Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
"Pagi sayang." Satu kecupan hangat mendarat di bibir Silvi saat Silvi membuka matanya di pagi hari yang menjelang siang itu.
"Pagi?" Silvi mengernyitkan dahinya melihat matahari yang telah bersinar terang menerobos tirai jendela.
"Iya, pagi menjelang siang." Andika kini membantu Silvi duduk. "Sarapan sudah siap. Makan dulu yuk. Kamu pasti lapar, semalam hanya makan sedikit."
Silvi menatap tubuhnya, dia sudah memakai piyama kimononya. Seingat dia, dia langsung tertidur setelah melewati malam hangat bersama Andika.
"Semalam aku pakaikan karena kamu kedinginan. Padahal AC nya juga sudah aku matikan." Kemudian Andika mengambilkan segelas susu hangat untuk Silvi. "Diminum dulu lalu kita sarapan."
"Aku mau mandi dulu." Silvi kini meminum susu itu sampai habis.
"Gak papa, langsung sarapan aja soalnya makanannya nanti dingin. Nanti kita mandi bareng lalu check out. Aku punya satu kejutan buat kamu."
Silvi hanya menatap Andika dengan binar matanya.
"Ayo, malah bengong."
Kemudian mereka turun dari ranjang dan duduk di rooftop sambil menikmati sarapan mereka dengan udara yang sejuk.
"Aku lapar banget." Silvi langsung menyantap makanannya dengan lahap.
"Dihabiskan ya. Aku tadi pesan menu lengkap."
Tak banyak obrolan saat mereka makan. Silvi sibuk dengan makanannya. Hanya beberapa menit semua makanan itu telah tandas tak tersisa.
Andika hanya tersenyum melihat ekspresi Silvi yang kekenyangan. Dia menggeser tubuhnya lalu merengkuh pinggang Silvi. "Perut sudah tidak lapar. Tenaga juga sudah pulih, kita mengulangi sekali lagi yuk di kamar mandi." Jemari Andika membelai lembut leher Silvi. Ada beberapa tanda merah di leher itu yang berhasil dia ciptakan semalam.
Silvi hanya memejamkan matanya merasakan sentuhan Andika. Bibir lembut Andika kini kembali mengecup bibirnya.
"Sayang, ayo." Andika mengangkat tubuh Silvi dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
...***...
"Mas, kenapa mata aku ditutup?"
Sebelum turun dari mobil, Andika memang sengaja menutup kedua mata Silvi. Dia ingin memberi kejutan padanya. "Kan, aku mau kasih kejutan buat kamu."
Andika membantu Silvi turun dari mobil lalu menuntunnya masuk ke sebuah ruangan yang luas dengan kaca-kaca yang besar. Setelah itu Andika membuka penutup mata Silvi.
Mata Silvi membulat, seketika dia menutup mulutnya saat melihat kejutan yang diberikan Andika. "Mas, ini..."
"Sanggar tari untuk kamu kelola."
Silvi memutar tubuhnya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sanggar yang luas disertai kaca besar di tiga sisi itu. "Mas, katanya masih mau cari tempat."
"Sebenarnya, aku hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk memberi kamu kejutan ini." Andika kini memeluk Silvi dari belakang.
Silvi masih menatap kagum ruangan yang luas itu. Satu impiannya kini telah terwujud.
"Gimana? Masih ada yang kurang. Nanti aku suruh orang untuk memperbaiki."
Seketika Silvi membalikkan badannya dan memeluk Andika dengan erat. "Ini sudah lebih dari cukup. Sangat bagus. Makasih, Mas."
"Iya, jangan lupa nanti bagi hasil," kelakar Andika. Dia ingin selalu membuat istrinya tersenyum.
"Iya, nanti hasilnya aku kasihkan semuanya sama Mas Dika sampai balik modal."
"Bercanda sayang. Semua yang aku miliki itu buat kamu."
Silvi melepas pelukannya lalu berjalan menyusuri tempat itu dari sudut ke sudut. Dia sudah membayangkan, bagaimana dia akan mengajar di tempat itu. Mengajari anak-anak menari. Mengenalkan tarian daerah pada para remaja juga. Pasti sangat menyenangkan.
Andika kini menghidupkan musik lalu menghampiri Silvi.
"Tango Dance.. " Andika mengulurkan tangannya pada Silvi.
Silvi meraih tangan Andika dan mulai bergerak mengikuti musik yang cepat itu.
"Aku udah lama gak gerak gini. Energi aku habis sejak sama Mas Dika."
Andika tertawa lalu memelankan gerakannya. Dia kini melingkarkan tangannya di pinggang Silvi. "Setelah ini, jangan menangis lagi ya. Jangan ada air mata di antara kita."
Silvi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka saling bertatapan lekat dan penuh cinta. Andika sudah membuktikan padanya bahwa dia benar-benar telah berubah dan sangat menyayangi Silvi.
Semoga saja kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran buah hati mereka suatu hari nanti.
💕💕💕
.
ditgg karya selanjutnyaaaa