NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Obat yang Tepat

Mobil menuruni jalan Puncak dalam diam.

Kalimat Ardian membuat Sekar tidak bisa lagi berpura-pura sedang memikirkan hal lain.

Kamu mendengar sesuatu di ruang rias.

Ia menggenggam ujung tasnya. "Pak Tan sudah tahu?"

"Aku tahu kamu keluar dari sana dengan wajah seperti orang baru melihat mayat."

"Bukan itu maksud saya."

Ardian menatap jalan gelap di luar jendela. "Kalau maksudmu apakah aku tahu kecelakaan itu bukan kecelakaan, kamu sudah tahu jawabannya."

"Kalau Kevin dan Felicia?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Hanya suara ban mobil melewati jalan basah, dan dari mobil belakang samar-samar terdengar Darren bersin setelah dipaksa duduk di atas plastik.

Akhirnya Ardian berkata, "Aku curiga."

Sekar menelan ludah. "Felicia bilang, kalau sejak awal Pak Tan mati, semua tidak akan serumit ini. Dia juga bilang orang waktu itu terlalu lambat, membuat Pak Tan lolos hidup-hidup."

Kata-kata itu membuat udara di mobil terasa lebih berat.

Ardian tidak terkejut.

Itu yang paling membuat dada Sekar sakit.

"Pak Tan..." Suaranya melembut tanpa ia rencanakan. "Berapa lama kamu hidup dengan kemungkinan itu?"

Ardian menutup mata sebentar.

"Sejak aku bangun di rumah sakit."

Sekar membeku.

"Saat itu dokter bilang aku selamat." Suara Ardian tetap pelan, tetapi setiap katanya terasa menggores. "Semua orang bilang aku beruntung. Padahal ketika aku membuka mata, tubuhku sakit seperti dihancurkan ulang. Kaki tidak bisa digerakkan. Kepala penuh suara rem, kaca pecah, dan bau darah."

Sekar tidak berani memotong.

"Malam pertama setelah sadar, aku tidak bisa tidur. Malam kedua juga. Setelah itu hampir setiap malam. Kalau aku memejamkan mata, aku melihat mobil itu lagi. Jadi aku membiarkan rasa sakit tetap ada."

Ia membuka mata, menatap tangannya sendiri.

"Rasa sakit juga obatku."

Sekar merasa tenggorokannya tercekat.

Kalimat itu bukan dramatis. Justru karena diucapkan datar, ia terdengar lebih kejam. Seperti pria ini sudah terlalu lama menerima bahwa satu-satunya hal yang bisa membawanya melewati malam adalah rasa sakit yang cukup nyata untuk mengalahkan masa depan yang gelap.

"Itu bukan obat," kata Sekar pelan.

"Untukku, iya."

"Tidak." Ia menatapnya, mata panas. "Itu cuma cara bertahan sampai besok."

Ardian menoleh.

Sekar tidak sadar ia sudah menggenggam sandaran kursi roda yang terlipat di samping kursi mobil. "Obat itu harus membuat orang membaik. Kalau cuma membuat kita tidak hancur malam ini, itu belum obat. Itu perban darurat."

Ardian menatapnya lama.

Lampu jalan lewat di wajah Sekar, memperlihatkan matanya yang merah tetapi keras kepala.

"Kamu masih begitu?" tanya Sekar. "Masih membiarkan sakitnya menahan kamu agar tidak memikirkan hal lain?"

Ardian tidak langsung menjawab.

Di kaca jendela, bayangan wajahnya tampak samar. Dulu pertanyaan seperti itu akan ia potong dengan kata "cukup". Dulu ia akan menyuruh orang keluar sebelum mereka sempat menaruh belas kasihan di atas lukanya.

Tetapi Sekar tidak menaruh belas kasihan.

Ia menaruh marah.

Marah pada orang yang menyakitinya, marah pada cara hidupnya yang terlalu sunyi, marah pada fakta bahwa ia menganggap bertahan sendirian sebagai hal wajar.

"Tidak sesering dulu," katanya akhirnya.

Sekar menatapnya.

"Sejak kapan?"

Ardian menggerakkan rahangnya sedikit. "Sejak ada orang mencabut baterai kursi rodaku di teras."

Sekar berkedip.

"Itu bukan terapi resmi," katanya pelan.

"Tidak. Itu gangguan."

"Gangguan yang berhasil?"

Ardian menatapnya sekilas. "Sayangnya."

Mata Sekar yang tadi panas tiba-tiba terasa lebih panas lagi, tetapi kali ini bukan hanya karena takut.

"Kamu selalu bicara seperti tahu segalanya," katanya.

"Tidak. Saya cuma tahu kalau orang sakit tidak boleh sendirian terus."

Hening.

Lalu Ardian berkata, sangat pelan, "Orang yang tepat juga bisa menjadi obat."

Sekar berhenti bernapas.

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat itu terlalu lembut untuk Tan Ardian, terlalu dekat, terlalu mudah membuat hatinya salah paham. Tetapi sebelum ia bisa menemukan kata, Ardian mengalihkan pandangan ke kakinya.

"Tadi di tangga," katanya, "paha kiriku terasa kesemutan."

Sekar hampir melonjak. "Apa?"

"Jangan berteriak."

"Kenapa baru bilang sekarang?"

"Karena tadi kamu sedang menjatuhkan martabat Kevin dan Felicia."

"Itu bisa ditunda!"

"Tidak juga."

Sekar langsung mengambil ponsel. "Kita ke RS Samudera. Sekarang."

"Aku sudah mau ke sana."

"Kenapa tidak bilang dari awal?"

"Kamu sedang memegang rahasia pembunuhan dan hampir menangis. Aku memilih urutan masalah."

Sekar ingin marah, tetapi matanya malah makin panas.

Ia menghubungi Rio. Dokter itu mengangkat pada dering kedua.

"Kalau ini soal Darren bau, aku sudah dapat kabar dari bodyguard dan aku tidak mau menerima pasien biologis tanpa disemprot dulu," kata Rio.

"Dok Rio," kata Sekar cepat, "paha kiri Pak Tan terasa kesemutan."

Di seberang, Rio langsung diam.

Lalu suaranya berubah. "Bawa ke RS Samudera. Sekarang. Jangan banyak gerak. Aku turun ke IGD VIP."

Mobil berbelok menuju Jakarta.

Di RS Samudera, Darren benar-benar tidak diizinkan masuk sebelum mandi. Dua perawat memberinya kantong pakaian dan menunjuk ruang bilas khusus. Darren menatap Ardian dari jauh dengan mata berkaca-kaca.

"Koko, aku juga ingin ikut!"

Rio yang baru datang memakai jas dokter putih langsung menutup hidung. "Kamu ikut setelah menjadi manusia lagi."

"Dok!"

"Ini keputusan medis."

Sekar ingin tertawa, tetapi tangannya masih dingin. Ia membantu Ardian dipindahkan ke ruang pemeriksaan VIP. Rio memeriksa refleks, tekanan pada titik saraf, suhu kulit, dan respons otot. Wajahnya serius sekali.

"Di bagian mana terasa?" tanya Rio.

Ardian menunjuk paha kiri. "Di sini. Seperti kesemutan. Sangat lemah."

"Saat beban bergeser?"

"Ya."

Rio menatap Sekar. "Ada tekanan langsung?"

Sekar cepat menjelaskan posisi di tangga, bahwa ia dan Darren duduk sebentar untuk strategi dan bodyguard menjaga. Rio mendengarkan tanpa memotong.

"Tidak ideal," katanya akhirnya, "tapi responsnya penting."

Sekar menahan napas. "Berbahaya?"

"Tidak langsung. Justru ini kabar baik, kalau tidak ada nyeri abnormal."

Ardian menatap langit-langit. "Sakit."

Rio mengangkat kepala. "Apa?"

Ardian menutup mata.

Sekar juga menatapnya.

Untuk pertama kalinya, pria itu tidak memakai kata "tidak apa-apa".

"Sakit," katanya lagi, lebih rendah. "Sangat sakit."

Ruang pemeriksaan menjadi sunyi.

Sekar merasa sesuatu di dadanya patah pelan.

Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di samping ranjang pemeriksaan, dekat sekali, memberi ruang untuk kalimat yang mungkin sudah terlambat tiga bulan keluar.

Rio menarik napas dalam, lalu melanjutkan pemeriksaan dengan lebih lembut.

Hampir satu jam kemudian, hasil pemindaian awal dan tes respons keluar. Rio kembali ke ruang VIP dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan lega.

"Operasi rekonstruksi dan perawatan selama ini berhasil lebih baik dari perkiraan," katanya. "Respons saraf mulai muncul. Kita harus hati-hati, tapi ini tanda bagus."

Sekar menutup mulut dengan kedua tangan.

Ardian menatap kakinya.

Di bawah selimut tipis rumah sakit, ujung jari kaki kirinya bergerak sangat kecil.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!