Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Entah berapa lama Nathan berada di makam almarhumah wanita yang pernah mengisi hari-harinya penuh warna tersebut tersebut hingga tanpa ia sadari hari mulai gelap.
"Aku pulang dulu, Amanda. Sudah hampir malam. Lain kali aku datang lagi. Mungkin aku akan sering berkunjung ke sini karena sekarang aku akan menetap di sini," Ucap Nathan. Ia mengusap nissan Amanda sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar beranjak dari tempat tersebut.
.....
"Mau sampai kapan diam-diaman begini sambil lihatin makanan-makanan yang nggak salah ini, yang seharusnya dimakan tapi malah di cuekin! Salah mereka apa?" saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, Nathan mendengar suara omelan seorang wanita yang dari suaranya ia sangat kenal, itu Nala. Saudara kembarnya.
Pasti kabar menghebohkan pagi tadi sudah sampai ke telinga wanita tersebut, pikirnya. Ia berjalan menuju ruang makan dimana suara omelan itu berasal.
Dan benar saja, suasanya di meja makan terasa mencekam karena Syafira dan Bara saling diam, tak ada yang menyentuh makanan di meja makan tersebut. Padahal sudah hampir setengah jam mereka duduk di sana.
Nala yang sejak tadi menunggu orang tuanya untuk makan, lama-lama kehilangan kesabarannya.
"Lihat! Nathan saja berusaha terlihat baik-baik saja di depan kita. Kenapa kalian malah terlihat menyedihkan seperti ini? Jangan seperti ini! Ini menyedihkan," Nala menunjuk Nathan yang baru saja muncul dengan pandangannya. Membuat semua, termasuk suaminya menoleh ke arah pria tersebut.
"Kok aku?" ucap Nathan Tanpa suara.
Suami Nala berusaha menenangkan Nala, tapi wanita tersebut tak mengindahkannya. Bukan karena marah, melainkan karena sedih melihat keluarganya yang biasanya sangat harmonis mendadak menjadi kacau seperti ini.
Bara dan Syafira malah sama-sama mogok makan. Wajar memang jika mereka kehilangan selera makan setelah apa yang terjadi, tapi itu benar-benar membuat Nala sakit dadanya.
"Aku sama Gara ke sini karena ingin makan malam sama kalian, bukan malah di cuekin begini! Nasi sudah menjadi bubur, mau gimanapun semuanya sudah terlanjur terjadi. Tapi, bukan berarti daddy sama bunda harus menyalahkan diri kalian masing-masing atas apa yang terjadi!," Nala mulai bergetar nada bicaranya menahan tangis.
" Sssst, sayang tahan diri, jangan emosi. Ingat kita ke sini bukan buat masalah semakin runcing, tenang ya?," Sagara, suami Nala masih terus berusaha meredam emosi Nala yang sudah meletup-letup mewakili kesedihannya.
Nala menghela napasnya, "Aku tuh sedih, Gara..." ucapnya lirih.
Sagara mengangguk, mengerti perasaan istrinya, ia mengusap punggung wanitanya tersebut.
Tiba-tiba saja Nala berdiri. Nathan yang lelah, sebenarnya ingin langsung ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Nala kembali bicara," Oke, kalau masih pada mau menyiksa diri sendiri dan nggak ada yang mau nyentuh makanan ini, Aku sama Gara pulang saja! Aku ngambek, dan kalian tahu artinya kalau aku ngambek bukan? Akan susah buat bujuk aku, aku nggak mau ke sini lagi! Ayo Gara, kita pulang saja! Sedih lama-lama di sini!" Nala menarik tangan suaminya.
Ia pikir, orang tuanya sedang berduka akibat apa yang menimpa keluarganya. Nyatanya, masalah utama mereka saat ini adalah belum turunnya kata maaf dari sang ibunda ratu di rumah tersebut untuk daddinya. Karena ucapan pria tua itu begitu menusuk hingga ke dasar hati yang terdalam Syafira. Andai Nala tahu, pasti semakin menjadi omelannya.
"Sayang, nggak boleh bicara seperti itu," tegur Sagara pelan.
"Biarin! Habis aku kesal! Kalau mereka semua mogok makan dan sakit, siapa yang repot? Siapa yang sedih? Siapa yang susah? Bukan cuma mereka, tapi anak-anaknya juga. Padahal kan kita harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Meski nasi udah jadi bubur, masih enak kok di makan. Keluarga Zea juga pasti sedang menunggu pinangan Zio sebagai tanggung jawabnya! Udah ayo pulang aja! Kita makan di rumah aja, tapi ingat. Aku nggak mau ke sini lagi!" ucap Nala tegas.
Sagara menghela napasnya. Sebagai menantu keluarga Osmaro, ia tak berani bicara terlalu banyak soal masalah ini.
"Kita ini keluarga! Keluarga yang sangat harmonis, kenapa harus jadi seperti ini," kali ini Nala bicara begitu sendu dan pilu. Membuat Syafira dan Bara langsung tersentak hatinya. Mereka saling tatap tapi masih diam mode silent.
Mendengar ancaman Nala yang terdengar tak main-main. Nathan langsung meluncur ke meja makan dan duduk," Bunda dan daddy menungguku, mereka bukannya mau makan. Iya, kan?" ucap Nathan menatap orang tuanya bergantian.
"Eh, iya sayang. Kami menunggu Nathan. Ayo ayo kita mulai makan sekarang. Jangan ngambek lagi ya, bunda nanti jadi sedih beneran," ucap Syafira.
Nala menatap kedua orang tuanya curiga. Syafira dengan salah tingkah melayani Bara seperti biasanya. Mereka benar-benar berusaha bersikap biasa saja. Hal ini tak di sia-siakan oleh Bara.
"Makasih, sayang," ucap Bara tersenyum saat Syafira selesai mengambilkan nasi dan lauknya. Ia menyentuh tangan Syafira.
Hampir saja Syafira tepis tangan suaminya, tapi ia melihat Nala yang masih memperhatikan mereka. Ia lalu balas tersenyum pada Bara, "Sama-sama, mas," ucapnya.
"Sssst, udah melototnya. Gara nunggu di ambilin nasi itu! Peka dong jadi istri," ucap Nathan pada Nala. Wanita itu menoleh ke arah suaminya. Sagara tersenyum meneduhkan lalu mengangguk, "Boleh ambilkan suamimu ini nasi, sayang?" ucapnya.
Nala langsung berubah lebih kalem dan mengangguk.
"Untung ke sini bawa pawangnya," batin Nathan.
Baru juga mereka mau mulai makan malam, Nala kembali ingat sesuatu. Ada yang kurang rasanya. Ah iya, si pembuat onar, "Zio gantengku mana? Kok nggak ikut makan?" tanya Nala.
Baru juga Syafira akan membuka mulutnya menjawab pertanyaan Nala, Zio sudah menampakkan batang hidungnya. Pria tersebut berjalan ke arah mereka dengan jaket di sampirkan di tangannya.
"Kakak cantik di sini?" sapa Zio tersenyum.
"Zio, wajah ganteng kamu kenapa? Siapa yang lakuin ini? Bilang sama kakak cantik! Biar kakak ganti hajar itu orang, udah berani buat wajah adikku yang ganteng perlu di ketok magic begini!" omel Nala sambil menyentuh dagu Zio dan menggesernya ke kanan dan kiri untuk di amati.
Zio hanya melirik ke arah Bara, si tersangka atas babak belurnya yang langsung seret saat menelan salivanya sendiri mendengar ucapan putri satu-satunya di keluarga Osmaro tersebut.
"Tapi, masih aman kan, kak?" ucap Zio sedikit manja.
"Untung masih tetap ganteng," sahut Nala tersenyum, "Aman kok!" imbuhnya.
Zio tersenyum. Ia lalu pamit kepada semuanya.
"Mau kemana, nak?" tanya Syafira.
"Ada urusan sebentar, bund. Doain Zio, ya?" ucap Zio lalu mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Syafira mengangguk lalu mengusap kepala Zio, "Pulang ke rumah ya, nanti?"
Zio mengangguk lalu melangkah pergi.
"Nggak makan dulu Zio gantengku?" tanya Nala.
"Masih kenyang kakak cantikku!" sahut Zio tanpa menoleh.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa