia butuh sesuatu yang lebih dari sekadar emosi. Ia butuh dokumen.

​Malam itu, Marcus berada di gedung arsip kota Chicago, sebuah bangunan tua dengan langit-langit tinggi dan bau kertas yang melapuk. Ia mencari catatan kepemilikan tanah dan izin usaha Moretti Corp dari tiga puluh tahun lalu.

​Ia ditemani oleh asisten risetnya, seorang gadis muda bernama Sarah yang sangat ahli dalam melacak dokumen fisik yang belum didigitalisasi.

​"Marcus, lihat ini," Sarah menyerahkan sebuah map usang yang berisi izin pembangunan gudang di wilayah dermaga lama. "Izin ini dikeluarkan tahun 1994. Pemohonnya adalah perusahaan bernama 'L.R. Services'."

​Marcus melihat dokumen itu. Tanda tangan di bawahnya sangat mirip dengan inisial "L.R." di nota toko bunga. "Luca Rossi Services. Dia sudah mencuci uang untuk Marco Moretti sejak dia masih sangat muda."

​"Tapi lihat alamat kantor pusatnya, Marcus," Sarah menunjuk ke sebuah alamat di Little Italy. "Alamat itu sekarang adalah sebuah panti asuhan yang didanai sepenuhnya oleh The Elena Foundation."

​Marcus terdiam. Strategi Luca mulai terlihat di matanya. Luca tidak menghapus masa lalunya; dia menumpuk masa depan yang baik tepat di atas masa lalu yang buruk. Dia mengubah tempat penyimpanan senjata atau narkoba menjadi panti asuhan. Dengan begitu, jika siapapun mencoba menggali lokasi itu, mereka akan tampak seperti sedang menyerang sebuah institusi amal.

​"Dia sangat brilian," gumam Marcus. "Dia menggunakan kedermawanan sebagai semen untuk mengubur mayat-mayatnya."

​"Apa kita akan mempublikasikan ini?" tanya Sarah.

​"Belum cukup," kata Marcus. "Jika kita mempublikasikan ini sekarang, Elena akan mengatakan bahwa itu adalah transformasi yang luar biasa dari bisnis lama keluarga menjadi amal yang mulia. Kita butuh bukti bahwa kejahatan itu masih berlangsung. Kita butuh bukti bahwa Luca Rossi masih melakukan 'pembersihan' hari ini."

​Marcus mengambil kameranya dan memotret dokumen itu. Ia merasa dia sedang mendekati pusat labirin. Namun, yang tidak ia sadari adalah bahwa setiap langkah yang ia ambil di dalam gedung arsip itu terekam oleh kamera pengawas yang telah diretas oleh Isabella.

​Luca memutuskan bahwa ia perlu bertemu dengan Marcus Thorne. Bukan untuk mengancam, tapi untuk mengukur kedalaman air yang sedang ia hadapi.

​Malam berikutnya, Marcus sedang duduk di sebuah bar tua yang remang-remang di West Side, tempat para jurnalis biasanya berkumpul untuk bertukar info. Bar itu berbau bir tumpah dan asap rokok lama.

​Tiba-tiba, kursi di sebelah Marcus ditarik. Seorang pria duduk di sana tanpa memesan minuman. Marcus tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma parfum kayu cendana yang mahal dan aura dingin yang memancar sudah cukup memberitahunya.

​"Wangi mawar di Bloom & Stem sangat menyenangkan di musim dingin, bukan, Tuan Thorne?" suara Luca terdengar halus, hampir seperti desiran angin.

​Marcus tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia menyesap wiskinya. "Saya lebih suka bau kertas tua di gedung arsip, Tuan Rossi. Baunya lebih jujur."

​Luca tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan. "Kejujuran adalah konsep yang mewah di kota ini. Terutama bagi seseorang yang penelitiannya dibiayai oleh Robert Sterling."

​Marcus tertegun sejenak. Ia mencoba menjaga ekspresi wajahnya. "Saya bekerja untuk publik, Rossi. Siapa yang membayar biaya operasional saya tidak mengubah fakta yang saya temukan."

​"Fakta bisa dipelintir, Tuan Thorne. Anda seorang jurnalis, Anda tahu itu lebih baik dari siapapun," kata Luca sambil menatap botol-botol minuman di depan mereka. "Jika Anda merilis cerita tentang mawar putih atau panti asuhan di Little Italy, Anda hanya akan terlihat seperti alat politik Sterling untuk menjatuhkan seorang wanita yang benar-benar mencoba memperbaiki kota ini."

​"Dan Anda adalah orang yang memastikan dia terlihat suci, bukan?" balas Marcus tajam. "Berapa banyak nyawa yang harus Anda 'bersihkan' agar Elena Moretti bisa tidur nyenyak di malam hari?"

​Luca menoleh, menatap langsung ke mata Marcus. Di bar yang remang-remang itu, mata Luca tampak seperti sumur hitam tanpa dasar. "Saya tidak membunuh orang yang tidak bersalah, Tuan Thorne. Saya membersihkan kekacauan yang ditinggalkan oleh orang-orang seperti Sterling. Jika Anda terus menggali, Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang tidak ingin Anda lihat—bahwa pahlawan yang Anda bela sebenarnya lebih kotor daripada hantu yang Anda buru."

​"Itu ancaman?"

​"Itu peringatan profesional," Luca berdiri. "Lanjutkan penelitian Anda. Tapi ingat, setiap kali Anda menarik benang merah itu, pastikan Anda siap menghadapi apa yang ada di ujungnya. Kadang, kebenaran tidak membebaskanmu; ia hanya memberimu beban yang tidak bisa kau tanggung."

​Luca berjalan keluar dari bar, meninggalkan Marcus dalam keheningan yang menyesakkan. Marcus menyadari bahwa Luca Rossi tidak takut padanya. Luca justru sedang menantangnya untuk masuk lebih dalam, yakin bahwa labirin yang ia bangun akan menelan Marcus hidup-hidup.

​Di Berlin, Isabella menerima laporan dari Luca tentang pertemuan di bar. "Dia tidak akan berhenti, Luca. Marcus Thorne tipe pria yang justru akan semakin bersemangat jika diperingatkan."

​"Aku tahu," jawab Luca melalui telepon satelit. "Itulah sebabnya kita akan menggunakan kartu terakhir kita. Isabella, aktifkan 'Project Mirror'."

​Isabella terdiam sejenak. "Project Mirror? Itu sangat berisiko, Luca. Jika itu gagal, seluruh jejak digital kita akan terekspos."

​"Kita tidak punya pilihan. Kita harus memberikan Thorne target yang lebih besar dari aku atau Elena. Kita harus memberinya Robert Sterling."

​Project Mirror adalah sebuah operasi yang dirancang oleh Isabella dan Luca bertahun-tahun lalu. Mereka telah mengumpulkan bukti-bukti korupsi Robert Sterling—bukti yang asli, namun mereka menyimpannya sebagai senjata pamungkas.

​Rencana Luca adalah mengirimkan bukti-bukti korupsi Sterling kepada Marcus Thorne secara anonim, seolah-olah bukti itu berasal dari orang dalam Sterling yang berkhianat.

​"Jika Thorne menerima bukti itu, dia akan dipaksa untuk memilih," jelas Luca. "Menulis tentang mawar putih dan panti asuhan yang legal, atau menulis tentang skandal korupsi jutaan dolar yang melibatkan dana publik oleh Robert Sterling. Dia seorang pemburu Pulitzer. Dia tahu mana yang akan menjadi berita utama."

​"Dan jika dia tetap memilih untuk mengejarmu?" tanya Isabella.

​"Maka dia benar-benar seorang pahlawan," kata Luca dengan nada dingin. "Dan pahlawan biasanya tidak bertahan lama di Chicago."

​Marcus Thorne kembali ke apartemennya larut malam. Ia merasa lelah, namun pikirannya terus berputar. Kata-kata Luca Rossi di bar terus terngiang di telinganya. Apakah dia benar? Apakah aku hanya alat politik?

​Saat ia membuka pintunya, ia menemukan sebuah amplop besar berwarna hitam terselip di bawah pintu. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan: "Kebenaran yang Anda cari tentang Robert Sterling."

​Marcus membuka amplop itu di meja makannya. Di dalamnya terdapat bukti-bukti transfer bank, rekaman pembicaraan rahasia, dan dokumen kontrak fiktif yang dilakukan oleh Sterling. Ini adalah materi yang jauh lebih besar, jauh lebih eksplosif daripada apa pun yang ia temukan tentang Moretti.

​Marcus terduduk lemas. Ia menyadari posisi sulit yang ia hadapi. Jika ia mempublikasikan ini, ia akan menjatuhkan Sterling dan secara otomatis mengamankan kemenangan Elena Moretti. Ia akan menjadi pahlawan di mata publik, namun di dalam hatinya, ia tahu dia baru saja dimanipulasi oleh The Ghost.

​Luca Rossi telah memberinya pilihan yang mustahil: Menjadi jurnalis yang jujur namun menghancurkan karier orang yang ia curigai, atau menjadi jurnalis yang sukses namun menjadi bidak dalam permainan sang pembersih.

​Di luar jendela apartemennya, salju mulai turun kembali, menutupi jalanan Chicago dengan lapisan putih yang murni—sama seperti cara Luca Rossi menutupi dosa-dosanya dengan kedermawanan.

​Marcus Thorne menatap dokumen itu, lalu menatap foto Luca Rossi di papan dindingnya. Pertarungan antara tinta dan abu belum berakhir, namun untuk pertama kalinya, sang jurnalis merasa bahwa bayangan Luca Rossi jauh lebih besar daripada lampu yang ia bawa.

​.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!