Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.
“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan yang menyiksa
Langit sore perlahan berubah menjadi gelap, seolah turut melambangkan kegelapan yang kini menyelimuti hati Laras. Ia berjalan gontai meninggalkan ruang tamu mewah itu, kembali ke lorong rumah sakit yang terasa semakin sempit dan sesak. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah ada rantai tak terlihat yang mengikat kakinya, menariknya ke dalam dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Tawaran itu terus berputar di kepalanya, seperti suara yang berulang-ulang memekakkan telinga. Satu triliun rupiah
angka yang sebelumnya hanya bisa ia baca di berita atau dengar dalam percakapan orang kaya, kini tergantung di hadapannya, hanya menunggu jawaban ya atau tidak. Namun untuk mendapatkannya, ia harus membayar dengan harga yang mungkin lebih berharga dari apa pun yang bisa dibeli dengan uang: harga dirinya sendiri.
Sesampainya di ruang rawat ayahnya, Laras berusaha menyeka sisa air mata di pipinya dan memasang senyum yang setulus mungkin. Ia tidak ingin Pak Harjo melihatnya dalam keadaan hancur dan bertanya apa yang terjadi.
“Sudah selesai, Nak?” tanya ayahnya dengan suara lemah, matanya menatap putrinya dengan perhatian penuh.
Laras mengangguk pelan, mendekat dan memegang tangan ayahnya yang terasa kering dan dingin. “Sudah, Yah. Jangan khawatir, semuanya sedang diurus. Kita akan menemukan jalan keluarnya, percayalah padaku.”
Pak Harjo menatap wajah putrinya lekat, seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan itu. Ia sudah mengenal Laras seumur hidupnya, tahu kapan gadis itu menyembunyikan kesedihan demi menyelamatkan perasaan orang lain.
“Laras,” panggilnya perlahan, “dengar kata Ayah. Jika memang tidak ada jalan, biarkan saja. Nyawa Ayah tidak sebanding dengan harga dirimu. Jangan pernah melakukan hal yang akan membuatmu menyesal seumur hidup hanya demi menyelamatkan Ayah. Mengerti?”
Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hati Laras. Ia tertegun, lalu mengangguk sambil menahan isak tangis yang hampir meledak. “Ayah bicara apa? Tentu saja ada jalan. Saya akan cari sampai ketemu, tidak akan menyerah begitu saja.”
Namun sesungguhnya, di dalam hatinya ia sadar: jalan yang tersisa hanya satu jalan yang ditawarkan Raka Dirgantara.
Malam itu, setelah memastikan ayahnya sudah terlelap, Laras duduk di bangku taman kecil di halaman rumah sakit. Angin malam berhembus dingin menerpa wajahnya, membuatnya menggigil bukan hanya karena suhu udara, tapi juga karena ketidakpastian yang menyelimuti pikirannya.
Ia mengeluarkan kartu nama yang diberikan Raka tadi sore. Di atas kertas tebal berwarna hitam itu tertera hanya satu nama dan satu nomor telepon, dicetak dengan huruf emas yang terlihat mewah namun terasa dingin. Setiap kali ia memandangnya, ia teringat tatapan mata pria itu dingin, penuh kendali, seolah tidak ada ruang untuk emosi atau belas kasihan.
Mengapa aku? Mengapa dia memilih gadis biasa sepertiku untuk tawaran sebesar ini? pikir Laras berulang kali dalam hatinya.
Ia tidak bodoh. Ia tahu dunia tidak berjalan seperti dongeng. Jika ada yang menawarkan sesuatu yang terlalu berharga, pasti ada risiko yang sama besarnya. Satu malam itu mungkin bukan sekadar duduk dan mengobrol. Ia tahu persis apa yang tersirat di balik kalimat “menghabiskan satu malam bersamaku”. Ia adalah wanita, ia mengerti konteks itu dengan sangat jelas.
Namun jika ia menolak… apa yang akan terjadi besok? Tagihan tidak terbayar, ayahnya harus dipulangkan dalam kondisi lemah, dan tanpa perawatan rutin, nyawanya hanya tinggal hitungan minggu bahkan hari. Laras tidak sanggup membayangkan hidup tanpa ayah—satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.
Ia mengangkat wajah menatap langit malam yang bertabur bintang. Di bawah langit yang sama, ada jutaan orang yang tidur dengan tenang, tidak perlu memikirkan pilihan seberat ini. Namun takdir justru meletakkan beban itu di pundaknya yang masih muda.
Satu malam saja. Hanya satu malam, bisik hatinya mencoba meyakinkan diri sendiri. Setelah itu semuanya selesai. Ayah akan sembuh, kita akan hidup layak, dan aku bisa melupakan semuanya seolah tidak pernah terjadi.
Namun sekeras apa pun ia mencoba meyakinkan diri, rasa takut dan malu itu tetap ada. Ia membayangkan dirinya menyerahkan tubuh dan waktunya pada pria yang bahkan tidak ia kenal sifatnya, tidak tahu apakah ia akan diperlakukan dengan hormat atau hanya dianggap sebagai barang yang dibeli.
Pikirannya melayang kembali pada kata-kata Raka tadi: “Kau terlihat bersih. Tidak ada niat tersembunyi.”
Apakah itu berarti ia hanya menginginkan ketenangan? Atau justru itu alasan yang membuatnya menjadi sasaran empuk, karena ia tidak akan berani meminta lebih setelahnya?
Laras menggenggam kartu nama itu semakin erat, sampai kuku-kukunya tertekan ke telapak tangan hingga terasa perih. Ia tahu batas waktu terus berjalan. Besok sore tawaran itu akan hilang selamanya, dan bersamanya juga harapan untuk menyelamatkan ayahnya.
“Maafkan saya, Ayah,” gumamnya pelan sambil meneteskan air mata. “Saya tidak punya pilihan lain.”
Saat matahari mulai terbit keesokan harinya, Laras sudah mengambil keputusan. Pilihan itu terasa seperti menelan duri yang menyakitkan, tapi ia sadar itu satu-satunya jalan yang tersedia. Ia tidak akan membiarkan harga diri menjadi alasan membiarkan nyawa ayahnya melayang pergi begitu saja.
Sepanjang hari itu ia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa, meski setiap detik terasa berjalan sangat lambat. Ia menjaga ayahnya, berbicara dengan nada ceria, dan berusaha menyembunyikan gejolak batin yang meluap-luap di dalam dadanya. Ia tahu, begitu matahari terbenam, hidupnya akan berubah selamanya.
Sore hari menjelang, saat langit mulai berubah menjadi warna jingga kemerahan, Laras duduk sendirian di sudut ruang tunggu. Ia memandang kartu nama itu sekali lagi, lalu dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan ponsel lama miliknya dan mulai menekan nomor yang tertera di sana.
Setiap nada dering yang terdengar terasa seperti berdentang di telinganya, membuat jantungnya berdegup semakin kencang. Detik yang terasa lama itu akhirnya terputus ketika suara seorang wanita yang tenang namun tegas terdengar dari seberang sana.
“Selamat sore. Ini layanan resmi Tuan Raka Dirgantara. Ada yang bisa saya bantu?”
Laras menarik napas panjang, berusaha menenangkan suaranya agar tidak terdengar tergagap. “Saya… saya Laras Anindita. Tadi kemarin Tuan Raka bertemu dengan saya di rumah sakit. Saya ingin menyampaikan jawaban saya.”
Ada jeda sebentar, sebelum suara itu menjawab kembali. “Baik, Nona Laras. Tuan Raka sudah menunggu keputusan Anda. Apakah Anda menerima tawaran yang diajukan?”
Pertanyaan itu terasa menusuk tepat di jantungnya. Laras menutup matanya rapat-rapat, membayangkan wajah ayahnya yang lemah namun penuh harapan, lalu membayangkan masa depan yang mungkin bisa ia raih dengan uang itu. Dengan suara yang nyaris tidak terdengar, namun tegas dan pasti, ia menjawab:
“Ya. Saya terima.”
Suasana hening sejenak, lalu wanita itu kembali berbicara dengan nada datar seolah jawaban itu sudah diduga sebelumnya. “Baik. Tepat pukul enam sore, sebuah mobil akan menjemput Anda di depan gerbang rumah sakit. Jangan membawa barang banyak, cukup keperluan pribadi seperlunya. Setelah malam berakhir, semua kesepakatan akan dilaksanakan sesuai janji.”
“Baik… saya mengerti,” jawab Laras, lalu menutup telepon dengan tangan yang masih gemetar.
Ia meletakkan ponsel itu di pangkuannya, menatap kosong ke depan. Keputusan sudah diambil. Tidak ada jalan untuk mundur lagi. Ia baru saja menandatangani perjanjian tak tertulis yang akan mengikatnya pada satu malam yang mungkin akan menghantuinya seumur hidup.
Tepat saat jarum jam menunjuk angka enam, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Kendaraan itu terlihat sangat mahal, membuat orang-orang yang lewat menoleh dengan pandangan takjub. Seorang pengemudi berpakaian rapi turun, membuka pintu belakang, lalu berdiri menunggu dengan sikap hormat namun kaku.
Laras melangkah keluar dengan langkah yang terasa berat. Ia berpakaian sederhana, hanya mengenakan gaun katun berwarna krem dan membawa satu tas kain kecil berisi barang-barang penting. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menoleh ke arah gedung rumah sakit, berdoa dalam hati agar keputusannya ini benar-benar membawa kebaikan, dan agar ia memiliki kekuatan untuk melewati malam itu dengan selamat.
Begitu duduk di dalam mobil, pintu ditutup perlahan, memisahkannya dari dunia yang ia kenal selama ini. Jendela mobil tertutup rapat dan gelap, menghalangi pandangan ke luar. Laras hanya bisa duduk diam, meremas ujung bajunya, merasakan kendaraan itu melaju masuk ke jalan raya yang membawanya menuju tempat yang tidak ia ketahui, menuju malam yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Di dalam perjalanan itu, satu pertanyaan terus menghantui pikirannya: Apa sebenarnya yang akan ia hadapi malam ini? Dan apakah Raka Dirgantara akan menepati janjinya, atau justru menjeratnya ke dalam jebakan yang lebih dalam lagi?