NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Rekaman CCTV tiba di meja Shania kurang dari satu jam kemudian.

Polisi muda memutar video dari kamera ATM di seberang gang. Gambarnya tidak terlalu bersih, tetapi cukup untuk menunjukkan kejadian utama.

Di layar, Arka berdiri sendirian.

Puluhan pria berbaju hitam mengepung.

Lalu tubuh Arka bergerak.

Shania yang sejak tadi bersandar langsung duduk tegak.

Gerakannya terlalu cepat untuk orang yang mengaku hanya sopir. Ia tidak berlari liar, tidak memukul asal, tidak panik. Setiap langkahnya seperti sudah tahu di mana lawan akan jatuh. Ketika seorang pria mengayunkan tongkat, Arka bahkan tidak melihat tongkat itu sampai detik terakhir, tetapi tubuhnya sudah lebih dulu bergeser.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Orang-orang besar itu jatuh seperti papan domino.

Polisi muda di sampingnya membuka mulut. "Kak Shania... ini orang apa?"

Shania tidak menjawab.

Video terus berjalan sampai salah satu penyerang mundur sambil berteriak. Gerak bibirnya tidak tertangkap suara, tetapi dari bentuknya Shania bisa menebak kira-kira kalimat itu.

Kita dikepung dia.

Shania mematikan video.

Ruangan mendadak hening.

"Kak?"

"Simpan salinan rekaman ini."

"Mau dijadikan bukti?"

"Untuk sekarang, arsip internal." Shania mengetuk meja dengan ujung jari. "Orang Rangga jelas bersalah. Tapi Arka Pradana juga tidak sesederhana yang dia katakan."

"Mau dipanggil lagi?"

"Belum." Mata Shania menyipit. "Kalau dia benar terkait Liana Putri, Bianca Lestari, Nirwana Club, dan Bang Leon, memanggilnya tanpa arah hanya akan membuat dia makin hati-hati."

Polisi muda menelan ludah. "Jadi?"

"Kita lihat dulu dia akan bergerak ke mana."

Di luar kantor polisi, Arka duduk di kursi penumpang mobil hitam Leon.

"Terima kasih," katanya sambil memasang sabuk pengaman.

Leon menyalakan mesin. "Aku yang harus berterima kasih. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku tidak sempat mengantar siapa pun pagi ini."

"Masalah rumahmu sudah aman untuk sementara. Tapi orang yang memberi pi xiu itu pasti tahu benda itu hilang pengaruh."

"Aku akan urus."

"Jangan gegabah."

Leon meliriknya.

Arka menambahkan, "Orang yang tahu cara memakai tiga darah untuk mengunci kutukan biasanya tidak bekerja sendirian."

Wajah Leon serius. "Aku mengerti."

Mobil keluar dari halaman kantor polisi. Jalanan sudah mulai ramai. Leon tampak masih lelah setelah malam panjang, tetapi matanya justru lebih hidup.

"Mau sarapan?" tanyanya. "Aku tahu tempat enak. Sekalian aku traktir. Anggap saja ucapan terima kasih dan permintaan maaf karena tadi malam..."

"Merazia kamar adik sendiri?"

Leon batuk keras.

"Aku akui itu tidak elegan."

"Itu lebih dari tidak elegan."

"Baik. Bodoh."

"Lumayan."

Leon tertawa pahit. "Kamu dan Liana memang cocok membuat orang sakit kepala."

Arka tidak menjawab.

Leon meliriknya lagi. "Jadi, serius dengan adikku?"

"Hubungan kami agak rumit."

"Aku melihat kamar itu."

"Itu sebabnya rumit."

Leon hampir tertawa, tetapi menahannya. Sebagai kakak, ia seharusnya marah. Sebagai orang yang diselamatkan nyawanya, ia tidak punya posisi terlalu tinggi. Sebagai polisi, ia tahu Liana sudah dewasa dan memilih sendiri.

Akhirnya ia hanya berkata, "Jangan permainkan dia."

"Aku tidak berniat."

"Bagus."

Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan privat bernama `Dapur Lawas Kemang`. Bangunannya tidak besar, tetapi bersih dan hangat. Papan kayu di depan sudah agak tua, halaman kecilnya dipenuhi pot tanaman, dan aroma kaldu ayam serta rempah keluar dari pintu terbuka.

Namun pagi itu suasana tidak tenang.

Orang-orang berkerumun di depan pintu. Beberapa berdiri sambil merekam dengan ponsel. Suara ribut terdengar dari dalam.

Leon mengerutkan kening.

"Tempat ini biasanya sepi."

Naluri polisinya langsung aktif. Ia membuka pintu mobil.

"Ayo lihat."

Arka mengikuti.

Mereka menembus kerumunan. Di tengah ruang makan, seorang pria tua terbaring di lantai dengan wajah kebiruan. Napasnya tersendat, tangan kirinya mencengkeram dada.

Di dekatnya, seorang pria paruh baya pemilik rumah makan sedang menelepon ambulans dengan suara panik.

"Iya, Pak, Dapur Lawas Kemang. Tolong cepat. Kondisinya makin parah."

Di sisi lain, seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh lima tahun berdiri dengan wajah pucat. Ia memakai dress sederhana warna biru muda dan celemek putih. Pipi kirinya sudah merah karena tamparan.

Di depannya, seorang perempuan gemuk dengan perhiasan emas besar masih menunjuk-nunjuk.

"Ayah saya makan di sini lalu jatuh! Kalau sampai kenapa-kenapa, restoran busuk ini saya tutup!"

Perempuan muda itu menunduk. "Kami sudah panggil ambulans. Kami akan bertanggung jawab kalau memang kesalahan kami."

"Kalau memang?" Perempuan gemuk itu melangkah maju dan mengangkat tangan lagi. "Masih berani membantah?"

Leon bergerak cepat, menangkap pergelangan tangannya.

"Cukup."

Perempuan gemuk itu melotot. "Kamu siapa?"

Leon mengeluarkan identitas. "Polisi."

Kerumunan langsung ribut pelan.

Perempuan itu terkejut, tetapi mulutnya tetap keras. "Polisi juga tidak bisa membela restoran pembunuh!"

"Saya tidak membela siapa pun. Tapi kalau kamu memukul orang lagi, saya bisa langsung membawamu."

Pemilik restoran buru-buru mendekat. "Pak Leon?"

Leon mengenalinya. "Pak Rafi. Apa yang terjadi?"

"Saya juga tidak tahu. Pak tua itu makan bubur ayam kampung, baru beberapa suap tiba-tiba jatuh. Saya sudah panggil ambulans." Pria itu menunjuk perempuan muda. "Anak saya Ayu mencoba minta maaf, tapi..."

Ayu menunduk lebih dalam. Pipi kirinya makin bengkak.

Arka melihat pria tua di lantai. Aura di sekitar dada dan tenggorokannya kacau. Bukan keracunan makanan. Ada penyumbatan mendadak yang membuat napasnya tertahan. Jika menunggu ambulans, kemungkinan besar terlambat.

"Biar aku lihat," kata Arka.

Leon langsung menoleh. Matanya menyala.

"Tolong."

Arka melangkah maju.

Perempuan gemuk itu segera menghalangi seperti tembok. "Kamu siapa lagi? Dokter?"

"Bukan."

"Kalau bukan dokter, jangan sentuh ayah saya!"

"Kalau tidak disentuh, dia bisa mati sebelum ambulans datang."

"Kamu mau menakut-nakuti saya?"

Pria tua di lantai tiba-tiba mengeluarkan suara serak. Tubuhnya kejang, wajahnya berubah dari biru menjadi ungu gelap.

"Ayah!" Perempuan gemuk itu panik dan berlutut.

Kerumunan mundur ketakutan.

Ayu menutup mulut. "Pak..."

Arka tidak menunggu izin lagi. Ia bergerak melewati celah di samping perempuan gemuk, berlutut di dekat pria tua, lalu menekan beberapa titik di dada dan lehernya dengan cepat.

"Jangan sentuh!" perempuan gemuk itu menjerit.

Leon menahannya. "Diam dulu kalau masih ingin ayahmu punya kesempatan."

Perempuan itu ingin melawan, tetapi melihat wajah Leon yang dingin, ia tercekat.

Arka membuka tas kecil yang selalu ia bawa sejak mulai sering menghadapi masalah. Di dalamnya ada gulungan jarum perak.

Beberapa orang di kerumunan langsung berseru.

"Jarum?"

"Dia mau akupunktur?"

"Ini darurat, memang boleh?"

Arka tidak peduli.

Ia memeriksa denyut nadi pria tua itu. Lemah, kacau, dan makin menjauh. Ada sumbatan di jalur napas dan tekanan di jantung. Jika salah titik, nyawa orang ini bisa putus di tempat. Jika tepat, napasnya akan kembali.

Cincin giok di jarinya mengalirkan qi lembut.

Arka mengambil satu jarum.

Ayu tanpa sadar berjongkok di sisi lain, matanya penuh cemas. "Apa yang bisa saya bantu?"

"Jangan biarkan kepalanya bergerak."

Ayu langsung memegang sisi kepala pria tua itu dengan hati-hati, meski tangannya gemetar.

Perempuan gemuk masih menangis dan memaki tidak jelas.

Leon berdiri di belakang Arka, menahan kerumunan agar tidak mendekat.

Ruangan terasa menahan napas.

Arka menatap titik di bawah hidung pria tua itu.

Jarum perak turun.

Tepat.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!