Safia hampir kehilangan kehormatan hanya karena percaya pada lelaki. Kejadian itu menjadi tamparan keras agar Safia berubah jauh lebih baik. Perempuan itu memutuskan berhijab dan fokus memperbaiki diri.
Mengingat manager lama tim keuangan sudah pensiun, pihak perusahaan mengirimkan manager baru yang ditarik dari kantor cabang. Akhmar, pemuda yang sangat menghormati wanita. Bekerja keras untuk kesembuhan sang ibu yang terkena penyakit gagal ginjal. Akhmar bekerja sebagai atasan Safia, mereka sering terlibat interaksi. Terlebih sikap Akhmar yang tegas dan disiplin, sedangkan Safia sering ceroboh dan pelupa.
Bisakah keduanya damai dalam satu atap ketika bekerja?
Bagaimana Safia bisa tahan dengan kedisiplinan dan sikap tegas Akhmar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menganggap Teman
"Kamu belum tau?" Lily bertanya pada Safia.
Safia menggelengkan kepala. "Tentang apa?" Jelas-jelas dirinya baru saja sampai, tentu tidak tahu apa-apa. Belum sempat Lily menjawab, terlihat Maria keluar dari ruangan Akhmar dengan wajah menunduk.
"Lihat siapa yang sok belain orang, tapi ternyata pelaku utama," sindir Lily.
Safia semakin sulit memahami keadaan. Menatap Maria yang semakin mendekat ke arah mejanya.
"Benar-benar nggak bisa ditebak," kata Doni.
Safia seketika menghampiri Maria yang sudah ada di mejanya. "Mar, ini ada apa sebenarnya?"
Maria diam. Menunduk seolah malu.
"Cepat jelasin!" Lily setengah membentak.
Semua pandangan mengarah pada Maria seakan wanita itu adalah buronan.
"Apa perlu kita yang bongkar!" Lily terlihat semakin kesal.
"Lily, tolong tenang sebentar. Kasih waktu Maria biar bicara!" sentak Safia. Tatapannya masih fokus pada Maria. Semakin diamati, semakin sulit memahami.
Semua orang diam. Keadaan juga hening, menunggu Maria membuka mulut.
"Mar, apa kamu bisa menjelaskan? Aku nggak tau apa yang terjadi di sini, tapi mereka seperti menyindir kamu. Kita teman bukan?" Safia terus merayu. Berusaha membuat Maria nyaman yang akhirnya menggiring perempuan itu untuk membuka mulut.
Maria masih diam beberapa menit, lalu memberanikan diri mengangkat kepala. Pandangannya hanya berfokus pada Safia, bukan orang lain. "Aku dipecat, Fia."
Kalimat pendek yang berhasil membuat kedua mata Safia membesar. "Apa, dipecat?" Safia bertanya balik. Kabar mengejutkan di pagi hari cukup membuatnya tak berkutik sama sekali. Kenapa? Bukankah Maria adalah pegawai yang paling rajin di antara semuanya?
"Kenapa bisa? Apa kamu melakukan kesalahan?" Safia masih belum percaya. Maria juga menutup mulut lagi. Bahkan Maria sekarang mulai mengemas barang-barang di meja.
Lily mendekati Safia, berdiri di samping dan berkata, "Kamu akan terkejut kalau tau alasannya." Tangan kanan Lily berada di pundak Safia.
Semua karyawan membubarkan diri. Jam kerja sudah tiba.
"Sebenarnya apa alasan kamu dipecat, Mar? Coba bilang. Kita ini teman." Safia masih ingin mendengar hal itu langsung dari Maria. Bisa saja bertanya pada Akhmar langsung, tetapi Maria adalah sahabat terbaiknya.
Semua barang sudah masuk ke kardus. Maria kembali menatap Safia. "Mungkin cuma kamu yang menganggap aku teman, tapi aku tidak!" Dengan sedikit penekanan, Maria mengatakan hal itu.
Safia tersentak, sedangkan Lili santai.
"Seharusnya orang sepertimu itu nggak pantas punya teman sebaik Safia!" Lily kian kesal.
Belum ada reaksi apa pun dari Safia. Entah mimpi apa semalam sehingga dirinya mendapatkan kejutan luar biasa di pagi hari. Padahal kemarin semuanya tampak biasa saja. Dalam sekejap mata, bisa berubah tanpa meminta persetujuan.
Maria menyunggingkan senyum kecil. "Dia saja yang terlalu lugu. Seharusnya dia bisa membedakan orang, bukannya dia sudah dewasa sama seperti kita?" Maria mengangkat kardus. Berjalan melewati meja serta Safia yang masih saja diam.
Setelah Maria berada satu meter darinya, Safia baru membuka mulut. "Apa ini ada hubungannya dengan gosip itu?" Otak Safia terhubung ke sana. Setelah dipikir lebih matang, Akhmar adalah orang yang cerdas dan selalu hati-hati dalam bertindak. Akhmar tidak mungkin memecat seseorang tanpa alasan kuat yang sudah tidak bisa dimaafkan.
Safia membalikan badan dengan dada yang mulai sesak. Menatap lekat punggung Maria. "Apa kamu pelakunya, Mar?" Tanpa ragu lagi, Safia Langsung mengatakan isi hati.
Kerjaan siapa la ini?(ya Author laa🤭🤣)🙏
Buat Babangku mumet aja...
Lanjutttt Kak Semungut!!🥰💪
Dengar gak???😂😂🤣
Sing sabar yoooo
Lanjutttt kak.....😘🥰💪
akhirnya up lagi😍 next
Kpn up nya nih???
Kangen Akhmar.....
Jgn marah marah mulu..
Nnti cpt tuiirrrr.. 😊💪
Akhmar terlalu dalam.....🤔🤕
Lanjuttttt Thor 💪🏃
La
MaasyaAllah Akhmar...
Gentle Kerreeenn......
😍😍🌹💪