NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Kabar tentang obat Arga tidak keluar ke media.

Bima menahannya.

Ratna juga menahannya, tentu dengan alasan berbeda.

Namun di dalam keluarga Pradipta, berita itu menyebar lebih cepat daripada undangan pernikahan. Pagi berikutnya, semua orang sudah tahu bahwa rumah Arga tidak lagi berada di bawah kendali Ratna. Semua laporan harus melewati Alya. Dokter Hamzah diberhentikan sementara. Marni kehilangan hak mengatur kamar utama.

Bagi orang luar, itu hanya perubahan rumah tangga.

Bagi orang Pradipta, itu kudeta kecil.

Marni berdiri di ruang tengah dengan wajah seperti orang baru menerima vonis. Di depannya ada seluruh staf rumah. Sari, Lilis, Yusuf, Andi, Joko, dua asisten kebersihan, dan seorang tukang kebun yang tampak bingung kenapa ia juga dipanggil.

Alya berdiri di depan mereka.

Arga duduk di kursi dekat jendela ruang tengah. Ia tidak perlu hadir, tetapi ia memaksa turun. Mungkin karena ingin melihat siapa yang selama ini lebih takut kepada Ratna daripada dirinya.

"Mulai hari ini," kata Alya, "rumah ini punya tiga aturan."

Tidak ada yang berani bicara.

"Pertama, semua makanan, obat, dan kunjungan dicatat. Siapa yang membawa, jam berapa, dari mana, untuk siapa. Tidak ada barang masuk tanpa catatan."

Sari mengangguk cepat.

"Kedua, semua telepon dari rumah utama atau pihak luar yang memberi perintah terkait Arga harus dilaporkan. Bukan diminta izin, dilaporkan. Aku akan memutuskan apakah ditindaklanjuti."

Yusuf melirik Marni.

Alya melihatnya. "Kalau kalian masih menganggap Bu Marni atasan tertinggi, silakan bicara sekarang."

Tidak ada yang bicara.

Marni menahan malu.

"Ketiga," Alya melanjutkan, "tidak ada yang masuk kamar Arga tanpa izin. Termasuk Bu Ratna. Termasuk keluarga Wiratama. Termasuk dokter."

Marni akhirnya tidak tahan. "Nyonya, saya perlu mengingatkan, Tuan Arga masih putra Pak Bima. Rumah ini milik keluarga Pradipta."

"Dan Arga tinggal di sini."

"Tapi--"

"Bu Marni." Suara Arga terdengar pelan.

Marni langsung menoleh. "Iya, Tuan."

"Kamu keberatan dengan aturan istriku?"

Wajah Marni memutih.

"Saya hanya ingin rumah berjalan baik."

"Rumah ini berjalan baik untuk siapa?"

Marni membuka mulut, lalu menutupnya.

Arga bersandar. Napasnya belum kuat, tetapi ucapannya jelas. "Dua belas tahun kamu bekerja di sini. Kamu tahu aku tidak pernah sarapan dengan benar. Kamu tahu setiap malam aku diberi obat yang membuatku tidak bisa berpikir. Kamu tahu laporan yang masuk ke ayahku tidak lengkap. Sekarang kamu ingin rumah berjalan seperti dulu?"

Marni menunduk dalam. "Maaf, Tuan."

"Jangan minta maaf kalau besok kamu mengulanginya."

Alya menatap Arga sekilas.

Ia belajar cepat.

Bagus.

Setelah staf dibubarkan, Marni tetap berdiri.

"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Alya.

Marni menelan ludah. "Saya ingin tetap bekerja."

"Kenapa?"

"Saya butuh pekerjaan."

"Jawaban jujur. Aku suka."

Marni tampak tersinggung, tetapi menahan diri.

"Kalau kamu ingin tetap bekerja, berhenti menjadi telinga Ratna. Kamu boleh melapor ke Pak Bima sesuai instruksi. Tapi kalau aku menemukan satu laporan rahasia ke Ratna tentang obat, jadwal dokter, atau kondisi Arga, kamu keluar hari itu juga."

"Bagaimana kalau Nyonya Ratna yang menelepon saya?"

"Angkat. Rekam. Kirim kepadaku."

Marni terkejut. "Itu tidak sopan."

"Memberi obat tanpa catatan kepada orang sakit juga tidak sopan."

Marni diam.

Arga tertawa kecil dari kursinya.

Alya menoleh. "Ada yang lucu?"

"Tidak. Aku hanya menikmati cara kamu mendefinisikan sopan."

"Kamu juga perlu belajar."

"Aku pasien."

"Pasien tidak kebal dari belajar."

Marni melihat mereka berdua seperti melihat bahasa asing. Mungkin ia belum pernah melihat Arga berbicara sepanjang itu. Mungkin ia belum pernah melihat seseorang memperlakukan Arga bukan seperti porselen retak, melainkan manusia menyebalkan yang kebetulan lemah.

Setelah Marni pergi, Arga berkata, "Kamu sengaja membuatku bicara di depan mereka."

"Iya."

"Kenapa?"

"Kalau semua perintah hanya keluar dari mulutku, mereka akan menganggap aku pengganggu sementara. Kalau kamu bicara, mereka tahu rumah ini punya pemilik."

"Aku pemilik yang selama ini tidak memiliki apa-apa."

"Maka ambil kembali sedikit demi sedikit."

Arga menatapnya.

"Kamu bicara seolah aku bisa."

"Kamu bisa. Pertanyaannya, kamu mau?"

Arga tidak menjawab.

Lilis masuk membawa obat pagi yang sudah disetujui Dokter Mira. Ia menyerahkan daftar dosis kepada Alya terlebih dulu, lalu baru mendekati Arga.

Arga memandang prosedur itu. "Rasanya aneh."

"Apa?"

"Orang bertanya sebelum memasukkan sesuatu ke tubuhku."

Alya tidak menjawab.

Ia tahu kalimat itu bukan lelucon.

Setelah Arga minum obat, Dokter Mira menelepon. Hasil awal darah sudah masuk. Ada beberapa indikator yang perlu dipantau, tetapi tidak ada kondisi gawat. Yang paling penting, tanpa obat cair semalam, kesadaran Arga membaik.

"Dia tetap perlu pemeriksaan lengkap di rumah sakit," kata Mira lewat speaker.

Arga langsung berkata, "Tidak."

Alya memandangnya. "Kenapa?"

"Aku tidak mau masuk rumah sakit Pradipta."

"Kita bisa ke rumah sakit lain."

"Semua orang akan tahu."

"Mereka sudah tahu kamu sakit."

"Mereka tidak tahu aku mungkin dibuat sakit."

Alya diam.

Mira berkata, "Tuan Arga, kalau Anda takut berita keluar, kita bisa atur pemeriksaan privat."

"Bukan itu." Arga menatap jendela. "Kalau aku keluar dalam kondisi lemah, Daren akan tahu seberapa jauh aku bisa bergerak. Ratna akan menyiapkan cerita. Ayah akan ditekan."

Alya mulai melihat sisi lain.

Arga bukan tidak paham politik rumahnya.

Ia hanya terlalu lama dibuat tidak punya tenaga untuk melawannya.

"Baik," kata Alya. "Pemeriksaan privat di sini dulu. Jika perlu alat, kita datangkan."

Mira menghela napas. "Mahal."

"Kirim tagihan ke saya."

Arga menoleh. "Ke kamu?"

"Aku punya uang."

"Keluarga Wiratama?"

"Bukan semua uangku berasal dari mereka."

Arga tidak bertanya lagi, tetapi rasa ingin tahunya jelas.

Setelah telepon selesai, Alya membuka tablet dan mulai menyusun daftar akses yang harus diubah: kamera rumah, kartu masuk staf, kode gudang obat, rekening operasional rumah, daftar vendor makanan, kontak dokter.

Arga memperhatikannya.

"Kamu sudah melakukan ini sebelumnya."

Jari Alya berhenti sepersekian detik.

"Mengatur rumah sakit, iya."

"Bukan itu maksudku."

Alya mengangkat mata.

Arga berkata pelan, "Kamu melihat sistem seperti orang yang pernah menghancurkan sistem lain."

Kali ini, Alya benar-benar tersenyum.

"Mungkin aku hanya berbakat."

"Mungkin kamu menyembunyikan banyak hal."

"Semua orang menyembunyikan sesuatu."

"Apa yang kamu sembunyikan?"

"Kalau kuberitahu, namanya bukan sembunyi."

Arga tertawa pelan, lalu kembali batuk. Batuknya tidak separah kemarin. Alya menunggu sampai ia stabil.

Ponsel Alya bergetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

`Nyonya Alya, saya Rina, perawat lama Tuan Arga. Lilis memberi nomor Anda. Saya punya salinan catatan obat tiga tahun terakhir. Tapi saya takut.`

Alya membaca pesan itu.

Lalu memperlihatkannya pada Arga.

Wajah Arga mengeras.

"Rina tidak mencuri," katanya.

"Aku tahu."

"Kamu akan menemuinya?"

"Iya."

"Mungkin jebakan."

"Mungkin."

"Kamu tetap pergi?"

"Bukti tidak datang sendiri ke ruang tamu."

Arga menatapnya lama. "Bawa Yusuf."

"Kamu mulai memberiku perintah?"

"Saran."

"Saran yang terdengar seperti perintah."

"Biasakan."

Alya tertawa kecil.

Arga tampak puas, seolah berhasil membalas satu poin.

Namun saat Alya berdiri untuk pergi, ia memanggil, "Alya."

Ia berhenti.

"Kalau ini benar," katanya, "kalau selama ini aku memang dibuat lebih sakit..."

Kalimatnya terputus.

Alya menunggu.

"Jangan berhenti di obat," lanjut Arga. "Cari siapa yang menandatangani pembayaran dokter. Cari siapa yang mengganti perawat. Cari siapa yang mengirim laporan palsu ke ayahku."

Alya menatapnya.

Di mata Arga, ada api kecil.

Belum besar.

Tetapi cukup untuk menghangatkan mayat yang selama ini mereka kira sudah pasrah.

"Itu baru kalimat yang bagus," kata Alya.

"Kamu senang?"

"Sedikit."

"Kenapa?"

"Karena pasienku mulai ingin menjadi masalah."

Di luar ruang kerja, Lilis lewat membawa baki obat. Ia berhenti sebentar saat mendengar kalimat itu, lalu cepat menunduk dan melanjutkan langkah. Namun Alya melihat sudut bibir perawat itu terangkat sedikit.

Ketakutan di rumah ini belum hilang. Tapi untuk pertama kalinya, orang-orang yang takut mulai tahu ada arah lain selain menunduk kepada Ratna.

Arga tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya, senyum itu tidak terlihat lemah.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!